
"Zia" ucap Raya menepuk pundak Zia.
"Kak lihat kak Ray sedang apa dia" tanya Zia menunjuk Rayhan.
"Mungkin sedang bicara dengan teman nya" ucap Raya.
"Oh" ucap Zia.
"Ayo kita suguh kan lagi makanan" ucap Raya.
"Ya ayo" ucap Zia.
Mereka sangat sibuk sekarang bahkan Zia dan Raya juga harus turun tangan untuk memberikan makanan dan minuman pada para tamu yang datang dan tamu terasa tak habis habis bahkan baru saja satu rombongan pergi dari rombongan yang lain datang lagi.
Membuat mereka yang ada di sana tak berhenti bekerja.
"Sudah Zia pengantin gak boleh bekerja" ucap ibu ibu yang langsung mengambil nampan yang sedang Zia bawa sekarang.
"Bu tak apa biar aku saja" ucap Zia.
"Neng bawa pengantin duduk" ucap ibu ibu pada Raya.
"Ya Bu" ucap Raya.
Raya mendekat pada Zia dan membawa Zia sedikit menjauh dari sana.
"Ayo istirahat lah dulu Zia" ucap Raya membawa adik ipar nya itu ke dalam kamar.
"Kak kenapa semua orang begitu sibuk saat ada acara" tanya Zia.
"Ya karena kan ada suatu perayaan jadi mereka pasti sibuk apa lagi kan di setiap perayaan selalu ada makanan jadi wajar saja bukan kalau mereka terlihat sangat sibuk" ucap Raya.
"Ya Sih" ucap Zia.
Zia menatap pada jam yang berada di dinding kamar nya.
"Sekarang sudah waktunya Adzan Maghrib ayo Sholat kak" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Raya.
Mereka berdua mengambil wudhu bahkan mereka juga melaksanakan Sholat Maghrib secara bersamaan, di rumah Zia para tamu mulai berkurang karena mungkin mereka melaksanakan dulu Sholat Maghrib di rumahnya masing masing.
"Mah aku sangat pengap sekarang" ucap Rayhan yang sekarang sudah berada di ruang tamu bersama dengan orang tuanya.
Karena para tamu sudah pulang jadi mereka bisa sebentar bersantai.
"Ya Ray resiko nikahan di kampung memang begini gak sama kaya di kota" ucap Nita.
"Oh" ucap Rayhan.
Zia dan Raya datang ke sana dan ikut bergabung bersama dengan mereka.
"Mah" tanya Zia.
"Pengantin mau kemana" tanya Nita.
"Mah ayo lah jangan panggil begitu panggilan saja Zia" ucap Zia malu malu.
"Zia setiap pengantin akan di panggil seperti itu" ucap Nita.
"Tapi aku gak mau mah" ucap Zia.
"Duduk lah" titah Rayhan pada adik nya sambil menepuk kursi di samping nya mengkode pada Zia agar duduk di samping nya.
"Apa" tanya Zia dengan malas.
"Kenapa Ustadz itu mau pada mu" tanya Rayhan.
"Ray dia itu Ustadz ternama" ucap Nita membela calon menantu nya.
"Ya mah" ucap Rayhan.
"Kak aku juga sebenarnya gak sangka tapi mau bagai mana lagi dia sudah melamar dan tanggal sudah di tetapkan jadi apa lagi yang harus aku pertanya kan" ucap Zia.
"Ah jangan bohong Zia kau juga suka kan sama nak Adam, jangan merasa so paling tersakiti Zia" ucap Nita.
"Ya mah" ucap Zia tersenyum.
Raya hanya tersenyum saja melihat keharmonisan keluarga suami nya itu, bahkan Raya juga selalu meng halu tentang keluarga nya yang harmonis.
Namun sayang halu Raya hanya sebatas halu saja.
"Kak apa kau tak kuliah" tanya Zia.
"Ya besok" ucap Raya.
"Lalu sekarang bagai mana kau gak akan kuliah dong kan ada di sini" tanya Zia.
"Tak masalah aku bisa absen dua sampai tiga Minggu" ucap Raya.
"Ya" ucap Zia.
"Lalu perusahaan mu Ray" tanya Topan.
"Aku sudah suruh Lukas menghandle nya" ucap Rayhan.
"Bagus lah" ucap Topan.
Di pesantren Al Zakaria.
Adam sekarang tengah menggurui karena sekarang para santri sedang tadarus, Adam hanya melihat lihat saja siapa tau ada santri yang tak tadarus.
"Gus" ucap salah satu santri.
"Ya" tanya Adam.
"Apa saja yang kau lakukan saat di luar negeri" tanya nya.
Adam menatap pada Abah untuk meminta ijin untuk menjawab mereka.
Abah mengangguk kan kepala nya.
"Shadaqallahul-'adzim" ucap Abah yang di ikuti oleh para santri.
"Abah tinggal sebentar" ucap Abah.
Adam menatap pada semua santri.
"Kalian ingin tau" tanya Adam.
"Ya" serempak.
"Baik lah apa yang aku lakukan di luar negeri" gumam Adam mengingat ingat kembali Waktu yang sudah dia habiskan di luar negeri.
"Aku di sana belajar, apa lagi, pagi hari pukul 7 pagi aku masuk ke universitas dan sore hari kira kira pukul 2 aku pulang aku menghafal Al-Qur'an bersama dengan Gus Yasya dan Gus Ilham, aku memasak dan kami semua makan" ucap Adam.
"Belajar apa saja Gus di sana" tanya santri yang lain.
__ADS_1
"Aku ambil jurusan ilmu sosial" ucap Adam.
"Gus apa di sana ada warung" tanya santri.
"Tentu saja tapi tak banyak karena kebanyakan di sana itu mini market yang sangat besar dan lengkap sekali bahan pangan nya" ucap Adam.
"Apa di sana tak ada restoran" tanya santri yang lain.
"Ada tapi kami takut salah pesan jadi kami hanya masak sendiri saja itu pun kalau beli sesuatu kita lihat dulu bungkus nya" ucap Adam.
"Apa Gus Adam akan ke sana lagi".
"Nanti mungkin ke sana lagi tapi sekarang aku pilihan daring" ucap Adam.
"Oh".
"Apa biaya nya mahal".
"Lumayan lah" ucap Adam tak berani menyebut kan nominal nya.
"Gus apa di sana ada mesjid".
"Ada karena di sana juga ada orang orang yang beragama Islam" ucap Adam.
"Apa kau datang ke sana".
"Tentu saja hanya beberapa kali karena jarak nya cukup jauh dengan kosan aku" ucap Adam.
"Apa di sana ada tempat wisata".
"Banyak tapi aku tak pernah datang karena aku sibuk belajar" ucap Adam.
"Oh" serempak.
"Mau dengar cerita gak" tanya Adam.
"Mau" ucap santri serempak.
"Aku di sana punya teman nama nya Tina dia seorang pelajar sama seperti aku, saat itu dia bertanya pada ku" ucap Adam.
"Kenapa kau percaya pada agama Islam" tanya Tina karena di sana kami memakai sarung dan peci, aku menjawab kau tau semua yang terjadi di bumi ini semua sudah tergambar di Al Qur'an.
Kau mau tau.
Ada di Al Qur'an surat Ar Rahman ayat 19-20 yang artinya, dua air laut yang bertemu namun tidak menyatu, dan itu terbukti di selat Gibraltar ada air tawar yang jernih dan air asin yang cukup keruh saling bertemu tapi tidak bersatu.
Ada juga api di dalam laut yang di terang kan dalam surat Al tur ayat 1-6.
Ada juga sungai di bawah air namun tidak tercampur, di terang kan dalam surat Al Furqon ayat 53.
Ada juga gunung pelangi di dalam surat Al Fathir ayat 27 yang terbukti di Andes Peru.
Lalu ada terbentuk nya janin dalam surat Al qiamah ayat 37-39.
Maka nikmat mana lagi yang akan kalian dustakan semua yang tertulis di dalam al Qur'an sama hal nya dengan kenyataan yang ada di bumi.
Lalu apa manusia akan lupa pada hari kiamat yang sudah benar benar akan terjadi.
Aku harap kalian bisa mengkokohkan pendirian dan Iman kalian karena sekarang dunia itu sudah tua sudah semakin banyak kejadian kejadian yang merusak bumi bahkan ada yang sampai merenggut nyawa Banyak orang.
Maka dari itu aku saran kan segera lah bertaubat karena ingat satu hal ini.
Kematian tak akan menunggu kita tobat.
Justru kita yang akan menunggu kematian dengan bertaubat" ucap Adam panjang lebar menjelaskan pada semua santri.
"Gus apa agama mereka".
"Oh".
"Ya kita saling menghormati saja karena kan kita hanya beda jalan bukan beda tujuan, bahkan Tina teman aku ini dia mau sekali mampir ke pesantren bahkan secara terang terangan dia meminta ingin masuk Islam" ucap Adam.
"Apa orang tua nya mengijinkan" tanya Fauzi yang sejak tadi mendengar kan.
"Tidak" ucap Adam.
"Oh padahal apa salah nya kalau jadi mualaf" ucap Fauzi.
"Ya begitulah" ucap Adam.
Adzan isya sudah berkumandang di mesjid yang lain.
"Gus ayo adzan" ucap Fauzi.
"Ya" ucap Adam.
Sekarang Adam yang adzan dan Abah yang akan jadi imam di sana.
Selesai sholat isya para santri langsung istirahat karena sekarang hari Minggu jadi para santri di bebas kan dalam pelajaran.
Adam pulang ke rumah nya.
Saat ini dia sangat pusing memikirkan pernikahan dan cara harus membeli laptop yang harga nya cukup mahal.
Adam melihat tabungan nya di bank lewat aplikasi, nominal nya cukup besar tapi Adam takut kalau acara pernikahan nya akan memakan biaya yang besar.
Adam mengurung kan Niat nya untuk membeli laptop, dia fokuskan dulu uang itu untuk pernikahan nya.
Sedangkan di kediaman orang tua Zia.
Zia sekarang tidur bersama dengan Raya.
"Kak bagai mana malam pertama kalian" tanya Zia yang membuat Raya tersenyum.
"Zia aku malu kalau harus di cerita kan" ucap Raya.
"Ayo lah kak sedikit saja" ucap Zia.
"Malam pertama kami ya, kami tak melakukan apa apa" ucap Raya.
"Kenapa begitu" tanya Zia.
"Ya emang benar kami tak melakukan apa apa" ucap Raya.
"Lalu kalian" tanya Zia.
"Kau akan tau nanti setelah menikah" ucap Raya.
"Ah kakak ini" ucap Zia.
"Kenapa kau bertanya begitu pada ku, Zia malam pertama itu hanya akan di rasakan oleh pengantin yang bukan pengantin mana bisa merasakan nya" ucap Raya.
"Tapi aku malu kak bagai mana kalau aku dan Gus Adam akan canggung" ucap Zia.
"Kau ini terlalu berfikir jauh Zia" ucap Raya.
"Tapi beneran kak aku sangat malu" ucap Zia.
__ADS_1
"Sudah, ayo tidur nanti kesiangan besok" ucap Raya.
"Ya" ucap Zia.
Mereka tidur di kamar Zia karena besok akan kembali sibuk jadi mereka harus tidur supaya besok pagi dapat energi yang cukup.
Pagi hari nya, Raya dan Zia bangun mereka berdua melaksanakan Sholat Subuh bersama.
Setelah selesai Raya ke dapur membuat kan teh hangat untuk suaminya itu, karena kebiasaan Raya kalau bangun tidur selalu menyuguhkan teh pada Rayhan.
"Udah bangun" tanya Nita.
"Sudah mah" ucap Raya.
"Ya sudah mamah akan masak" ucap Nita.
"Biar aku bantu mah" ucap Raya.
"Antar kan dulu minuman itu pada Rayhan takut nya dia marah kalau tak kamu layani" ucap Nita.
"Ya mah" ucap Raya.
Raya membawakan teh hangat untuk Rayhan yang sekarang masih berada di kamar nya.
Zia datang ke sana mendekat pada mamahnya.
"Mau masak apa mah biar Zia bantu" ucap Zia.
"Masak ikan goreng sama sambel" ucap Nita.
"Aku bantu kupas bawang merah nya mah" ucap Zia.
"Ya" ucap Nita.
Zia mengupas bawah merah namun karena Zia baru kedua kali nya ngupas bawang merah mata Zia perih dan mengeluarkan air mata.
"Zia kenapa menangis" tanya Raya pada Zia yang baru saja datang ke sana.
"Hah" tanya Zia.
"Zia kau kenapa" tanya Nita.
"Mata aku perih mah tapi saat aku mengupas bawang merah di pesantren aku gak merasa perih tapi di sini kenapa perih" ucap Zia.
"Ya karena jarak kamu mengupas dengan wajah kamu terlalu dekat jadi perih kena mata" ucap Raya.
"Oh" ucap Zia.
Mereka menyelesaikan masakan nya dengan cepat karena bekerja sama.
Sekarang makanan sudah tersaji tinggal menunggu Rayhan dan Topan saja yang dari tadi belum datang ke meja makan.
"Pah ayo makan" ucap Nita.
"Ya" ucap Topan.
Mereka semua Duduk di meja makan.
Tok
Tokk
Namun tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Nita.
"Biar aku yang buka kan" ucap Raya.
"Ya" ucap Nita.
Raya membuka kan pintu dan terlihat ada seorang wanita dan laki laki yang berada di ambang pintu.
"Mau bertemu dengan mamah Nita" tanya Raya.
"Kau istri Nya Rayhan" tanya Puput.
"Ya" ucap Raya.
Puput langsung memeluk Raya.
"Wah cantik ya pah" ucap Puput pada suaminya.
"Ya" ucap Arka suami Puput.
"Di mana mamah Nita" tanya Puput.
"Ada di dalam ayo masuk" ucap Raya.
"Siapa Ray" tanya Nita yang sekarang mendekat pada menantu nya yang lama membuka pintu.
"Ini mah" ucap Raya.
"Puput" ucap Nita.
"Kak" ucap Puput yang langsung memeluk kakak nya itu.
Zia dan Rayhan yang melihat ada berisik di ruang tamu pun datang ke sana.
"Aunty" sahut Zia.
"Zia" ucap Puput yang langsung memeluk Zia.
"Kau sudah besar sekarang" ucap Puput.
"Aunty" ucap Rayhan.
"Kau semakin gemuk Sekarang" ucap Puput pada Rayhan.
"Gemuk gak aku masih sama" ucap Rayhan.
"Kau gemuk sekarang" Ucap Puput.
"Aku gak sangka aku bisa pulang ke kampung ini lagi" ucap Puput menatap ke sekeliling.
"Ya put kampung ini banyak berubah" ucap Nita.
"Aunty di mana Abi " tanya Zia.
"Abi akan datang mungkin besok sekarang dia sibuk" ucap Puput.
"Oh".
Mereka makan bersama di meja makan dengan berbincang bincang mengenai pernikahan yang sekarang akan terjadi apa lagi pernikahan Zia sekarang terdengar sedikit mendadak.
"aku senang ternyata Zia menikah dengan Adam anak nya Abah Zaka" ucap Puput.
"ya aku masih tak sangka kalau aku akan besanan dengan Abah Zaka" ucap Nita.
"Zia ketiban milik kalau begini" ucap Puput.
__ADS_1
"ya" ucap Nita.
bersambung..