
Sampai pukul 2 sore akhirnya mereka selesai merobohkan gudang, bahkan sejak merobohkan gudang banyak sekali ular yang keluar dari sarang nya.
Hal itu membuat Abah percaya kalau gudang itu harus di robohkan karena banyak sekali ular yang bersarang di sana takutnya akan membahayakan santri yang lain.
Mereka pulang ke pesantren karena akan mandi terlebih dahulu sebelum melaksanakan Sholat Ashar.
Sekarang santri di gurui oleh Abah karena guru yang lain membantu Adam merobohkan gudang.
"Kak Zia aku masih ingat pada ular yang besar itu yang Gus Luthfi angkat, ular nya besar" ucap Rena.
"Cie perhatian sama Gus Luthfi" ucap Zia meledek Rena.
"Bukan Gus Luthfi nya tapi ularnya" ucap Rena.
"Masa sih" tanya Zia.
"Sudah lah aku mau mandi, kakak selalu saja meledek" ucap Rena.
"Ya deh maaf" ucap Zia.
Sekarang Zia kembali ke rumah umi di sana sudah ada Adam yang sedang duduk di kursi dengan teh hangat yang tersaji di meja di hadapan nya.
"Gus kapan kau datang" tanya Zia.
"Aku baru saja pulang" ucap Adam.
"Tapi kapan kau masuk ke dalam pesantren padahal aku ada di luar dari tadi? Dan pakaian mu" tanya Zia.
"Aku sudah mandi, maka nya Zia jangan banyak bercanda jadi lupa kan kalau aku sudah pulang duluan" ucap Adam.
"Ya deh maaf" ucap Zia.
"Ya sudah aku akan buatkan teh hangat, kamu mandi sana" ucap Adam.
"Baik Gus Adam" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia pergi dari sana karena akan mandi, sedang kan Adam membuat kan teh hangat untuk Zia.
Zia mandi sampai selesai dia kembali lagi ke kamar dan langsung berganti pakaian.
Zia duduk bersama dengan Gus Adam di kursi.
"Oh ya Gus apa ular yang tadi di biarkan lepas" tanya Zia.
"Ya kasihan Zia" ucap Adam.
"Kenapa kasihan" tanya Zia.
"Mereka juga hidup Zia dan mereka juga mau hidup" ucap Adam.
"Ya aku tau" ucap Zia.
"Oh ya apa yang akan kamu lakukan sekarang" tanya Adam.
"Tak ada hanya diam saja" ucap Zia.
"Oh baik lah" ucap Adam.
"Mau makan apa sekarang Gus" tanya Zia.
"Kita makan di luar saja mau gak" tanya Adam.
"Oh boleh" ucap Zia.
__ADS_1
"Tapi nanti ya saat sudah sholat Ashar" ucap Adam.
"Ya Ayo" ucap Zia.
Sedangkan sekarang Rosa tengah memikirkan cara untuk membalas Rena karena tadi dia di marahi Luthfi, jadi Rosa melampiaskan nya pada Rena.
Padahal yang sudah jelas jelas salah itu adalah Rosa yang kaki nya sengaja menghalangi jalan Rena.
"Kenapa ada saja yang menghalangi jalan aku mendapat kan laki laki yang aku suka" geram Rosa memukul meja yang ada di kamarnya itu.
Bukk
Tangannya yang sakit pun tak dia peduli kan karena yang sekarang di pikirkan Rosa adalah cara membalas kan dendam nya pada Zia dan menyingkirkan Rena yang akan menjadi pesaingnya.
"Ingin rasanya aku remuk remukan badan kedua manusia luc nut itu" ucap Rosa tersenyum puas.
Rosa melihat ke arah luar kamar nya di sana ada banyak para santri yang bermain bersama dengan santri yang lain.
"Sayang masa kecil ku tak seindah masa kecil kalian" gumam Rosa menetes kan air matanya karena mengingat masa lalunya.
(Yang penasaran pada kisah Rosa dan Zia dulu, nanti Mak othor akan jelaskan kisahnya)
Malam harinya Zia dan Adam sudah berada di kamar, setelah selesai sholat Maghrib dan isya mereka langsung menuju ke kamarnya.
"Gus aku akan buatkan teh" ucap Zia.
"Jangan Zia perut ku masih kenyang karena makanan tadi" ucap Adam.
"Ya tentu saja kau makan banyak jadi pantas saja kau kenyang" ucap Zia.
"Kita tidur saja" ucap Adam.
"Gus katanya Umi mau punya cucu" ucap Zia.
"Cucu? Mau berapa biji" tanya Adam.
Adam tersenyum melihat Zia yang sekarang merajuk.
"Ya aku tau kok, bahkan Umi memang sudah lama mau punya cucu" ucap Adam.
"Lalu kenapa kau tak inisiatif membuat kan cucu untuk Umi" tanya Zia sambil menyentuh wajah Adam dengan tangan nya.
"Dulu pernah sih inisiatif mau buatkan tapi aku lagi malas" ucap Adam.
"Malas bagai mana" tanya Zia.
"Zia dulu sebelum aku dan kamu menikah Umi sudah mau cucu, aku harus melakukan nya dengan siapa" tanya Adam.
"Lakukan sekarang dengan ku" ucap Zia.
"Kau yakin" tanya Adam menggoda.
"Yakin" ucap Zia.
"Zia aku beri tau ya, punya anak itu gak gampang Zia kadang setelah punya anak kita akan di sibukkan oleh anak, satu hal yang harus kamu tau anak itu memang rezeki dari Alloh tapi Zia banyak masalah yang tercipta dari seorang anak, kau harus siap menanggung semua nya Zia, terkadang jika anak berbuat salah satu hal yang akan orang lain bilang, orang tua nya tak becus ngurus anak, bahkan menurut aku itu banyak terjadi" ucap Adam.
"Ya Gus tapi kan itu tergantung kita juga" ucap Zia.
"Ya aku tau Zia, bahkan anak itu adalah penyemangat di saat lelah" ucap Adam.
"Baik lah ayo kita buat" ucap Zia.
"Apa kau siap dengan masalah yang akan datang nanti nya" ucap Adam.
"Aku siap" ucap Zia.
__ADS_1
Skipp
Pagi harinya setelah selesai sholat subuh para santri sudah bersiap akan makan bahkan semua nya sudah berada di ruang makan.
Terlihat oleh Zia dan Umi yang sekarang akan mengantarkan makanan ke ruang makan, kalau dari arah gerbang ada alat berat yang datang dengan di naik kan ke atas mobil.
"Ada apa ini" tanya Umi.
"Entah Umi" ucap Zia.
Sedangkan tak jauh dari sana Adam dan Abah juga melihat kedatangan alat berat itu.
"Apa kau menyewa mereka" tanya Abah.
"Gak bah buat apa aku menyewa itu lagi pula gudang Juga sudah roboh" ucap Adam.
"Lalu ada apa ini" tanya Abah.
"Kita lihat Abah" ucap Adam.
Mereka langsung mendekat ke sana karena takut nya akan ada sesuatu hal yang terjadi.
"Maaf ada apa ini" tanya Abah pada supir yang mengendarai mobil itu.
"Saya di suruh bos saya untuk merobohkan gedung ini" ucap nya.
"Gedung yang mana? ini sekolah" ucap Abah.
"Tapi kami hanya di suruh untuk merobohkan saja" ucap nya.
"Kalian tidak bisa begitu karena ini punya saya dan ini milik saya" ucap Abah.
"Tapi bos kami yang memerintah kan" ucapnya kekeuh.
"Pertemukan aku dan bos mu itu" ucap Abah.
"Ya sebentar lagi dia akan datang" ucap nya.
"Cepat lah aku akan beri dia perhitungan kalau sampai berani merobohkan pesantren" ucap Abah geram.
Tak lama setelah itu ada mobil bagus yang datang ke sana.
Turun lah seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti gadis dua puluh tahunan.
"Sofi" geram Abah.
"Selamat pagi pak tua, apa kedatangan aku ini menganggu" tanya Sofi yang langsung membuka kacamata nya.
"Mau apa kau datang kemari dengan membawa alat ini" tanya Abah yang sekarang sudah marah.
"Tenang pak tua aku hanya ingin merobohkan ini saja karena aku akan bangun tempat ku sendiri di sini" ucap Sofi.
"Beraninya kau bicara begitu pada ku, apa kau lupa kalau ini milik ku" ucap Abah.
"Belum sah dan sekarang aku akan merobohkan itu" ucap Sofi menunjuk pada kelas yang mempunyai 6 ruangan kelas dan satu kantor guru.
"Kau sudah tak berhak" ucap Abah.
"Ck ck apa kau lupa siapa aku" tanya Sofi.
"Dan apa kau lupa kalau aku ini siapa" tanya Abah.
"Hanya pak tua yang sudah akan mati" ucap Sofi.
"Pergi dari sini" ucap Abah.
__ADS_1
"Pak tua jangan sombong begitu lagi pula saat kau mati nanti aku yakin Adam tak akan mengurus pesantren ini" ucap Sofi.
bersambung