
Yang nungguin Zia dan Adam menikah kita percepat ya...
Bismillahirrahmanirrahim...
Satu bulan kemudian..
Hari demi hari Zia lalui dengan tidak bersemangat apa lagi sekarang sudah hampir satu bulan lebih tiga hari tapi Adam belum juga pulang.
Bahkan selama satu bulan ini Adam tak pernah lagi menghubungi Umi dan Abah karena katanya Adam ingin fokus dulu pada kuliah nya.
"Kak ayo kita asuh saja Arman dari pada kau melamun terus" ucap Rena yang sekarang tengah membawa Arman bermain.
Ya, selama satu bulan ini kegiatan Zia hanya mengasuh Arman di sela sela istirahat nya karena kalau diam di kamar Zia pasti akan melamun saja.
"Ya aku datang" ucap Zia.
Zia berjalan ke sana Zia menendang bola yang sekarang berada di hadapan nya.
Dengan malas Zia menendang bola itu.
Tanpa Zia sadari dia menendang cukup kencang sehingga membuat bola itu mengapung sangat jauh.
Pukk
Bola itu mendarat di kepala Luthfi yang sekarang tengah bersama dengan Fauzi.
"Oh my God" gumam Zia.
"Kau" geram Luthfi menatap Zia dengan tatapan marah.
Sedangkan Rena hanya menatap Zia dengan tatapan tak percaya karena Zia akan sekeras itu menendang nya.
Luthfi mendekat pada Zia dengan tatapan marah.
"Maaf" ucap Zia namun tetap saja tak di gubris oleh Luthfi.
Luthfi semakin mendekat dan Zia semakin mundur dengan perlahan karena takut pada amukan Luthfi.
Brugh
Zia menubruk seseorang yang berdiri mematung di sana.
Zia membalik kan badan nya hingga menatap pada orang yang baru saja dia tubruk.
Senyuman tergambar di bibir Zia yang sekarang Zia merasa sangat bahagia karena orang yang sangat dia nanti nanti kan sudah pulang sekarang.
"Gus Adam" ucap Luthfi menatap pada orang yang baru saja Zia tubruk.
"Ada apa" tanya Adam yang saat ini tengah menggendong tas ransel yang sangat besar.
"Zia Gus dia menendang bola dan mendarat di kepala ku" ucap Luthfi.
"Hah Zia" ucap Adam menatap pada Zia.
"Maaf kan dia Gus" ucap Adam.
"Kalau bukan karena kau wanita mungkin aku sudah adu kan semua perbuatan mu pada Abah" ucap Luthfi.
"Dasar tukang ngadu" ucap Zia.
"Apa" tanya Luthfi.
Nyali Zia langsung menciut saat mendapat tatapan tajam dari laki laki yang mendapat julukan kulkas seribu pintu itu.
"Zia jangan begitu" ucap Adam dengan wajah yang terlihat sangat lelah dan mata yang merah karena kurang tidur.
"Gus kapan pulang" tanya Zia.
"Kemarin tapi baru sampai sekarang" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
"Aku akan temui kamu nanti sekarang aku akan pulang ke rumah dulu, aku capek" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Adam hendak pergi dari sana.
"Selamat istirahat" ucap Zia lagi.
"Ya" ucap Adam.
Zia menatap Adam yang sekarang akan masuk ke dalam rumahnya.
"Ciee gak jadi galau lagi dong karena pawang nya datang" ucap Rena menggoda Zia.
"Ah apaan kalian ini" ucap Zia malu malu.
Sedangkan Adam yang sekarang sudah masuk ke dalam rumahnya.
Adam di sambut haru oleh Abah dan Umi karena putra sulung nya baru saja pulang dari luar negri.
"Bagai mana kabar mu" tanya Abah sambil memeluk singkat putra nya itu.
"Baik Abah aku hanya mengantuk saja" ucap Adam.
"Istirahat lah kita bicara lagi nanti" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Adam.
"Umi aku akan mandi lalu istirahat" ucap Adam.
"Ya" ucap Umi.
Adam masuk ke kamarnya karena akan mandi dan istirahat.
"Alhamdulillah ya Abah, Adam akhirnya pulang dengan selamat" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Abah.
Hal yang paling Abah tunggu tunggu adalah Abah akan secepatnya tanya kan bagai mana kelanjutan hubungan antara Adam dan Zia karena Abah gak mau kalau mereka terjerumus ke dalam nikmat yang sementara.
Setelah mandi Adam istirahat di kamarnya karena sangat mengantuk apa lagi semalaman berada di pesawat Adam tak bisa tidur.
Adam tertidur hingga hampir Sholat Maghrib, Adam membuka matanya ternyata sudah pukul setengah enam sore hari sebentar lagi akan melaksanakan Sholat Maghrib.
"Ya Alloh aku terlambat Sholat Ashar" gumam Adam.
Adam menatap pada jam dinding yang ada di kamarnya.
"Masih ada waktu setengah jam lagi" ucap Adam.
Adam mengambil wudhu dan melaksanakan Sholat Ashar di kamar nya karena kalau ke mesjid Adam takut nya akan banyak santri di sana.
Setelah selesai Sholat Adam duduk di bibir ranjang nya.
Adam membuka ponsel nya yang sejak tadi tak dia lihat, ada banyak sekali pesan yang dia terima namun pesan itu hampir semua dari teman di luar negeri.
"Banyak sekali pesan" gumam Adam.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Adzan Maghrib berkumandang di mesjid membuat Adam menyimpan kembali ponselnya dan berjalan menuju ke mesjid karena akan melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah.
"Dam mau ke mesjid" tanya Umi yang melihat Adam keluar dari kamarnya.
"Ya Umi" ucap Adam.
__ADS_1
"Ya ayo bareng" ucap Umi.
"Ayo" ucap Adam.
Mereka menuju ke arah mesjid, Adam bisa melihat Zia dengan sangat jelas karena sekarang Zia sudah berada di mesjid dan berada di barisan dekat dengan jendela.
Sholat Maghrib pun selesai bahkan mereka juga sudah melakukan wirid bersama sama.
"Hapal kan tadarus kalian nanti setor surat pada Gus Fauzi dan Gus Farid" ucap Adam.
"Ya Abah" serempak.
Mereka semua menghafal kan surat surat yang belum mereka bisa, sedangkan Zia dia hanya menghafal kan Surat pendek saja karena bahkan surat pendek pun Zia ada yang gak tau.
Adzan isya berkumandang di mesjid semua santri menghentikan hafalan nya dan langsung bersiap akan Sholat sunah namun Zia tak melakukan nya karena Zia tak bisa membaca niatnya.
Kalau untuk Sholat sunah Abah tak pernah memaksa setiap santri untuk melakukan nya karena sholat sunah ini bukan sholat wajib jadi di lakukan bagus kalau tak dilakukan juga tak apa apa.
Abah hanya mengijinkan santri yang ikhlas saja melakukan nya karena ingin mendapat ridho dari Alloh.
Mereka semua menyelesaikan Sholat isya secara berjamaah.
Hingga selesai mereka ke madrasah karena akan belajar dan sekor hafalan.
Zia berjalan di barisan paling belakang bersama dengan Rena dan Gita sedangkan Ainun saat ini sudah berada di barisan paling depan bersama dengan Fauzi.
"Kemana Ning Husna" tanya Gita.
"Kemarin aku lihat tapi katanya mereka ke kota" ucap Rena.
"Oh" ucap Gita.
"Mereka romantis ya" ucap Zia.
"Romantis bagai mana" tanya Gita.
"Ya romantis aku pernah melihat kalau mereka tengah makan saling suap" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Rena.
"ya, So sweet" ucap Zia.
"Ehemm" Adam berdehem di belakang ketiga santri yang sedang bergosip itu.
"Jangan bergosip" ucap Adam.
"Bukan Gosip Gus kami bicara hal yang benar" ucap Rena.
"Berarti kalian meng gibah" ucap Adam.
"Ya sih Baik lah kami duluan" ucap Rena membawa Gita pergi dari sana meninggal kan Zia dan Adam yang masih berada di sana.
"Zia" ucap Adam.
Zia menatap pada Adam.
"Ya" ucap Zia yang langsung menunduk baru kali ini Zia jatuh cinta tapi dia merasa malu malu begitu.
"Besok aku akan datang ke rumah mu" ucap Adam.
"Hah" tanya Zia sambil menelan Saliva nya karena tak percaya kalau Adam akan secepat itu datang menemui orang tuanya.
"Orang tua mu ada kan" tanya Adam.
"Kenapa buru buru" tanya Zia gugup.
"Ya karena kan besok hari Minggu jadi aku punya waktu senggang dan Abah juga gak sibuk kalau hari Minggu" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
"Selamat bertemu besok" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Zia berjalan di hadapan Adam.
"Kenapa aku gugup begini" gumam Zia.
Adam mengikuti langkah Zia, namun Adam melihat Abah baru saja keluar dari Madrasah dan fikir Adam pasti Abah akan pulang.
"Zia aku harus pulang Sekarang" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Zia tak berani menatap pada Adam.
Adam kembali ke dalam rumah nya dan benar saja di sana ada Abah yang sedang duduk di kursi rumah nya.
"Adam duduk lah" ucap Abah.
Adam duduk di sana karena Abah yang minta.
"Ada apa Abah" tanya Adam.
"Hubungan kau dan Zia sudah sejauh mana" tanya Abah.
"Gak jauh Abah hanya teman saja" ucap Adam.
"Lalu sorban" tanya Abah.
"Oh ya Sorban itu aku sengaja titip kan pada Zia" ucap Adam.
"Mau di bawa ke mana hubungan kalian" tanya Abah.
"Aku berfikir besok aku akan datang ke sana melamar Zia, apa aku tak terlalu terburu buru Abah" tanya Adam.
"Kenapa terbaru buru bukan nya lebih cepat lebih baik".
"Abah juga takut kalau semakin lama maka kalian hanya akan menambah dosa saja" ucap Abah.
"Tapi kami tak melakukan apa apa" ucap Adam.
" Abah tau semua Dam " ucap Abah.
Adam teringat kalau dahulu Adam dan Zia pernah berpelukan apa lagi saat Zia merasa ketakutan, lalu saat Adam di khianati Ning Marwah.
"Ya Abah aku akan secepat nya menghalal kan Zia" ucap Adam.
"Ya Abah akan datang besok ke rumah orang tua nya Zia" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Adam.
Semua santri berada di Madrasah karena sedang setor hafalan sekarang senior santri putri sedang tak ada di pesantren karena kebanyakan yang cuti karena alasan keluarga.
Zia maju ke depan menghadap ke arah Farid yang sekarang akan mengetes Zia.
"Ayo baca kan" tanya Farid.
Zia membacakan surat Al kafirun.
"Apa kau tak melupakan sesuatu" tanya Farid.
"Apa aku baca benar" tanya Zia.
"Kau tak baca bismillah" ucap Farid.
"Oh ya aku lupa" ucap Zia.
"a'udzu billahi minasy syaithaanir rajiim" ucap Zia.
"Kau tau ada sebuah Surat yang tak boleh membaca bismillah" ucap Farid.
__ADS_1
"Surat apa dan kenapa boleh tak pakai" tanya Zia.
"Surat at Taubah, kata singkat nya karena surat itu kelanjutan Surat Al anfaal" ucap Farid.
"Kalau arti panjang nya apa" tanya Zia.
"Maaf aku tak bisa beri tau karena akan sangat panjang" Ucap Farid.
"Kau pelit" ucap Zia yang langsung pergi dari sana ke tempat duduk nya lagi.
Para santri bubar karena sudah di tes satu per satu.
Malam ini Zia bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan bayangan Adam yang selalu membuat nya terbangun tengah malam.
Pagi harinya seperti biasa saking nyenyak nya Zia sampai kesiangan bangun untuk Sholat Subuh.
Rena dan Gita sudah berada di mesjid karena sudah dari tadi bangun dan sekarang para santri sudah melaksanakan Shalat subuh berjamaah.
"Astagfirullah aku kesiangan lagi, kenapa Ning Rena dan Gita tak membangunkan" ucap Zia langsung terburu buru menuju mesjid.
Zia hanya menatap para santri yang sedang Sholat dari kejauhan saja karena mau ikut gabung pun Zia malu tak tau bagai mana cara melakukan nya.
"Nanti saja aku Sholat" ucap Zia yang hendak pergi lagi ke kamar nya.
"Mau ke mana" tanya Adam yang berada di sana.
"Gus" tanya Zia menatap pada Adam.
"Kenapa ada di sini" tanya Zia.
"Ya seperti yang kamu lakukan" ucap Adam.
"Apa" tanya Zia.
"Kesiangan kan" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia tersenyum.
"Sholat lah di kamar ku" ucap Adam.
"Tapi Gus kita belum menikah kenapa langsung masuk ke kamar" tanya Zia.
"Hanya untuk Sholat tak apa kan" ucap Adam.
"Oh " ucap Zia.
Zia mengikuti Adam untuk masuk ke dalam rumah nya, Zia akan Sholat di rumah Adam karena kalau di mesjid Zia akan lama menunggu sampai para santri bubar.
"Ayo masuk" ucap Adam.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Aku akan tunggu di sini" ucap Adam.
"Tapi apa kau tak sholat" tanya Zia.
"Sudah tadi" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
"Ayo Sholat dulu nanti kita bicara lagi" ucap Adam.
"Gus bisa aku bicara sesuatu" tanya Zia.
"Apa" tanya Adam.
"Nanti saat sudah Sholat" ucap Zia.
"Ya terserah" ucap Adam tersenyum.
Adam menunggu Zia yang sekarang tengah melaksanakan Sholat subuh, Adam melihat ponselnya yang belum sempat dia lihat.
{Gus kau sudah beli laptop} pesan dari Yasya.
{Belum} balasan Adam.
"Ya Allah aku lupa beli laptop pasti mahal, bagai mana cara aku beli nya bahkan uang yang aku simpan sekarang untuk biaya aku nikah" gumam Adam.
Adam melihat harga laptop di aplikasi belanja online, ternyata harganya cukup mahal untuk laptop yang baru.
"Aku harus belajar bagai mana nantinya" gumam Adam.
Zia keluar dari kamar Adam.
"Sudah" tanya Adam.
"Sudah" ucap Zia.
"Duduk lah" ucap Adam.
Zia duduk di sebelah Adam.
"Kau beneran mau menikah dengan ku Zia, tanpa paksaan" tanya Adam.
"Ya aku mau" ucap Zia.
"Setelah Abah dan Umi selesai makan nanti kita akan ke rumah mu" ucap Adam.
"Tapi maaf Zia setelah menikah aku belum bisa memberikan mu rumah" ucap Adam.
"Tak masalah Gus" ucap Zia.
"Aku harap hubungan kita langgeng sampai akhir hayat" ucap Adam.
"Ya" ucap Zia.
Drtt
Drtt
Drtt
Ponsel Adam terus saja berbunyi karena ada pesan masuk ke ponsel Adam.
"Siapa" tanya Zia.
"Teman aku saat di luar negeri" ucap Adam.
"Cewek" tanya Zia.
"Ya" ucap Adam.
Zia langsung kesal mendengar hal itu.
"Jangan begitu aku tak dekat dengan nya, entah kenapa sekarang dia selalu menghubungi ku" ucap Adam.
"Mungkin dia cinta pada mu" ucap Zia kesal.
"Ahh mana mungkin" ucap Adam.
Karena melihat Zia kesal Adam menyodorkan ponsel nya pada Zia.
"Terserah apa mau mu" ucap Adam.
"Aku percaya" ucap Zia.
"Lihat dulu siapa tau kau masih Salah paham" ucap Adam.
"Tidak usah aku percaya" ucap Zia.
__ADS_1
**bersambung..
yang nunggu pernikahan Adam dan Zia sabar ya mungkin satu bab lagi**...