Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 21


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Zia melaksanakan Sholat shubuh berjamaah bersama dengan yang lain, bahkan Zia juga mengaji dengan Adam.


"Bacalah yang benar, saat kau di atas panggung kau bisa membacanya" ucap Adam.


"Ya tapi hanya itu saja dan itu pun aku mendengar dari kakak ipar ku" ucap Zia.


"Lalu apa kamu tak membacanya" tanya Adam.


"Baca tapi waktu kecil" ucap Zia.


"Ayo bacakan surah yang kamu hafalkan itu" ucap Adam.


"Wa izaa laqul laziina aamanuu qooluuu aamannaa wa izaa khalw ilaa shayaatiinihim qooluuu innaa ma'akum innamaa nahnu mustahzi'uun"


"Allahu yastahzi'u bihim wa yamudduhum fii tughyaanihim ya'mahuun"


"Ulaaa'ikal laziinash tara wud dalaalata bilhudaa famaa rabihat tijaaratuhum wa maa kaanuu muhtadiin"


Zia membacakan Surat Al Baqarah ayat 14 - 16.


"Apa kau melupakan sesuatu" tanya Adam.


"Apa" tanya Zia.


"Kau tak membaca Bismilah Zia" ucap Adam.


"Oh ya aku lupa" ucap Zia.


"A'udzu billahi minas syaitanir rajim Bismillah hirohman Nirohim..." ucap Zia.


Zia membaca Al Quran dengan cukup benar di hadapan Adam.


"Bagus tingkat kan lagi Zia" ucap Adam.


"Terima kasih" ucap Zia.


Setelah selesai mengaji dan makan, Seperti biasa Zia akan membantu Imah beres beres dan seperti biasa ucapan Imah sudah pasti akan menghina Zia.


"Pembantu tak tau diri" ucap Imah pada Zia.


"Ya Nyonya" ucap Zia sambil tertawa.


Zia membersihkan halaman Madrasah yang kemarin sempat tak di bersihkan bahkan banyak sekali, rumput liar yang tumbuh disana.


"Permisi" sapa seseorang dari arah belakang Zia.


"Ya" tanya Zia.


"Apa kamu Aziya" tanya laki laki yang para santri sebut habib.


"Ya Habib" ucap Zia.


"Benar kah kau Aziya" tanya laki laki itu.


"Ya saya Aziya habib" ucap Zia.


"Kau salah mengartikan Aziya, Habib bukan nama ku, Habib itu sebuah sebutan untuk ulama atau kiyai, nama aku Haddad Alaydrus" ucapnya.


"Tapi orang lain menyebut mu Habib" ucap Zia.


"Ya tapi khusus untuk mu, panggil saja aku Haddad" ucapnya.


"Wah kau sopan sekali" ucap Zia.


"Apa kau tak mengenalku" tanya nya.

__ADS_1


"Apa kita pernah bertemu" tanya Zia, karena dia sangat tak kenal dengan laki laki di hadapannya itu.


"Kita satu kampus dulu, kau Aziya Yunita nomor satu di kampus kan, aku tak sangka dulu kau berpenampilan minim namun sekarang kau memakai hijab, kau sangat cantik Aziya" puji Haddad.


"Ahh terima kasih kau banyak memuji ku, tapi sungguh aku tak kenal maaf" ucap Zia.


"Ya kita cuman beda jurusan dulu" ucap Haddad.


"Oh kalau begitu aku orang yang paling beruntung" ucap Zia.


"Kenapa" tanya Haddad.


"Karena aku bisa satu kampus dengan habib yang sangat di gemari oleh santri di sini" ucap Zia.


"Kau bisa saja" ucap Haddad.


"Tapi benar Aziya aku sangat pangling melihat mu, ngomong ngomong kenapa kau bisa ada di sini jarak kota dengan kampung ini cukup jauh" tanya Haddad.


"Tak sopan jika bicara sambil berdiri, kita duduk disana ya" ucap Zia.


"Oh ayo" ucap Haddad.


Mereka duduk di kursi taman halaman pesantren.


"Kau tau, aku na kal kakak ku membawa aku ke kampung dan kampung ini adalah kampung halaman ibu ku, kau tau? Ibu ku rumahnya dekat sini hanya berjarak satu kilo meter saja, aku di masukan kesini dan kau tau karena apa? Karena aku ma buk dan kakak melihatnya, miris bukan" ucap Zia.


"Ya menurut aku orang tua mu benar, dari pada kau melangkah lebih jauh lagi kan" ucap Haddad.


"Ya aku tau, tapi aku mau menikah" ucap Zia.


Haddad mengerutkan keningnya.


"Kenapa tak menikah saja" tanya Haddad.


"Kau tau, di pesantren ini aku tak menemukan orang yang bisa aku nikahi" ucap Zia.


"Sama saja" ucap Zia.


"Kau wanita yang ngebet nikah Zia" ucap Haddad.


"Ya begitulah, kau tau teman kuliah kita sudah pada punya anak bahkan banyak yang sudah punya rumah mobil tapi aku" ucap Zia.


"Nikmati saja Zia mungkin belum waktunya kau menikah" ucap Haddad.


"Ya, terima kasih kau sangat baik" ucap Zia.


"Aku tak sangka Aziya yang dahulunya idola kampus sekarang se cerewet itu di hadapan ku" ucap Haddad.


"Aku cerewet pun pilih pilih, gak sembarangan orang, aku hanya cerewet pada orang yang membuat aku nyaman" ucap Zia.


"Lalu apa aku membuat mu nyaman" tanya Haddad.


"Hanya dua puluh persen" ucap Zia.


Hahahh


Keduanya tertawa bersama, namun Zia ingat kalau sekarang dia harus membantu Umi belanja kebutuhan ke pasar.


"Maaf Haddad, tapi aku harus ke pasar menemani Umi belanja" ucap Zia.


"Baiklah" ucap Haddad.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum wr wb" ucap Zia.


"Waalaikum salam" ucap Haddad tersenyum.

__ADS_1


Zia pergi ke rumah Umi, Zia sampai lupa kalau sekarang dia di ajak umi ke pasar karena terlalu asik bicara dengan Haddad, Zia sampai lupa dengan janjinya.


"umi ayo" ucap Zia.


"ayo, Neng Zia tolong bawakan kantong belanjaan yang ada di atas kursi" titah Umi.


"baik Umi" ucap Zia.


Mereka berdua pergi ke pasar membeli semua kebutuhan pokok para santri, bahkan Umi sendiri yang belanja karena sekarang di pesantren sangat sibuk apa lagi dengan datangnya Haddad, membuat Umi bingung memilih menu makan siang untuk Haddad.


"Neng kira kira habib itu suka makan apa ya" tanya Umi.


"beri saja sayuran Umi" ucap Zia.


"tapi apa dia akan suka" tanya Umi.


"pasti suka Umi" ucap Zia.


"baiklah kita beli saja daging Ayam, dan sayuran" ucap Umi.


"oh ya Umi, ternyata Haddad itu teman kuliah aku" ucap Zia.


"oh ya kata siapa" tanya Umi.


"umi dia sendiri yang bilang" ucap Zia.


"kalau begitu Neng Zia sangat beruntung bisa mengenal habib itu" ucap Umi.


"ya Umi, dunia sangat sempit ya" ucap Zia.


Namun Zia terkejut saat melihat ada Marwah juga di sana.


"itu Ning Marwah sudah datang" ucap Umi.


"umi mengajaknya" tanya Zia.


"ya karena kan sekarang Umi akan belanja baju buat Ning Marwah karena kan Ning Marwah akan menikah dengan Adam" ucap Umi.


"oh untuk seserahan" ucap Zia.


"ya".


"Ning Marwah" ucap Umi tersenyum pada calon menantunya itu.


"umi maaf aku terlambat" ucap Ning Marwah.


"tak masalah yang penting kau datang Umi sudah bahagia" ucap Umi.


"aahh Umi" ucap Marwah.


Zia hanya menatap Marwah dengan tatapan tajam sungguh Zia tak bisa membayangkan kalau Umi tau tentang kebenaran dari Marwah.


"ayo kita ke toko itu" ucap Umi yang langsung jalan di depan.


"sekarang beri tau lah Adam atau kau akan menyesal Ning" ucap Zia.


"kau banyak bicara, bisa kah kau tak mengurusi kehidupan orang lain" ucap Marwah.


"oh kau berani meninggikan suara mu padaku Ning" ucap Zia tak percaya.


"Zia kau terlalu ikut campur" ucap Marwah.


"tapi ini demi kebaikan Adam, Ning aku peduli padanya dan aku lihat Umi dia sangat baik padamu apa kau tak kasihan padanya jika kau terus membohonginya" ucap Zia.


"tetap dalam batas mu" ucap Marwah yang langsung pergi meninggalkan Zia.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2