
Bughh
Adam menonjok Akash yang sejak tadi dia lihat gerak gerik Akash pada Zia yang terlihat cukup kasar.
"Siapa lu" tanya Akash menatap pada Adam sambil memegang pipinya yang baru saja Adam tonjok.
Sedangkan Zia menatap Adam dengan tatapan tak percaya karena, sekarang Adam bisa menonjok seseorang padahal waktu itu Adam tak bisa berkelahi.
"Jangan pegang dia" ucap Adam.
"Memang kau siapa" tanya Akash.
"Aku calon imam nya" jawab Adam.
"Oh ya" tanya Akash tak percaya.
Bahkan Zia pun tak percaya pada ucapan Adam, karena dengan entengnya Adam berkata kalau dia calon imamnya padahal mereka saja sekarang hanya berteman.
"Ya jadi kau pergilah" ucap Adam.
"Ck dasar sombong" ucap Akash.
Zia maju ke depan Akash.
"Pergi Akash aku tak mau melihat mu lagi" ucap Zia.
"Jangan muna fik Zia aku tau kau masih ingin pada ku" ucap Akash.
"Dengarkan aku, aku kenal seekor Anjin*, aku beri dia makan sampai dia kenyang, aku sudah anggap dia seperti saudara aku sendiri, tapi sayang setelah ada orang baru dia pergi dan menggonggong pada ku, tapi ini bukan tentang Anjin*" ucap Zia.
"Ya aku tau kau menyindir ku Zia" ucap Akash.
"Wow kau peka ternyata" ucap Zia.
"Ayo lah Zia aku minta maaf, ayo kita pulang dan aku akan segera menikahi mu" ucap Akash.
"Nikah? Maaf aku gak minat, dan asal kau tau saja aku tak suka laki laki yang pergi meninggal kan seorang wanita hanya karena memilih wanita lain yang punya segalanya" ucap Zia.
"Aku minta maaf" ucap Akash.
Namun Zia tak menggubrisnya, dia langsung pergi dari sana dan masuk ke kamarnya untuk istirahat.
"Silahkan" ucap Adam pada Akash sambil menunjukan jalan keluar.
"Awas kau" geram Akash sambil pergi dari sana.
Adam hanya menggeleng gelengkan kepalanya, karena merasa heran pada tingkah Akash yang pemaksa itu.
Lalu Adam mengingat kejadian batalnya Adam menikah dengan Marwah, bahkan bayangan itu masih tergambar jelas di benak Adam.
"Ya alloh, ternyata melupakan sebuah kenangan itu susah" gumam Adam.
Adzan Dzuhur pun berkumandang di Mesjid semua santri sudah berada di mesjid, hanya tinggal menunggu yang menjadi imam nya saja belum datang.
Lama menunggu Abah Zakaria datang kesana bersama dengan Umi Arum istrinya, Abah langsung berdiri di tempat imam dia pun memulai Sholat saat santri sudah mengumandangkan khomat.
"Assalamualaikum wr wb" ucap Abah menggerakan kepalanya menatap pada samping kanan dan samping kiri.
"Asslamulaikum wr wb" serempak para santri.
Abah melantunkan wirid dengan menggunakan tasbih, para santri pun mengikuti Abah sampai mengaminkan doa yang di lantunkan Abah.
Setelah selesai Adam maju ke depan dan berceramah setengah jam mengisi waktu kosong, Zia hanya menyimak ceramahan dari Adam.
Zia sekarang sudah banyak berubah, bahkan saat baru masuk pun Zia sudah mulai mau Sholat lagi walau pun kalau Sholat Shubuh dulu kesiangan.
Tapi Zia merasa bangga karena bisa rajin sholat karena dahulu juga Zia adalah seorang anak yang hidup di sebuah keluarga yang cukup taat pada agama, tetapi karena kejadian kelam Zia jadi lupa pada ajaran itu.
Semua santri bubar karena sebentar lagi mereka akan melaksanakan pelajaran hafalan, para santri akan menghafal surat surat pendek dan menyetorkan pada santri senior.
Karena para santri akan di catatat sampai mana dia bisa menghafal ayat suci al Quran karena nantinya kalau bisa menghafal sampai 30 juz maka para santri akan menjadi guru mengaji anak anak di kampung sebelah.
Guru senior hanyalah berjumlah 7 orang karena dua orang lagi belum datang ke pesantren, hanya ada Adam, Fauzi, Farid, Rosa, Husna, Maryam, dan Rizki.
"Baiklah aku akan bagi menjadi 7 kelompok yang beranggotakan 18 orang santri, aku akan sebutkan anggotanya" ucap Adam.
Adam menyebutkan setiap anggota anggota, dan Rosa mencatat semuanya agar nantinya anggota ini akan menjadi kelompok yang nantinya akan di pakai lagi di setiap pelajaran.
"Baiklah aku akan memimpin anggota ini" ucap Adam menunjuk anggota yang ada Zia di dalam nya.
"Ayo aku akan mengecek hafalan kalian sampai mana" tanya Adam.
18 santri memberikan buku hafalannya pada Adam, dan disana tertulis kalau Zia lah yang tak bisa hanya bisa menghafal surat pendek empat saja.
"Zia kemari lah" ucap Adam pada Zia.
"Ya Gus" tanya Zia.
"Kau hanya bisa empat surat pendek, apa saja" tanya Adam.
"Al Fatihah, An nas, Al Falaq, dan Al Ikhlas" ucap Zia.
"Oh ya, lalu saat kau Sholat kau hanya membaca ketiga surat itu" tanya Adam.
"Ya" ucap Zia.
"Baiklah ayo hafalkan surat pendek saja, seperti Al Lahab, Al Fil, kita mulai dari surat pendek" ucap Adam.
"Baiklah" ucap Zia.
"Hey" ucap Adam saat Zia akan kembali ke tempatnya.
"Apa" tanya Zia menatap pada Adam lagi.
"Senyum" ucap Adam sambil memperaktekan bibir nya agar senyum.
"Ya" ucap Zia yang langsung senyum manis di hadapan Adam.
__ADS_1
"Begitu lebih baik" gumam Adam.
Zia menghafalkan surat pendek, dan itu sangat susah bagi Zia karena Zia gampang merasa bosan.
"Bagaimana ini" gumam Zia.
Zia mencoba menghafalnya lagi, namun tetap saja sangat susah bagi Zia.
"Ya Alloh aku hanya ingin bisa meng hafal surat ini" gumam Zia.
"Jika mau menghafal nya kamu harus ber sungguh sungguh, kalau hanya begitu kau tak akan bisa" ucap salah satu santri wanita yang duduk dekat dengan Zia.
"Ya aku tau, tapi kau tau ini sangat susah" ucap Zia.
"Baru begitu kau sudah menyerah, lalu bagaimana dengan aku yang menghafal surat yang panjang ini" ucapnya.
"Harus apa lagi tetap semangat saja" ucap Zia.
"Ya" ucapnya.
Tujuh belas orang santri sudah menyetorkan hafalannya pada Adam, tinggal Zia saja yang belum.
"Baiklah Zia, sekarang kau kemari lah" ucap Adam.
"Tapi Gus aku belum bisa" ucap Zia.
"Kemari lah dulu aku tak akan gigit" ucap Adam.
Zia terpaksa maju ke depan ke arah Adam duduk, Zia langsung duduk berhadapan dengan Adam.
"Ayo bacakan surat apa yang sudah kamu hafal kan barusan" tanya Adam.
"A'udzu billahi minas-syaitanir-rajim Bismillah hirohman Nirohim" ucap Zia, namun hanya itu saja karena dia tak tau seterusnya, apa lagi al Quran nya di tutup.
"Lalu" tanya Adam heran.
"Aku lupa" ucap Zia.
"Hah, semudah itu kau melupakannya" tanya Adam.
"Gus bukan begitu tapi aku tak ingat" ucap Zia.
"Baiklah hafalkan lagi nanti kau juga akan bisa, ingat Zia semangat" ucap Adam.
"Terima kasih Gus" ucap Zia.
"Sama sama" ucap Adam.
Setelah selesai semua santri bubar karena akan istiharat terlebih dahulu, karena setelah itu semua santri akan melakukan sholat Ashar.
Zia kembali ke kamar nya bersama dengan Rena dan Gita, sekarang pesantren sudah tak seramai dulu lagi, walau pun ada seratus santri lebih tetapi tetap saja pesantren seakan kehilangan.
"Kak Zia apa yang akan kita lakukan ada waktu setengah jam lagi" tanya Rena.
"Ah aku lupa, aku akan menemui Gus Adam dahulu" ucap Zia yang langsung pergi dari sana mencari Adam.
"Ya" tanya Adam.
"Aku mau bicara" ucap Zia.
"Apa" tanya Adam.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Untuk apa" tanya Adam.
"Karena kau sudah menolong ku dari laki laki be jad itu" ucap Zia.
"Ahh sudah lah aku ikhlas menolong mu, walau pun aku harus berbohong sebagai calon imam mu" ucap Adam.
"Aku suka Gus" ucap Zia.
"Suka apa nya" tanya Adam.
Zia bingung karena harus menjawab apa, sedangkan jika dia menjawab suka pada Adam takutnya Adam menganggap kalau Zia suka padanya, tapi Zia suka pada kebaikan Adam.
"Lupakan saja, pokoknya aku ingin mengucapkan terima kasih" ucap Zia.
"Ya baiklah" ucap Adam.
"aku akan pergi sekarang aku akan istirahat" ucap Zia.
"Pergi lah" ucap Adam.
Zia istirahat di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di ranjang kasar di pesantren itu walau bagaimana pun Zia harus sabar dan menerimanya dengan ikhlas karena yang lain juga sama.
"Kemana saja aku, dari dulu aku menyia nyiakan hidup ku hanya dengan mabuk dan ber cinta lalu aku lupa dengan tujuan aku hidup" gumam Zia.
"Oh ya kak, aku merasa kalau kau dan Gus Adam itu cocok ya kan Ning" tanya Gita pada Rena.
"Benar Git, kenapa Kak Zia tak menikah saja dengan Gus Adam" ucap Rena.
"Ahh kalian terlalu banyak menghayal, bahkan aku bukan seorang Ning" ucap Zia.
"Memangnya kak Zia fikir saat Umi menikah dengan Abah dia seorang Ning? Bukan kak, Umi hanya orang biasa mungkin na kal sama seperti kak Zia" ucap Rena.
"Ya aku tau, tapi Umi na kal hanya sebatas na kal bukan seperti ku" ucap Zia.
"Kak Zia tau" tanya Rena dan Gita secara bersamaan.
"Tentu saja, aku sangat tau Umi bahkan Umi sendiri yang cerita pada ku" ucap Zia.
"Ck Umi padahal aku kan anak nya, tapi kenapa kak Zia yang tau semuanya" gumam Rena.
"Ya kalian tau tempo itu Umi pernah meminta ku menikah dengan Gus Adam" ucap Zia.
"Apa kak Zia terima" tanya Rena.
__ADS_1
"Tentu saja tidak karena kan, waktu itu Gus Adam akan menikah dengan Ning Marwah" ucap Zia.
"Oh ya, apa kak Zia tau cerita Ning Marwah" tanya Gita.
"Aku tak percaya kalau Ning Marwah akan melakukan itu" ucap Rena.
"Kalian tau, aku tau cerita nya" ucap Zia.
"Benar kah apa" tanya Rena dan Gita penasaran.
"Begini, dia cerita pada ku kalau dia terpaksa melakukan itu karena dia ingin punya uang, karena yang dia ceritakan dulu dia tak punya uang untuk kuliah di singapura, tapi menurut ku Ning Marwah tak salah, dengan melakukan itu Ning Marwah seolah bekerja dan mendapat uang, namun pekerjaanya yang salah" ucap Zia.
"Ya kak tapi kenapa harus melakukan itu" tanya Gita.
"Ya karena kalian tau kan hidup di kota bagaimana, apa lagi ini di luar negri, ekonomi buruk tapi harga melambung" ucap Zia.
"Ya sih" ucap Gita.
"Lalu bagaimana dengan pembahasan tadi, apa kak Zia akan menerima Gus Adam" tanya Rena.
"Ahh kalian ini aku sedang dekat dengan Haddad sekarang, lagi pula mana mungkin Gus Adam mau padaku" ucap Zia.
"Aku yakin pasti mau" ucap Rena.
"Tapi aku yang tak mau Ning" ucap Zia.
"Aku tau kau pasti mandang Fisik Kak" ucap Rena.
"Tapi menurut ku Gus Adam tak seburuk itu, apa lagi Gus Adam ganteng dan pintar bahkan tak akan ada wanita yang berani menolaknya" ucap Zia.
"Aahh sudahlah ayo tidur aku sangat mengantuk, ingat bangunkan aku saat Adzan Ashar tiba" ucap Zia.
"Siap kak" ucap Rena dan Gita.
Namun Realita tak semanis ekspetasi, Rena dan Gita sejak tadi mencoba membangunkan Zia namun Zia tak bangun bangun.
"kak Zia bangun sudah Adzan Ashar" ucap Rena mengoyang goyangkan tangan Zia namun tetap tak ada jawaban.
"Ning apa semalam kak Zia tak tidur" tanya Gita pada Rena.
"aku yakin semalam kak Zia tidur karena saat aku terbangun malam, semua orang sudah tidur" ucap Rena.
"lalu sekarang kak Zia seperti tak tidur semalaman" ucap Gita.
"kita tinggal kan saja dulu, nanti setelah Sholat kalau Kak Zia belum bangun kita bangunkan lagi" ucap Rena.
"baik lah Ning ayo" ucap Gita.
Mereka berdua berjalan ke arah wc tempat Wudhu para santri, hingga mereka sampai di dalam mesjid mereka melaksanakan Sholat Ashar tanpa Zia.
Sampai Khutbah pun Zia belum juga datang ke sana.
"Git kak Zia belum juga datang" ucap Rena.
"ya Ning apa kak Zia kelelahan" tanya Gita.
"mungkin saja" ucap Rena.
Hingga selesai Sholat, mereka kembali lagi ke kamar dan benar saja Zia masih tidur di ranjangnya.
"kak Zia sudah Adzan Ashar" ucap Rena mengoyang goyangkan tangan Zia sekali lagi siapa tau Zia bangun.
"kak Zia ada pelajaran sekarang" ucap Gita.
"kak Zia" ucap Rena dengan nada sedikit kencang.
"ya Ning apa" tanya Zia.
"sudah Adzan Ashar" ucap Rena.
"ya aku akan bangun" ucap Zia dengan mata yang masih terpejam karena masih ingin tidur.
"tapi kak Sholat berjamaah sudah selesai" ucap Gita.
"kenapa" tanya Zia menatap Gita dengan tatapan khas bangun tidur.
"karena kak Zia terlambat, kak Zia tidur sangat nyenyak" ucap Rena.
"oh ya" tanya Zia yang langsung menatap pada jam dinding kamar itu.
"kenapa kalian tak membangunkan aku" gerutu Zia.
"kami sudah bangunkan" ucap Gita.
Zia dengan cepat berjalan ke arah Wc dan mengambil Wudhu disana karena Zia belum terlambat hampir satu jam.
Zia hendak masuk kedalam mesjid namun para senior laki laki sedang berada di sana, yang Zia lihat kalau mereka sedang mengobrol sesuatu.
"ya ampun bagaimana ini" gumam Zia.
"hey Aziya mau apa" tanya Haddad yang juga berada di sana.
"ya Gus" ucap Zia malu malu.
"mau apa" tanya Haddad.
"aku akan Sholat Ashar, boleh" tanya Zia.
"kau terlambat" tanya Adam.
"ya" ucap Zia menunduk.
"baiklah Sholat saja, kami tak akan mengganggu" ucap Adam.
zia pun melaksanakan Sholatnya sampai selesai walau pun sesekali di tatap oleh para santri senior tapi Zia tak memperdulikannya.
Bersambung..
__ADS_1