
Jam istirahat sekarang Zia sangat malas untuk melakukan apa apa apa lagi karena masalah tadi Zia semakin merasa kalau di pesantren itu banyak orang orang yang tak suka pada Zia.
Zia menatap pada para santri yang sekarang tengah berlalu lalang di hadapan nya, Zia merasa kalau sekarang semua orang berbeda padanya.
"Zia" sahut Adam.
"Ya Gus ada apa" tanya Zia.
"Nanti sore akan ada pengajian di kampung sebelah" ucap Adam.
"Oh ya" tanya Zia.
"Kamu mau ikut gak" tanya Adam.
"Boleh" ucap Zia.
"Nanti jam 2 kita berangkat" ucap Adam.
Adam duduk di samping Zia.
"Sedang melihat apa" tanya Adam.
"Tak ada hanya saja aku tengah melihat para santri" ucap Zia.
"Tumben gak jajan" ucap Adam.
"Gak ah aku mager" ucap Zia.
"Ya terserah" ucap Adam.
Rena dan Gita datang ke sana.
"Kak punya uang gak" tanya Rena pada Adam.
"Buat apa" tanya Adam.
"Mau beli kerudung" ucap Rena.
"Ya ampun Ning buat apa, kerudung kamu banyak" ucap Adam.
"Ayo lah Gus" ucap Rena.
"Ya besok ya aku akan usaha kan uang nya" ucap Adam.
"Hah besok" ucap Rena kesal.
"Emang kamu mau beli kerudung yang bagai mana Ning" tanya Zia.
"Yang warna navy kak yang segi empat saja kaya nya bagus kan, aku ingin sekali" ucap Rena.
"Lagi pula aku gak punya" aku Rena.
"Baik lah besok kita ke pasar kita beli apa pun yang kau mau" ucap Adam.
"Yeay terima kasih" ucap Rena senang.
Walau pun Rena masih kelas 3 SMP tadi badan dan wajah Rena menandakan kalau Rena sudah de wa sa.
Bahkan sering kali Rena di banding banding kan dengan santri kelas 2 SMA.
Dengan perawakan yang tak gemuk tapi tak tinggi juga membuat Rena sangat lah sempurna dengan wajah putih bersih tanpa tersentuh jerawat membuat Rena semakin terlihat sempurna.
Namun ada hal yang membuat Rena menjadi sakit hati karena Rena selalu di pertanyakan tentang kemiripan nya.
Bahkan yang orang lain tau Adam sangat lah mirip dengan Abah tapi Rena dia tak mempunyai kemiripan apa pun dengan Umi mau pun Abah.
Hal itu membuat Rena sangat sedih sehingga Rena memutuskan untuk pindah kamar, jadi Rena satu kamar dengan para santri putri.
Bukan hanya karena Rena sedih saja, tetapi kalau ada tamu yang datang mereka selalu tanya siapa Rena? Ada hubungan apa Abah atau Umi pada Rena? Hal itu lah yang membuat nya sedih dan memutuskan untuk pindah kamar.
Luthfi yang ada di sana pun langsung senyum tipis, dia senang melihat Rena yang sangat ceria.
"Akan aku usaha kan keinginan mu tercapai" gumam Luthfi.
Sekarang pelajaran di mulai kembali, Zia mengajar kelas 2 SMA karena akan menggantikan Bu Risni yang mengajar matematika.
Kemarin Rosa yang menggantikan Zia tapi sekarang Zia tak akan mau lagi tukeran begitu karena mau bagai mana pun Zia selalu salah.
"Baik lah buka buku kalian" ucap Zia.
"Tapi kak sekarang tak ada pelajaran bahasa Inggris" ucap santri.
"Oh aku gak akan mengajar Inggris aku akan mengajar matematika" ucap Zia.
"Oh" serempak.
Bu Isma datang ke sana tetap saja dia menatap sinis pada Zia, bahkan dia seolah tak perduli walaupun Zia adalah menantu Abah.
"Para santri kalian diam lah jangan berisik, pelan kan suara kalian kalau tidak akan ada orang yang akan marah lagi" sahut Bu Isma yang langsung maju ke arah depan para santri.
Semua nya hanya senyap saja tak berani menjawab karena Bu Isma akan marah kalau di lawan.
"Sekarang kalian belajar lah yang rajin karena kita butuh generasi yang ber etika bukan yang hanya pandai teriak di hadapan orang tua" ucap Bu Isma lagi.
Zia tak menggubris perkataan Bu Isma karena Zia tak merasa di sindir, apa lagi awal nya juga Zia tak salah.
Adam menatap pada Zia yang hanya diam saja, Adam paham perkataan Bu Isma Untuk Zia karena begitu lah Bu Isma kalau ada masalah dia pasti sindir orang itu.
__ADS_1
"Ya Alloh sabar kan hati Zia" gumam Adam berdoa.
Sedangkan Rosa hanya tersenyum saja melihat hal itu karena Rosa sangat tau sikap Bu Isma.
"Rasain lu Zia, lu akan dengar Omelan ini setiap hari" gumam Rosa tersenyum tipis.
"Jangan tiru orang dari luaran pesantren karena mereka hanya lah dari luaran dan etika yang mereka pakai itu etika luar yang tak sama dengan etika kita, sebisanya kita hormati orang yang lebih tua bukan malah meneriaki nya" ucap Bu Isma secara blak blakan.
Radit dia tersulut emosi karena dia tau sindiran Bu Isma itu untuk siapa.
Tak tanggung tanggung Radit melempar buku nya sedikit lagi tepat mengenai Bu Isma.
"Jaga bicara bu, tak malu kah sudah tua" ucap Radit yang langsung maju ke arah depan.
"Berani sekali kamu" ucap Bu Isma marah.
"Bu terkadang kita perlu bicara saat kita merasa di rendah kan" ucap Radit.
"Berani sekali kamu pada guru kualat kamu" ucap Bu Isma.
"Guru yang mana yang harus aku takuti, guru yang mana yang harus aku patuhi kalau guru yang mengajar pun seperti ini" ucap Radit tanpa rasa takut.
"Emang benar anak sekarang itu tak di didik etika" ucap Bu Isma.
"Ya aku tak belajar etika, aku na kal dan aku tak tau Adab tapi setidaknya aku tau cara nya membalas dendam itu seperti apa" ucap Radit.
"Awas kau akan aku lapor kan pada Abah" ucap Bu Isma geram.
Zia berjalan ke sana Radit dan Bu Isma yang ada di depan.
Zia langsung menarik Radit dari sana supaya bisa menjauh dari Bu Isma.
"Kak lepas aku harus balas dia" geram Radit.
"Sudah malu Radit dia lebih tua dari mu" ucap Zia.
"Aku tak peduli, dia menghina mu Kak" ucap Radit.
"Tak ada kau duduk saja" ucap Zia.
"Duduk lah patuhi guru mu itu" ucap Bu Isma.
"Banyak bac*t" ucap Radit semakin geram.
Zia mencekal lengan Radit.
"Sudah aku tak merasa di hina kau duduk saja" ucap Zia.
"Kak kenapa tak kau balas saja" ucap Radit marah yang langsung duduk di tempat tadi dia duduk.
Zia kembali lagi ke sana.
Benar saja tak lama setelah itu Radit di panggil Abah untuk datang ke rumah.
"Radit kata Abah kamu di tunggu di rumah Abah" ucap Fauzi yang baru saja datang ke sana.
"Ck mengadu" gumam Radit.
"Aku ikut" ucap Adam yang langsung ikut ke sana karena tak mau kalau sampai ada permasalahan lain antara Radit dan Bu Isma.
Sesampainya di rumah Abah benar saja Bu Isma ada di sana dan Adam yakin kalau dia mengadu pada Abah.
"Radit duduk lah" ucap Abah.
"Ya" ucap Radit.
"Kata nya kamu melawan Bu Isma" tanya Abah.
"Ya" ucap Radit.
"Kenapa" tanya Abah.
"Dia menghina kak Zia, bahkan karena kesalahan nya dia malah merasa paling tersakiti" ucap Radit.
"Bisa kah kau bicara sedikit sopan" tanya Abah.
"Ya Abah tadi Bu Isma langsung maju ke depan dia bilang kalau Etika di luaran pesantren itu beda dengan etika di dalam pesantren, aku berpikir apa dia tak sadar apa yang dia katakan Secara tidak jelas dia juga sudah membicarakan Etika pesantren yang buruk karena dia bicara begitu" ucap Radit tanpa takut.
"Baik lah" ucap Abah.
"Tapi Abah tadi dia sampai melempar buku Untung saja tak mengenai ku" ucap Bu Isma.
"Benar" tanya Abah.
"Benar aku marah karena dia bicara asal dan yang paling penting dia merendah kan kak Zia" ucap Radit.
"Apa hubungan mu dengan Zia sampai kau berani melawan orang lain karena Zia" tanya Abah.
Terlihat kalau Adam keberatan karena pertanyaan itu tapi Abah mengangguk kan kepala nya mengkode pada Adam untuk diam dan mendengar kan jawaban Radit.
"Tak ada aku hanya suka saja di gurui oleh dia" ucap Radit.
"Baik lah, karena perilaku mu ini Abah akan kasih kamu hukuman, boleh" tanya Abah.
"Apa" tanya Radit.
"Bereskan kamar untuk mu dan untuk kedua teman mu" ucap Abah.
__ADS_1
"Ya aku akan lakukan sekarang" ucap Radit yang langsung pergi dari sana tanpa mengucap kan salam terlihat dahulu.
"Aku akan kembali ke Madrasah, Assalamualaikum" ucap Adam.
"Waalaikum salam" ucap Abah.
Adam menyusul Radit yang sekarang sudah akan ke kamar santri putra.
"Tunggu Radit" sahut Adam.
"Apa" tanya Radit.
"Kenapa kau membela Zia" tanya Adam.
"Tak ada hanya saja aku tak bisa diam saja saat guru yang aku suka di rendah kan" ucap Radit.
"Kau suka Zia" tanya Adam.
"Kau tak perlu tau hidup ku, setidaknya aku bangga karena sudah membelanya tak seperti kau yang menjadi suami nya tapi hanya diam saja walau pun istri nya sedih" ucap Radit.
Adam hanya mematung saja Adam Hendak marah pada Radit tapi sayang sekali jika Adam pikir kan lagi maka ucapan Radit ada benarnya.
Kalau selama ini setiap ada masalah pada Zia Adam tak pernah membela nya, hanya karena Adam tak mau berdebat dengan orang tua, Adam lupa kalau masalah itu juga menyangkut istri nya.
"Astaghfirullah aku telah membiarkan Zia menanggung ini sendirian" gumam Adam.
Adam kembali ke Madrasah tapi saat ini Zia tengah mengajar jadi Adam tak bisa bicara pada Zia.
"Nanti saja lah" ucap Adam.
Setelah selesai belajar para santri keluar karena akan bersiap sholat Dzuhur.
Sekarang Zia juga sudah ada di rumah karena sedang bersiap akan ke Mesjid.
Adam dengan terburu buru datang ke sana karena akan bicara pada Zia.
"Zia" ucap Adam yang langsung masuk ke dalam kamar nya menemui Zia.
"Ada apa Gus" tanya Zia.
Adam langsung memeluk Zia yang saat ini sudah berwudhu.
"Gus kau ini aku sudah Wudhu" ucap Zia kesal karena dia harus ke kamar mandi lagi.
"Maaf" ucap Adam.
"Untuk apa" tanya Zia.
"Aku salah aku tak membela mu saat kau ada masalah" ucap Adam yang langsung mendarati Zia beberapa kecupan.
"Tak apa" ucap Zia.
"Aku sangat menyesal Zia aku sekarang sadar kalau selama ini kau sedih karena masalah ini" ucap Adam.
"Tak apa jangan di bahas lagi Gus aku tak masalah kok" ucap Zia.
"Dam" sahut Abah dari arah ruang tamu.
"Ya Abah" ucap Adam.
"Ajak Zia datang kemari" ucap Abah.
"Ya" ucap Adam.
"Ayo keluar" ucap Adam pada Zia yang hanya di balas anggukan kepala saja.
Mereka duduk di kursi samping Abah.
"Ada apa Abah" tanya Adam.
"Begini Zia, Abah dapat permintaan dari Bu Isma katanya dia mau kalau kamu di berhentikan mengajar hanya untuk beberapa hari saja" ucap Abah.
"Apa salah Zia" tanya Adam.
"Bu Isma sudah menceritakan semua nya" ucap Abah.
"Tapi Abah, Zia tak salah Bu Isma saja yang Ngada Ngada" ucap Adam membantah.
"Hargai keputusan Abah" ucap Abah.
"Tapi bah" ucap Adam yang ingin protes.
Zia menyenggol lengan Adam.
"Tak masalah Abah kalau mau di berhentikan pun tak masalah" ucap Zia.
"Hanya untuk beberapa hari saja" ucap Abah.
Tak ada pembicaraan lagi di sana.
"Baik lah Abah akan ke mesjid" ucap Abah yang langsung pergi dari sana.
"Abah ini hanya mendengar dari satu suara saja" ucap Adam.
"Sudah lah tak masalah" ucap Zia yang pura pura bahagia dan bisa menerima padahal hati nya sangat sedih.
"Aku akan bicarakan pada Abah lagi nanti" ucap Adam.
__ADS_1
"Tak usah kita Sholat saja ayo" ucap Zia mengajak Adam.
bersambung