
Zia melakukan Sholat subuh berjamaah bersama dengan Rena dan Gita dan para santri yang lain, namun setelah pagi tadi Zia tak menemukan Ning Marwah disana.
Awalnya Zia tak terlalu memperdulikan Marwah namun karena percakapan semalam Zia merasa kasihan pada Adam karena kalau mereka sampai menikah kasihan Adam jika harus mengurus anak yang bukan anaknya.
Setelah Sholat subuh para santri akan istirahat terlebih dahulu karena sebentar lagi akan Sekolah dan belajar, para santri sedang sarapan pagi.
Sedangkan Zia dia mencari sosok Adam namun tak Zia temukan, Zia mencari ke Madrosah dan benar saja Adam berada di sana.
"Gus Adam" sahut Zia.
"Gus saya permisi" ucap laki laki yang sedang bersama dengan Adam.
"Ya".
"Ada apa Zia" tanya Adam menatap Zia dengan tatapan senang karena setelah beberapa hari ini Zia marah pada Adam akhirnya Zia mau juga bicara dengan Adam.
"Bisa kita bicara" tanya Zia.
"Apa" tanya Adam.
"Bisa kah kita bicara di taman saja" ucap Zia.
"Zia tunggu, aku minta maaf atas kejadian itu sungguh aku menyesal" ucap Adam bersungguh sungguh.
"Ya tak apa aku sudah maafkan" ucap Zia.
Adam mengikuti Zia ke taman pesantren itu banyak sekali para santri disana.
Karena fasilitas disana yang masih belum memadai para santriwan dan santriwati terpaksa harus bersama sama.
Makannya para santri wanita dan laki laki terkesan bebas bahkan mereka saling bertegur sapa jika bertemu.
Bahkan sering kali para guru mempergoki para santri yang sedang pacaran namun hanya sekedar mengobrol saja.
"Mau bicara apa" tanya Adam.
"Kalau aku bilang jangan menikah dengan Ning Marwah apa kau akan menuruti aku" ucap Zia.
"Kau tau berapa lama aku menunggu Ning Marwah, hampir enam tahun lamanya Zia dan kali ini ucapan mu benar aku harus segera menikah dengannya, dan rencananya Abah akan pergi nanti malam" ucap Adam.
"Ning Marwah tak pantas untuk mu" ucap Zia.
__ADS_1
"Maksud mu" tanya Adam.
"Dengarkan aku Gus, aku takut kau menyesal nantinya" ucap Zia.
"Kau memfitnah Ning Marwah" ucap Adam yang sedikit emosi pada Zia.
"Bukan tapi aku yakin dan percaya kalau Ning Marwah itu tak baik" ucap Zia.
"Percayalah padaku Gus" ucap Zia.
"Percaya padamu itu musyrik Zia" ucap Adam.
"Aku tau kau tak akan mendengarkan aku" ucap Zia yang langsung pergi dari sana meninggalkan Adam yang masih emosi padanya.
Seperti biasa Zia akan membantu Imah membereskan pesantren lalu membantu Umi memasak bersama dengan dua juru masak yang lain, hal itu sudah menjadi keseharian Zia saat pagi hari.
Siangnya Zia akan makan siang bersama dengan ya lain, saat ini tatapan semua mata tertuju pada Marwah yang kemarin sudah di lamar oleh Adam.
Pasalnya hari ini Adam akan datang ke rumahnya dan akan melamar Marwah, para santriwati yang mengidolakan Adam pun hanya bisa menelan kekecewaan karena idolanya akan segera menikah.
Berbeda dengan santri yang lain yang memandang Marwah dengan tatapan kagum, Zia menatap Marwah dengan tatapan penuh selidik setelah kejadian semalam yang gamblang terdengar oleh Zia.
Bisa Zia simpulkan kalau selama di luar negri Marwah itu bukan wanita baik baik, dia menjadi bud*k ranjang laki laki yang bernama Glend itu, dan sekarang Marwah sedang hamil.
"Kak Zia mengatakan sesuatu" tanya Rena.
"Ah tidak" ucap Zia berbohong.
Setelah selesai makan, hari ini rencananya akan mengadakan exskul untuk para santri, semua santri dominan memilih exskul komputer, namun tak banyak juga yang memilih exskul cara berceramah dengan baik.
Exskul komputer sangatlah tak asing bagi Zia bahkan Zia bisa menggunakan komputer tanpa exskul.
"Zia" sapa Abah yang melihat Zia sedang berdiri di depan kelas sendirian.
"Ya Abah" ucap Zia.
"Sekarang Exskul kan kamu bisa ikut exskul apa saja kalau kamu mau" ucap Abah.
"Benarkah Abah" tanya Zia.
"Ya dari pada kamu diam di sini dan melamun" ucap Abah.
__ADS_1
"Terima kasih Abah aku akan ikut Exskul berceramah" ucap Zia.
"Ya silahkan" ucap Abah.
Zia masuk kedalam ruangan yang mengadakan exskul berceramah, orang orang menyebutnya tata cara berbicara yang benar, karena ini sangat membuat Zia penasaran karena selama ini Zia belum pernah ikut exskul ini.
Zia duduk bersama dengan Rena sedangkan Gita dia memilih exskul komputer, guru pelatih pun sudah menerangkan langkah langkahnya.
"Kak Zia disini" tanya Rena.
"Ya Ning" ucap Zia.
"Bisa bantu jelaskan apa itu ceramah" tanya guru laki laki yang tampan.
Seorang murid mengacungkan tangannya.
"Ceramah adalah bicara depan Umum ustadz" ucapnya.
"Ya benar, bicara di depan umum dan membahas suatu pengetahuan agama atau pengetahuan yang lain yang bisa membuat orang lain paham, ceramah tidak boleh mengandung Sara atau membicarakan kekerasan" ucap guru.
"Ceramah di bagi menjadi dua metode, yang pertama adalah Metode naskah, metode ini dilakukan dengan menulis isi pidato yang sesuai dengan tema kegiatan dan dibacakan sesuai dengan naskah yang ditulis. Dan yang kedua adalah Metode hapalan, metode ini dengan cara menghafal naskah yang ditulis dan dibacakan di depan umum, ada yang mau ditanyakan" tanya guru itu menatap pada Zia.
Zia hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kita mulai dengan metode naskah, metode naskah artinya berceramah menggunakan buku, kertas yang di dalamnya sudah si penceramah tuliskan hal yang akan dia bicarakan di hadapan orang orang, sedangkan metode hafalan si penceramah menghapal setiap hal atau setiap kata yang sudah dia tuliskan pada buku, kebanyakan para penceramah di wilayah kita itu menggunakan metode hafalan".
Zia mencermati semua yang di bahas oleh guru exskul itu, Zia bisa sedikit sedikit tau tentang caranya ceramah, walau pun cara berceramah ini tak termasuk exskul tapi pesantren ini mengadakannya untuk melatih para santri bagaimana caranya berceramah dengan benar, apa lagi zaman sekarang banyak sekali yang menyelewengkan ayat ayat Al-Quran.
Setelah belajar Zia dan semua santri mengaji tadzwid, semuanya di bagi menjadi delapan kelompok satu kelompok beranggota 40 santri karena di pesantren itu semua santri kurang lebih ada 400 orang santri.
Zia memegang Al-Quran, Zia pernah belajar Al-Quran tapi waktu Zia masih kecil dan tentu saja Zia lupa bagaimana membacanya.
"Bukannya masih Iqro ya, kenapa pegang Al Quran" ucap salah satu santri wanita yang duduk dekat Zia.
"Aku bisa baca Al Quran" ucap Zia dengan percaya diri.
"Oh ya lalu kenapa saat mengaji dengan Gus Adam kau masih Iqro" ucapnya lagi.
"Apa kehidupan ku mengurangi uang mu" tanya Zia yang membuat santri wanita itu mati kutu.
"Diamlah dan belajar yang benar kita hanya beda generasi bukan beda nyali" ucap Zia.
__ADS_1
Bersambung...