Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 85


__ADS_3

Zia dan Adam pulang ke pesantren dalam perjalanan mereka tak banyak bicara hanya diam saja tanpa melihat ke mana mana.


"Kak Zia" sahut Rena saat Zia dan Adam sudah sampai di pesantren.


"Gus Aku ke sana dulu" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Zia mendekat pada Rena dan Gita yang sekarang berada di sana.


"Ada apa" tanya Zia.


"Kak katanya kau tak akan ke pasar" tanya Rena.


"Ya aku tadinya gak cuman Gus Adam yang ajak dan Umi juga yang nyuruh beli bumbu" ucap Zia.


"Oh baiklah" ucap Rena.


"Aku akan ke rumah dulu" ucap zia yang langsung masuk ke dalam rumah nya.


"Umi semuanya ada" ucap Adam.


"Terima kasih Dam" ucap Umi.


"Ya sama sama" ucap Adam.


Adam duduk di kursi, setelah pulang dari pasar Adam sekarang lebih banyak diam.


"Gus aku akan masak" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Zia membawa ayam mentah itu ke dapur.


"Umi bisa ajari aku masak ayam bumbu merah" tanya Zia.


"Memang nya buat apa" tanya Umi.


"Umi, katanya Gus Adam mau makan ayam yang seperti Umi masak" ucap Zia.


"Oh kalau begitu umi bisa ajarkan" ucap umi.


"Alhamdulillah terima kasih Umi" ucap Zia.


"Ya sama sama" ucap Umi.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang" tanya Zia.


"Neng Zia hanya perlu mencuci bersih daging itu saja" ucap Umi.


"Baik lah aku akan cuci dulu" ucap Zia.


"Ya sampai bersih" ucap Umi.


Zia mencuci ayam mentah itu sampai bersih, Umi sudah menyiapkan minyak panas di atas wajah.


"Goreng ayam nya Neng" ucap Umi.


"Oh baik lah" ucap Zia yang langsung menggoreng Ayam.


"Neng ini semua bumbu nya sudah umi siap kan Neng Zia hanya tinggal ngulek saja, Umi akan mencuci dulu pakaian" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Zia mengulek bumbu sambil menggoreng ayam, setelah selesai Zia mengangkat ayam itu dan meniriskan nya.


"Umi lalu apa yang harus aku lakukan" tanya Zia.


"Neng minyak nya pindahin ke mangkuk, sisakan saja sedikit untuk menggoreng bumbu nya" ucap Umi dari kamar mandi.


"Oh baik lah" ucap Zia melakukan apa yang sudah Umi bicarakan.


Zia menggoreng bumbunya.


"Umi apa lagi yang harus aku lakukan" tanya Zia.


"Masukan sereh Zia sama lengkuas" ucap Umi.


Zia mengambil lengkuas lalu memotong nya kecil kecil, dan sereh Zia tau kalau Umi selalu memakai nya dengan di geprek dahulu.


"Sudah Umi" ucap Zia.


"Pakai salam Neng" ucap Umi dari kamar mandi.


"Berapa Umi" tanya Zia.


"Tiga saja sudah wangi" ucap Umi.


"Pakai salam? Apa Ayam nya akan langsung enak kalau pakai salam? Oh mungkin ayam nya akan Halal kalau pakai salam" ucap Zia bermonolog sendiri.


"Dasar kau Zia itu saja tak tau" gumam Zia lagi.


Zia mendekat pada wajah yang sudah berisi bumbu itu.


"Assalamualaikum wr wb" ucap Zia menghadap pada Wajan itu.


"Assalamualaikum wr wb" ucap Zia lagi.


Umi keluar dari kamar mandi dia bingung melihat menantunya itu.


"Assalamualaikum wr wb" ucap Zia lagi.


"Ada tamu neng" tanya Umi heran.


"Gak ada" ucap Zia melihat ke ruang tamu.


"Bukan kau mengucapkan salam pada wajan memang ada apa" tanya Umi.


"Umi ini bagai mana, kan kata Umi tadi beri salam tiga" ucap Zia.


"Astaghfirullah Neng bukan salam yang itu tapi salam bumbu dapur" ucap Umi menepuk jidat nya melihat kelakuan menantunya itu.


Umi mencari salam dan memberikan nya pada Zia.


"Salam yang ini Neng" ucap Umi.


"Oh salah ya" tanya Zia.


"Salah" ucap Umi.


"Aku pikir salam itu ucapan salam assalamualaikum, ternyata ini juga nama nya salam" ucap Zia menatap daun salam.


"Entah lah" ucap Umi.


"Lalu Umi apa yang harus aku lakukan lagi" tanya Zia.


"Kasih penyedap, gula dan yang lainnya" ucap Umi.


"Oh baik lah aku akan lakukan" ucap Zia.


"Ya, Umi akan menjemur pakaian dulu" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Zia.


Zia memasukan semuanya ke dalam wajan, Zia memasukan ayam nya dan mencicipi rasa Ayam itu.


"Kurang apa ya" gumam Zia.


Lidah Zia merasakan kalau ayam itu sangat pas untuk Zia bahkan Zia merasakan kalau ayam itu sangat enak.


"Sudah" tanya Umi yang baru saja datang ke sana.


"Sudah Umi, tolong di coba dulu" ucap Zia.


"Ya baik lah" ucap Umi yany langsung mengambil piring dan mencoba nya.

__ADS_1


"Neng kurang garam sedikit" ucap Umi.


Umi merasakan ayam itu lagi.


"Tapi enak kok" ucap umi.


"Aku akan tambahkan garam" ucap Zia.


"Ya sedikit saja" ucap Umi.


Setelah selesai Zia menyuguhkan nya pada Adam, sejak tadi Adam tak banyak bicara apa lagi karena kejadian tadi pula Adam jadi lebih mendiam kan Zia.


"Gus ayo makan" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


"Ayo lah kau belum makan kan" ucap Zia.


"Aku tak lapar, nanti saja aku makan" ucap Adam.


"Oh baik lah" ucap Zia.


Adam langsung pergi ke luar rumahnya.


Zia hanya menatap Adam dengan rasa kecewa padahal Zia buatkan ayam itu dengan susah payah tapi Adam tak memakannya.


"Ya sudah lah aku simpan saja" gumam Zia.


"Loh neng kemana Adam nya" tanya Umi.


"Kata Gus Adam dia belum lapar" ucap Zia.


"Oh ya tapi seingat Umi dia tak pernah menolak ayam ini" ucap Umi.


"Entah, ya mungkin karena Gus Adam tak lapar saja Umi" ucap Zia.


"Ya, kalau di makan nya nanti, masukan saja Neng ke dalam lemari" ucap Umi


"Ya Umi" ucap Zia.


Zia memasukkan nya pada lemari di dapur.


Zia sangat penasaran pada suami nya itu, entah kenapa Adam jadi irit bicara sekarang.


"Apa karena kejadian tadi? Bukan kah aku menolong nya, aku kan membela nya" ucap Zia.


"Neng Umi akan mengambil masakan dari rumah ibu piah ya" ucap umi.


"Ya umi" ucap Zia.


Zia duduk di kursi menunggu Adam yang sejak tadi belum pulang ke mana kira kira Adam?.


"Gus Adam itu kenapa ya apa dia marah pada ku, tapi apa salah ku? Aku hanya membela nya tadi" gumam Zia.


Karena merasa Adam lama Zia pun keluar karena akan melihat sedang apa Adam di luaran sana.


"Kak Zia" sahut Rena.


"Ning" ucap Zia.


"Kak mau ke mana" tanya Rena.


"Aku mau cari Gus Adam" ucap Zia.


"Emang nya kemana Gus Adam" tanya Rena.


"Gak tau" ucap Zia.


"Oh baik lah aku akan bantu Carikan" ucap Rena.


"Ayo" ucap Zia.


Mereka berjalan ke arah Madrasah namun tak ada Gus Adam di sana.


"Gus Fauzi, Gus Farid lihat Gus Adam gak" tanya Zia.


"Gak lihat memang ada apa" tanya Fauzi.


"Gak cuman tadi keluar sampai sekarang belum pulang" ucap Zia.


"Apa Gus Adam keluar dari pesantren" tanya Fauzi.


"Entah aku gak tau" ucap Zia.


"Oh kalau begitu aku tak tau" ucap Fauzi.


"Oh ya sudah lah Terima kasih" ucap Zia yang langsung pergi dari sana bersama dengan Rena.


Sedangkan Adam sekarang dia tengah berada di belakang pesantren, karena sesuatu yang paling Adam sesali adalah memutuskan sesuatu ketika marah.


"Salah kah aku" gumam Adam menatap pada persawahan di belakang pesantren.


Adam menatap pada segerombolan orang yang datang ke sana.


Adam melihat dengan jelas siapa yang datang ke sana itu.


"Mereka lagi" gumam Adam melihat preman yang tadi di pasar namun sekarang jumlah nya jadi lebih banyak.


"Kau ada di sini rupanya" ucap preman itu.


"Ada apa" tanya Adam.


"Aku hanya mau buat perhitungan pada mu" ucapnya.


"Lalu" tanya Adam.


"Lari lah kalau kau takut" ucapnya meledek.


"Aku tak takut, kenapa aku harus lari" ucap Adam.


"Lawan aku jangan pakai tenaga dalam" ucap nya.


"Aku harus apa" tanya Adam.


"Kita selesaikan ini secara laki" ucapnya.


"Apa yang akan aku dapat kan" ucap Adam.


"Kami janji tak akan menganggu mu lagi" ucap nya.


"Aku terima" ucap Adam.


"Baik lah ayo serang" ucapnya pada semua teman preman nya.


"Kalian curang" ucap Adam.


Preman preman itu mendekat pada Adam dan membogem mentah Adam sampai terlihat ada pukulan di pipi mulus Adam.


Bugh


Bughh


Adam sempat kelimpungan saat mendapat kan pukulan dari mereka, namun hal itu tak membuat Adam takut malahan Adam sudah lama menanti kan hal ini.


"Apa kau mau mengalah" tanya nya tertawa melihat Adam yang sekarang memegang perutnya karena kesakitan.


"Aku tak takut dan tak akan nyerah" ucap Adam.


"Sudah lah kau akan kalah" ucap nya.


"Maju lah satu persatu, pecun dang bukan kalau menyerang secara bersamaan" ucap Adam tersenyum pada mereka.


"Beraninya kau" geram nya.


Salah satu dari mereka maju dan hendak meno njok Adam, namun dengan cepat Adam menepis kepalan tangan nya, dengan cepat Adam menendang kaki preman itu.

__ADS_1


Preman itu langsung terhuyung ke tanah karena kaki nya merasa sakit.


"Awws kau melukai kaki ku" ucap nya meringis kesakitan.


"Ada yang lain" tanya Adam.


Salah satu dari mereka maju ke hadapan Adam, tanpa pikir panjang dia langsung memukul Adam tepat di bagian perut Adam, belum ada perlawanan dari Adam.


"Hahaha maka nya jangan sombong, jadi kena batu nya kan" ucap Nya.


Adam membenarkan posisi nya.


Bughh


Brughh


Adam memu kul nya dan mendorong dia sehingga membuatnya terjatuh ke belakang.


Adam melakukan perkelahian itu dengan tenang walau pun sekarang wajah dan perut nya sudah babak belur.


Tak lama setelah Adam selesai menghajar mereka, mereka tumbang juga di atas tanah.


"Sudah lah maaf kan aku" ucap Adam.


Adam pergi dari sana, namun baru saja beberapa langkah Adam kembali lagi ke sana.


"Sesuai perjanjian aku harap kau tak mengganggu aku lagi" ucap Adam.


"Ya" ucapnya.


Adam pergi dari sana meninggal kan mereka, kalau kita berpikir Adam tak merasa kesakitan, tentu saja pemikiran kita salah.


Saat ini Adam Tengah menahan rasa sakit di perut dan wajahnya, terasa oleh Adam kalau sekarang hidung Adam mengeluarkan darah.


"Astaghfirullah" gumam Adam mengelap darah itu dan mengelap nya pada sorban yang dia pakai.


Zia dan Rena yang masih mencari pun melihat Adam yang sekarang baru saja datang dari arah gerbang pesantren dengan wajah yang babak belur.


"Gus kau kenapa Gus" tanya Zia.


Adam terhuyung ke depan dengan cepat Zia menahan Adam supaya Adam tak jatuh.


"Ayo pulang Gus" ucap Zia.


Zia memapah Adam untuk masuk ke dalam rumahnya, darah yang keluar dari hidung semakin banyak bahkan darah nya pun sampai menetes ke tanah.


"Astaghfirullah Gus Adam siapa yang sudah memu kuli mu" tanya Farid dan Fauzi.


"Tak apa Gus hanya ada masalah sedikit saja" ucap Adam seolah tak terjadi apa apa.


"Tapi Gus bagai mana kalau kau celaka" ucap Fauzi.


"Tak apa, Zia akan mengobati ku" ucap Adam.


Zia membawa Adam masuk ke dalam rumah Abah.


"Astaghfirullah Adam ada apa ini" tanya Umi histeris melihat putranya yang babak belur.


"Umi aku akan obati Gus Adam" ucap Zia.


Dengan cepat Zia langsung mengobati luka Adam dengan obat merah dan kapas.


Tanya Zia merasa bergetar saat melihat banyak sekali luka yang Adam dapatkan.


Tangan Adam memegang tangan Zia supaya tak bergetar lagi.


"Obati saja jangan takut" ucap Adam.


"Gus kau kenapa" tanya Zia yang langsung menetes kan air mata nya karena tak sanggup melihat suami nya yang sekarang babak belur.


"Jangan menangis Zia aku baik baik saja" ucap Adam menghapus air mata Zia.


"Tapi Gus siapa yang melakukan ini" tanya Zia.


"Tak ada" ucap Adam.


"Jangan bohong Gus" ucap Zia.


"Aku gak bohong udah jangan nangis ya obati saja" ucap Adam.


Zia mengobati luka Adam dan memberikan pelester di lukanya.


"Semoga luka nya cepat hilang" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Zia memeluk Adam dengan sangat erat.


"Gus" ucap Zia.


"Sudah" ucap Adam mengusap kepala Zia dengan lembut.


Adam mendaratkan kecupan di kepala Zia yang tertutup oleh hijab.


"Jangan sedih Zia" ucap Adam.


"Mau cium" ucap Zia menggoda Adam.


"Gak mau" ucap Adam yang membuat Zia kesal.


"CK" Zia berdecak kesal.


"Nanti ya" ucap Adam.


"Sekarang" ucap Zia.


"Nanti takut ada Umi" ucap Adam.


"Ya deh" putus Zia.


Umi datang ke sana dengan membawa daun hijau.


"Zia obati dengan ini" ucap Umi.


"Tapi Umi sudah aku berikan pelester" ucap Zia.


"Jangan pakai itu, takut nya lama untuk kering" ucap Umi.


"Oh harus aku buka lagi" tanya Zia.


"Ya sebaik nya begitu" ucap Umi.


Zia membuka kembali plester itu.


"Umi daun apa ini" tanya Zia.


"Itu daun binahong Zia, itu bagus untuk luka dan cepat kering" ucap Umi.


"Bagai mana cara memakai nya" tanya Zia.


"Di tumbuk Zia setelah itu di tempelkan saja pada luka nya" ucap Umi.


"Baik lah aku akan lakukan" ucap Zia.


Zia mengobati luka itu dengan daun binahong, terasa sangat perih di luka Adam.


"Sakit" tanya Zia.


"Tidak" ucap Adam berbohong.


"Tahan ya" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2