Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 131


__ADS_3

Pagi hari nya seperti biasa Zia akan mengejar, sekarang hari ke 9 Zia berpuasa setidaknya Zia tau apa itu puasa dan harus apa saja saat puasa.


Ada beberapa santri yang mendekat pada Zia.


"Kak Zia" ucapnya.


"Ya" tanya Zia.


"Kak kemarin aku dapat pekerjaan rumah berupa TTS dari Gus Adam, pertanyaan nya begini, malaikat yang belum melakukan tugas nya tapi saat dia melakukan tugas nya maka akan membuat kehancuran" ucap salah satu santri itu.


"Aku tau" ucap Zia.


"Apa kak" tanya santri itu.


"Malaikat yang meniup terompet itu siapa" tanya Zia.


"Meniup terompet" tanya santri itu heran.


"Ya ada" ucap Zia.


"Oh malaikat yang meniup sangkakala Mungkin" ucap santri itu.


"Ya siapa nama nya" tanya Zia.


"Israfil" ucapnya.


"Ya itu, dia belum melakukan tugas nya karena kalau dia melakukan tugas nya maka akan terjadi kiamat" ucap Zia.


"Kau benar juga" ucap nya.


"Aku benar kan" tanya Zia.


"Ya terima kasih kak" ucapnya.


"Sama sama" ucap Zia.


Zia berjalan ke arah madrasah, sekarang kelas sudah berdiri tegap hanya tinggal memasang atap dan pintu saja.


"Semoga bisa selesai dengan segera, aku tak mau mengajar begini lagi" gumam Zia.


Zia mengingat masalah dengan Bu Isma bahkan sampai sekarang Bu isma seolah menjauh dari Zia, bahkan kalau ketemu pun Bu Isma seolah menyindir Zia.


Zia hanya bisa menghela nafas apa lagi sekarang ada Aulia yang sangat akrab dengan Adam.


Zia terkejut saat melihat ada mobil hitam yang sangat Zia kenal.


"Ada apa lagi" gumam Zia.


Rena datang ke sana mendekat pada Zia.


"Kak kenapa Bibi datang" tanya Rena.


"Aku gak tau Ning" ucap Zia.


Sofi dengan kedua anak buahnya turun dari mobil itu, semua santri melihat hal itu karena mereka yakin kalau ada adik Abah pasti akan ada perkelahian nanti nya.


Sofi berjalan ke arah Rena dan Zia, saat ini Zia tau betul kalau Sofi sudah mengetahui kalau Rena anak nya.


"Rena sini nak aku ibu mu" ucap Sofi.


"Hah mau apa kau" tanya Rena.


"Jangan kasar pada ku Rena aku ibu mu" ucap Sofi.


"Aku anak Abah" ucap Rena membantah.


"Kau anak ku" ucap Sofi yang hendak memegang tangan Rena.


Namun tangan Rena di tahan oleh Adam.


"Jangan pegang dia, Ning Rena adik ku" ucap Adam.


"Dia anak ku, kau tak berhak Adam" ucap Sofi.


"Tapi selama lima belas tahun ini aku adalah kakaknya" ucap Adam.


"Tetap saja aku ibu kandung nya" geram Sofi.


"Hah kalian bicara apa" tanya Rena.


"Kau anak ku Rena" ucap Sofi lagi.


Rena langsung berlari ke arah rumah Abah untuk meminta penjelasan dari Abah dan Umi nya.


Adam berjalan masuk mengikuti Rena yang sudah masuk ke dalam rumah.


Adam melihat kalau sekarang Rena tengah menangis di kursi dengan Abah yang sedang menjelaskan sesuatu, sedang kan Umi dia memeluk Rena yang tengah menangis.


"Abah" ucap Adam.


Sofi dan kedua anak buahnya langsung masuk ke dalam.


"Aku mau kau kembali kan anak ku" ucap Sofi.


"Anak mu? Lalu kemana saja kau saat ini Sofi" ucap Umi yang langsung berdiri.


"Arum aku minta anak ku kembali" ucap Sofi.


"Aku gak akan berikan, aku besar kan dia dengan kasih sayang jadi aku tak ingin ada orang asing yang datang dan mengaku sebagai ibu nya Rena" ucap Umi.


"Arum dia anak ku" geram Sofi.


"Alasan apa yang membuat mu yakin kalau Rena adalah anak mu" tanya Umi.


"Golongan darah kita sama" ucap Sofi.


"Golongan darah aku dan Adam juga berbeda tapi Adam tetap anak kandung ku" ucap Umi.


"Arum kau berdosa jika menjauh kan seorang anak dari ibunya" ucap Sofi.


"Dosa? Dosa apa yang kau maksud kan, dosa karena telah membiarkan anak nya akan di bu nuh oleh suaminya sendiri" ucap Umi.


"Hah" Sofi terkejut.


"Dari mana kau tau" ucapnya lagi dengan tatapan mata yang sedih.


"Hahah aku tau tentu saja aku tau aku ada di sana, bukti nya kau membiarkan seorang bayi tak berdosa akan di bu nuh oleh suami tercinta mu itu" ucap Umi kesal.


"Jadi benar kalau Rena itu anak ku" tanya Sofi.

__ADS_1


"Tenang lah Umi" ucap Abah.


"Bagai mana aku bisa tenang, dia anak ku Abah aku yang memandikan pertama kali nya" ucap Umi.


Rena hanya menatap perkelahian itu dengan tangisan, bahkan air matanya tak berhenti mengalir.


"Duduk lah aku akan ceritakan" ucap Abah yang tenang saja.


Sofi duduk di kursi rumah itu,


"Cerita kan lah aku mau tau" ucap Sofi.


"Ning Rena apa pun kebenaran nya nanti kau ikhlas menerima nya Ning" ucap Abah.


Flash back onn


Lima belas tahun lampau..


Saat itu sebuah pasangan muda tengah berjalan di koridor rumah sakit dengan keadaan khawatir karena adik nya akan segera melahirkan.


Pasangan itu tak lain adalah Abah Zakaria dengan Umi Arum.


Mereka mendapatkan pesan kalau Sofi akan melahirkan sekarang.


Begitu bahagia nya mereka mendengar hal itu, apa lagi ini kali pertama nya mereka akan mempunyai keponakan.


Namun ada hal yang membuat langkah kaki mereka terhenti.


Mereka melihat suami Sofi yang tak lain adalah adik iparnya, dia membawa seorang bayi yang di selimuti selimut bayi.


"Mas lihat itu suami Sofi kan" ucap Umi.


"Ya Arum mau ke mana dia membawa bayi" ucap Abah.


"Kau susul lah, aku akan temui Sofi" ucap Umi.


Abah menyusul suami nya Sofi dia berlari entah kemana namun Abah tetap mengikuti nya, bahkan dia juga tak mau kalau suami nya Sofi tau kalau sekarang sedang di ikuti Abah.


Sedangkan Umi dia hendak ke arah ruangan adik ipar nya itu, namun dia mendengar sesuatu yang sangat membuat Umi jadi membenci pada Sofi.


"Nona putri anda di bawa tuan" ucap seorang pelayan Sofi.


"Sudah lah mbok biarkan saja lagi pula dia juga ayah nya" ucap Sofi marah.


"Tapi nona katanya tuan akan membu nuh putri anda" ucap pelayan Sofi.


"Sudah lah aku gak perduli dengan anak itu saat ini aku akan membangun cafe remang, jadi aku akan kesulitan dengan anak itu" ucap Sofi.


"Tapi nona" ucap pelayan Sofi.


"Sudah lah kau aku pecat, banyak bicara kau" geram Sofi.


"Baik lah aku akan pergi lagi pula aku juga tak mau punya majikan yang tak sayang pada anak nya sendiri" ucap pelayan itu yang langsung pergi dari sana meninggal kan Sofi sendirian.


Umi yang melihat nya pun hanya terkejut dengan sikap asli adik ipar nya itu.


"Astaghfirullah Sofi seperti ini" gumam Umi sambil mengelus dadanya.


Umi Langsung pergi dari sana hendak menyusul Abah untuk meng gagal kan rencana suami nya Sofi membu nuh anak tak berdosa itu.


Sekarang Abah tengah sembunyi di salah satu pohon yang tak jauh dari tempat suami Sofi berdiri, saat ini mereka tengah di dekat sebuah danau.


"Jangan lari kau" sahut orang orang itu.


Suami Sofi langsung melepas bayi itu ke danau lalu dia langsung lari dari sana karena ingin menghindar dari orang orang itu.


Setelah semua pergi Abah datang ke sana dan langsung terjun ke danau itu mencari bayi yang mengembang di atas danau yang cukup dangkal itu.


"Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyelamatkan mu" gumam Abah menatap bayi yang tengah menangis itu karena terkena air danau yang dingin.


"Mas" sahut Umi.


"Arum" teriak Abah.


Umi menatap pada Abah yang sekarang sudah basah kuyup dengan seorang bayi di tangan nya.


"Alhamdulillah akhirnya bayi ini selamat" ucap Umi yang langsung mengambil alih menggendong bayi itu.


"Bayi siapa ini" tanya Abah.


"Ini bayi Sofi Mas" ucap Umi yang langsung menceritakan kejadian di rumah sakit itu.


"Astaghfirullah begitu kah sikap aslinya Sofi" ucap Abah.


"Begini saja mas, kita bawa dia pulang kita anggap saja dia anak kita sendiri, aku tak rela kalau anak ini tau bahwa ibu nya tak menyayangi nya" ucap Umi.


"Baik lah Arum ayo kita pulang" ucap Abah.


Hingga sampai di pesantren, semua santri bertanya apa lagi Adam yang saat itu berusia 12 tahun dia bertanya bayi siapa itu.


Umi dan Abah hanya menjawab kalau bayi itu bayi mereka.


Flash back off


"Bagai mana jelas hah, lalu sekarang siapa yang salah? Siapa yang dosa? Bukan aku kan" geram Umi.


"Oke aku salah aku paham tapi bukan begini juga caranya, kau menyembunyikan identitas Rena dari ku" ucap Sofi.


"Apa sebagai seorang ibu kau tak merasa ada hubungan dengan Rena" tanya Umi.


Sofi berfikir karena setiap bertemu Sofi hanya terobsesi untuk menghancurkan Abah.


"Gak kan ya sudah kau bukan ibunya, ibunya itu aku" ucap Umi menepuk dadanya sendiri.


"Sombongnya kau Arum apa kau tak tau kalau aku sebagai seorang ibu aku berhak mengambil Rena dari mu" ucap Sofi.


"Terserah tapi yang jelas kalau kau mau maka langkahi dulu mayat ku ini" ucap Umi.


"Aku akan maksa" ucap Sofi yang langsung bangun dari duduknya dan hendak menarik Rena.


"Lepaskan dia Sofi kau tak berhak atas nya" ucap Umi marah.


"Tapi dia tetap putri ku dia darah daging ku" ucap Sofi.


"Tapi dia tak sedarah dengan mu" ucap Umi.


"Apa maksud mu" tanya Sofi.


"Kau seharusnya malu, kau punya anak yang paham pada Agama tapi kau menyeleweng dari Agama" ucap Umi.

__ADS_1


"Berani nya kau membandingkan pekerjaan ku dengan sikap mu" geram Sofi.


"Diam" bentak Abah.


Semua orang langsung diam apa lagi Umi yang mendengar Abah marah langsung terduduk di kursi yang dekat dengan Rena.


"Biar aku yang akan tentukan" ucap Abah.


"Aku harap keputusan mu tak akan mempersulit Rena" ucap Umi menatap tajam pada Abah.


"Baik lah Sofi kau memang ibunya, tapi karena selama lima belas tahun ini kau tak menganggap Rena ada maka kau boleh menganggap nya sebagai anak tapi kau tak bisa membawa pergi dari pesantren ini" ucap Abah.


"Tapi mana mungkin begitu" ucap Sofi.


"Hargai keputusan ku atau kau tak akan pernah menemui Rena lagi" ucap Abah.


"Baik lah tapi sekarang Rena harus menyebut ku sebagai mamah" ucap Sofi.


Jujur sangat berat bagi Rena untuk menerima kenyataan itu tapi mau bagaimana lagi, ini kenyataan nya.


Rena berdiri dia langsung lari dari sana menuju ke arah luar pesantren,


Adam yang melihat pun langsung menyusul Rena yang sekarang sudah keluar dari pesantren.


Rena terlihat menuju ke arah belakang pesantren di sana ada Luthfi yang tengah membereskan belakang pesantren karena sangat banyak sampah plastik di sana.


Rena langsung datang ke sana dia langsung jongkok di hadapan Luthfi dia menangis di hadapan Luthfi.


Kaki Rena rasanya lemas bahkan dia tak bisa menahan tumpuan badan nya.


Rena terduduk di tanah.


"Ning kau kenapa" tanya Luthfi yang langsung jongkok melihat Rena yang menangis.


Luthfi melihat Adam yang berdiri tak jauh darinya.


Sampai sini Adam paham kalau Rena punya hubungan spesial dengan Luthfi.


"Cerita lah jangan menangis" ucap Luthfi.


Namun Rena hanya menangis sesenggukan, Zia yang tadinya akan menyusul Adam pun melihat pemandangan itu.


"Gus ayo kita pulang" ucap Zia pada Adam.


"Aku mau memantau mereka" ucap Adam.


"Biarkan mereka bersama lagi pula gak akan terjadi apa apa, kau lihat itu" ucap Zia menunjuk pada petani yang tengah melihat ke arah mereka.


"Aku ingin tetap di sini" ucap Adam.


"Baik lah" ucap Zia pasrah pada pendirian Adam.


Bahkan Zia juga menunggu di sana karena takut nya Adam akan berbuat macam macam yang akan membuat Rena semakin menangis.


Luthfi merasa sangat canggung apa lagi Adam dan Zia melihat pada nya.


"Ning jangan menangis ada kakak mu di sini" ucap Luthfi.


"Gus aku sedih sekarang" ucap Rena sambil nangis sesenggukan.


"Sedih kenapa cerita pada ku" ucap Luthfi.


"Pantas aku di sebut tak mirip dengan Abah atau Umi karena aku bukan anak nya" ucap Rena.


"Jangan menangis" ucap Luthfi.


"Tapi aku sedih Gus" ucap Rena.


"Baik lah menangis lah keluar kan semua isi hati mu aku akan dengar" ucap Luthfi.


Rena menangis hingga lama sekali, Luthfi hanya melihat Rena sampai selesai menangis.


Dia setia duduk di sana menunggu Rena selesai menangis.


"Ingat nasihat Ali bin Abi Tholib Ning.


Jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan pernah mengumbar janji ketika sedang gembira" ucap Luthfi.


"Tapi aku tak mengumbar janji" ucap Rena.


"Oh salah ya" ucap Luthfi.


Rena tersenyum dan hendak memukul Luthfi, namun Luthfi menggeleng dan mengkode kalau di belakang ada Adam.


"Buat hati ku sejuk" ucap Rena.


"Harus kah aku baca kan surat Ar Rahman" tanya Luthfi.


"Tak usah buat hati ku sejuk dengan nasihat Ali bin Abi Tholib saja" ucap Rena


"Jagalah dirimu dari sikap marah, karena kemarahan itu di mulai dengan kegi laan dan berakhir dengan penyesalan" ucap Luthfi.


Rena sekarang sudah cukup tenang.


"Baik lah tuan putri ku ada apa kenapa kau menangis" tanya Luthfi.


"Aku tak sangka kalau aku ternyata anak nya Bibi Sofi bukan anak Abah" ucap Rena.


"Lalu" tanya Luthfi.


"Kau tak marah" tanya Rena.


"Marah kenapa" tanya Luthfi.


"Aku marah Gus, Abah menyembunyikan ini dari ku selama bertahun tahun" ucap Rena.


"Itu artinya Abah sayang pada mu, dia tak mau kau jatuh ke keluarga yang lain walau pun itu ibu mu sendiri" ucap Luthfi.


"Apa begitu" tanya Rena.


"Sebenarnya kau juga tau alasan nya, karena ibu kandung mu" ucap Luthfi.


"Ya aku tau" ucap Rena.


"Baik lah ayo pulang dan bicara kan dengan baik baik" ucap Luthfi.


"Baik lah" ucap Rena.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2