Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 96


__ADS_3

Jam istirahat pun tiba Adam berjalan ke arah rumah Umi karena akan minta ijin pada Abah untuk merobohkan gudang.


Dengan pemikiran yang matang Adam berniat merobohkan gudang itu karena takutnya akan di manfaat kan oleh orang yang jahil seperti itu.


"Assalamualaikum Abah" ucap Adam yang langsung duduk di kursi.


"Waalaikum salam" ucap Abah.


"Abah aku ingin merobohkan gudang apa boleh" tanya Adam.


"Kenapa harus di robohkan Dam" tanya Umi.


"Aku hanya tak mau saja kalau gudang di salah gunakan oleh orang orang yang ja hil" ucap Adam.


Abah berpikir sejenak.


"Baik lah terserah kau saja" ucap Abah.


"Aku cuman tak mau gudang itu terlihat menyeramkan Bah" ucap Adam lagi.


"Ya boleh saja tapi Abah tak mau nanti barang barang nya berantakan" ucap Abah.


"Ya Abah aku akan atur" ucap Adam.


"Ada apa Gus" tanya Zia.


"Aku mau merobohkan gudang" ucap Adam.


"Bisa aku ikut" tanya Zia.


"Oh boleh saja" ucap Adam.


"Kapan" tanya Zia.


"Nanti setelah Sholat Dzuhur" ucap Adam.


"Oh baik lah" ucap Zia.


Karena Zia sudah lebih baik sekarang dia masuk untuk mengajar kelas 2 SMP.


Zia membawa buku buku nya dan berjalan ke arah kelas 2 SMP.


"Kak Zia" sapa santri yang lain.


"Ya" ucap Zia.


Zia masuk ke dalam kelas padahal pelajaran belum di mulai, dia duduk di kursi tempat guru.


Zia membuka bukunya dan membaca pelajaran apa yang akan dia ajarkan sekarang.


"Kak Zia sekarang pelajaran kakak ya" tanya santri yang baru datang.


"Ya" ucap Zia.


Saat ini Rosa berada di kamar nya karena masih istirahat.


"Bagai mana caranya aku bisa membuat Zia mengalami hal yang dulu aku alami, aku tak ikhlas rasa nya kalau lihat dia bahagia" gumam Rosa memikirkan rencana yang lebih berbahaya dari kemarin.


Rosa mundar mandir karena masih belum tenang kalau belum mendapatkan rencana baru.


"Apa aku racun saja Zia, hah tidak itu akan membahayakan aku juga, tapi bagai mana sekarang" gumam Rosa.


Rosa mengambil buku nya yang berada di atas laci kamarnya, dia berjalan ke arah kelas 1 SMP karena akan mengajar di sana.


Dalam perjalanan ke kelas Rosa masih memikirkan rencana itu, bahkan sekarang Rosa tak melihat arah jalan karena dia fokus menunduk memikirkan rencana itu.


Brugh


Rosa bertubrukan dengan Ainun yang berbentrok arah.


"Argh bisa lihat gak sih, kalau jalan itu pakai mata" geram Rosa padahal yang terjatuh ke tanah adalah Ainun.


"Apa kau tak salah bicara" tanya Ainun sambil berdiri menghadap Rosa.


"Kau yang menubruk ku" ucap Rosa.


"Hah apa kau tak salah bicara kau yang menabrak ku sampai aku terjatuh, kau lihat kan aku sampai jatuh dan lihat baju ku jadi kotor padahal aku baru mencuci nya" ucap Ainun.


"CK aku bahkan tak tak peduli pada baju mu itu" ucap Rosa kesal.


"Definisi kau yang salah tapi kau menyalah kan orang lain" ucap Ainun.


"Beraninya kau pada ku" ucap Rosa.


"Apa kau pikir aku tak berani Hah kalau pun benar kau seorang guru bahkan aku tak akan takut, bukan kah kita seumuran" ucap Ainun.


"Terserah" ucap Rosa.


"Awas ya aku tak akan biar kan kau hidup tenang" ucap Ainun.


"Kau bilang kita seumuran kenapa kau masih menjadi murid" tanya Rosa.


"Supaya aku menjadi lebih pintar jadi aku harus belajar lagi" ucap Ainun.


"Bukan nya kau bo doh jadi kau harus mengulang lagi kelas ya" ucap Rosa.


"Berani nya kau" geram Ainun yang langsung mendorong Rosa sampai tersungkur ke tanah.


"Arghh" geram Rosa.


Fauzi dan Adam datang ke sana.


"Astaghfirullah ada apa ini" tanya Fauzi yang langsung menarik Ainun menjauh dari Rosa.


Rosa bangun dan mengibas ngibas kan rok nya yang kotor.


"Gus Fauzi, wanita itu mendorong ku" ucap Rosa.


"Ainun" ucap Fauzi melotot pada Ainun.


"Bukan aku Gus" ucap Ainun.


"Benar Gus dia mendorong ku" ucap Rosa membela diri.


"Sudah kalian kan saudara jadi jangan bertengkar lagi" ucap Adam.


"Bukan aku yang mulai tapi dia" ucap Rosa ketus.


"Maafkan Ainun Ning Rosa dia memang seperti ini" ucap Fauzi.


"Ya tak masalah, tapi lain kali jangan terulang lagi" ucap Rosa.


"So baik lu, padahal baru saja tadi dia menghina ku" ucap Ainun.


"Sudah ai" ucap Fauzi.

__ADS_1


"CK" Ainun berdecak.


Mereka semua masuk kembali ke dalam kelas karena sekarang akan belajar lagi.


Zia mengajar dengan semangat bahkan sekarang para santri pun mendengar kan Zia dengan fokus.


"Ada yang mau di tanya kan" tanya Zia pada semua santri.


"Kak kemarin kak Zia kemana" tanya salah satu santri.


"Aku di gudang" ucap Zia.


"Kak kau tau Gus Adam sangat cemas saat kau tak ada" ucapnya.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya" ucap santri.


"Bahkan sangking cemas nya aku melihat kalau Gus Adam meneteskan air mata, namun dengan cepat dia hapus menggunakan tangan nya" ucap santri.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya Kak, Gus Adam sangat sayang pada mu" ucap santri.


"Kalian bisa saja" ucap Zia.


Siang harinya para santri sudah bubar karena pelajaran juga sudah berakhir, terlihat kalau sekarang Adam sudah siap akan merobohkan Gudang.


"Gus kau mau kemana" tanya Zia yang baru saja pulang dari kelas.


"Aku akan merobohkan gudang" ucap Adam.


"Ya ampun Gus sebentar lagi Adzan Dzuhur kita tunggu sampai Adzan" ucap Zia.


"Ya sudah" ucap Adam.


Setelah Adzan Dzuhur semua santri melaksanakan sholat berjamaah di mesjid, sekarang Zia sholat dekat dengan Rosa, sebenarnya Rosa sangat malas kalau dekat dengan Zia tapi dia harus berpura pura baik pada Zia.


"Zia apa Gus Adam akan membongkar gudang sekarang" tanya Rosa.


"Oh ya di bantu beberapa santri juga" ucap Zia.


"Oh" ucap Rosa.


"Oh ya Ning kata mu gudang itu tempat penyimpanan sapu dan alat yang lain, tapi kata Gus Adam itu tempat barang bekas" ucap Zia.


"Oh ya aku lupa" ucap Rosa.


"Kenapa lupa" tanya Zia.


"Ya aku lupa kalau gudang itu di pakai barang bekas" ucap nya.


"Bukan nya gudang itu di jadikan tempat penyimpanan barang bekas hampir 3 tahun" tanya Zia yang membuat Rosa mati kutu karena kebohongan nya kebongkar.


"Y-a Ya tentu saja aku lupa Zia karena kan beberapa bulan ini aku di kampung jadi aku lupa, tapi benar kata Umi ada di sana" ucap Rosa terbata bata.


"Oh" ucap Zia mengiyakan ucapan Rosa yang terkesan berbohong.


Mereka semua bubar karena sekarang pada santri di beri beberapa menit untuk istirahat dan setelah nya mereka akan tadarus di Madrasah.


Zia dan Adam sudah bersiap akan pergi ke belakang pesantren ada beberapa santri juga yang ikut dan akan membantu.


Tak lupa Fauzi dan Farid juga ikut ke sana karena akan membantu Adam.


"Baik lah ayo kita robohkan gudang" ucap Adam.


"Tunggu" sahut Rosa.


"Ada apa" tanya Adam.


"Aku akan ikut, aku akan bantu kalian karena sekarang aku tak punya jadwal ngajar" ucap Rosa.


"Ya sudah ayo" ucap Adam.


Mereka berjalan ke sana bahkan Rena dan Gita juga ikut karena akan menemani Zia ke sana.


Sesampainya di sana Adam dan yang lainnya Langsung masuk ke dalam, karena akan mengeluarkan buku buku bekas terlebih dahulu.


Zia menunggu di luar bersama dengan Rena dan Gita Sedang kan Rosa baru saja datang ke sana.


"Aku bawa karung" ucapnya.


"Ning biar aku berikan pada Gus Adam" ucap Rena.


"Ya" ucap Rosa.


"Gus ini karung buat sampah nya" ucap Rena.


"Ya" ucap Adam.


Luthfi datang ke sana karena akan membantu juga, sebagai seorang keamanan Luthfi di pertanyakan karena kehilangan Zia itu.


"Assalamualaikum" ucap Luthfi.


"Waalaikum salam" ucap Zia Gita dan Rosa.


"Apa Gus Adam di dalam" tanya Luthfi yang terkesan dingin dan cuek.


"Ya" ucap Zia.


"Baik lah kalian kenapa diam saja ayo bantu yang lain" ucap Luthfi.


"Ya Gus" ucap Gita dan Rosa.


"Ayo kak" ucap Rena.


Tatapan Luthfi mengarah pada Rena hingga membuat Rena merasa malu karena hal itu.


"Gus apa kita akan membuang semua buku ini" tanya Luthfi.


"Tak Gus kita akan simpan yang masih bagus dan berguna sedang kan yang sudah lapuk kita buang saja" ucap Adam.


"Oh baik lah" ucap Luthfi.


Mereka membereskan semuanya, bahkan Zia dan yang lain juga ikut membantu.


Luthfi seolah mendekat pada Rena apa lagi Luthfi selalu mendekati Rena yang sekarang sedang membereskan kardus.


Luthfi akan mengangkat buku yang menumpang di dekat tembok dan di sana juga ada Rena yang sedang membersihkan laba laba yang menempel di tembok.


Luthfi mengangkat buku buku itu.


Rena melihat pada benda panjang yang terselip di buku buku itu.


Rena mengira ikat pinggang tapi ternyata benda itu bisa bergerak.

__ADS_1


"Aaaaa Gus itu ular" teriak Rena pada Luthfi.


"Hah" tanya Luthfi terkejut.


Replek saja Luthfi melepaskan buku buku itu hingga membuat buku itu berantakan di tanah.


"Aaaaa" teriak Rena yang melihat kalau ular itu mendekat pada nya.


Dengan cepat Luthfi menarik Rena dan menempel kan Rena di tembok, seolah Luthfi tengah mengungkung Rena dalam Kungkungan nya.


Sedangkan yang lain mereka lari karena ular itu mendekat pada mereka seolah sedang mengejar mereka.


Ular itu sangat besar bahkan membuat semua orang di sana tak berani mengusik nya.


Adam menarik Zia ke dalam pelukannya dan sedikit menjauh dari sana.


"Biar kan ular itu keluar" ucap Adam.


Para santri bahkan ada yang sampai naik ke atas meja yang ada di sana Karena saking takutnya.


Mata Luthfi dan mata Rena saling bertatap pandang, bahkan sekarang Rena bisa merasakan hembusan nafas Luthfi yang terlihat sangat ketus dan Dingin.


"Hah syukur lah" ucap Fauzi yang sudah bersiap membawa kayu untuk memukul ular itu kalau saja ular itu mendekat padanya.


Rosa yang melihat kalau Luthfi dan Rena berdekatan pun langsung mengepalkan tangan karena Rosa suka pada Luthfi.


"Saat aku ingin Gus Adam aku kalah oleh Zia saat aku ingin Gus Fauzi aku kalah dengan Ainun dan sekarang saat aku ingin Gus Luthfi ada Rena yang akan menghalangi ku" batin Rosa marah.


Zia masih anteng di pelukan Adam.


"Apa kau akan tetap di pelukan aku" tanya Adam berbisik pada Zia.


"Kalau kau ijinkan aku lebih baik begini" bisik Zia mendongak kan wajah nya ke atas guna menatap wajah Adam.


"Sudah lah malu banyak orang" ucap Adam.


Zia melepas kan pelukan nya.


Sedangkan Luthfi sekarang tersadar dari tatapan mereka yang membuatnya berlarut dalam lingkupan dosa.


"Maaf kan aku" ucap Luthfi.


"Tak apa" ucap Rena.


Detak jantung Luthfi sekarang sedang tak aman dia harus pergi menjauh dari Rena.


"Tunggu Gus Luthfi" ucap Rena menghentikan langkah Luthfi.


"Ya" tanya Luthfi seolah baik baik saja.


"Terima kasih" ucap Rena yang membuat jantung Luthfi semakin tak aman.


"Ya sama sama" ucap nya.


"Ayo beres kan lagi supaya tak ada ular lagi" ucap Adam.


"Hati hati Gus takutnya ada banyak ular" ucap Fauzi.


"Ya" ucap Adam.


"Yang lain hati hati ya" sahut Fauzi.


"Gak boleh di biar kan, aku harus kasih Ning Rena pelajaran" batin Rosa.


Mereka semua membereskan gudang sampai beres bahkan semua buku dan yang lain sudah berada di luar gudang.


Saat ini Rosa tengah duduk di kursi yang ada di sana.


Sedangkan sekarang Rena dan Gita Sedang membawa kardus yang isinya buku yang akan di bakar.


"Oh ya Ning apa kita akan bakar di sini" tanya Gita.


"Entah kita tanya pada Gus Adam nanti" ucap Rena.


Rosa yang melihat kalau Rena akan melewati nya pun langsung menjulurkan kakinya menghalangi jalan yang akan Rena lalui.


Karena Rena sedang membawa kardus yang isinya buku, jadi Rena tak melihat ada apa di jalanan.


Hingga kaki Rena tersandung di kaki Rosa yang menghalanginya.


Brugh


"Ning" sahut Gita.


Untung saja Rena tak sampai jatuh karena ada Luthfi yang menangkap Rena, jadi Rena tak sampai jatuh ke tanah.


"Huh syukur lah" gumam Gita.


Sedang kan Rosa sekarang dia tengah marah karena Rena ternyata tak jatuh ke tanah.


"Kenapa Gus Luthfi ada di sana sih, niat aku ingin menjauh kan mereka kalau begini caranya mereka pasti lebih dekat" gumam Rosa marah.


"Kau tak apa" tanya Luthfi pada Rena.


"Tak aku tak apa, aku kesandung" ucap Rena.


"Kesandung" tanya Luthfi yang langsung melihat sumber yang membuat Rena kesandung.


"Ning Rosa kenapa kau biarkan kaki mu begitu jadi Ning Rena kesandung kan" ucap Luthfi marah.


"Sudah Gus jangan marah, aku tak apa" ucap Rena.


"Ya" ucap Luthfi yang langsung tenang saat mendengar suara Rena.


"Maaf kan aku Ning" ucap Rosa.


"Tak apa Ning" ucap Rena.


Para santri putri menunggu dari kejauhan sedang kan santri putra yang di sana akan merobohkan gudang dengan alat seadanya karena untuk menyewa alat berat pun mereka tak sanggup karena jalanan nya cukup sempit.


"Apa mereka akan bisa menghancurkan nya" tanya Rosa.


"Insha Alloh bisa" ucap Zia.


"Ya aku harap begitu" ucap Rosa.


"Ning Rena kau dekat dengan Gus Luthfi, apa kalian sangat dekat" tanya Gita.


"Git kau ini apa apaan" ucap Rena.


"Aku tau kok, tapi menurut aku kalian cocok" ucap Zia.


"Kak kau sama saja" ucap Rena malu malu.


Sedangkan Rosa hanya menatap pada mereka dengan tatapan kesal.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2