
Adam lama diam di sana melihat lihat para santri yang berada di luar pesantren, bahkan tak sedikit para santri yang risih karena di lihat oleh Adam.
Tak banyak juga santri yang baper karena mendapat tatapan dari Adam padahal Adam bukan sengaja menatap nya tapi karena Adam melihat lihat ke arah mereka karena takut terjadi apa apa.
Seseorang datang ke sana dengan menggunakan motor, Adam melihat nya dengan teliti ternyata Ustadz Yunus yang baru saja kembali setelah beberapa Minggu ini ijin pulang ke kota karena akan menemui istri muda nya.
"Assalamualaikum Gus Adam" ucap Yunus yang berhenti di hadapan Adam.
"Waalaikum salam" ucap Adam.
"Baru pulang Ustadz" tanya Adam.
"Ya kemarin sampai di sini" ucap Yunus.
"Bagai mana apa sudah melahirkan" tanya Adam.
"Sudah Alhamdulillah" ucap nya.
"Laki laki" tanya Adam.
"Masih perempuan" ucap Yunus.
"Oh tak apa laki laki atau perempuan sama saja kan itu rejeki buat kita pemberian dari Alloh" ucap Adam.
"Ya rencana nya aku akan membawa mereka ke sini" ucap Yunus.
"Ke kampung ini" tanya Adam yang di balas anggukan kepala oleh Yunus.
"Kapan" tanya Adam.
"Nanti kalau sudah dapat uang" ucap Yunus.
"Oh" ucap Adam.
"Baik lah aku akan ke sana dulu, apa sekarang ada jadwal aku" tanya Nya.
"Ada kelas 2 smp Kaya nya" ucap Adam.
"Terima kasih aku akan ke sana" ucap Yunus.
"Ya" ucap Adam.
Adam menatap kakak senior nya itu.
"Aku tak bisa bicara apa apa lagi, kenapa harus membuat pusing sendiri dengan menikahi dua wanita, apa istimewanya menikahi dua wanita bukan kah bentuk dan rasa nya juga sama lalu apa yang mereka lakukan ini, Sunnah? Bahkan dahulu Nabi Muhammad pun tak pernah mendua kan Khadijah saat itu" gumam Adam.
"Itu beda Gus karena kebanyakan semua orang menggugu nafsu" ucap Farid yang baru saja datang ke sana.
"Astagfirullah, Gus kau buat aku kaget saja" ucap Adam terkejut mendengar suara Farid.
"Makan nya Gus kalau bicara ajak orang lain jangan bicara sendiri nanti di sangka" ucap Farid.
"Tak lah aku hanya ber umpama saja" ucap Adam.
"Tentang poligami" tanya Farid.
"Hey dari mana kau tau" tanya Adam.
"Aku dengar semua ucapan mu" ucap Farid.
"Oh" ucap Adam.
"Kau tau Gus padahal yang di lakukan orang orang itu salah" ucap Farid.
"Kenapa kau berasumsi begitu" tanya Adam.
"Ya karena mereka yang poligami itu tak sadar kalau kita yang jomblo belum dapat pasangan" ucap Farid.
"Gus ya ampun kau ini, wanita banyak Alloh sudah menciptakan manusia secara berpasang pasangan, jadi kenapa harus khawatir" ucap Adam.
"Ya aku tau tapi tetap saja Gus, aku tak terlalu suka dengan poligami" ucap Farid.
"Sudah lah ayo ke sana lagi pula sekarang kan waktu nya masuk kelas lagi" ucap Adam.
"Ya" ucap Farid.
Adam sempat melihat kalau orang tua Zia masuk lagi ke UKS.
"Apa Zia sudah benar benar pulih" gumam Adam.
Adam juga melihat Fauzi ikut masuk kedalam UKS, hanya Adam saja yang tak bisa masuk ke sana karena takut pada Abah apa lagi tadi Abah sudah bicara begitu.
"Nasib, nasib tak bisa kah Abah mengijinkan aku berteman dengan wanita" gumam Adam.
Saat Adam berbalik ada Abah yang sekarang tengah berdiri di hadapan.
"Hah" ucap Adam terkejut bukan main saat melihat Abah apa lagi tadi Adam baru saja membicarakan Abah.
"Kamu akan paham nanti" ucap Abah.
"Hah ya Abah" ucap Adam.
Adam pergi dari sana karena akan masuk ke kelas.
"Astagfirullah kenapa saat bicara sesuatu selalu saja ada orang yang dengar, Ya Alloh maaf kan mulut ini yang selalu saja mengucap yang tidak boleh di ucap" batin Adam.
Sedangkan Di UKS, Zia sekarang sudah sadar dan banyak sekali pertanyaan yang harus Zia jawab apa lagi sekarang Fauzi juga ada di sana karena ingin mendengar kronologi kejadiannya.
"Saya harap kalian akan bertanya secara perlahan saja dan jika dia tak menjawab maka jangan di paksa takut nya akan membuat dia syok atau bahkan bisa menjadi trauma bagi nya" ucap Bidan.
"Ya Bu" ucap Nita.
Sekarang Zia tengah duduk di atas blangkar ruangan itu.
Zia hanya melamun saja karena kejadian itu masih terjadi jelas di benak Zia.
"Sayang kau sudah pulih" tanya Nita.
"Ya mah" ucap Zia.
"Bisa kau cerita kan bagai mana kejadiannya" tanya Nita.
"Mah aku datang ke sana aku melihat ada Ainun yang sudah berbaring di tanah dengan kepala dan kerudung yang di penuhi darah, Mah aku masih ingat jelas bagai mana tawuran itu mendekat pada ku dan pada Ainun yang sudah pingsan di tanah" ucap Zia dengan wajah panik.
"Dimana Ainun" tanya Zia.
"Ainun masih di rawat dia belum sadar" ucap Nita.
__ADS_1
"Mah aku yakin orang orang itu ja hat mereka pasti melakukan sesuatu pada Ainun" ucap Zia.
"Tapi siapa nak" tanya Nita.
"Mereka mah para preman itu" ucap Zia.
"Kau melihat kejadiannya" tanya Nita.
Zia menggeleng kan kepala nya karena dia tak melihat kejadian nya yang Zia lihat adalah Ainun yang sudah terkapar di tanah dan di kerumuni banyak anak anak.
"Mah warga di sana sangat ja hat" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Nita.
"Mereka tak ada yang membantu aku bahkan Ainun saja yang sudah pingsan di tanah pun tak ada satu warga saja yang bela pada nya" ucap Zia.
"Neng Zia warga di sana memang begitu, karena mungkin mereka tak kenal" ucap Umi.
"Tapi Umi mereka sangat ka sar bahkan bicara nya pun sangat tak pakai otak" ucap Zia.
"Kamu tenang ya sabar" ucap Umi.
Zia diam dan merebahkan dirinya ke bantal yang ada di sana.
Sedangkan Fauzi yang mendengar di tempat yang cukup dekat pun merasa menyesal karena perdebatan itu membuat Ainun jadi terluka begini apa lagi Fauzi akan sangat malu karena kondisi Zia sekarang adalah kesalahan nya juga.
"Ustadz" ucap Bidan pada Fauzi.
"Ya" tanya Fauzi.
"Keluarga pasien" tanya Bidan.
"Saya calon suami nya" ucap Fauzi.
"Saya lihat dari hasil pemeriksaan dia baik baik saja tak ada luka dalam namun tetap saja karena benturan keras, kami belum tau akibat nya karena sudah hampir dua jam ini dia belum juga sadar" ucap Bidan.
"Harus nya berapa jam dia akan sadar " tanya Fauzi.
"Seharus nya dua jam juga sudah sadar tapi kalau selama satu jam kedepan masih seperti ini maka kami akan merujuk dia ke rumah sakit kota" ucap Bidan lagi.
"Ya Alloh semoga saja tak terjadi apa apa" batin Fauzi.
Lama Fauzi menunggu di sana akhirnya Ainun bisa membuka kan mata nya juga,
Ainun menatap pada sekeliling arah hanya ada Fauzi di sana.
"F au" ucap Ainun berbata bata bahkan sekarang dia masih sangat lemah.
Fauzi yang merasa Ainun sudah sadar pun langsung mendekat pada Ainun.
"Kau sadar Alhamdulillah" ucap Fauzi.
"Bu Bu Bidan" teriak Fauzi.
Bidan pun datang ke sana.
"Dia sudah sadar Bu" ucap Fauzi.
"Kamu keluar saja dulu biar saya yang akan periksa " ucap Bidan itu.
Mau tak mau Fauzi keluar karena di suruh bidan itu, namun Fauzi cukup senang karena Ainun sadar bahkan Ainun juga tak mengalami amnesia yang seperti Bidan itu katakan.
"Alhamdulillah ya Alloh semoga saja ini tak terjadi lagi pada Ainun atau pada siapa pun" ucap Fauzi.
"Amin" ucap Umi yang ada di sana.
"Umi" ucap Fauzi.
"Ya bagai mana keadaan Ainun" tanya Umi.
"Sudah sadar Umi Alhamdulillah" ucap Fauzi.
"Alhamdulillah tadi Umi takut Gus, Umi takut orang tua nya tau kalau Ainun terluka apa lagi kan dia baru di sini" ucap Umi.
"Umi tenang saja tak ada yang memberi tau mereka kok, nanti kalau saya bertemu saya akan cerita kan" ucap Fauzi.
"Ya Gus" ucap Umi.
"Baik lah Umi permisi dulu" ucap Umi.
"Ya Umi " ucap Fauzi.
Jam pelajaran pun selesai sekarang para santri bisa istirahat beberapa menit sebelum Adzan Dzuhur.
Rena dan Gita sekarang berada di kamarnya.
"Bagai mana keadaan kak Zia sekarang ya" tanya Rena.
"Aku gak tau Ning" ucap Gita.
"Apa kita lihat saja ya" ucap Rena.
"Ayo aku juga penasaran" ucap Gita antusias.
"Tapi Git apa tak akan malu kalau ke sana apa lagi ada orang tua kak Zia kan" ucap Rena.
"Ya juga ya" ucap Gita.
"Kalau begitu nanti saja" ucap Gita lagi.
"Ya mau bagai mana lagi kita tanya saja pada Umi mau" tanya Rena.
"Boleh" ucap Gita.
Mereka berdua hendak menemui Umi menanyakan bagai mana kondisi Zia sekarang.
Namun sekarang Adam sedang galau berat karena tak bisa menemui Zia bahkan sekarang Adam tak bisa diam dia selalu saja bulak balik seperti setrika yang sedang menggosok baju.
Farid melihat Adam yang sedang bulak balik itu.
"Ada apa Gus apa uang mu jatuh" tanya Farid.
"Uang apa" tanya Adam.
"Kau bulak balik sejak tadi Gus ada apa" tanya Farid.
"Hah tak ada hanya sedang belajar Inggris saja" ucap Adam.
__ADS_1
"Oh ya" tanya Farid tak percaya.
"Ya beneran kau tak percaya pada ku" tanya Adam.
"Percaya Gus sangat percaya" ucap Farid.
"Oh ya aku akan ke sana dulu" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Farid menatap pada Adam yang sekarang sudah jauh dari tempat nya berdiri.
"Gus Gus aku tau kau gelisah karena tak bisa menemui Zia" gumam Farid tersenyum.
Rena dan Gita melihat Adam yang sekarang berjalan ke arah mereka namun sekarang Adam terlihat seperti menunduk dan tak fokus pada jalanan.
"Gus" tanya Rena.
"Apa" tanya Adam.
"Kau kenapa" tanya Rena.
"Gak kenapa kenapa" ucap Adam.
"Kalian dari mana" tanya Adam.
"Dari Umi habis tanya kabar Kak Zia" ucap Rena.
"Bagai mana kabar nya" tanya Adam.
"Baik kata Umi kak Zia sudah sehat" ucap Umi.
"Oh ya" tanya Adam.
"Kenapa kau tak melihat ke UKS saja Gus kalau tak percaya" ucap Rena.
"Ahh kalian ga akan paham" ucap Adam.
"Paham apa" tanya Rena.
"Tidak jadi" ucap Adam yang langsung pergi dari sana.
"Dasar aneh" ucap Rena dan Gita tertawa melihat tingkah Adam.
"Allohhu akbar.... Allohhu akbar..
Allohhu akbar... Allohhu akbar.."
Adzan Dzuhur berkumandang di mesjid karena sekarang Ustadz Ilham yang mendapati jadwal Adzan.
Namun Adam lupa kalau sekarang dia yang punya jadwal sebagai imam sekarang.
Adam hanya diam saja di tempat Wudhu melihat para santri laki laki mengambil Wudhu, Bahkan Adam santai saja karena dia lupa kalau sekarang adalah jadwal nya mengimami.
Datang Ustadz Ilham ke sana karena akan mencari Adam.
"Gus ternyata di sini" ucap Ilham.
"Ada apa Ustadz" tanya Adam.
"Kau jadwal iman sekarang" ucap Ilham.
"Imam bukan nya besok" tanya Adam.
"Sekarang Gus aku baru saja lihat jadwal nya" ucap Ilham.
"Hari apa sekarang" tanya Adam.
"Kamis" Jawab Ilham.
"Astagfirullah aku lupa" ucap Adam.
"Aku akan ambil wudhu dulu" ucap Adam yang langsung Wudhu.
"Baru kali ini aku lihat Gus Adam lupa" gumam Ilham.
Semua santri sudah berada di Mesjid karena akan melaksanakan Sholat Dzuhur berjamaah.
"Gak asik ya kalau gak ada kak Zia" ucap Gita.
"Ya kau benar Git" ucap Rena.
"Aku berdoa semoga kak Zia cepat sembuh" ucap Gita.
"Ya jangan lupa Doa kan juga kak Ainun dia juga kan sedang sakit sekarang" ucap Rena.
"Ya aku akan doa kan dia juga" ucap Gita.
Sholat Dzuhur berjamaah pun sudah selesai sekarang para santri mengelar Doa untuk kesembuhan Zia dan Ainun bahkan untuk semua yang terluka karena Tawuran itu.
Bahkan yang sampai ke telinga para santri rumah warga pun ada yang menjadi korban karena tawuran itu.
Namun tetap saja ke polisian seolah bungkam pada kasus ini, karena yang mereka semua tau kalau komandan di sana adalah papah dari salah satu preman yang ngaruh di sana.
Tetapi walau bagai mana pun mereka tak berani pada Abah bahkan kalau mendengar nama Abah saja mereka langsung angkat tangan.
Entah apa yang sudah di lakukan Abah pada mereka karena sampai sekarang para preman itu tak berani memasuki wilayah pesantren atau bahkan jalan yang Abah tempati untuk pesantren.
setelah selesai semua santri langsung ke madrasah karena akan melaksanakan tadarus Al Qur'an, setelah nya mereka akan belajar Hadist sedikit sedikit.
"Dam ajari santri Abah akan ke mesjid sebelah karena katanya akan ada pengajian di sana" ucap Abah.
"ya Abah" ucap Adam.
"ingat jangan sampai para santri keluar sebelum waktu nya, kalau pun iya bilang dulu pada Ustadz Yunus" ucap Abah.
"ya Abah" ucap Adam.
Abah pergi dari sana menuju Mesjid sebelah, Adam mengajar para santri.
dengan di temani oleh Farid dan kedua santri senior putri.
"Ning kalian lihat para santri putri kami akan lihat santri laki laki" ucap Farid.
"ya Gus" ucap Isma.
"ayo Gus Adam kita lihat santri laki laki takut nya mereka salah mengucap huruf" ucap Farid pada Adam yang sekarang kurang Fokus.
"ya Gus ayo" ucap Adam.
__ADS_1
bersambung