
Sesampainya di pesantren Zia dan Adam langsung pulang ke rumah Abah.
Sejak tadi Zia hanya murung saja karena perkataan tadi membuat Zia cukup membatin.
"Kenapa" tanya Adam yang sadar pada sikap Zia.
"Apa aku seburuk itu ya Gus" tanya Zia menatap Adam dengan tatapan sendu.
"Buruk bagai mana" tanya Adam.
"Ya aku ngerasa kalau aku gak pantas buat kamu Gus, bukan karena apa apa tapi aku tau dari mana aku berasal, aku Malu karena kau sering mendapatkan masalah dari aku" ucap Zia.
"Jangan bilang begitu Zia, orang lain tak akan tau betapa bahagianya aku bersamamu" ucap Adam sambil memeluk Zia dari belakang.
"Gus kau tau tak" tanya Zia.
"Apa" tanya Adam.
"Rasa nya aku sangat bahagia kalau bersama dengan mu, entah lah rasa nya aku sedang tertimpa rezeki saja" ucap Zia.
"Ketimpa rezeki bukan ketimpa Adam" ucap Adam tersenyum menggoda Zia.
"Gus beneran ihh" ucap Zia sambil tersenyum.
"Ya syukur lah kalau kamu berfikir begitu, tak ada yang kebetulan Zia semua nya atas kehendak nya" ucap Adam.
"Ya Gus aku tau" ucap Zia.
Adam teringat sesuatu.
"Oh ya Zia apa sebelum nya kau mengenal Ning Rosa" tanya Adam.
"Ning Rosa" gumam Zia berfikir sejenak takut nya dia dahulu mengenal Rosa.
"Tidak Gus aku tak mengenal nya" ucap Zia.
"Coba ingat ingat Zia siapa tau saja kau pernah kenal atau pernah bertemu begitu" ucap Adam.
"Gak ah" ucap Zia.
"Oh baik lah" ucap Adam.
Malam harinya para santri bubar karena akan tidur, setelah melaksanakan sholat Maghrib dan Isya para santri langsung tadarus dan menghafal Al Qur'an.
Adam dan Luthfi sekarang berjalan ke arah gerbang karena akan mengunci gerbang, bahkan sekarang Abah menambah penjaga di pesantren karena takut nya ada yang masuk ke pesantren.
"Gus Luthfi maaf saya duluan, Zia sudah menunggu" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Luthfi.
Saat ini Luthfi Langsung menuju ke kamar santri putri dia saat ini akan menemui Rena.
Entah kenapa Luthfi jadi pemberani begitu padahal dulu untuk menginjak teras depan kamar santri putri pun Luthfi tak berani.
Tapi sekarang dia seolah tak takut lagi dengan peraturan itu.
Luthfi berjalan ke arah kamar Rena yang paling pojok.
"Bagai mana cara aku memberikan nya" gumam Luthfi.
Gus Luthfi mengetuk pintu kamar itu.
"Bismillah semoga Ning Rena yang buka" gumam Luthfi lagi.
Tokk
Tokk
Di dalam kamar saat ini Gita sudah tidur hanya Rena dan Ainun saja yang masih Bagun.
"Kak siapa" tanya Rena pada Ainun.
"Gak tau, kamu lihat Ning" ucap Ainun.
"Ya baik lah" ucap Rena yang langsung turun dari ranjang nya dan membuka pintu kamar nya itu.
"Siapa" tanya Rena.
Tiba tiba saja Luthfi langsung menarik Rena sedikit menjauh dari sana.
"Astaghfirullah" ucap Rena.
"Pelan kan suara mu" ucap Luthfi.
"Gus ada apa malam malam datang kemari bagai mana kalau ada orang yang melihat" tanya Rena.
"Tak akan aku pasti kan rekaman cctv tak akan memperlihatkan kita" ucap Luthfi.
Rena tersenyum.
"Ya aku tau cctv pesantren ini tak akan merekam kita tapi bagai mana dengan cctv Alloh" tanya Rena.
"Ya aku tau tapi Ning aku tak akan berbuat apa apa, aku hanya ingin memberikan ini saja" ucap Luthfi memberikan sebuah kerudung warna Navy.
__ADS_1
"Gus apa ini" tanya Rena.
"Kerudung, maaf aku gak bisa lama lama aku harus kembali ke sana selamat malam dan mimpi indah ya, Assalamualaikum" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana meninggal kan Rena yang masih sendiri di sana.
"Tapi Gus" ucap Rena yang akan bertanya tapi Luthfi sudah jauh.
Tiba tiba saja Abah datang ke sana.
"Ning sedang apa di luar" tanya Abah.
"Hah Abah ini aku sedang mau ke kamar mandi" ucap Rena.
"Kamar mandi" tanya Abah.
"Ke ****** Abah" ucap Rena.
"Jangan keluar malam hari takut besok kesiangan, jangan banyak berbohong juga" ucap Abah yang langsung pergi dari sana.
"Ya Abah" ucap Rena yang bisa bernafas lega.
"Untung saja Gus Luthfi sudah pergi kalau masih di sini mungkin aku akan di nikah kah secara paksa oleh Abah" gumam Rena yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa" tanya Ainun.
"Tak ada hanya ada Abah" ucap Rena.
"Oh tidur lah sudah malam" ucap Ainun.
"Ya kak" ucap Rena.
Rena duduk di kasur nya dia membuka kerudung yang masih di balut plastik itu.
"Gus Luthfi tau saja apa yang aku ingin kan" gumam Rena bahagia karena mendapat kan apa yang dia inginkan.
Rena memakai kan kerudung itu ke kepala nya, dia sengaja melihat pantulan diri nya di cermin.
"Terima kasih Gus" gumam Rena tersenyum.
Adzan subuh berkumandang di mesjid, para santri semua sudah bersiap akan melaksanakan Sholat Subuh berjamaah karena sekarang hari Minggu para santri bebas dari pelajaran.
Semua santri tak ada yang tak masuk ke mesjid kecuali santri putri yang sedang datang bulan.
Setelah sholat mereka semua Wirid dengan di pimpin oleh Abah sendiri.
Mesjid itu ramai dengan suara para santri yang mewirid nama nama ke kebesaran Alloh.
Setelah selesai mereka tak langsung bubar karena katanya Abah akan bicara dahulu sebentar.
"Mohon maaf karena Abah menganggu waktu libur kalian, sekarang Abah hanya mau mengingatkan kalau bulan puasa sebentar lagi, jadi kalian harus segera perbaiki diri takut nya di Ramadhan yang akan datang lagi kita sudah tutup usia" ucap Abah.
"Ya Abah" serempak.
"Ya Abah" serempak.
"Abah harap kalian semua sukses dan bisa membanggakan orang tua kalian, hanya itu saja yang bisa Abah beri tau kan kalian sekarang bisa keluar" ucap Abah.
"Beri salam" sahut Fauzi.
"Assalamualaikum wr wb" serempak para santri sambil keluar dari mesjid.
"Waalaikum salam" ucap Abah.
Abah hanya menatap pada para santri yang ribuk mau keluar.
"Suatu saat nanti keramaian ini hanya akan menjadi kenangan saja" gumam Abah.
Semua santri langsung menuju ke arah ****** karena akan mencuci pakaian nya, sekarang matahari bersinar sangat indah membuat para santri sangat semangat karena akan ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari hari di pesantren.
"Gus jalan jalan yu" tanya Zia.
"Ya sayang ayo tapi aku mau mencuci dahulu" ucap Adam.
"Cuci apa" tanya Zia heran.
"Baju" ucap Adam.
Zia mengalungkan tangannya di leher Adam.
"Semua pakaian mu sudah aku cuci Gus, piring gelas dan yang lain sudah aku cuci semua lantai sudah aku sapu tapi tak aku pel karena kata Umi gak papa gak di pel juga karena kemarin Umi sudah Pel" ucap Zia.
"Fyuhh" Adam meniup wajah Zia.
"Baik lah istri ku yang paling cantik, aku akan mandi dulu" ucap Adam.
"Ya sudah" ucap Zia yang mendekat kan wajah nya pada wajah Adam.
Zia hendak menci um Adam bahkan mata nya juga tertutup.
Tiba tiba saja Rena datang ke sana dan Zia lupa menutup pintu kamar nya.
"Kak apa kau akan ikut ... Oh ya ampun" ucap Rena yang menatap pasangan itu.
Rena langsung berbalik memunggungi Zia dan Adam yang sekarang sedang berdekatan.
__ADS_1
Zia Langsung mendorong Adam agar menjauh dari nya.
"Ning" ucap Zia.
"Kak apa kau akan ikut ke pasar" tanya Rena yang masih membelakangi Zia.
"Berbalik lah" ucap Zia.
Rena pun berbalik dan sekarang Zia tak seperti posisi tadi lagi.
"Kak mau ikut" tanya Rena.
"Ayo tapi bentar Gus Adam mandi dulu" ucap Zia.
"Ya aku tunggu di luar" ucap Rena yang langsung pergi dari sana.
Zia langsung menutup pintu kamar nya.
"Kenapa aku bisa lupa menutup pintu sih" ucap Zia.
"Salah siapa" tanya Adam.
"Salah mu" ucap Zia.
"Terserah" ucap Adam yang langsung pergi dari sana menuju ke kamar mandi.
Zia langsung mengganti pakaian nya, dengan rok hitam dan kemeja coklat yang di masuk kan ke dalam rok serta kerudung berwarna hitam, membuat Zia seperti anak SMA saja apa lagi perawakan Zia yang tak terlalu besar sehingga tak menampakkan Zia berusia 24 tahun.
Adam baru saja selesai dan datang ke sana.
"Kau mau kemana" tanya Adam.
"Ke hati mu" ucap Zia.
"Kau gaya sekali Zia" ucap Adam.
"Gus aku cantik juga karena untuk mu" ucap Zia.
"Ya aku tau tapi Zia kau tau di pasar itu banyak orang kan jadi aku takut ada laki laki yang mencuri pandang pada mu" ucap Adam.
"Akan aku pasti kan tak ada" ucap Zia.
"Baik lah terserah" ucap Adam.
"Jangan marah aku tak memperlihatkan lekuk tubuh ku" ucap Zia.
"Kau tau Zia terkadang kita yang tak memperlihatkan lekuk tubuh juga masih bisa mengundang nafsu seseorang bagai mana dengan orang yang mempertontonkan lekuk tubuh nya" ucap Adam.
"Tapi Gus terkadang orang yang tak memakai kerudung, contoh nya aku Dulu lah jangan bicara kan orang lain, contoh nya aku dahulu kan tak pakai kerudung banyak laki laki yang terkagum kagum pada ku bahkan sampai rela membiayai aku tanpa dia tau aku siapa" ucap Zia.
"Ya memang yang terlihat pasti sangat indah untuk di pandang, tapi Zia kau tau baju" tanya Adam.
"Baju" tanya Zia.
"Ya baju atau pakaian lah, akan terlihat bagus kalau baju di pajang, tetapi lebih bagus lagi baju yang di kemas rapih, karena begini Zia yang di pajang akan terlihat bagus atau gak nya dan yang di kemas akan terlihat bagus dan mahal walau pun kita tak akan tau barang nya seperti apa" ucap Adam.
"Tunggu aku tak paham" ucap Zia.
"Baju yang di pajang sudah tentu kita bisa melihat atau meraba nya bahkan semakin banyak tangan yang memegang maka semakin banyak pula kuman yang akan nempel di sana, lalu kalau baju yang di kemas misal pakai plastik akan terlihat bagus kan dan gak akan banyak orang yang meraba karena mereka canggung baju yang masih tutup dengan plastik lalu dengan tak sopan nya kita langsung buka, paham kan" tanya Adam.
"Oh paham paham paham" ucap Zia sambil mengangguk angguk kan kepala nya.
"Baik lah ayo berangkat" ucap Adam.
"Ayo" ucap Zia.
Di halaman pesantren sudah ada Fauzi dan Luthfi yang ada di sana.
Sedangkan santri putri nya hanya ada Ainun, Rena, dan Gita saja.
"Ayo berangkat" tanya Adam yang sekarang sudah keluar dari rumah.
"Ayo" ucap Fauzi.
"Gus tunggu" sahut Farid.
"Ada apa Gus Farid" tanya Adam.
"Aku ikut" ucap Farid.
"Ya ayo, tunggu Gus Luthfi ikut juga" tanya Adam.
"Ya Gus aku juga ingin ikut" ucap Luthfi.
"Wah tumben sekali ya, kan biasa nya Gus Luthfi jarang ke pasar" ucap Adam.
"Ya kebetulan kebutuhan aku habis" ucap Luthfi.
"Oh" ucap Adam yang justru Langsung menatap pada Rena yang mencuri curi pandang pada Luthfi.
Adam langsung membuka matanya, melotot pada Rena.
Karena paham Rena pun langsung memalingkan pandangannya dari Adam.
__ADS_1
bersambung..