
Zia hanya tersenyum saja tak berani lagi untuk bicara karena takut akan menyinggung perasaan Rena.
"Zia" sahut Abah dari arah rumahnya.
"Aku akan ke sana dulu" ucap Zia pada Rena dan Gita yang berada di sana.
"Ya kak" jawab Gita.
Zia mendekat pada Abah yang sekarang memanggil nya.
"Ya Abah ada apa" tanya Zia.
"Tadi Abah lihat Ainun ke sana Zia kamu bisa kan susul Ainun, maaf karena Abah menyuruh mu Abah ada kelas sekarang" ucap Abah.
"Ya tak apa Abah" ucap Zia.
"Kamu tak keberatan kan Abah suruh bahkan kamu juga akan meninggalkan pelajaran" ucap Abah.
"Tak apa Abah, santai saja" ucap Zia.
"Baik lah kalau begitu aku ke sana" ucap Zia yang langsung pergi mencari Ainun.
Zia berjalan ke arah tempat yang Abah tunjukan tadi.
"Kemana si Inun" gumam Zia.
Zia terus saja berjalan, hingga tepat di sana ada sebuah gapura yang dahulu Sekali pernah Zia masuki tapi banyak preman di sana.
"Apa di Inun ke sini ya" gumam Zia bertanya tanya.
"Masuk gak ya, kalau gak masuk bagai mana kalau Ainun di dalam" gumam Zia.
Karena takut Ainun kenapa kenapa Zia pun masuk kedalam walau pun dulu juga Zia pernah masuk dan di ganggu para preman.
Zia berjalan melewati jalanan gang rumah warga yang sempit, semua mata menatap aneh pada Zia padahal dulu Zia pernah ke sana tapi rasanya terasa sangat asing.
"Bade ka mana" tanya seorang warga yang ada di hadapan Zia.
"Cari teman dia tadi kesini" ucap Zia dengan suara yang bergetar karena menahan takut.
"Gak ada pulang" ucap nya.
"Tapi Bu tadi teman saya masuk" ucap Zia.
"Gak ada pulang lah di sana akan ada tawuran lebih baik kau pulang" ucap warga itu.
"Tapi Bu teman saya" ucap Zia.
"Ya sudah kalau kau tak patuh, kalau terjadi apa apa jangan salah kan warga sini" ucap Ibu itu ketua pada Zia.
Zia kembali berjalan lagi.
"Aneh katanya akan ada tawuran tapi kenapa tak di hentikan ada polisi kan yang akan menangkap mereka" gumam Zia.
Zia terus saja mencari cari Ainun walau pun sejak tadi Zia tak menemukan keberadaan Ainun.
Namun mata Zia memicing saat melihat jasad yang terkapar di tanah dengan darah di kerudung putihnya.
Zia mendekat pada jasad itu karena sekarang sedang di kerumuni oleh anak kecil.
"Astagfirullah Ainun" ucap Zia.
Di pesantren Adam tengah mencari cari Zia karena sekarang Adam akan meminta bahasa Inggris yang lengkap pada Zia karena satu Minggu lagi dia akan pergi dari sana ke luar negeri.
"Gus kau lihat Ainun" tanya Fauzi pada Adam.
"Tidak bahkan aku sekarang tengah mencari Zia" ucap Adam.
"Apa jangan jangan mereka berantem lagi" tanya Fauzi.
"Entah tapi kemana mereka" tanya Adam.
"Kita tanya pada Ning Rena" ucap Adam lagi.
"Ya Gus" ucap Fauzi.
"Ning sini" terbaik Adam pada Rena.
"Ada apa Gus" tanya Rena.
"Dimana Zia dan Ainun" tanya Adam.
"Oh kalau kak Ainun aku gak tau tapi kalau kak Zia dia tadi di panggil Abah" ucap Rena.
"Baik lah aku akan tanya pada Abah" ucap Adam.
"Ayo Gus kita tanya Abah " ucap Fauzi.
"Ya ayo" ucap Adam.
Mereka berdua mencari Abah di rumah karena sekarang jam istirahat jadi Abah selalu ada di rumahnya.
"Assalamualaikum Abah" ucap Adam dan Fauzi bersama an.
"Waalaikum salam, Ya ada apa" tanya Abah.
"Abah melihat Zia gak" tanya Adam.
"Kalau Ainun Abah" tanya Fauzi.
"Ya begini tadi Abah lihat Ainun keluar dari pesantren kaya nya dia nangis, Abah lihat dia masuk ke arah RW sebelah, tadi nya Abah mau susul tadi Abah ada kelas Abah suruh Zia Ke sana untuk mencari Ainun, ap mereka belum kembali" tanya Abah.
"Belum Abah" ucap Adam.
Fauzi memikirkan kembali pertengkaran kecil yang dia dan Ainun lakukan.
Flash back on (pertengkaran Fauzi dan Ainun)
Di kamar Ainun saat itu Ainun sudah selesai mandi dan ganti baju, Fauzi menunggu di luar kamar Ainun.
__ADS_1
"Aku sudah bilang kan jangan ganggu Zia lagi" tanya Fauzi.
"Aku tak salah dia yang salah" ucap Ainun.
"Selalu saja kau menyalah kan orang lain hanya untuk menyelamatkan kesalahan mu" ucap Fauzi.
"Tidak begitu Fau dengar kan aku" ucap Ainun.
"Kalau aku dengar kau bertengkar lagi dengan Zia maka aku tak akan segan segan memberi tau orang tua mu untuk membatalkan pernikahan kita" ucap Fauzi.
"Tak bisa begitu dong Fau" ucap Ainun.
"Tak bisa bagai mana aku laki laki aku yang berhak memutuskan sesuatu" ucap Fauzi yang langsung pergi dari sana.
"Dengarkan aku Fau, dengarkan dulu Arghh" geram Ainun karena Fauzi tak mendengarkannya.
Flash back off..
"Argghh" ucap Fauzi memegang kepalanya.
Abah dan Adam yang melihat pun langsung aneh melihat ekspresi Fauzi.
"Ada apa Gus" tanya Adam.
"Kami bertengkar tadi" ucap Fauzi.
"Kalian susul saja ke sana" ucap Abah.
"Ya Abah kami akan ke sana, ayo Gus" ucap Fauzi.
"Ya ayo" ucap Adam.
Sedangkan Zia saat ini tengah menepuk nepuk pipi Ainun namun kepala Ainun berdarah sampai menutupi mukanya.
"Ainun bangun Ai" ucap Zia.
"Hey bubar bubar" teriak ibu ibu yang berada di sana.
Anak anak itu langsung bubar dan masuk ke dalam rumahnya.
Bahkan tak ada satu warga pun yang mau menolong Zia dan Ainun.
"Tolong.. tolongg..." Teriak Zia.
Namun tak ada warga yang keluar dari rumah nya hanya untuk membantu Ainun dan Zia.
"Bagai mana ini" gumam Zia yang sekarang cemas pada kondisi Ainun.
"Ai kau bisa bangun kan" tanya Zia karena sekarang Ainun masih bisa bergerak.
"Zia" ucap Ainun hanya mengucap Zia saja.
"Ayo pulang Ainun" ucap Zia.
Zia membantu membangunkan Ainun namun sayang berat badan Ainun lebih jauh dari Zia.
Sehingga Zia tak bisa mengangkat tubuh Ainun.
"Ai kau bisa bangun kan aku akan bantu kamu memapah ya" ucap Zia.
Ainun merasa sangat lemas bahkan kepala nya pun sangat pusing akibat benturan keras.
Ainun berdiri dan Zia membantu menopang tubuh Ainun supaya tak jatuh.
Ainun melangkah dengan perlahan Zia pun sangat kesusahan karena Ainun sangat lah berat.
"Ainun langkah kan kaki mu" titah Zia.
Namun sekarang Ainun sangat lemas bahkan dia saat ini akan pingsan kalau tak terus di bangun kan oleh Zia.
"Heyy.. serangggg" teriak seseorang yang berada di kampung itu.
"Ainun ayo lebih cepat jalan nya karena akan ada tawuran di sini" ucap Zia.
"Aku gak kuat Zia" ucap Ainun lemas.
"Kau kuat ayo" ucap Zia.
Namun mereka kalah cepat preman yang tawuran pun sudah ke sana dan mereka saling melempar batu bahkan ada juga yang membawa parang dan senjata tajam yang lain.
"Ainun Ayo mereka sekarang mendekat" ucap Zia.
Namun Ainun malah pingsan dan jatuh ke lantai, bahkan Zia pun tak bisa menahan nya karena Ainun sangat berat.
Bugh
Pukk
Slah
Suara senjata dan pukulan terdengar sampai ke telinga Zia.
"Ya Alloh apa tak Sudi kah orang orang menolong aku" ucap Zia sambil menangis dengan duduk di samping Ainun yang sekarang pingsan dan terkapar di tanah.
Tiba tiba saja sebuah batu mengenai punggung Zia Karena Zia dan Ainun sekarang berada di gang rumah warga.
Pukk
Batu itu menimbulkan rasa sakit di pungung Zia bahkan sekarang Zia sudah menyerah bahkan untuk hidup pun Zia tak bisa janji kan karena perkelahian itu sudah pasti akan terus mendekat pada Zia.
Bahkan banyak sekali batu yang terlempar pada Zia dan Ainun.
Sedang kan Adam dan Fauzi saat ini tengah mencari keberadaan Zia dan Ainun.
"Pak lihat anak santri kesini gak" tanya Adam pada warga di sana.
"Kurang tau " jawab nya.
"Oh" ucap Adam.
__ADS_1
"Bu ninggal santri te anu Kadie tadi " tanya Adam pada warga.
"Awewe" tanya ibu itu.
"Ya" ucap Adam dan Fauzi.
"Tadi ninggal tapi bede gong tos di wartosan ulah kadinya bakal Aya tawuran di dinya teh eh da ** di denge" ucap Ibu itu.
"Oh hatur nuhun Bu" ucap Adam.
"Gus apa katanya" tanya Adam.
"Ada ada katanya dia lihat tapi na kal gak bisa di bilangin gak boleh ke sana katanya akan ada tawuran" ucap Adam.
"Apa itu Ainun" tanya Fauzi.
"Mungkin Zia" ucap Adam.
"Ayo ke sana" ucap Fauzi.
Mereka berdua berlari menelusuri gang gang rumah warga dan benar saja ada orang yang sedang berkelahi di sana.
"Hati hati Gus" ucap Adam.
Mereka berlari namun mereka sangat terkejut saat melihat ada Zia dan Ainun yang sekarang tengah berada di tanah.
"Gus itu Ainun" ucap Adam.
"Hah ya" ucap Fauzi yang langsung cemas saat melihat calon istrinya sedang berbaring di tanah.
Fauzi mendekat pada Ainun.
"Ya Alloh Ainun kau kenapa" tanya Fauzi.
Adam melihat pada Zia yang sekarang kepala nya berdarah karena terkena batu tadi.
"Kau tak apa" tanya Adam pada Zia.
"Gus ayo bawa Ainun ke pesantren" ucap Adam.
Fauzi mengangkat Ainun dan membawa nya ke pesantren sedangkan Zia, Adam memapah Zia untuk segera ke pesantren.
"Kamu gak apa kan" tanya Adam.
Namun Zia tak menjawab karena kepala nya pusing karena terkena lemparan batu bahkan bukan itu saja punggung nya juga sangat sakit karena batu.
Sedangkan Sekarang Fauzi sangat panik karena calon istrinya sekarang sudah lemas tak berdaya di pangkuannya.
"Kau harus tanah Ai" ucap Fauzi.
Sesampai nya ke pesantren semua santri langsung menatap pada Fauzi yang membawa Ainun yang sekarang baju dan kerudung nya penuh dengan darah.
"Astagfirullah" ucap Umi dan Abah yang melihat hal itu.
"Gus bawa ke UKS aku akan panggil Bidan desa" ucap Farid.
"Ya" ucap Fauzi.
Fauzi membawa Ainun ke UKS dan membaringkan nya di blangkar.
"Ai bangun Ai maaf kan aku, aku salah" ucap Fauzi menatap calon istri nya itu.
"Ai bangun Ai" ucap Fauzi lagi.
Bidan ke sana karena akan memeriksa Ainun yang pingsan.
"Silah kan tunggu di luar" ucap bidan Nina bidan desa itu.
Fauzi keluar dari sana karena Ainun akan di periksa oleh bidan.
Sedangkan Adam saat ini baru saja sampai ke pesantren, semua menatap Zia dan Adam dengan tatapan terkejut karena mereka tak menyangka kalau Ainun dan Zia akan separah itu.
"Astagfirullah Neng Zia ada apa ini" tanya Umi.
Abah berjalan pada Zia dan Adam.
"Ada apa ini Adam" tanya Abah.
"Zia dan Ainun terjebak perkelahian di RW sebelah Abah" ucap Adam.
"Astagfirullah bawa Zia ke UKS ada bidan di sana yang sedang mengobati Ainun" ucap Abah.
"Baik Abah" ucap Adam.
Namun tiba tiba pandangan Zia jadi hitam dan gelap bahkan sekarang pusing pun semakin terasa oleh Zia, semua yang Zia pandang menjadi seperti berputar putar.
Brugh
Zia hampir saja jatuh ke lantai namun Adam menangkap Zia agar Zia tak mengenai Tanah, saat Adam akan mengangkat Zia.
Abah menghentikan aksi Adam.
"Santri putri tolong bantu" ucap Abah pada santri wanita.
Adam paham pada ucapan Abah dia langsung meletakkan Zia ke tanah dengan perlahan.
Santri putri datang dan membantu menggotong Zia ke UKS.
Adam sedikit mundur dari sana karena Adam tau kalau Abah tak mau Adam terlalu dekat dengan Zia selain bukan muhrim Adam dan Zia juga sudah terlanjur sering berdekatan.
Zia di bawa ke sana karena akan di obati, sedangkan Fauzi menunggu di sana karena ingin mendengar secara langsung keadaan Ainun.
Fauzi tersadar kalau di sana bukan hanya Ainun tapi juga ada Zia.
Fauzi melihat pada Zia yang sekarang sedang di gotong oleh santri putri.
"Apa Ainun di bantu oleh Zia" gumam Fauzi.
"Aku harus tau kronologi nya bagai mana" gumam Fauzi lagi.
__ADS_1
Sedangkan Adam sekarang dia tak bisa melihat Zia karena Abah selalu saja memperhatikan nya, bahkan kedekatan Adam dan Zia pun sekarang sudah di ketahui oleh Abah.
bersambung