Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 12


__ADS_3

Santri wanita itu langsung bungkam tak bicara lagi pada Zia, dan Zia malah seolah tak perduli pada santri itu.


"Ayo kita mulai dengan surat An naba.


A'udzu billahi minas syaitanir rajim Bismillah hirohman Nirohim, Amma? " ucap Ustadz Zakaria.


"Gunah" serempak.


"Yatasa?" tanya Abah.


"Mad wajib muttasil" serempak.


Hanya Zia yang tak tau arti dari ucapan mereka bahkan Zia tak tau surat mana yang sedang di bacakan Abah, dan apa saja yang sedang di tanyakan dan di jawab oleh para santri dan Abah.


"Ammayatasa alun" tanya Abah.


"Mad arid lissukun" ucap satu santri yang tau artinya.


Abah menatap pada Zia yang sejak tadi hanya kebingungan saja.


"Zia jika kamu belum tau ikut saja ya, nanti Abah akan jelaskan" ucap Abah Zakaria.


"Ya abah" ucap Zia.


"Annin naba".


"Alif lam syamsiah".


"Idgam Abah" ucap salah satu santri.


"Ada dua huruf di ayat ini, pertama alif lam syamsiyah karena huruf alif lam bertemu huruf syamsiyah nun. Dibaca idgham atau masuk ke huruf nun. Kedua, ghunnah sebab nun bertanda tasydid dan cara membacanya dengan dengung serta ditahan 3 harakat, paham" ucap Abah.


"Paham Abah" serempak.


"Anin naba'il-‘aẓīm, anin nabail a?" tanya Abah.


"Alif lam qamariah" serempak.


"Anin naba'il-azim, zim?" tanya Abah.


"Mad arid lissukun" ucap santri yang sejak tadi terus menjawab.


"Allażī hum fīhi mukhtalifūn, Allazi? " tanya Abah.


"Alif lam syamsiah".


" Zi, dzal berharakat kasrah bertemu dengan Ya sukun, di sebut" tanya Abah.


"Mad thabi'i" ucap salah satu santri.


"Hum fi, huruf mim sukun bertemu dengan huruf Fa" tanya Abah.


"Idzhar syafawi" serempak.


"Hum fihi, huruf Fa berharakat khasrah bertemu dengan Ya sukun".


"Mad thabi'i".


"hum fīhi mukhtalifūn".


"Mad Arid lissukun" serempak.

__ADS_1


"Kallā saya‘lamūn, Kalla? Huruf lam berharakat Fathah bertemu alif " tanya Abah.


"Mad thabi'i" serempak.


"Saya' lamun" tanya Abah.


"Mad arid lissukun" serempak.


"Sebentar lagi Waktunya istirahat, lanjutkan dengan membaca surat an naba sampai selesai, satu orang satu ayat" ucap Abah.


"Ṡumma kallā saya‘lamūn" ucap santri laki laki dari pojok.


"Alam naj‘alil-arḍa mihādā" di susul dengan santri laki laki di sampingnya.


"Wal-jibāla autādā".


"Wa khalaqnākum azwājā"


"Wa ja‘alnā naumakum subātā"


"Wa ja‘alnal-laila libāsā"


"Wa ja‘alnan-nahāra ma‘āsyā"


"Wa banainā fauqakum sab‘an syidādā"


'Wa ja‘alnā sirājaw wahhājā"


Sekarang giliran Zia dan Zia tak tau ayat apa yang di bacakan para santri dan abah tadi, semua mata menatap pada Zia menuntut pada Zia agar cepat membacakan ayat selanjutnya.


Kringgg..


Zia merasa terhina dan merasa terkecilkan lagi untuk yang kesekian kalinya, Zia hanya bisa menarik nafas pelan karena dari dulu tak ada yang melakukan hal itu pada Zia namun sekarang semua orang seolah olah ingin menjauhi Zia.


"Zia jangan sedih Abah akan ajarkan" ucap Abah yang melihat Zia hendak meletakan Al Quran nya kembali pada meja.


"Benarkah" tanya Zia.


"Tentu saja" ucap Abah.


"Sekarang" tanya Zia.


"Ya sekarang Abah punya waktu sepuluh menit" ucap Abah.


Zia duduk dengan membawa Al Quran yang sempat dia simpan tadi,


"Zia sekarang kamu belajar saja cara membaca Al Quran yang benar baru setelah itu Abah akan ajarkan apa itu Tadzwid" ucap Abah.


"Apa tak bisa sekarang" tanya Zia.


"Zia kunci kita bisa bertadzwid itu adalah dari cara kita membaca Al Quran, tak mudah bukan, anggap saja kamu sedang memulai semuanya dari Nol dan kamu tau kan tak ada manusia yang langsung paham agama yang langsung mengerti semuanya tanpa belajar, justru orang pintar di luaran sana itu mereka juga belajar bahkan mereka belajar dengan giat jadi mereka bisa" ucap Abah.


"Ya Abah aku tau tapi" ucap Zia sambil menarik nafas pelan.


"Kau tau pribahasa sunda, (cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok)" tanya Abah.


(Tetesan air menimpa batu lama lama akan berlubang).


Zia menggeleng.


"Aku tak tau bahasa sunda Abah" ucap Zia.

__ADS_1


"Artinya, upaya sedikit sedikit yang kamu lakukan terus menerus maka akan membuahkan hasil" ucap Abah.


"Begitu juga dengan ini Zia, jika kamu terus menerus berusaha dan bertekad ingin bisa maka nantinya kamu juga akan bisa" ucap Abah.


Zia menatap pada Abah.


"Abah sangat bijak" ucap Zia.


"Abah sudah tua sudah berpengalaman Zia, dan satu hal yang harus kamu tau Abah juga pernah berada di posisi mu" ucap Abah.


"Benarkah, seorang Abah di hina sepertiku" tanya Zia.


"Ya tentu saja, dan ingat Zia jangan melawan mereka dengan ucapan, karena sebaik baiknya lisan adalah hal yang harus kita jaga" ucap Abah.


"Abah sarankan kau tekun lah belajar lawan hinaan mereka dengan kesuksesan mu" ucap Abah.


Zia yang tadinya merasa tak bersemangat pun langsung termotifasi oleh ucapan Abah.


Zia paham pada apa yang di ucapkan Abah dan menurut Zia hal itu sangat lah benar.


"Assalamualaikum Abah, Abah ada Ustadz Hasan datang kesini" ucap Adam.


"Waalaikum salam, Abah akan kesana" ucap Abah.


"Zia Abah pergi dulu" ucap Abah meninggalkan Zia dan Adam di mesjid itu.


Saat Adam hendak pergi dari sana.


"Tunggu Gus" ucap Zia menghentikan langkah Adam.


"Ada apa" tanya Adam.


"Selamat" ucap Zia.


"Terima kasih" ucap Adam singkat dengan ekspresi yang datar karena jujur saja Adam masih marah pada Zia karena Zia sudah memfitnah Marwah.


"Aku tau kau marah, maafkan aku" ucap Zia, yang tak mendapat jawaban dari Adam, justru Adam langsung pergi dari sana meninggalkan Zia sendirian.


"Fyuhh, seharusnya aku tak terlalu ikut campur pada kehidupan orang lain, tapi aku tak mau menghancurkan kehidupan Adam yang sekarang akan menikah dengan Ning Marwah yang bahkan sudah akan punya anak" ucap Zia.


Tanpa Zia sadari ada Rena disana yang sedang berdiri di belakang tak jauh dari posisi Zia, saat itu Rena kembali karena akan mengambil mukena nya yang tertinggal di sana.


"Apa kak Zia berkata sungguh sungguh" gumam Rena.


Rena berjalan mencari Adam dan ternyata Adam berada di rumah dan sedang mengobrol dengan Ustadz Hasan abinya Husna, Rena mengurungkan niatnya untuk bicara dengan Adam karena kondisinya tak memungkin kan.


"Ustadz Zaka, rencananya akan ada Ustadz pemilik pesantren di kota yang datang kemari aku sudah pikirkan bagaimana kalau kita buat acara untuk menyambutnya" tanya Ustadz Hasan.


"Bagus, tapi kapan" tanya Abah.


"Rencananya dua hari lagi".


"Apa saja yang perlu kita persiapkan selama dia berada di sini" tanya Abah.


"Ustadz Zaka tak perlu khawatir, Ustadz itu akan menginap di rumah saya namun acara penyambutannya akan kita adakan di pesantren ini".


"Baiklah aku percayakan pada Adam untuk mengatur semuanya" ucap Abah.


"Siap Abah" ucap Adam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2