Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 122


__ADS_3

Subuh kira kira pukul 3 pagi, Umi sudah sibuk di dapur sedang kan Luthfi sekarang tengah menikmati kopi dengan Adam di ruang tamu.


"Ning ke mana Zia" tanya Adam yang melihat adik nya yang baru saja bangun dan keluar dari kamar.


"Kak Zia masih tidur Gus" ucap Rena.


"Biar aku bangun kan" ucap Adam yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


Seperti biasa Rena hanya tersenyum sekilas pada Luthfi sedang kan Luthfi tersenyum tipis Melihat hal itu.


"Ning bawakan makanan buat Gus Luthfi" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Rena yang langsung berjalan ke arah kamar mandi karena akan cuci muka.


Sedangkan di kamar Adam tengah membangunkan Zia,


Adam menggoyang goyangkan tangan Zia.


Tanpa Adam sadar Zia langsung memeluk nya dan membawa nya ke dalam pelukan Zia.


"Astaghfirullah Zia lepaskan aku" ucap Adam.


"Gus kau ini takut pada ku" ucap Zia.


"Bukan takut di sini banyak orang bagai mana kalau mereka lihat" ucap Adam yang sekarang berada di atas Zia.


"Gus tak akan ada yang lihat, lagian kalau ada yang lihat pun biarkan saja mereka pasti paham kalau kita suami istri" ucap Zia.


"Bangun ayo sahur" ucap Adam.


"Baik lah ayo" ucap Zia yang langsung melepaskan tangan nya yang melingkar pada badan Adam, Zia bangun dia mengecup singkat bibir Adam.


"Bibir mu manis" tanya Zia.


"Aku baru saja minum kopi" ucap Adam.


"Oh aku pikir, emang bibir mu mabis" ucap Zia.


"Sudah lah ayo bangun" ucap Adam.


"Ya ayo aku ke kamar mandi dulu" ucap Zia.


Mereka keluar Adam melihat Rena yang sekarang tengah menyuguhkan makanan pada Luthfi.


Bukan nya apa apa Adam merasa risih kalau Rena dekat dekat dengan laki laki apa lagi Gus Luthfi yang sekarang sudah besar.


"Ngemil Gus" sahut Luthfi.


"Ya silahkan" ucap Adam.


Zia segera ke kamar mandi dan langsung membantu Umi karena Rena juga sekarang tengah membantu Umi menghangat kan makanan.


"Umi tahu yang ini mau di angetin" tanya Rena.


"Tahu angetin saja Ning" ucap Umi.


"Baik lah biar aku yang angetin" ucap Rena.


Zia mengaduk aduk masakan yang sekarang dia hangat kan di atas wajan.


"Neng Zia nanti siang gak sibuk kan" tanya Umi.

__ADS_1


"Gak Umi emang ada apa" tanya Zia.


"Umi mau nanam jagung lagi, mau bantu" tanya Umi.


"Apa Ning Rena juga bantu" tanya Zia.


"Tentu saja" ucap Rena.


"Baik lah aku akan ikut" ucap Zia.


Setelah selesai menghangatkan makanan, mereka semua langsung makan bersama di ruang tamu.


Pertama kali berada di sana Luthfi merasa canggung tapi akhir nya dia bisa menikmati kebersamaan bersama dengan keluarga Abah.


Mereka makan bersama dengan makanan seadanya, karena bagi Abah puasa itu bukan tentang makanan mewah dan baju baru saat lebaran nanti tapi bagai mana caranya kita khusyuk dalam menjalankan ibadah.


Makan pun selesai mereka menikmati cemilan makanan ringan yang Umi beli di pasar kemarin.


"Gus Luthfi ayo makan lah yang banyak" ucap Abah.


"Ya abah, Alhamdulillah Terima kasih Abah" ucap Luthfi.


"Ya tak apa" ucap Abah.


"Oh ya Gus Luthfi kapan kau akan menikah" tanya Umi pertanyaan itu membuat Adam tersedak.


Bukan nya Luthfi yang tersedak justru malah Adam lah yang tersedak seolah kaget mendengar pertanyaan yang Umi lontar kan.


"Gus kau kenapa, minum lah" ucap Zia sambil menyodorkan satu gelas air putih.


Adam meminum nya sampai tandas.


"Dam kau ini kenapa, Umi tanya pada Gus Luthfi tapi kenapa kamu yang tersedak, kaya kamu yang umi tanya saja, padahal Gus Luthfi juga santai saja" ucap Umi.


"Ishh Abah, Umi hanya mau tanya saja karena kan Gus Fauzi juga mau menikah jadi kenapa Gus Luthfi belum" ucap Umi.


"Umi itu privasi" ucap Abah.


"Tidak Abah, aku gak masalah dengan pertanyaan itu, Umi mungkin jodoh ku masih belum siap untuk menikah jadi aku tak akan memaksa dia untuk segera menikah dengan ku" ucap Luthfi.


"Ya Gus takdir itu tak ada yang tau bisa saja satu Minggu lagi kamu menikah atau bisa jadi dua hari lagi" ucap Abah.


"Ya abah" ucap Luthfi.


"Kata mu orang nya di pesantren apa dia orang sini atau orang jauh" tanya Zia.


"Orang sini" ucap Luthfi.


"Oh" ucap Zia.


Abah menatap pada jam yang menggantung di dinding ruangan itu.


"Sebentar lagi imsyak" ucap Abah.


"Jam berapa imsyak" tanya Umi.


"Menurut dari kalender jam 4 lebih 32 menit berarti tiga menit lagi" ucap Abah.


"Apa itu imsyak" tanya Zia yang membuat semua orang menatap pada nya.


"Kamu tak tau" tanya Adam yang di balas gelengan kepala oleh Zia.

__ADS_1


"Zia imsyak itu waktu sepuluh atau lima belas menit sebelum shalat shubuh hal itu sebagai batasan untuk tidak lagi makan dan minum" ucap Adam.


"Oh baik lah, berarti sudah makan nya" tanya Zia.


"Ya sudah" ucap Adam.


"Baik lah harus apa aku sekarang" tanya Zia.


"Ambil air ini dan baca kan:


Allahumma ini audzubika minal ju'i fa innahu bi'sad dhaji'. Wa audzubika minal khiyanati fainnaha bi'satil bithanah.


Artinya:


"Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari kelaparan, karena ia merusak lambung, dan aku berlindung kepadamu dari perbuatan khianat, karena ia merusak kepribadian."


"Oh" ucap Zia.


"Jangan lupa Al Kausar juga" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia yang langsung membaca doa dengan masih di pimpin oleh Adam.


Zia meminum air itu sampai tandas.


"Alhamdulillah" ucap Zia.


"Baik lah sekarang kita sholat, bersiap lah" ucap Abah.


"Baik Abah" serempak.


"Jangan lupa berdoa dulu" ucap Abah.


"Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i fardhi syahri Ramadhâni hâdzihis sanati lillâhi ta'âla. Artinya: "Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta'ala." Serempak.


"Amin" serempak.


Zia kembali ke kamar nya karena akan mengambil mukenah.


Adam juga ikut masuk karena akan mengganti pakaian nya.


Setelah selesai Adam melihat pada Zia yang sejak tadi menguap terus.


"Ayo berangkat" ucap Adam.


"Lima menit saja" ucap Zia.


"Tak ada" ucap Adam.


"Ayo lah Gus" ucap Zia.


"Lima menit bohong Zia, sudah jangan malas malasan kita sholat sekarang" ucap Adam.


"Ya sudah ayo" ucap Zia yang langsung mengambil Wudhu dan shalat berjamaah di mesjid.


Siang harinya Zia membantu Umi bersama dengan Rena menanam jagung di lahan yang kosong.


Sedangkan Adam dan Luthfi sekarang mereka membantu Abah mengangkat bahan bangunan yang akan tukang Pasang kan sekarang.


Hari ini para tukang bekerja padahal sebelum nya Abah pernah menolak karena Abah tau kalau bekerja sambil puasa itu akan membuat kita cepat kelelahan.


Namun mereka memaksa dan memohon pada Abah karena kalau mereka tak bekerja mereka tak akan punya gajih dan tak punya uang.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2