
Zia dan Adam berangkat bahkan saat itu masih gelap karena masih pagi kira kira pukul lima pagi.
Zia berjalan dengan tergesa gesa dia tak mau tertinggal mobil.
"Zia pelan pelan" ucap Adam menarik tangan Zia lalu menuntun nya supaya tak terlalu tergesa gesa.
"Berapa hari kau Batal puasa" tanya adam menatap pada Zia.
"Satu hari saja saat aku sakit" ucap Zia.
"Apa kau tak haid" tanya Adam.
"Hah, ya aku lupa kalau bulan kemarin aku tak haid" ucap Zia.
"Lalu bagai mana" tanya Adam.
"Tak apa lagi pula aku suka terlambat haid pernah satu kali aku tak haid selama satu bulan dan bulan berikutnya aku lancar" ucap Zia.
"Oh baik lah kalau begitu" ucap Zia.
Mereka sampai di kediaman orang tua Zia, mereka langsung masuk ke dalam mobil dan menuju ke kota, hingga beberapa jam mereka sampai ke kota.
Rumah Rayhan kakak nya Zia sudah ramai dengan orang orang, bahkan ada keluarga Puput juga di sana.
"Assalamualaikum" serempak.
"Waalaikum salam".
"Maaf aku baru datang jalanan macet" ucap Nita.
"Tak apa kak" ucap Puput.
Mereka berbincang bincang banyak sekali.
"Nak Adam apa di pesantren menerima anak na kal" tanya Arka suaminya Puput.
"Apa maksudnya" tanya Adam.
"Aku mau memasukan Abimana ke sana boleh kah" tanya Arka.
"Tentu saja boleh, gak ada anak yang na kal pak, hanya saja dia salah pergaulan, kami justru senang karena hal itu akan membuat ramai lagi pesantren" ucap Adam.
"Ya aku sudah menyerah mendidik Abimana dia sangat na kal aku bahkan tak tau berapa wanita yang pernah dia kencani saling banyaknya aku tak bisa memper tanggung jawab kan nya" ucap Arka.
Adam tersenyum.
"Tak apa Pak yang sudah berlalu biarkan berlalu karena tak akan ada orang yang tak berbuat salah" ucap Adam.
"Kau sangat bijak, aku titip Abimana aku mau dia seperti mu" ucap arka.
"Aku juga bahkan sering berbuat salah" ucap Adam.
"Baik lah ayo kita ke Makkah kita jiarah sekarang" ucap Topan.
"Ya ayo keburu hujan" ucap Nita.
Zia sangat senang dengan kehadiran calon keponakan nya di rahim kakak iparnya itu.
"Aku tak sabar melihat dia" ucap Zia.
"Aku mau nya perempuan" ucap Raya.
"Ya sih lebih baik dia seperti diri mu kak jangan biarkan seperti kakak" ucap Zia.
"Ya aku tau itu makan nya aku mau perempuan" ucap Raya.
"Aku punya sesuatu untuk mu" ucap Zia.
"Apa" tanya Raya.
Zia mengambil Manisan itu hal itu sangat membuat kakak ipar nya sangat senang.
"Kau tau aku sudah habis setengah toples ini" ucap Zia.
"Wah terima kasih" ucap Raya yang langsung memakan nya.
"Kau suka" tanya Zia.
"Ini sangat enak Zia aku suka" ucap Raya.
"Baik lah simpan dulu itu kita ke makkam dahulu" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap raya.
Sesampainya di pemakaman mereks langsung berdoa bersama dengan Adam yang memimpin doa nya.
"Assalamu'alaìkum dara qaumìn mu'mìnîn wa atakum ma tu'adun ghadan mu'ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun
Astaghfirullah hal adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaihi
Membaca kan Quran surat
Al Fatihah 3 kali.
Al ikhlas 3 kali
Al Falaq 3 kali
An nas 3 kali
Membaca ayat kursi.
Membaca kan Surat Yasin.
Laailaaha Illallah
Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin
Allaahumma shalli'alaa sayyidinaa muhammmadin shalaatar ridhaa wardha'an ashhaabihir ridhar ridhaa
Doa ziarah kubur.
Allahummaghfirlahu war hamhu wa'aafihii wa'fu anhu, wa akrim nuzuulahu wawassi'madholahu, waghsilhu bil maa'i watssalji walbaradi, wa naqqihi, minaddzzunubi wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu minad danasi.
Wabdilhu daaran khairan min daarihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa aidzu min adzabil qabri wa min adzabinnaari wafsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu fihi.
"Amin" serempak.
Adam menaburkan bunga ke atas makam itu dengan air yang di taruh di botol.
Terlihat kalau Nita menangis apa lagi sosok ibu dan mamah mertua nya itu sangat berarti di kehidupan Nita.
Nita memegang nisan mamah mertuanya.
"Mah maaf aku baru bisa datang, kami di hantui ketakutan yang besar mah, dan Sekarang Rayhan sudah membayar dendam keluarga kita, sekarang kita cukup tenang mah, aku berharap semoga Alloh menerima mamah di sisinya aku tau mamah orang baik" ucap Nita yang langsung mencium nisan nya itu.
"Sudah kak, mamah sudah tenang" ucap Puput.
Nita dan puput langsung saling peluk karena mereka harus kehilangan orang yang mereka sayang hanya dengan jarak beberapa hari saja.
"Ya Put aku sadar kalau sekarang aku sudah tak punya orang tua, hanya kalian yang aku punya" ucap Nita.
"Sudah mah" ucap Zia.
Nita mengangguk kan kepalanya.
"Baik lah ayo pulang" ucap Topan.
__ADS_1
"Ya ayo" ucap Nita.
Mereka semua pulang ke kediaman Rayhan karena untuk beberapa hari ke depan Zia dan Adam akan menginap di sana.
Tiga hari kemudian.
Zia dan Adam harus pulang bahkan Nita dan Topan juga pulang karena sudah lama mereka tinggal di kediaman anak sulung nya.
Zia sangat antusias untuk pulang walau bagai mana pun Zia lebih suka tinggal di kampung dari pada di kota, polusi udara dan cuaca panas mendominasi kota yang sekarang sudah tak asri lagi.
"Zia katanya Abimana akan masuk saat sekolah sudah di mulai" ucap Nita.
"Ya mah aku akan bilang masalah ini pada Abah" ucap Zia.
"Ya mamah harap dia bisa berubah sayang sekali masih kecil tapi sudah bergaul bebas aku tak sangka Abimana kecil kita akan melakukan hal itu" ucap Nita.
"Mah sudah lah, kau tau kan bagai mana keadaan di luar negeri aku yakin ini karena Puput dan Arka tak bisa menjaga Abimana mereka hanya percaya kalau Abimana itu baik dan bergaul baik tapi mereka lupa apa yang telah terjadi pada Abimana" ucap Topan.
"Ya pah tak beda hal nya dengan kita pah, kita juga saking takutnya pada Dion kita sampai melupakan Rayhan dan Zia, kita yang buat anak kita menjadi seperti itu" ucap Nita.
"Mah maafkan aku" ucap Zia.
"Tak apa aku cukup bersyukur Zia ternyata dengan membawa mu ke pesantren itu adalah hal yang benar kau di pertemukan dengan nak Adam yang mau menerima kamu apa adanya, mamah hanya menyesal kenapa mamah tak masukan kamu sejak dahulu saja" ucap Nita.
"Terkadang mah ini sudah jalan takdir aku dan Zia untuk bersatu, mungkin dengan Zia yang di buat hilang kendali membuat dia di dekat kan dengan aku di pesantren, tetapi kalau Zia tak hilang kendali bagai mana mungkin kita bisa bersatu" ucap Adam.
"Ya nak Adam kau benar" ucap Nita.
"Aku berharap Abimana pun bisa seperti nak Adam" ucap Topan.
"Dia terlalu di manja hingga dia merasa kalau dia bebas" ucap Adam.
"Ya nak Adam, begitu lah pergaulan di kota" ucap Topan.
"Jangan kan di kota pah, bahkan di kampung saja banyak" ucap Adam.
"Ya juga malah aku dengar ada yang mau menikah karena sudah melakukan hal yang tak di haruskan" ucap Topan.
"Ya pah" ucap Adam.
"Apa itu Maya" bisik Zia pada Adam.
"Shut diam" bisik Adam.
"Tapi aku benar kan" tanya Zia.
"Ya kau selalu benar" ucap Adam.
Zia tersenyum mendengar hal itu.
Malam hari nya Zia sedang merebah kan tubuh nya di atas kasur dia merasakan sakit perut.
Zia mengusap nya dengan tangan namun tetap saja masih sakit.
Adam selesai bertadarus dia mengganti pakaian nya dengan kaos polos dan kolor di atas lutut saja.
Adam membaringkan tubuhnya di samping Zia.
"Kenapa" tanya Adam.
"Perut aku sakit" ucap Zia.
"Zia aku merasa aneh pada mu, kau mengeluh sakit bahkan kau sering muntah apa kau punya penyakit ya, kita periksa saja ke dokter ya" ucap Adam.
"Gak usah aku baik baik saja ini hanya karena aku kebanyakan makan saja" ucap Zia.
"Masa sih" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia.
"Aku akan Balur kan minyak kayu putih pada perut mu siapa tau saja segera sembuh sakit nya" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
"Kita periksa ya" tanya Adam.
"Gak usah" ucap Zia.
"Zia aku berangkat ke luar negeri tiga Minggu lagi aku gak mau kamu begini Zia" ucap Adam.
"Aku tak apa" ucap Zia.
"Ya sudah tak masalah" ucap Adam.
"Aku harus periksa perut Zia bagai mana pun caranya karena aku takut ada sesuatu yang terjadi" batin Adam.
Pagi hari nya Zia mengajak Adam untuk lari, Adam merasa sangat malas bahkan tubuh nya pun terasa sangat berat.
"Ayo Gus kita keliling pesantren saja" ucap Zia.
"Zia ajak Ning Rena saja ya aku lagi malas" ucap Adam.
"Gak mau ah mau nya kamu" ucap Zia.
"Manja" ucap Adam.
"Ayo lah Gus" ucap Zia.
Adam menghela nafas nya.
"Baik lah Ayo mau berapa keliling" tanya Adam.
"Sampai berkeringat saja" ucap Zia.
"Baik lah ayo" ucap Adam.
Adam memakai celana short dengan kaos polos yang semalam dia pakai tidur.
Sedangkan Zia menunggu di kursi ruang tamu bersama dengan Rena.
"Bagai mana di kota" tanya Rena.
"Membosankan aku semalam tak bisa tidur karena berisik kendaraan apa lagi siang hari itu panas aku tak bisa bernafas dengan baik rasanya oksigen itu sangat habis" ucap Zia.
"Kak kau dari kota dan sekarang ke kota lagi kau bilang membosankan jadi kau suka tinggal di mana" tanya Rena.
"Di sini" ucap Zia.
"Ya syukur lah" ucap Rena.
"Kau tau aku bertemu dengan Gus Luthfi" ucap Zia.
"Benarkah di mana" tanya Rena.
"Begini ceritanya" ucap Zia.
Flash back onn
Saat itu Zia dan Adam tengah berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan namun Zia merasakan lapar dia memutuskan untuk makan di cafe yang ada di dalam Mall itu.
Zia duduk di meja yang kosong bersama dengan Adam, mereka hanya datang berdua saja ke mall itu.
Zia memesan makanan yang berkuah sedang kan Adam ikut saja karena dia tak terlalu paham pada daftar menu yang ada di sana.
Mata Zia menangkap seorang laki laki gagah dengan setelan jas hitam dan celana bahan warna hitam namun kemeja putih di dalam nya, gaya rambut yang sangat modis.
Dia berjalan dengan sangat gagah dan duduk di meja salah satu cafe itu.
__ADS_1
Dia membuka kacamata hitam nya yang menggantung di hidung nya.
Mata Zia melotot bahkan mulut Zia juga terbuka, dia tak salah lihat? Zia juga sampai mengucek matanya karena takut nya penglihatan nya itu salah.
"Gus lihat apa itu Gus Luthfi" tanya Zia.
Adam melihat pada arah yang Zia tunjukan,
"Hah benar itu Gus Luthfi" ucap Adam.
"Ayo ke sana" ucap Zia.
"Jangan" ucap Adam menatap pada beberapa orang yang berlarian ke sana dengan setelah jas yang sama seperti Luthfi.
"Kemana saja kalian" tanya Luthfi dengan suara dingin dan ketus.
Bahkan tak pernah mereka melihat bos nya itu tersenyum hanya untuk sekali saja.
"Maaf tuan" ucapnya.
Pembicaraan mereka terdengar jelas oleh Zia dan Adam apa lagi di cafe itu tak terlalu ramai karena masih pagi hari.
"Aku tak mau kalian terlambat lagi" ucapnya.
"Maaf tuan sebenarnya kami belum menyelesaikan pekerjaan itu" ucap orang itu tunduk pada Luthfi.
"Apa" bentak Luthfi.
Brakk
Meja cafe itu di gebrak oleh Luthfi.
"Berani sekali kalian bilang belum selesai aku menyuruh kalian hampir satu bulan, tapi apa kalian tak bisa menyelesaikan nya" tanya Luthfi.
Dia bangkit dari duduk nya dan Langsung membereskan laptop dan beberapa laporan.
"Saya mau siang ini surat pengunduran diri kalian harus sudah ada di meja kerja ku" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana.
Zia menatap pada Adam.
"Apa itu benar Gus Luthfi" tanya Zia.
"Ya hanya saja penampilan nya berbeda" ucap Adam.
"Dia sekasar itu" ucap Zia.
"Dia bahkan bisa lebih kasar Zia" ucap Adam.
"Aku ngeri membayangkan nya" ucap Zia.
"Makan nya jangan" ucap Adam.
"Ihh" Zia bergidik ngeri karena dia baru saja melihat sikap dinginnya Luthfi lagi padahal di pesantren es batu itu sudah mencair.
Flash back off
"Masa sih" tanya Rena.
"Beneran kalau gak percaya tanya saja pada Gus Adam" ucap Zia.
"Aku tau kalau Gus Luthfi itu kasar tapi pada ku dia tak berani" ucap Rena.
"Karena dia sayang pada mu" ucap Zia.
"Sudah lah kak" ucap Rena.
Adam keluar dari kamarnya.
"Gus kenapa lama sekali" tanya Zia yang langsung menatap pada Adam.
"Wah Gus kau sangat tampan memakai celana" ucap Zia.
"Apa dengan memakai sarung aku tak tampan" tanya Adam.
"Tampan hanya saja ini lebih double" ucap Zia.
"Baik lah kalau dengan memakai sarung membuat aku kurang tampan maka aku memilih untuk kurang tampan" ucap Adam.
"Gus aku bercanda" ucap Zia.
"Baik lah ayo" ucap Adam.
Adam heran saat melihat Rena juga akan ikut dan sudah memakai celana kulot yang besar.
"Ning kau ikut" tanya Adam.
"Ya kak Zia ajak" ucap Rena.
"Zia kalau kamu ajak Ning Rena kenapa tak bersama dia saja kenapa ajak aku" tanya Adam.
"Gus aku mau sama kamu dan Ning Rena biar ramai saja" ucap Zia.
"Baik lah ayo" ucap Adam.
Mereka bertiga berlari menyusuri pinggiran halaman pesantren, Zia dan Rena sangat bersemangat untuk lari sedang kan Adam malah dia yang merasakan lelah dan lemas.
"Ayo Gus kau lama sekali" tanya Zia.
"Ya bentar Zia aku lagi jalan" ucap Adam yang sudah sangat lemas.
"Istirahat lah dulu" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Adam hanya melihat kedua Wanita itu berlari menyusuri halaman pesantren.
Hingga para wanita sudah berada di dekat Adam dan sudah menyelesaikan beberapa putaran.
"Mereka begitu semangat dan aku hanya begini saja" gumam Adam.
Adam melihat pada kedua wanita itu yang pasti akan duduk bersama dengan Adam.
"Kau curang Gus" ucap Zia.
"Curang apa" tanya Adam.
"Kau tak lari" ucap Zia.
"Ya maaf" ucap Adam.
Namun tiba tiba saja perut Adam sakit dia memegang perut nya.
"Ada apa Gus" tanya Zia.
"Perut aku sakit" ucap Adam.
Ohekk
Oheekk
Adam muntah di hadapan Zia dan Rena, Adam sudah tak kuat lagi akhir nya dia muntah tapi dia tak tau kenapa dia bisa muntah.
"Gus kau tak apa" tanya Zia.
"Tak apa' ucap Adam.
"Kenapa bisa muntah" ucap Zia..
__ADS_1
"Entah tapi mau bagaimana lagi" ucap Adam.
bersambung..