Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
Bab 62


__ADS_3

"Bagai mana keadaan Zia sekarang" gumam Adam bertanya tanya dalam fikiran nya.


Adam tak bisa berbuat banyak apa lagi sekarang Adam merasa serba salah,


"Aku akan tanya pada Gus Fauzi saja" ucap Adam.


Adam mendekat pada Fauzi yang sekarang berada di depan kelas karena Fauzi juga tak boleh berada di sana apa lagi Fauzi seorang laki laki.


"Gus" sahut Adam.


"Ya" ucap Fauzi.


"Bagai mana keadaan Zia" tanya Adam pada Fauzi yang sekarang tengah melamun bahkan sudah Adam pastikan kalau Fauzi tengah menangis karena terlihat dari matanya yang sedikit memerah.


"Aku gak tau tapi kata Bidan Zia harus di jahit di bagian kepala nya yang terluka" ucap Fauzi.


"Astagfirullah separah itu Zia" gumam Adam.


"Lalu bagai mana dengan Ainun" tanya Fauzi.


"Ainun cukup parah Gus, Bidan takut kalau Ainun mengalami amnesia bahkan yang paling di takut kan adalah ada luka di dalam" ucap Fauzi.


"Yang sabar ya Gus" ucap Adam.


"Ya, aku yakin Ainun bisa melewati ini" ucap Fauzi.


"Ya amin" ucap Adam.


"Gus aku akan masuk dulu ada kelas sekarang" ucap Fauzi.


"Ya Gus" ucap Adam.


Sedangkan di uks, Ainun sedang mendapat perawatan medis, karena walau pun bidan desa tapi peralatan medis semua komplit, namun kalau Bidan itu tak bisa berbuat apa apa maka akan di rujuk ke rumah sakit di kota.


Zia saat ini masih pingsan apa lagi tadi Zia diberi obat bius karena akan di jahit lukanya.


Karena sekarang sudah selesai maka Zia hanya tinggal menunggu sadar saja.


Tiba tiba banyak sekali warga yang datang ke sana karena akan mengobati anak anak mereka yang terlibat tawuran di RW sebelah.


Abah panik karena warga berdatangan ke sana bahkan yang lebih parah nya lagi mereka membawa anak mereka yang terluka ke sana.


"Ada apa ini" tanya Abah yang langsung mendekat pada warga itu.


"Bah kami mohon kami ingin Bidan itu mengobati anak kami, lihat lah mereka semua terluka" ucap salah satu warga.


"Baik lah ayo bawa masuk" ucap Abah.


Semua warga masuk dengan membawa anak mereka, jika Abah perhatikan korban yang terluka adalah remaja yang masih duduk di bangku sekolah.


"Saya akan panggil kan" ucap Abah.


Abah berjalan ke UKS


"Bu ada warga datang kemari mereka ingin memeriksa anak mereka yang terkena lemparan batu saat tawuran" ucap Abah.


"Di mana" tanya Bidan itu.


"Di luar" ucap Abah.


"Saya akan ke sana" ucap Bidan itu.


Abah melihat pada Zia dan Ainun yang masih pingsan bahkan Ainun sampai mendapat inpus di tangannya.


"Ya Allah musibah apa ini, Desa ini semakin tak aman bahkan polisi setempat pun tak mau membantu mereka seolah bungkam dengan kejadian ini, apa ini yang di nama kan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi yang aku lihat hanya keadilan bagi orang kaya" ucap Abah sampai menggeleng geleng kan kepala nya.


Karena Abah juga tinggal di sana sejak kecil sampai besar tapi tak ada orang yang berani tawuran bahkan kalau ada pun orang tua mereka sigap akan memarahi anak anak nya tapi sekarang sangat jauh berbeda.


Bidan itu kewalahan karena banyak nya korban sedangkan yang mengobati hanya dia se orang saja.


"Bentar pak aku akan panggil kan teman saya" ucap Bidan itu.


Bidan itu menelpon seseorang untuk membantu nya mengobati korban tawuran.


Bahkan Umi juga ikut membantu karena kasihan melihat anak anak remaja yang kesakitan.


Tak berselang lama teman Bidan itu datang ke sana dengan membawa obat dan peralatan yang lengkap.


Umi ikut membantu namun hanya membantu mengoleskan bethadin saja karena untuk obat yang lain Umi tak paham.


"Sabar ya" ucap Umi.


"Terima kasih Umi karena sudah menolong dan mengijinkan kami datang kemari" ucap warga.


"Tak masalah saya paham Bu Bidan ada di sini karena anak santri pesantren ini ada juga yang terluka bahkan mereka sampai pingsan di sini" ucap Umi.


"Hatur nuhun Umi" ucap yang lain.


"Te nanaon" ucap Umi.


"Abah kami pamit" ucap yang lain yang anak nya sudah di obati.


"Ya hati hati di jalan" ucap Abah.


Satu persatu warga pergi karena mereka hanya mendapat luka yang cukup ringan tak seperti Zia yang terkena batu saja langsung luka di kepala.


"Bidan bagai mana kondisi Zia dan Ainun" tanya Abah yang sengaja bertanya pada Bidan di hadapan Adam.


Karena Abah tau kalau putra nya itu sangat khawatir pada Zia, tapi bukan maksud Abah untuk melarang tapi Abah hanya takut kalau mereka terlalu dekat maka yang ketiga nya adalah setan.


Abah hanya takut Adam mau pun Zia tak bisa menjaga hawa nafsu nya, maka dari itu Abah mulai sekarang akan sedikit ketat mengawasi keduanya.

__ADS_1


"Kalau Zia sudah baik Abah bahkan saya sudah jahit luka nya tapi untuk Ainun belum ada kepastian Abah" ucap Bidan itu.


"Kepastian bagai mana" tanya Abah.


"Kita akan lihat saja beberapa jam lagi Abah kalau dia cepat sadar maka dia akan selamat kalau dalam beberapa jam ini tak bangun maka kita akan rujuk dia ke rumah sakit besar" ucap Bidan itu.


"Oh terima kasih" ucap Abah.


"Ya, Ra ayo bantu aku merawat kedua pasien yang masih belum sadar" ucap Bidan itu pada temannya.


Adam yang sadar tatapan Abah pun langsung kembali ke kelas yang sedang di ajar oleh Fauzi.


"Gus" ucap Adam.


"Ya Gus ada apa" tanya Fauzi.


"Aku baru dapat kabar dari Bidan itu katanya Ainun cukup parah dan kita tunggu saja beberapa jam kalau tidak sadar juga maka terpaksa Ainun akan di rujuk ke rumah sakit kota" ucap Adam.


"Astagfirullah" ucap Fauzi yang sekarang semakin cemas saja pada kondisi Ainun.


"Kau tenang saja Gus, aku saran kan kau ber doa saja di mesjid minta kesembuhan untuk Ainun pada Alloh, yang mengajar biar aku yang gantikan" ucap Adam.


"Apa tak akan menyusahkan" tanya Fauzi.


"Kenapa menyusahkan" tanya Adam.


"Baik lah aku akan ke mesjid" ucap Fauzi.


"Ya" ucap Adam.


Adam menggati kan Fauzi untuk mengajar di kelas 3 SMP.


Sedanhkan Abah saat ini baru saja akan masuk kedalam rumah nya namun Topan dan Nita yang tak lain adalah mamah dan papah nya Zia pun datang ke sana karena mendapat kabar kalau Zia pingsan.


"Assalamualaikum Abah" ucap Topan.


"Waalaikum salam" ucap Abah.


"Abah kami dapat kabar kalau Zia pingsan apa benar Abah" tanya Topan.


"Ya pak, Bu maaf Zia terluka karena saya" ucap Abah.


"Kenapa, maksud nya apa" tanya Nita.


"Ya tadi saya melihat Ainun pergi ke Rw sebelah tadinya saya akan susul tapi ternyata saya ada kelas jadi saya suruh Zia, saya kira mereka hanya di sekitar sini saja ternyata mereka ke Rw sebelah dan di waktu yang sama ada tawuran di RW sebelah" ucap Abah menjelaskan.


"Apa" tanya Nita tak percaya.


"Ya Bu Nita saya minta maaf sebesar besarnya karena sudah teledor menjaga santri" ucap Abah.


"Tak masalah Abah ini musibah, bisa saya kami lihat Zia" ucap Topan.


"Silahkan pak" ucap Abah.


"Bu bidan bagai mana keadaan Zia" tanya Nita pada Bidan.


"Bu kondisi Zia sudah membaik kita tinggal tunggu saja Zia siuman" ucap Bidan itu.


"Lalu bagai mana dengan dia" tanya Nita pada Ainun.


"Luka nya cukup parah Bu apa lagi dia sampai kehabisan cairan makannya sudah beberapa inpus yang kami pasang pada nya" ucap Bidan.


"Oh usaha kan yang terbaik untuk mereka Bu" ucap Nita.


"Pasti Bu" ucap Bidan.


Sebenar nya kalau saja tak banyak orang di sana mungkin saja Nita sudah menangis melihat putrinya yang tergeletak di blangkar dengan bekas jahitan di kepala nya, hati Ibu mana yang tak sakit jika melihat anak nya begitu.


Nita dan Topan hanya menunggu saja di sana karena ingin sekali melihat kondisi putrinya.


Drtt drttt


📞📞


"Ya" tanya Nita pada Rayhan yang sekarang sedang menelponnya.


"Mah bagai mana kondisi Zia" tanya Rayhan yang tak lain adalah kakak nya Zia.


"Zia masih belum sadar Ray" ucap Nita.


Karena sebelum datang ke sana Nita sedang menelpon dengan putra nya.


"Lalu bagai mana kata Dokter" tanya Rayhan.


"Kata Bidan Zia baik baik saja bahkan Zia Baru saja di jahit" ucap Nita.


"Apa Zia terluka se parah itu sampai di jahit" tanya Rayhan.


"Mamah belum sempat lihat karena kepal Zia masih di perban" ucap Nita.


"Mah kalau ada apa apa hubungi Aku" ucap Rayhan.


"Ya nak" ucap Nita.


📞📞


"Siapa" tanya Topan.


"Rayhan mas" ucap Nita.


Lama mereka semua menunggu bahkan Adam juga hanya melihat dari jarak jauh saja karena takut Abah akan memperhatikan lagi.

__ADS_1


Adam memutuskan untuk ikut ke mesjid bersama dengan Fauzi, sekalian akan tadarus juga karena Adam melihat kalau sekarang tak ada jadwal Adam mengajar.


Jadi Adam bisa ke mesjid sekalian mendoakan kesembuhan bagi Zia dan Ainun.


Adam tadarus di mesjid bahkan dia sekarang berdoa untuk kesembuhan Zia, Adam selalu saja menyebutkan nama Zia di setiap Doa Doa nya.


Lama Adam berdoa di mesjid bahkan Fauzi pun sejak tadi menengadah kan tangannya, karena sedang men doa kan keselamatan calon istrinya.


Di UKS Zia mulai sadar dan membuka matanya dengan perlahan.


Kepala nya pusing, bahkan Zia sekarang merasa sedang berputar putar.


Zia menatap pada semua orang yang ada di sampingnya.


"Bu pak, Zia sudah sadar" ucap bidan.


Nita dan Topan langsung datang ke sana.


"Zia kau sadar nak" tanya Nita pada Zia.


"Dimana aku" tanya Zia dengan suara lemas.


"Kamu berada di pesantren Zia kamu aman" ucap Topan.


"Apa yang terjadi" tanya Zia.


"Tidak ada kau hanya pingsan saja" ucap Nita.


"Bu pak jangan di aja bicara banyak dulu biarkan Zia istirahat karena dia kan baru saja sadar" ucap Bidan.


"Ya Bu" ucap Nita.


"Sayang mamah tunggu di luar ya, kamu istirahat saja dulu karena kamu harus banyak istirahat" ucap Nita.


"Ya mah" ucap Zia dengan suara lemah.


Nita dan Topan keluar dari sana karena akan menunggu di luar saja.


Umi datang ke sana karena Umi baru tau kalau orang tua nya Zia datang ke sana.


"Bu pak ayo tunggu saja di rumah" ucap Umi.


"Jangan Umi di sini saja" ucap Nita.


"Oh ya bagai mana kondisi Neng Zia sekarang" tanya Umi.


"Sudah sadar tapi kata Bidan Zia harus banyak istirahat" ucap Nita.


"Oh Syukur lah, ayo Bu pak tunggu saja di rumah" ucap Umi.


Mau tak mau Nita dan Topan pun ikut bersama dengan Umi ke rumahnya.


"Kelakuan anak remaja sekarang malah semakin kacau ya Bu" ucap Umi.


"Ya Umi tapi kenapa ya Zia datang ke sana dan pas sekali sekarang tengah dilangsungkan tawuran " ucap Nita.


"Ya mungkin sudah takdir Bu, tapi saya takut pada Ainun saya takut kalau dia parah apa lagi dia baru saja datang kemari" ucap Umi.


"Tak apa Umi ini kan musibah" ucap Nita.


"Ya Bu tapi yang saya takut kan adalah orang tua nya" ucap Umi.


"Apa orang tua nya sudah di hubungi" tanya Nita.


"Se tau saya belum Bu apa lagi orang tua nya jauh" ucap Umi.


Nita dan Topan duduk di rumah Umi, menunggu Zia pulih dan mereka bisa bertanya bagai mana kronologi kejadian nya.


Adam yang sekarang berada di mesjid pun merasa cukup lega karena mendengar Zia sudah siuman, walau pun sekarang tak boleh ada yang datang ke sana tapi mendengar Zia sadar saja hati Adam jadi tenang.


Adam sekarang hendak menjaga keamanan karena para santri sekarang waktunya istirahat, Adam berjalan ke arah gerbang.


"Dam" sahut Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Menikah itu bukan hal yang gampang, namun terlalu lama seperti ini tak bagus juga untuk mu" ucap Abah yang di setiap kata kata nya mengandung banyak teka teki.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Segera lah takut nya akan merugi kan pihak lain" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


"Abah akan ke sana dulu" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam.


Adam hanya menatap pada Abah yang tak lain adalah papah nya itu.


"Tuh kan Abah tau tentang aku dan Zia" gumam Adam.


Adam diam di depan gerbang masuk pesantren, semua santri kebanyakan keluar saat jam istirahat karena di dalam pesantren tak ada warung atau kantin.


Banyak sekali santri putri dan santri laki laki yang saling bercengkrama, mengobrol bersama dan hal itu lah yang membuat pesantren itu di jaga ketat karena takut nya ada santri yang pacaran.


Keinginan Abah pesantren itu ingin nya di bagi menjadi dua, yaitu pesantren untuk laki laki dan pesantren untuk santri putri namun keadaan nya belum memadai jadi untuk sementara seperti ini dulu.


Padahal Abah juga sudah sangat geram pada santri yang tak patuh pada peraturan, walau pun semua santri mengira kalau Abah hanya diam saja dan tak akan tau perbuatan mereka.


Mereka sangat lah salah karena walau pun Abah saat istirahat selalu diam tapi dia tau apa saja yang di lakukan anak santri nya.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2