
Adam dan Zia rebahan di kasur.
"Gus saat tadi Abah mengarahkan senter ponsel nya ke arah wajah nya aku dengar kau berteriak dan paling kencang lagi teriaknya" ucap Zia.
"Lalu" tanya Adam.
"Kau takut kan" tanya Zia menggoda Adam.
"Gak takut aku hanya kaget aja" ucap Adam.
"Boong aku gak percaya" ucap Zia.
"Kalau gak percaya ya sudah" ucap Adam.
"Kau takut kan, seorang Adam Al Zakaria takut saat melihat Abah nya sendiri" ucap Zia.
"Sayang aku gak takut" ucap Adam.
"Lalu apa yang kau takuti" tanya Zia.
"Aku takut tak bisa membawa mu ke jalan yang benar" ucap Adam.
"Jalan aku benar" ucap Zia.
"Benar, jalan kamu benar, bahkan Zia semua jalan juga benar cuman yang salah itu orangnya, orang nya yang menyimpang jalan" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia.
Pagi hari nya ada para santri yang sudah datang padahal masih ada dua hari lagi untuk masuk sekolah.
"Abah minal aidzin wal Faidzin" ucap santri itu mengalami Abah, umi, Rena, Zia dan Adam.
"Ya taqaballahu Mina wa minkum" ucap Abah.
"Cepat sekali kalian datang padahal kan Sekolah dua hari lagi" ucap Umi.
"Kami rindu pesantren umi" ucapnya.
"Baik lah" ucap Umi.
"Kalian simpan barang kalian di kamar, tapi mohon kamar Kalian tak ada yang membereskan" ucap Abah.
"Ya tak apa Abah" ucap para santri.
"Ya" ucap Abah.
Zia melihat ada Abimana yang baru saja datang ke sana dengan menarik koper yang sangat besar.
"Kak Zia" sahut Abimana.
"Abi kau datang" tanya Zia.
"Ya" ucap Abimana yang langsung membuka kacamata hitam nya.
"Baik lah ayo salam pada Abah dan Umi" ucap Zia.
Abimana menyalami Abah dan Umi.
"Om aku ijin mau belajar di sini" ucap Abimana pada Abah.
"Dasar anak na kal jangan panggil om panggil Abah" bisik Zia.
"Oh Abah maafkan saya" ucap Abimana.
"Tak apa, mamah kamu sudah bilang kalau kamu akan datang jadi selamat datang di pesantren Abimana, kamar kamu ada di kamar nomor 24, kamu cari saja ya" ucap Abah.
"Ya Abah terima kasih" ucap Abimana.
Abah dan Umi langsung pergi dari sana.
"Baik lah Abi ayo aku antar kau ke kamar" ucap Zia yang langsung menuntun Rena untuk mengantar nya.
"Baik lah Ayo, aku lelah sekali huh rasanya aku ingin tidur" ucap Abimana.
"Tapi kau harus membersihkan kamar mu dulu" ucap Zia.
"What, are you crazy" ucap Abimana.
"Yes" ucap Zia.
"Zia aku lelah aku mau istirahat tak bisa kah kau yang membereskan nya" tanya Abimana.
"Tidak aku sibuk jadi kau yang harus membereskan nya sendiri" ucap Zia.
"Aku benci kau" ucap Abimana.
"Aku lebih benci padamu" ucap Zia.
"Terserah" ucap Abimana.
Zia membuka pintu kamar 24 di sana hanya ada dia kasur saja karena kamar itu tak lagi di pakai semenjak para santri pulang.
"Silahkan masuk tuan Abimana, dan selamat membereskan kamar ini sendirian" ucap Zia.
"Awas kau Zia" geram Abimana.
"Apa kau mau melakukan sesuatu" tanya Zia.
"Aku gak akan mengotori tangan ku hanya untuk membalas mu" ucap Abimana.
"Baik lah kotori saja tangan mu dengan debu itu" ucap Zia.
"Baik" ucap Abimana yang langsung menutup pintu kamar nya.
Rena dan Zia pergi dari sana.
"Kak aku pikir kalian tak terlalu akur" ucap Rena.
__ADS_1
"Kami memang tak pernah akur" ucap Zia.
"Oh" ucap Rena.
"Tapi Ning walau begitu Abimana tak pernah melakukan kekerasan pada wanita" ucap Zia.
"Benarkah" tanya Rena.
"Ya dia tak akan mungkin menyentuh wanita yang tak mau di Sentuh" ucap Zia.
"Oh" ucap Rena.
Belum juga mereka masuk kedalam rumah Abimana sudah datang lagi ke sana.
"Zia di mana sapunya" tanya Abimana.
"Makan nya jangan sombong" ucap Zia.
"Ya maafkan aku baik lah aku pinjam sapu dan alat pel" ucap Abimana.
"Baik lah ayo ikut aku" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Abimana.
Zia mengambil pel dan sapu dari dalam rumah Abah.
"Selamat pagi nama kamu Rena kan" tanya Abimana pada Rena.
"Ya" ucap Rena.
"Aku Abimana" ucap Abi.
"Baik lah" ucap Rena.
"Kak abi" ucap Rena, hal itu langsung membuka Abimana terasa seperti di sengat listrik jantung nya berdetak sangat kencang.
"Ya ada apa" tanya Abimana yang sudah salah Tingkah.
"Aku hanya mau bilang kalau malam di sini banyak nyamuk jadi aku harap kau siap untuk menyediakan obat nyamuk" ucap Rena.
"Oh" ucap Abimana.
"Ini sapunya" ucap Zia menyodorkan sapu pada Abimana.
"Terima kasih" ucap Abimana.
"Pergi lah bereskan kamar mu" ucap Zia.
"Ya bawel" ucap Abimana.
Siang hari nya mereka melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah, Adam mencoba mengajari Abimana yang belum bisa doa doa Sholat.
Bahkan Adam juga memberikan Abimana kertas yang isinya tata cara sholat.
"Kakak ipar i'tidal itu apa" tanya Abimana.
Adam membungkuk kan badan nya, adam ruku setelah itu Adam langsung bangun dan mengangkat kedua tangan nya sejajar dengan telinga nya.
"Ini i'tidal lalu bacakan doa itu" ucap Adam.
"Oke" ucap Abimana.
"Ayo coba praktekkan depan aku" ucap Adam.
"Sekarang" tanya Abimana.
"Ya kita sudah melaksanakan sholat Dzuhur lalu aku sedang tak sibuk dan kau juga tak sibuk lalu kenapa tak sekarang saja" ucap Adam.
"Oh baik lah" ucap Abimana.
Abimana mempraktekan sholat namun doanya dia masih melihat pada buku yang Adam berikan.
Adam mengoreksi sedikit gerakan yang salah.
"Kalau yang ini bagaimana" tanya Abimana.
"Oh kalau sholat subuh ya hanya dua rakaat" ucap Adam.
"Apa aku melakukan yang duduk lama" tanya Abimana.
"Duduk lama" gumam Adam dia tak paham pada apa yang Abimana katakan.
"Oh tahiyat awal, kamu gak perlu melakukan nya kamu hanya melakukan tahiyat akhir saja terus di tutup dengan salam" ucap Adam.
"Baik lah, aku paham" ucap Abimana.
"Ya kalau sholat Maghrib ada tahiyat awal dan tahiyat akhir" ucap Adam.
"Baik lah terima kasih kakak ipar" ucap Abimana.
"Sama sama" ucap Adam.
Adam melihat Zia dan Umi yang sudah memakai pakaian bagus sedangkan Rena mengikuti dari belakang.
"Mau kemana mereka" gumam Adam.
Adam langsung mendekat pada mereka.
"Zia mau ke mana" tanya Adam.
"Mau jalan jalan" ucap Zia.
"Baik lah kau jalan jalan tak ajak suamimu" ucap Adam.
"Gus aku hanya mau ke pasar" ucap Zia.
"Tolong belikan aku sesuatu yang pedas" ucap Adam.
__ADS_1
"Baik lah Gus Adam ku, aku akan belikan cabe satu kilo untuk mu" ucap Zia.
"Zia aku mau makanan" ucap Adam.
"Ya baik lah mau bakso" ucap Zia.
"Apa saja" ucap Adam.
"Baik lah" ucap Zia.
"Aku berangkat" ucap Zia.
"Ya hati hati di jalan" ucap Adam.
Abimana mendekat pada Adam.
"Kakak ipar apa Rena itu adik mu" tanya Abimana.
"Ya dia adik ku hanya saja Rena adik tiri ku" ucap Adam.
"Oh" ucap Abimana.
"Ayo lah kita berlatih lagi saja" ucap Adam.
"Baik lah" ucap Abimana Malas.
Malam hari nya Adam merasa sangat lelah dia teringat dengan perut Zia, namun untuk bertanya pun Adam rasanya sangat malu.
Semalam Adam melihat perut Zia ada garis hitam nya dan itu sangat jelas sekali.
Adam punya ide dia akan bertanya pada Gugel supaya dia tak bertanya tanya lagi.
"Baik lah aku akan tanya pada Gugel" gumam Adam.
Adam membawa artikel yang ada di sana.
"Hamil? Hanya terjadi pada ibu hamil, Linea nigra adalah garis vertikal gelap yang muncul di perut ibu hamil, memanjang dari pusar hingga ke area ********. Ini disebut juga garis kehamilan, karena sangat umum terjadi pada ibu yang sedang hamil. Terutama jika memiliki kulit atau rambut gelap" ucap Adam membaca kan artikel itu.
"Gak mungkin karena Zia gak mungkin hamil, tapi bisa saja kan Zia hamil hanya saja Zia masih baik baik saja, atau bisa jadi Zia tak mengalami mual muntah" ucap Adam.
"Baik lah aku akan cari tanda tanda kehamilan" ucap Adam.
Adam membaca nya dengan sangat teliti.
"Baik lah aku akan coba sama kan ciri ciri ini dengan Zia kalau sampai Zia sama pasti Zia sedang hamil, kalau pun ya Alhamdulillah sekali aku punya anak" gumam Adam tersenyum memikirkan hal itu.
Adam melihat kalau sekarang Zia baru saja mencuci piring, Adam melihat Zia yang merasa kecapean dan duduk di kursi.
"Zia gampang lelah chek" gumam Adam.
"Zia apa kau pusing" tanya Adam.
"Gak" ucap Zia.
"Apa kau gampang lapar" tanya Adam.
"Gak gus aku gak apa" ucap Zia.
"Kalau kamu sakit bilang aku" ucap Adam.
"Baik lah Gus Adam" ucap Zia.
Umi datang ke sana.
"Umi apa bumbu rujak tadi siang masih ada" tanya Zia.
"Ada neng di kulkas" ucap Umi.
"Aku akan ambil" ucap Zia.
"Malam malam makan rujak" tanya Umi.
"Aku lagi pengen" ucap Zia.
"Neng Zia ini seperti sedang hamil saja" gumam Umi.
"Hamil" batin Adam yang mendengar hal itu.
"Aku sangat yakin kalau Zia memang hamil" gumam Adam.
Zia datang ke sana dia memakan rujak dengan kerupuk, hanya timun dan Jambu air saja Zia merasa sangat lahap.
Adam penasaran dia mencoba nya lidah Adam terasa sangat aneh.
Rasa jambu air itu sangat masam dan tak enak tapi Zia memakannya dengan sangat lahap.
"Zia ini sangat tak enak" ucap Adam.
"Ya rasanya sangat keset" ucap Umi.
"Ya aneh sekali rasanya" ucap Adam.
"Tapi ini enak" ucap Zia.
"Timun nya saja ini nya jangan" ucap Adam.
"Tapi aku mau" ucap Zia melotot pada Adam.
"Ya ya terserah" ucap Adam pasrah.
Pagi hari nya Zia merasa kan mual hebat tapi dia tak bicara pada Adam dia paham betul kalau Adam sangat sibuk sekarang dia tak mau menganggu Adam yang tengah membantu membentengi Madrasah.
Zia menahan nya dia meminum air hangat berharap semoga saja rasa mual nya itu cepat hilang.
"Kenapa aku ini" gumam Zia.
bersambung
__ADS_1