
Mereka menunggu lama karena sekarang Rena belum juga sadar, bahkan terlihat di kaca pintu ruangan Rena kalau tangan Rena sekarang sudah di inpus.
Anak buah Sofi keluar dari dalam ruangan Sofi, mereka melihat kalau Abah masih ada di sana.
"Ustadz, Nyonya Sofi ingin bertemu dengan anda" ucapnya.
"Saya akan ke sana" ucap Abah.
Abah menatap pada Umi.
"Sekarang waktunya" ucap Abah.
"Jangan Abah" ucap Umi marah.
"Tapi Umi sampai kapan kita akan sembunyikan ini" tanya Abah.
"Umi gak rela" ucap Umi.
"Umi jangan egois kita terlalu lama menyembunyikan hal ini" ucap Abah.
"Abah" sentak Umi yang membuat Adam, Zia dan Luthfi menatap mereka.
"Ada apa umi" tanya Adam.
"Abah akan masuk" ucap Abah yang langsung masuk ke dalam tanpa mengindahkan ucapan Umi.
Umi Langsung terduduk di kursi, dia marah pada Abah apa lagi Umi gak akan mungkin melepaskan Rena nantinya.
"Ada apa Umi" tanya Adam.
"Kamu akan tau nanti" ucap Umi.
Di ruangan Abah sekarang tengah melihat adik nya yang sekarang sudah sadar.
"Mau apa kau datang kemari? Kau mau mentertawakan aku" tanya Sofi.
"Nyonya anak nya mendonor kan darah untuk anda" ucap anak buah Sofi.
"Bilang pada Rena terima kasih karena sudah mendonor kan darahnya untuk ku" ucap Sofi ketus.
"Apa sampai sekarang kau tak pernah berpikir" tanya Abah.
Sofi terkejut dengan ucapan Abah, dia penasaran dengan ucapan Abah.
"Apa maksud mu" tanya Sofi.
"Kalau golongan darah ku bukan O negatif berarti kita benar bukan adik kakak, apa ada seorang ponakan dengan Bibinya golongan darah nya sama" ucap Abah.
Sofi berfikir.
"Apa maksudmu" tanya Sofi lagi yang masih belum bisa mencerna ucapan Abah dengan baik.
"Pikirkan saja" ucap Abah yang langsung keluar dari sana meninggal kan Sofi yang masih bingung.
"Di mana Rena" tanya Sofi pada Abah yang baru saja akan keluar.
"Dia pingsan sekarang dia masih di periksa" ucap Abah tanpa melihat Sofi terlebih dahulu.
Sofi masih bingung dengan ucapan kakaknya itu, namun dia bukan orang bo doh yang tak tau maksud yang Abah ucapkan.
"Apa maksudnya" tanya Sofi pada anak buahnya.
"Mungkin maksudnya Rena itu anak Nyonya" ucap anak buah Sofi.
"Gak mungkin" ucap Sofi menggelengkan kepalanya.
"Tapi nona mungkin benar juga" ucap anak buahnya.
"Gak mungkin anak aku itu di ambil David, mungkin anak itu sudah meninggal" ucap Sofi.
"Tapi Nona bisa saja kan" ucap anak buah nya.
Sofi jadi lebih bingung dengan semua ini, apalagi Sofi tau betul kalau anak nya itu di bawa kabur saat dia baru saja melahirkan.
Tetapi Sofi juga masih memikirkan ucapan Abah yang tadi membicarakan Golongan darah yang sama.
Abah kembali ke arah Umi, namun Adam sangat penasaran dengan hal itu.
"Ada apa Abah" tanya Adam.
"Sebenarnya" ucap Abah yang di tatap tajam oleh Umi.
"Ada apa ini kenapa kalian tak bicara" tanya Adam.
"Sebenarnya Ning Rena anak nya Sofi" ucap Abah yang langsung di susul helaan nafas Umi yang menahan amarahnya.
"Hah" tanya Adam dan yang lainnya terkejut.
"Yang benar Abah" tanya Zia.
Abah hanya mengangguk kan kepala nya,
"Umi akan pulang, umi belum masak untuk para santri" ucap Umi.
Abah hanya diam saja karena tau kalau istri nya itu tengah marah.
"Aku ikut Umi" ucap Zia.
"Ayo" ucap Umi.
Luthfi langsung menyusul Umi dan Zia bersama dengan Adam.
"Umi tunggu biar aku panggil supir ku untuk mengantarkan kalian" ucap Luthfi.
"Cepatlah Gus" ucap Adam.
"Ya" ucap Luthfi yang langsung menghubungi supir pribadi nya.
Umi terlihat sangat marah saat ini.
"Dam" ucap Umi.
"Ya Umi" tanya Adam.
"Jaga Ning Rena, Umi tak mau kalau sampai Ning Rena di ambil oleh Sofi jangan biarkan Abah mu memberikan Rena pada Sofi ingat ini" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Adam.
"Gus Luthfi maaf Umi merepotkan mu, terima kasih sudah membantu" ucap Umi.
"Tak masalah Umi" ucap Luthfi.
"Tolong jaga Ning Rena" ucap Umi.
"Ya Umi aku janji akan menjaga Ning Rena" ucap Luthfi.
"Umi tak habis pikir dengan Abah, berani sekali dia bilang begitu" ucap Umi.
"Sudah Umi" ucap Zia.
"Umi jangan banyak pikiran, ada aku dan Gus Luthfi juga di sini" ucap Adam.
"Setelah selesai masak Umi akan datang lagi ke sini" ucap Umi.
"Ya" ucap Adam.
Sebuah mobil dengan merek terkenal berhenti di hadapan Luthfi dan yang lain.
"Ayo Umi masuk" ucap Luthfi.
__ADS_1
"Kau yakin ini mobil nya" tanya Umi.
"Ya Umi" ucap Luthfi.
Pintu terbuka menampakkan supir Luthfi yang tengah duduk di kursi pengemudi.
"Tuan ada berkas yang harus anda tanda tangani" ucap nya.
"Suruh asisten ku yang mendatangi" ucap Luthfi.
"Baik tuan" ucap supir itu.
Semua orang di sana terkejut saat mendengar supir itu menyebut Luthfi dengan sebutan tuan.
"Tolong antar kan Umi ke pesantren dengan selamat" ucap Luthfi.
"Baik tuan" ucap Supir.
Mobil berjalan menuju ke pesantren, Luthfi dan Adam kembali lagi ke dalam rumah sakit karena ingin menemui Abah.
Suasana di sana sangat canggung apa lagi Adam juga tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Umi dan Zia pulang ke pesantren sekarang sudah lewat Adzan Dzuhur, dengan cepat Zia melaksanakan Sholat Dzuhur di rumah karena kelihatan nya kalau para santri sudah selesai sholat Dzuhur.
Setelah selesai sholat Dzuhur, Umi langsung menyiapkan alat alat untuk membuat Bolu.
Zia masih Menganti pakaian di dalam kamarnya.
Seorang wanita cantik dengan Khimar panjang berwarna merah masuk ke rumah Umi.
"Assalamualaikum Umi" ucapnya.
"Waalaikum salam" ucap Umi pada wanita itu.
"Umi masih kenal pada ku" tanya wanita itu.
"Siapa ya" tanya Umi.
"Aku Aulia" ucap nya.
"Aulia" gumam Umi.
"Oh anak nya Ustadz Tegar ya" tanya Umi lagi.
"Ya Umi" ucap Aulia.
"Oh bagai mana kondisi kamu sehat" tanya Umi.
"Alhamdulillah" ucap Aulia.
"Syukur lah" ucap Umi.
"Umi sedang apa, aku bantu ya kebetulan aku sedang haid jadi aku bisa mencicipi" ucap Aulia.
"Oh ya kebetulan sekali ya" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Aulia.
"Baik lah Ayo" ucap Umi.
Zia keluar dari kamarnya, dia melihat seorang wanita cantik yang kemarin ngobrol dengan Adam.
"Wanita itu" gumam Zia.
"Neng sini, Kebetulan Neng Aulia mau bantu semoga cepat selesai" ucap Umi.
"Eh ya Umi" ucap Zia yang langsung bergabung dengan mereka.
Sedangkan sekarang sedang ada kajian di Madrasah, para santri sekarang mengikuti kajian namun Fauzi dan Farid di pusing kan dengan pertanyaan para santri yang tak henti hentinya.
"Gak ada Gus Luthfi para santri tak ada takut takut nya dengan kita" ucap Farid.
"Apa kita harus sekeras Gus Luthfi" tanya Fauzi.
"Diam" bentak Fauzi yang membuat para santri diam seketika.
Fauzi menatap pada Farid mereka lalu tersenyum melihat hal itu.
"Baik lah aku akan jawab pertanyaan kalian satu satu" ucap Fauzi.
"Jadi begini ada yang tanya kalau Sholat tutup mata kan, begini Sholatnya makhruh ya sholat nya makhruh, cuman begini saja kalian misal mau bertemu dengan presiden apa kalian akan tutup mata" tanya Fauzi.
"Tidak" serempak.
"Kalau tutup mata gak akan tau kan sedang apa dia, apa dia bicara pada mu atau tidak, mungkin orang orang yang melihat pun akan menganggap kita aneh, Nah sana Sholat juga begitu, saat Sholat kita akan bertemu dengan Alloh SWT apa kita pantas untuk tutup mata" tanya Fauzi.
"Tidak" serempak.
"Ya begitu, Ibnu Qoyim (w, 571 h) mengatakan. ”Bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.” (Zadul Ma’ad, 1/283)" ucap Fauzi.
"Paham" tanya Fauzi.
"Paham" serempak.
"Gus" ucap Fauzi pada Farid.
"Aku dengar tadi ada yang tanya kalau ada yang menyakiti hati apa yang harus kita lakukan" ucap Farid.
"Ya Gus aku" ucap salah satu santri.
"Begini ya, jika ada yang menyakiti hati kita karena ucapan nya maka ingat lah nasihat Ali bin Abi Tholib beliau pernah berkata.
"Jika ada kata kata yang melukai hati menunduk lah dan biarkan dia melewati mu, jangan di masukan ke dalam hati agar hati mu tidak lelah"
Begitu lah yang di katakan Ali bin Abi Tholib" ucap Farid.
"Terima kasih Gus" ucapnya.
"Tadi aku mendengar ada yang tanya tentang melakukan hubungan di bulan Ramadhan" tanya Fauzi.
Semua santri langsung senyap tak ada yang menjawab mungkin mereka malu untuk menanyakan nya.
"Ada ya Gus" tanya Fauzi pada Farid.
"Ya ada" ucap Farid.
"Beneran aku tanya ada gak yang tanya seperti ini" tanya Fauzi.
Namun tak ada jawaban dari para santri.
"Baik lah aku akan jawab" ucap Fauzi.
"Kalau di lakukan di siang hari dalam keadaan puasa maka hukumnya haram dan dosa besar bagi suami dan istri, tapi kalau malam hari tak apa ya" ucap Fauzi lagi.
"Tapi gus kalau misal kan suami minta lalu si istri nya melayani nya apa istri nya berdosa" tanya salah satu santri.
"Maka keduanya berdosa karena secara tidak langsung si istri telah membiarkan suami nya melakukan dosa" ucap Fauzi.
"Paham" tanya Fauzi.
"Paham Gus" ucap serempak para santri.
Sedangkan di rumah Umi sekarang Zia tengah kesal karena wanita itu sangat akrab dengan Umi.
"Terima kasih Neng Aulia sudah membantu Umi" ucap Umi.
"Ya umi sama sama" ucap Aulia.
"Setelah selesai ini Umi akan langsung masak semoga saja selesai cepat karena Umi ingin menemui Rena lagi" ucap Umi.
__ADS_1
"Semoga Ning Rena segera sembuh" ucap Aulia.
"Amin" ucap Umi.
Umi langsung memasak dengan di bantu Zia dan Aulia.
Sedangkan di rumah sakit, Adam, Abah, dan Luthfi sekarang sedang cemas karena Rena belum juga siuman bahkan sekarang sudah hampir sore hari.
"Gus aku akan Sholat Ashar duluan" ucap Luthfi.
"Ya" ucap Adam.
Adam dan Abah melihat pada Sofi yang keluar dari kamarnya dengan di kawal kedua anak buahnya.
"Di mana Rena" tanya Sofi.
"Dia belum siuman" ucap Abah.
"Jelaskan pada ku apa benar Rena anak ku" tanya Sofi.
"Apa kau tak salah meminta penjelasan sekarang aku sedang menunggu Rena sadar" ucap Abah.
"CK tapi aku butuh penjelasan" ucap Sofi.
Abah tak menggubris ucapan Sofi dia hanya diam saja.
Lama mereka menunggu, Adam sejak tadi melihat ke arah Mushola rumah sakit itu tetapi tak ada tanda tanda Luthfi keluar juga.
"Abah aku akan Sholat Ashar" ucap Adam.
"Ya" ucap Abah.
Adam berjalan ke arah mushola dia melihat ada Luthfi yang sekarang tengah berdoa terlihat dari tangan nya yang menengadah ke atas.
Namun ada hal yang membuat Adam terkejut, Luthfi menangis sambil berdoa.
Luthfi adalah laki laki yang tak pernah terlihat mengeluarkan air mata namun sekarang dia menangis.
"Apa dia mendoakan Rena, apa sebesar itu cinta Gus Luthfi pada Rena" gumam Adam.
Adam melaksanakan sholat ashar nya, sedang kan Abah sekarang tengah melihat Rena yang baru saja sadar, sebelum masuk Abah mengingat kan pada Sofi untuk tak masuk karena untuk kesehatan Rena.
Abah tak mau kalau sampai Rena kembali pingsan lagi.
"Abah di mana Umi" tanya Rena.
"Umi pulang nak, dia harus masak dia punya tanggung jawab di pesantren" ucap Abah.
Luthfi masuk ke dalam sana.
"Ning sudah sadar" tanya Luthfi yang di balas anggukan lemah oleh Rena.
"Alhamdulillah kalau kau sudah sadar" ucap Luthfi.
"Gus bisa titip Rena, Abah akan sholat ashar dulu" ucap Abah.
"Baik lah Abah" ucap Luthfi.
Abah pergi dari sana.
"Kenapa pingsan" tanya Luthfi.
"Bukan kemauan aku" ucap Rena.
"Aku khawatir" ucap Luthfi.
Rena tersenyum tipis.
"Kenapa tak pulang" tanya Rena.
"Kau mengusir aku" tanya Luthfi.
"Mengusir? Bukan mengusir aku hanya tanya urusan mu di pesantren kan banyak" ucap Rena.
"Kamu lebih penting" ucap Luthfi.
"Kau perhatian" ucap Rena.
"Aku sangat mencinta.. " ucap Luthfi terpotong karena melihat ada Umi dan Zia yang masuk kedalam ruangan itu.
"Ning" ucap Umi yang langsung memeluk putri nya itu.
"Umi" ucap Rena membalas pelukan nya.
"Syukur lah kau sudah siuman, maaf Umi pulang dulu karena umi harus masak" ucap Umi.
"Tak apa Umi" ucap Rena.
"Kamu istirahat lah dulu" ucap Umi.
"Kapan aku bisa pulang" tanya Rena.
"Nanti" ucap Umi.
Mereka menunggu hingga buka di sana, Zia dan Adam mencari makanan di luar sedang kan Umi, Abah dan Gus Luthfi menunggu di ruangan Rena.
"Siapa yang bayar ruangan ini" tanya Umi.
"Abah tak bawa uang" ucap Abah.
"Aku akan tanya kan pada administrasi nya Abah" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana karena tak mau berada di antara kedua insan yang sedang saling marah.
Zia dan Adam mencari makanan di pinggir jalan, sejak tadi Adam memegang tangan Zia dia seolah tak mau melepas kan tangan Zia.
"Mau beli apa" tanya Adam.
"Beli bubur dulu untuk Ning Rena" ucap Zia.
"Aku tanya kau" ucap Adam.
"Aku mau kau" ucap Zia.
"Kau sudah dapat" ucap Adam.
"Terserah" ucap Zia.
Mereka buka puasa di rumah sakit dengan nasi kuning dan beberapa lauk yang menemani nasi itu mereka makan dengan sangat lahap.
Hingga malam harinya kira kira pukul delapan akhirnya Rena di perbolehkan pulang juga.
Mereka pulang dengan naik mobil Luthfi yang sudah Luthfi telpon tadi.
Sedangkan Sofi hanya menatap anaknya dengan tatapan sedih.
Karena ternyata anak nya masih ada di hadapan nya.
"Aku butuh penjelasan" gumam Sofi.
sesampainya di pesantren semua santri sudah makan dan sudah melaksanakan shalat tarawih bersama bahkan banyak juga warga yang datang ke sana.
Rena sekarang menginap di rumah Umi, dan Abah lah yang harus mengalah untuk tidur di luar malam ini.
hingga subuh Umi kesiangan dia lupa menghangat kan masakan.
"bagai mana ini Umi lupa" ucap Umi pada Zia yang sekarang sudah bangun.
"umi kita hangat kan saja nasi kalau nasi hangat maka lauk pauk nya juga akan hangat" ucap Zia.
"ya umi akan lakukan" ucap Umi.
__ADS_1
puasa hari ke 8 ini, baru pertama kali Umi bangun kesiangan.
bersambung