Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 48


__ADS_3

"Ada apa kak" tanya Zia pada kakak iparnya yang sekarang tengah cemas.


"Pak Ray katanya pingsan" ucap Raya.


"Astagfirulloh" ucap Zia.


"Ya Raya, sekarang Rayhan sedang mendapat kan penanganan mamah harap kau bisa ber sabar menunggu" ucap Nita sambil memeluk menantunya itu.


Zia memeluk papahnya yang sekarang wajah nya babak belur bahkan ada darah di bawah hidung nya yang sudah mengering.


"Papah baik baik saja" tanya Zia.


"Papah baik" ucap Topan.


Saat itu teman Raya kakak ipar Zia datang kesana, lalu di susul dengan kedatangan Sarah, Hilman dan Alena sahabat Zia.


"Nita" sahut Sarah Momy nya Alena.


"Sarah, syukurlah kau datang" ucap Nita yang langsung memeluk sahabatnya itu.


Sedangkan Alena sekarang tengah menatap pada Zia yang sekarang masih memakai mukena.


Zia melihat pada Alena yang seakan melihat nya dengan tatapan asing.


"alena" ucap Zia.


"Kau Zia" tanya Alena.


"Ya" ucap Zia mengangguk anggukan kepalanya.


Alena memeluk Zia.


"Aku tak bisa mengenali mu" ucap Alena.


"Kau lupa pada ku" ucap Zia.


"Bukan lupa tapi kau sangat pangling Zia, kau yang dulu selalu pakai celana dan baju pendek dan sekarang pakai kerudung serta baju ibu ibu, kau tau kau seperti ibu ibu Zia" ucap Alena.


"Kalau dengan memakai ini aku terlihat seperti ibu ibu maka aku memilih menjadi ibu ibu" ucap Zia.


"Bisa saja kau" ucap Alena.


Zia dan Alena masuk kedalam rumah tetapi di ruangan tamu banyak sekali orang bahkan sofa pun sangat penuh.


"Kita ke dapur saja" ucap Zia.


"Al aku harus Sholat ashar dulu" ucap Zia.


"Aku tunggu di meja makan" ucap Alena.


Zia terlebih dahulu melaksanakan Sholat Ashar karena tadi dia langsung keluar namun Zia menganti mukena yang dia pakai karena takutnya kotor apa lagi tadi Zia keluar memakai mukena.


Zia meminjam mukena punya Raya yang berada di sana karena tadi Raya dan Zia melaksanakan Sholat Dzuhur bersama.


Mereka berdua duduk di meja makan, mereka mengobrol bahkan Zia juga membicarakan kegiatan apa saja yang ada di pesantren.


"Zia apa kau betah disana" tanya Alena.


"Betah tapi aku ingin pulang aja, kau tau Al kemarin aku di hianati oleh Ustadz dari kota dan dia teman kuliah aku" ucap Zia.


"Lalu kau balas" ucap Alena.


"Aku hilap, aku mabuk lagi kemarin" ucap Zia menyesali perbuatannya.


"Kau mabuk" tanya Alena.


"Ya, tapi aku hilap Al beneran aku gak sengaja karena di fikiran aku kemarin hanya ada minuman keras saja" ucap Zia.


"Sudah lah, oh ya sekarang kan kau sudah pulang bagai mana kalau besok kita main" ucap Alena.


"Kemana" tanya Zia.


"Aku punya teman baru" ucap Alena.


"Ayo lah Zia ikut saja" ucap Alena.


"Ya aku akan usahakan" ucap Zia.


Lukas berjalan ke arah dapur, Zia dan Alena menatap pada Lukas yang baru saja datang kesana.


"Ada apa" tanya Zia.


"Aku mau makan" ucap Lukas.


"Mau aku masakin" tanya Alena.


"Tidak perlu aku akan minta bi Ratna yang buatkan" ucap Lukas ketus pada Alena.


"Ihh terserah" ucap Alena.


"Jangan begitu" ucap Zia.


Lukas duduk lebih jauh dari Zia dan Alena.


"Oh ya Nona Zia kapan anda kembali lagi" tanya Lukas.


"Mungkin dua hari lagi" ucap Zia.


"Oh" ucap Lukas.


"Zia kau tak rindu pada ku" tanya Alena.


"Rindu aku ingat pada mu Al" ucap Zia.


Drtt drtt


"Ada apa Gus Adam menghubungi aku" gumam Zia.


"Siapa" tanya Alena.


"Gus Adam" jawab Zia.


"Pacar" tanya alena.


"Bukan, hanya sebatas teman biasa" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Alena tak percaya.


"Ya aku jujur" ucap Zia.


{Assalamualaikum Ukhty} pesan dari Adam.


{Waalaikum salam gus} balas Zia.


"Aku akan ke kamar mandi" ucap Zia yang langsung pergi ke kamar mandi sedangkan ponselnya dia simpan di atas meja dekat Alena.


Drtt


Ponsel Zia bergetar tanda ada pesan masuk.


{Kapan datang kesini} pesan Adam.


Alena membaca nya, Alena tersenyum tipis karena melihat pesan yang sangat singkat dan dingin itu.


Tiba tiba ide ja hat ter lintas di benak Alena.


{Bisa kah kita pacaran} pesan dari ponsel Zia tapi Alena yang menulis.


{Aku gak mau pacaran, aku mau menikah} balas Adam.


{Mau kan kau one night stand ber sama ku} tanya Alena membalas pesan Adam.

__ADS_1


{Apa maksudnya} tanya Adam.


"Simpan ponselnya" sahut Lukas dari kejauhan.


"Kau julid sekali" ucap Alena.


"Itu privasi Nona Zia jadi jangan buka buka" ucap Lukas.


"Terserah aku" ucap Alena.


Lukas tak melarang lagi dia hanya kembali melanjutkan makannya.


Sedangkan di pesantren saat ini Adam tengah bingung dengan pesan Zia, karena Adam tak bisa bahasa inggris.


"Apa one night stand" gumam Adam.


"Ah aku lihat saja di gu gel siapa tau saja ada" gumam Adam lagi.


Adam membuka aplikasi dan menterjemahkan artinya.


"Astagfurulloh Zia ini apa apaan" gumam Adam mengusap wajahnya.


Zia kembali kesana dan langsung duduk lagi di samping Alena.


"Nona, hati hati Nona alena membalas pesan mu" ucap Lukas.


"Kau ember" ucap Alena kesal pada Lukas.


"Apa" tanya Zia tak percaya, dia langsung membuka ponselnya dan mengecek pesan yang sudah di kirimkan Alena.


"Alen" geram Zia.


"Maaf tapi Zia lihat pesan mu sangat dingin sekali tak ada romantis romantisnya" ucap Alena.


"Ck al ini teman aku ya wajar saja kalau kita tak romantis" ucap Zia.


"Teman" tanya Alena dengan penuh selidik.


Drtt drtt


Ponsel Zia bergetar karena Adam menghubunginya.


"Tuh kan dia telpon" ucap Zia.


Zia menjauh dari Alena bahkan sekarang Zia sudah masuk kedalam kamarnya.


📞📞


..."Ya Gus, ada apa" tanya Zia....


..."Aku melihat pesan mu dan mengarti kan nya, kau mengajak aku" ucap Adam....


..."Maaf" ucap Zia....


..."Kenapa" tanya Adam....


..."Sebenarnya itu bukan pesan dari aku Gus, itu teman aku yang balas" ucap Zia....


..."Jangan begitu Zia, tak boleh melakukan itu dengan siapa pun" ucap Adam....


..."Ya aku tau" ucap Zia....


..."Baik lah kapan kau akan pulang" tanya Adam....


..."Dua hari lagi" ucap Zia....


..."Kau akan datang ke nikahan Ustadz Haddad kan" tanya Adam....


..."Aku tak janji Gus" ucap Zia....


..."Ayo lah kau jadi lah teman kondangan aku, kan siapa tau nanti kita yang akan jadi pengantin nya" ucap Adam....


..."Oh ya Zia bagai mana orang tua mu apa ada kabar" tanya Adam....


..."Mamah dan papah sudah ketemu" ucap Zia....


..."Oh ya" tanya Adam....


..."Syukurlah kalau begitu" ucap Adam....


..."Baiklah Gus aku harus menemani teman ku" ucap Zia....


..."Ya" ucap Adam....


📞📞


"Arggh ini semua gara gara Alena" kesal Zia.


Zia kembali turun dan melihat ada sebuah heli kopter yang turun di halaman rumah Rayhan yang cukup luas.


"Apa itu kakak" tanya Zia.


"Pak Ray" sahut Raya.


Zia kembali ke dapur dan disana ada Alena yang sedang mengutak atik ponselnya dan Lukas sekarang tengah mencuci tangannya.


"Kak Lukas mau kemana" tanya Zia.


"Melihat tuan Rayhan" jawab Lukas.


"Jangan kak Lukas biar di obati dulu lihat ada lebam di wajah" ucap Zia.


"Tak apa nanti aku akan obati" ucap Lukas.


"Jangan begitu ada Alen dia akan membantu kakak mengobatinya" ucap Zia.


"Apa" serempak.


"Ya apa aku salah, ayo lah Al obati kak Lukas" ucap Zia memohon.


"Tapi Zia" ucap Alena.


"Sebentar saja" ucap Zia.


"Ya baik lah" ucap Alena.


Zia mengambil obat merah dan kapas yang berada di atas meja, lalu memberikan nya pada Alena.


"Aku akan melihat kakak" ucap Zia.


Zia langsung melihat ke arah luar ternyata Rayhan sekarang sudah turun dari heli kopter dengan di bantu oleh kedua temannya.


Rayhan langsung di bawa masuk kedalam dan di dudukan di sofa.


"Kakak ipar ini obat untuk Rayhan" ucap Iqbal sambil tertawa cengengesan.


"Diam Iqbal" ucap Elpan.


"Terima kasih kak El, kak Iqbal sudah bantu pak Ray" ucap Raya.


"Tak masalah dia teman kita juga" ucap Iqbal.


"Ya" ucap Elpan.


"Kak kau terluka" tanya Zia.


"Aku tak terluka" ucap Rayhan sambil meringis karena sakit di bagian yang terkena luka itu.


"Pak Ray mau makan" tanya Raya.


"Nanti saja" ucap Rayhan.

__ADS_1


"Mah pah mau makan dulu atau langsung istirahat" tanya Raya.


"Mamah akan istirahat saja" ucap Nita.


"Hati hati mah" ucap Zia membantu mamahnya berdiri.


"Sayang yang ter luka papah kenapa yang di bantu mamah kamu" ucap Topan.


"Ya pah aku akan bantu" ucap Zia.


Zia membantu papah dan mamahnya ke kamar tamu karena mereka akan istirahat.


"Istirahat lah pah, mah aku mau makan dulu" ucap Zia.


"Ya sayang" ucap Nita memeluk putri bungsunya itu.


"Mah aku sudah besar" ucap Zia.


"Se besar apa pun kau Zia, kau tetap anak bayi mamah dan papah" ucap Topan.


"Ya deh" ucap Zia.


Zia kembali ke meja makan karena Zia meninggalkan teman nya yang bernama Alena.


"Ehemk kalian serasi" ucap Zia melihat Lukas dan Alena yang sekarang sedang duduk berhadapan.


"Iyuh apa apaan" ucap Alena.


"Jangan begitu kalian serasi kok" ucap Zia.


Saat ini Zia menatap pada setiap orang di ruang tamu mereka semua ber pasang pasangan, Rayhan dengan Raya, Rahma dengan Elpan, Julia dengan Rega, Lukas dengan Alena, hanya tinggal Zia dan Iqbal saja yang tak ber pasang pasangan.


"Hy Zia" ucap Iqbal menyapa Zia.


"Ya" ucap Zia.


"Kapan kau datang" tanya Iqbal.


"Dua hari yang lalu" ucap Zia.


"Oh" ucap Iqbal.


"Oh ya kak Iqbal terima kasih karena sudah menolong kak Rayhan" ucap Zia.


"Tak masalah" ucap Iqbal.


Di pesantren saat ini Adam tengah makan sore karena perut Adam terasa sangat lapar, Adam duduk di kursi ruang tamu rumahnya.


Adam ber fikir tentang bagai mana kehidupan Adam saat sudah menikah dengan Zia nantinya.


#Bayangan Adam


Suatu hari Adam tengah duduk di kursi ruang tamu lalu Zia datang membawakan secangkir kopi untuk Adam.


Adam menatap wajah cantik istrinya itu, Adam tersenyum menatap pada Zia yang sekarang berada di hadapannya.


"Sungguh ciptaan Alloh memang sangat sempurna" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Abah yang sekarang sudah berada di hadapan Adam.


"Astagfirulloh" ucap Adam tersadar dari lamunanya itu.


"Siapa yang sempurna" tanya Abah.


"Tidak abah" ucap Adam.


"Makan lah jangan meng hayal terlalu tinggi" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Adam yang hanya bisa menundukan kepalanya karena malu pada Abah.


"Kapan ya Zia pulang" tanya Abah.


"Dua hari lagi Abah" jawab Adam.


"Lalu apa orang tuanya sudah ketemu" tanya Abah.


"Sudah abah" ucap Adam.


"Waw dari mana kau tau tentang Zia sebanyak itu Adam" tanya Abah.


"Abah aku ini temannya jadi kami saling ber tukar pesan" ucap Adam.


"Ya, siapa tau saja dari teman jadi cinta" ucap Abah.


"Semoga saja Abah" batin Adam meng amin kan ucan Abah barusan.


"Oh ya Dam ada tablik akbar di desa, Abah di undang kesana apa kau mau datang" tanya Abah.


"Bersama Abah" tanya Adam.


"Tentu saja, temani Abah" ucap Abah.


"Oh boleh Abah" ucap Adam.


"Abah boleh aku bertanya" ucap Adam.


"Tanya kan saja kalau Abah bisa jawab maka akan Abah jawab" ucap Abah.


"Bagai mana hukum nya jika wanita mengajak laki laki menikah" tanya Adam.


"Hukum nya sah sah saja Dam, per buatan itu bukan perbuatan tercela, jika ditujukan dalam rangka kebaikan dengan niat mendapatkan suami yang sholeh atau bukan semata karena hawa nafsu duniawi seperti dalam hadist berikut di jelaska “Jika seorang anak perempuan dan kerabat datang melamar sedang kalian ridho pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia”. (HR Tirmidzi)" ucap Abah.


"Apa aku harus menerimanya" tanya Adam.


"Ya tak begitu juga Dam kalau kau ridho kau boleh menerimannya dan jika kamu tak ridho lebih baik menolaknya karena takut nya menjadi sebuah ke muna fikan" ucap Abah.


"Bahkan nabi juga pernah di lamar wanita.


Yaitu Nabi Muhammad SAW ketika Khadijah menawarkan dirinya dengan mengutus perantara untuk menyampaikan hajatnya kepada Rasulullah “Wahai anak saudara paman ku, sesungguhnya aku telah tertarik kepadamu dan kekeluargaanmu, sikap amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan benarnya kata kata mu”. (Tarikh Ibn Hisyam : 1/122).


Di hadist itu di jelaskan bahkan khadijah meyakini ke besaran Akhlak nabi, maka dari itu Khadijah memberanikan diri melamar nabi" ucap Abah.


"Oh ya" ucap Adam.


"Ya memang siapa yang mengajak mu menikah" tanya Abah.


"Ada Abah" ucap Adam.


"Cepat lah menikah jadi kau tak du kejar wanita terus, berusaha lah untuk mengejar" ucap Abah.


"Siap Abah" ucap Adam.


"nanti kalau udah ada jodoh nya aku langsung menikah" ucap Adam.


"ya harus" ucap Abah.


Kau tau dahulu saat Abah dan Umi menikah kami tak pacaran dulu malahan kami langsung menikah" ucap Abah.


"kenapa bisa" tanya Adam.


"ya bisa ini kan Abah mu" ucap Abah.


"apa kalian saling mengenal" tanya Adam.


"kenal tapi tak akrab hanya sebatas saja" ucap Abah.


"lalu bagai mana bisa kalian menikah" tanya Adam.


"mungkin sudah jodoh" ucap Abah.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2