
Abah dan Yunus pulang ke pesantren karena Laras tak mau mendengarkan penjelasan.
Saat ini Zia dan Rena sedang berada di rumah Umi karena mereka sekarang tengah memotong motong sayuran karena sekarang juru masak sakit jadi dia ambil cuti.
Zia memotong sayur seperti wortel dan Coll sedangkan Rena sekarang tengah mengulek bumbu dapur.
"Udah" tanya Umi.
"Sudah Umi" ucap Rena.
"Simpan di sana Ning" ucap Umi.
"Umi biar aku yang masak sampai matang" ucap Rena.
"Ya" ucap Umi.
Zia masih fokus memotong wortel, dengan membantu Umi Zia lebih banyak bekerja sehingga tak terus terusan memikirkan Adam.
"Umi apa Gus Adam sudah sampai" tanya Rena.
"Belum tau karena kan kata nya gak ada sinyal" ucap Umi.
"Oh" ucap Rena.
"Oh ya kak perjalanan dari Jakarta ke London berapa jam" tanya Rena pada Zia.
"Kira kira sekitar 16 atau 17 jam lah" ucap Zia.
"Wah selama itu" tanya Rena.
"Tentu saja" ucap Zia.
"Sejauh itu di pesawat, lalu para penumpang ngapain saja di dalam pesawat" tanya Rena.
"Apa lagi duduk makan kalau mau buang air kecil tinggal langsung pergi ke toilet" ucap Zia.
"Semahal itu ongkos pesawat" tanya Rena.
"Ya sebanding Ning karena kan jarak nya yang jauh" ucap Umi.
"Ya Umi tapi kan tetap saja mahal" ucap Rena.
"Kira kira sedang apa Adam sekarang" tanya Umi yang sangat mewakili perasaan Zia saat ini.
"Mana aku tau Umi karena kan aku gak telpon dia" ucap Rena.
"Ya nanti kalau Adam telpon Umi akan beri tau kalian" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Rena.
Zia masih terus memotong motong sayuran, sedangkan Umi sekarang sedang menanak nasi di atas tungku bara api.
"Assalamualaikum" sahut Abah dari luar rumah nya.
"Waalaikum salam" ucap Umi membuka kan pintu.
"Abah pulang" tanya Umi.
"Ya, ayo masuk Yunus" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Yunus yang hanya menunduk saja karena malu pada Abah.
Yunus masuk ke dalam duduk di kursi rumah Abah.
"Lalu sekarang bagai mana Abah" tanya Yunus.
"Sekarang terserah kau saja karena kan kau yang sudah memutuskan jadi nikmati lah hasil keputusan mu itu" ucap Abah.
Yunus hanya diam saja menyesali semua perbuatan nya.
"Sekarang begini saja terima saja apa pun keputusan kedua istri mu karena ini salah mu, Abah harap kau bisa tenang karena kau juga harus mengurus Arman dia masih kecil untuk merasakan ini" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Yunus.
"Jangan tangisi apa pun yang terjadi karena ini salah mu juga mungkin ini teguran dari Alloh karena kamu sudah berbohong" ucap Abah.
"Ya Abah, kalau begitu aku permisi aku akan ke kamar dulu" ucap Yunus.
"Ya" ucap Abah.
"Assalamualaikum" ucap Yunus langsung pergi dari sana.
"Waalaikum salam" ucap Abah.
Zia dan Rena mendengar percakapan mereka dari arah dapur.
"Mungkin mereka pisah" ucap Rena.
"Ya Ning" ucap Zia.
Mereka melanjutkan kembali memotong sayur dan memasak bumbunya, hingga selesai Zia masih berada di sana.
"Bantu umi membawa ini ke tempat makan" ucap Umi.
"Ya Umi" ucap Zia dan Rena.
Mereka membawa makanan ke tempat makan karena para santri juga sudah berada di sana dan akan makan.
"Ayo kak makan" ucap Rena pada Zia.
"Ya ayo" ucap Zia.
Mereka makan dan bergabung dengan santri putri yang lain.
Dari luar negri Adam menelpon pada Umi dan kebetulan Umi juga saat itu berada di ruang makan para santri putri.
Drtt drtt
📞📞
"Dam" ucap Umi.
"Assalamualaikum Umi" ucap Adam dari London.
"Waalaikum salam" ucap Umi.
"Umi aku sudah sampai pukul 3 subuh sekarang di sini beda 7 jam Umi kalau di sana pukul 2 di sini pukul 7 pagi sekarang aku sudah dapat tempat tinggal dan ini nomor baru" ucap Adam.
"Alhamdulillah syukur kalau kau sudah sampai Umi cemas" ucap Umi.
"Ya Umi aku akan belajar di sini jadi aku gak akan bisa terus menelpon" ucap Adam.
"Ya asal kau baik saja Umi sudah bersyukur" ucap Umi.
"Umi, Adam akan ke kampus dulu untuk Daftar" ucap Adam.
📞📞
"Siapa Umi" tanya salah satu santri putri.
"Adam" ucap Umi.
"Apa dia sudah sampai" tanya nya.
"Sudah Alhamdulillah" ucap Umi.
"Alhamdulillah" ucap para santri putri serempak.
Mereka melanjutkan kembali makan nya hingga selesai mereka istirahat menunggu Sholat Ashar yang akan berkumandang sekitar setengah jam lagi.
__ADS_1
"Kak aku gak lihat kak Ainun, kemana dia" tanya Rena.
"Entah aku juga gak lihat" ucap Zia.
"Mungkin dia sedang di kamar" ucap Gita.
"Ya mungkin" ucap Rena.
Zia menatap pada Ustadz Yunus yang sekarang sedang mengasuh Arman yang sekarang tengah bermain bola bersama beberapa santri putra.
Sekarang Ustadz Yunus terlihat sangat sedih bahkan dia hanya melamun saja.
"Kasihan ya Ustadz Yunus" ucap Gita.
"Ya" ucap Zia.
"Apa yang harus di kasihani" ucap Ainun yang baru saja datang ke sana.
"Kak" ucap Rena.
"Kalian ini terlalu baik hati, ini itu salah ustadz Yunus sendiri jadi mau bagai mana lagi" ucap Ainun.
"Ya kak tapi kan ini tidak semua salah ustadz Yunus" ucap Rena.
"Sudah lah ayo istirahat ada waktu setengah jam untuk tidur" ucap Ainun.
"Ya ayo" ucap Rena dan Gita.
Mereka masuk ke dalam kamar, Zia melihat sorban Adam yang dia simpan di dekat bantal nya sekarang tak ada.
"Dimana sorban Gus Adam" tanya Zia.
Rena dan Gita menggeleng.
"Oh itu sorban Gus Adam aku fikir itu sorban Gus Farid aku berikan pada nya tadi" ucap Ainun.
"Ck kau ini" ucap Zia.
Tanpa berfikir panjang Zia langsung keluar mencari Farid di seluruh pesantren, namun Zia tak menemukan nya.
"Kau lihat Gus Farid" tanya Zia.
"Gak tau" ucap salah satu santri putra.
"Ck kemana dia" gumam Zia.
Zia terus mencari cari Gus Farid karena sorban Adam ada pada nya.
"Kau lihat Gus Farid" tanya Zia.
"Di kamar nya kak" jawab salah satu santri putra.
Zia menuju ke kamar nya saling takut nya Zia kalau sorban itu Hilang, Zia jadi lupa kalau santri putri di larang masuk ke kamar santri putra.
Zia melihat kamar Gus Fauzi karena di balik pintu tertulis nama nya.
Tokk
Tokk..
Farid membuka pintunya.
"Zia sedang apa di sini, kenapa masuk ke sini nanti kalau para senior yang lain lihat kamu akan di hukum Zia" ucap Farid.
"Aku hanya mau sorban" ucap Zia panik.
"Sorban" tanya Farid.
"Oh yang tadi Ainun berikan" tanya Farid.
"Ya di mana sekarang" tanya Zia.
"Gak bisa sekarang saja" ucap Zia.
"Nanti" ucap Farid.
"Sekarang Gus" ucap Zia.
"Hayoo ngapain kalian" tanya Luthfi santri senior keamanan di sana.
"Aku hanya mau mengambil sorban" ucap Zia.
"Ikut aku kita ke rumah Abah sekarang" ucap Luthfi.
"Tapi aku hanya mau sorban" ucap Zia.
"Atau jangan jangan kalian paca ran dan kalian" ucap Luthfi.
"Enak saja aku hanya mau ambil sorban Gus Adam yang tadi Gus Farid ambil" ucap Zia marah pada Luthfi.
"Kenapa jadi galakan dia" gumam Luthfi.
"Mana sorban nya" ucap Zia dengan meninggikan suara nya.
Farid masuk dan mengambil sorban yang tadi Ainun berikan.
"Ini" ucap Farid menyodorkan sorban itu pada Zia.
"Tak bisa begitu kalian harus ikut aku dulu ke rumah Abah" ucap Luthfi.
"Ya ayo" ucap Zia.
Mereka bertiga menuju ke rumah Abah karena akan mengikuti ucapan Luthfi yang takut keamanan Luthfi di pertanyakan karena sudah membiarkan santri putri masuk ke dalam kamar santri putra.
"Assalamualaikum Abah" ucap Luthfi.
"Waalaikum salam" ucap Abah.
"Ada apa" tanya Abah.
"Ini Abah santri ini masuk ke kamar santri putra tepat nya di kamar Gus Farid" ucap Luthfi.
"Masuk lah" ucap Abah.
Zia dan Farid masuk ke dalam rumah Abah sedangkan Luthfi kembali lagi ke sana.
"Ada apa" tanya Abah.
"Abah aku ke kamar Gus Farid karena mau mengambil sorban ini" ucap Zia memperlihatkan sorban Adam yang ada di tangan nya.
"Sorban" ucap abah.
"Ya Abah Sorban" ucap Zia.
"Sorban Adam" tanya Abah.
"Ya sorban Gus Adam" ucap Zia.
"Kenapa ada di kamu" tanya Abah.
"Gus Adam menitip kan nya pada ku" ucap Zia.
"Oh" ucap Abah.
"Abah kami tak melakukan apa apa" ucap Farid.
"Ya sudah kembali lah ke kamar kalian masing masing kalau terjadi lagi Abah akan berikan sangsi" ucap Abah.
"Baik Abah" ucap Zia dan Farid.
__ADS_1
Zia kembali lagi ke kamar nya karena akan istirahat masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi menuju Sholat Ashar.
"Bagai mana kak dapat" tanya Rena.
"Ada" ucap Zia.
"Lalu mau apa tadi ke rumah Abah" tanya Rena.
"Gus Luthfi mempergoki aku dan Gus Farid jadi kami di bawa ke rumah Abah untung saja Abah tak apa apa" ucap Zia.
"Oh ya" ucap Rena.
Abah duduk di kursi menatap pada pandangan nya kedepan.
"Ada apa Abah" tanya Umi yang baru saja datang ke sana.
"Duduk lah" titah Abah.
Umi duduk di samping Abah.
"Ada apa" tanya Umi.
"Kenapa Adam menitip kan sorban nya pada Zia" tanya Abah.
"Ya mereka kan ta aruf " jawab Umi.
"Ta aruf" tanya Abah.
"Ya Abah katanya Adam mau melamar Zia saat Adam pulang nanti" ucap Umi.
"Lalu" tanya Abah.
"Ya mungkin sekarang mereka tukeran sorban" ucap Umi.
"Umi bukan begitu, Abah hanya tak mau Adam merasa kecewa karena kan Zia itu dari kota bagai mana kalau dia tak mau pada Adam" ucap Abah.
"Neng Zia mau Abah" ucap Umi.
"Ya Abah harap Zia bisa menerima kekurangan Adam" ucap Abah.
"Umi juga yakin" ucap Umi.
"Ya" ucap Abah.
Di kota besar tepat nya di luar negeri Adam tengah menatap pada kerudung yang Zia berikan pada nya.
"Aku hanya minta satu hal tolong persatu kan aku dengan Zia" ucap Adam.
"Amin" ucap Yasya dan Ilham.
"Kalian" tanya Adam.
"Gus Adam aku harap kalian segera menikah" ucap Ilham.
"Amin" ucap Adam.
Sekarang Adam sudah tinggal di sebuah rumah kalau di Indonesia nama nya kontrakan.
Adam membaca setiap peraturan yang tertulis di kertas yang di berikan oleh pihak kampus.
"Ini semua bahasa Inggris" ucap Adam.
"Aku gak bisa bahasa Inggris" ucap Yasya.
"Kenapa apa kau tak belajar" tanya Ilham.
"Belajar namun tetap aku gak bisa" ucap Yasya.
"Aku juga belajar sejak satu bulan yang lalu dan Alhamdulillah akhirnya aku bisa" ucap Adam.
"Di mana kau belajar" tanya Yasya.
"Pada Zia" ucap Adam.
"Hmm pantas saja kau langsung bisa belajar nya sama crush" ucap Ilham meledek Adam.
"Sudah lah" ucap Adam.
"Kapan kapan ajari aku pada istri mu itu" ucap Yasya.
"Ya aku akan ajak kamu nanti" ucap Adam.
"Calon istri Gus" ucap Ilham tersenyum tipis.
"Ya calon" ucap Adam.
"Aku beneran gak bisa bahasa Inggris" ucap Yasya.
"Bisa cuman belum belajar saja" ucap Adam.
"Ya Mungkin begitu" ucap Yasya.
"Jurusan apa yang akan kalian ambil" tanya Ilham.
"Bahasa" ucap Adam.
"Jangan bahasa Gus aku saran kan jurusan ilmu sosial saja karena aku juga akan ke sana" ucap Ilham.
"Tapi kita bisa kan kuliah daring nantinya kalau di sini terus aku gak bisa" ucap Adam.
"Ya aku juga gak bisa" ucap Ilham.
"Baik lah aku ambil jurusan ilmu sosial" ucap Adam.
"tapi aku akan ambil jurusan teknik" ucap Yasya.
"ya terserah kalau kau mau dan mampu ya silahkan" ucap Ilham.
"ya aku sudah bilang pada orang tua ku" ucap Yasya.
"bagus Gus karena kan di kampung gak ada yang masuk jurusan teknik" ucap Adam.
"ya aku ingin sekali" ucap Yasya.
mereka duduk dan membaca peraturan yang sudah di berikan oleh pihak kampus bahkan kalau ada yang tak mereka paham mereka mencarinya di gugle karena kebanyakan kata kata yang tak mereka pahami.
hingga sampai mereka selesai membaca, mereka melaksanakan Sholat Dzuhur yang waktunya 13: 22 am.
mereka sholat di sana karena kebanyakan di sana yang agama nya berbeda dengan mereka jadi sampai saat ini mereka belum punya teman apa lagi kenalan dengan tetangga nya.
bahkan mereka pun seolah segan pada Adam, Yasya, dan Ilham apa lagi mereka takut kalau Adam dan ke dua teman nya itu pen ja hat.
setelah Sholat mereka hanya duduk dan diam saja tanpa melakukan apa apa karena mereka juga belum mengenal tempat itu dengan baik.
"mau gak jalan jalan" tanya Ilham.
"apa kita gak akan nyasar" tanya Yasya.
"tentu saja tidak kita jalan jalan di sekitar sini saja jangan jauh jauh" ucap Ilham.
"boleh" ucap Adam.
"ayo kita jalan jalan di kota orang aku yakin kota ini tak kalah bagus dengan kampung kita" ucap Ilham.
"ya tapi tetap saja kampung kita nomor satu" ucap Adam.
"ya ayo" ucap Ilham.
mereka pergi jalan jalan keluar karena akan menikmati waktu sore di kota orang..
__ADS_1
bersambung