
"Ya kak hari demi hari sangat cepat di lalui bahkan tanpa kita sadar banyak sekali dosa yang sudah kita lakukan" ucap Rena.
"Mau bagaimana lagi coba, kau tau bahkan di luaran sana ada yang meninggal sedang maksiat" ucap Zia.
"Ya semoga saja kita di jauhkan dari orang orang yang seperti itu" ucap Rena.
"Amin" serempak.
Zia melaksanakan Sholat Maghrib dan Isya secara berjamaah bersama dengan yang lain, Zia mendengarkan khutbah dari Farid.
Setelah selesai menyelesaikan Sholat maghrib dan Isya semua santri langsung di ijinkan istirahat karena tak ada pelajaran sekarang.
Zia hendak ke kamarnya namun Adam menghentikan langkahnya,
"Ada apa, katanya sakit tapi jalan jalan" tanya Zia.
"Ya tadi sakit sekarang sembuh" ucap Adam.
"Masa" tanya Zia.
"Ya, Besok jangan lupa" ucap Adam.
"Apa" tanya Zia.
"Kau sudah bilang akan ikut ke acara pernikahan Ustadz Haddad kan" ucap Adam.
"Ya Gus ya ampun, aku bukan wanita pelupa" ucap Zia.
"Aku hanya mengingatkan supaya kau tak lupa" ucap Adam.
"Ya jangan lupa pakai baju yang tadi aku berikan" ucap Zia.
"Pasti" ucap Adam.
"Pokoknya harus karena aku sudah bawakan jauh jauh dari kota hanya untuk mu" ucap Zia.
"Ya Ukhty" ucap Adam.
"Ukhty apa itu" tanya Zia.
"Bukan apa apa" ucap Adam.
"Ayo beri tau aku karena aku sangat penasaran Gus" ucap Zia.
"Nanti juga kamu tau" ucap Adam.
"Kau terlalu sombong" ucap Zia.
"Marah" tanya Adam karena Zia cemberut padanya.
"Tidak" kesal Zia.
"Jangan marah ayo lah" ucap Adam.
"Kau sombong pada ku" ucap Zia yang langsung pergi meninggalkan Adam.
Adam menyusul Zia.
"Baik lah maafkan aku Ukhty Zia" ucap Adam.
"Jangan mengikuti aku" ucap Zia.
"Kenapa" tanya Adam.
"Karena ini sudah batas santri wanita, karena kau bukan wanita jadi kau tak bisa masuk" ucap Zia.
"Kau garang saat marah" ucap Adam.
"Salah kau yang sudah membangunkan singa yang sedang tidur" ucap Zia.
"Oh singa" ucap Adam.
"Argg aku manusia Gus" ucap Zia.
"Ya aku tau Ukhty" ucap Adam.
Zia berjalan ke kamarnya meninggalkan Adam yang saat ini masih berada di sana menatap Zia dengan penuh kehangatan.
"Gus" sahut Fauzi.
"Ya" tanya Adam.
"Memandangnya biasa saja, nanti Zi na mata loh" ucap Fauzi.
"Ya aku tau, hanya saja hati ini merasa lebih nyaman kalau bersama ada Zia" ucap Adam.
"Nikahi saja Gus" tanya Fauzi.
"Hah mana mungkin, dia saja tak suka pada ku apa lagi menikah" ucap Adam.
"Tapi kalian sangat dekat, masa gak ada perasaan" tanya Fauzi.
"Yang aku tau Zia tak pernah melibatkan perasaan di dalam persahabatan" ucap Adam.
"Bisa saja kan, berdoa lah di seper tiga malam minta pada yang maha mempunyai semuanya gak ada yang mustahil bagi nya Gus" ucap Fauzi.
"Ya Gus terima kasih, tapi aku masih ragu" ucap Adam dan Fauzi yang sekarang berjalan pergi dari sana.
"Ragu kenapa" tanya Fauzi.
"Takut Zia gak suka" ucap Adam.
"Gus bagai mana kau akan tau jawabannya sedangkan pertanyaan nya pun masih kau ragukan, yakin lah" ucap Fauzi.
"Baiklah aku akan coba" ucap Adam.
"Besok kau akan datang kan" tanya Fauzi.
"Insya alloh" ucap Adam.
"Aku dengar akan ada santri baru di sini" ucap Fauzi.
"Siapa" tanya Adam.
"Teman aku dulu, katanya dia ada sedikit masalah jadi dia akan masuk kesini" ucap Fauzi.
"Seumuran kita" tanya Adam.
"Ya".
" laki laki" tanya Adam.
"Akhwat" ucap Fauzi.
"Apa perempuan apa jangan jangan" tanya Adam.
"Ah kau ini kami teman" ucap Fauzi.
"aku akan tidur, selamat malam" ucap Adam.
"Selamat malam" ucap Fauzi.
Adam hendak masuk kedalam rumahnya tapi ada seseorang yang memanggilnya.
"Gus" sahut Zia sambil berlari menyusul Adam.
"Ada apa" tanya Adam.
"Masih kangen ya" ucap Adam tersenyum menatap pada Zia yang sekarang tengah ngos ngosan karena lari.
"Kangen apa nya, aku mau berikan ini" ucap Zia memberikan ponselnya pada Adam.
"Kenapa bawa ponsel sudah jelas kan gak boleh bawa" ucap Adam.
"Ihh titip apa salah nya sih" geram Zia.
"Gus hati hati simpannya" ucap Zia.
"Hati hati karena belum lunas" ucap Adam tersenyum tipis.
"Bukan begitu" ucap Zia.
__ADS_1
"Baiklah aku akan tidur selamat malam" ucap Adam.
Adam hendak masuk dan menutup pintu tapi Zia masih ada di sana berdiri di ambang pintu.
"Tunggu Gus" ucap Zia.
Adam membuka kembali pintu yang hampir tertutup itu.
"Ada apa sudah malam nanti tumbul fitnah kalau berduaan" ucap Adam.
"Siapa yang berduaan" ucap Zia.
"Lalu untuk apa masih di sini" tanya Adam.
"Antar aku sampai kamar, aku takut" ucap Zia.
"Takut apa" tanya Adam.
"Gelap" ucap Zia.
"Hah gak apa apa Zia, tak ada hantu kok" ucap Adam.
"Tetap saja Gus, gelap aku takut" ucap Zia.
"Ck baik lah ayo aku antar" ucap Adam.
Adam mengantar kembali Zia ke kamarnya,
"Kenapa gak besok saja berikan pada ku, jadi aku yang susah kan, rumah Abah ke kamar kamu itu Jauh Zia" ucap Adam.
"Gak satu jam perjalanan kan" ucap Zia.
"Ya gak apa apa aku antar" ucap Adam.
Mereka berdua berjalan menuju ke kamar Zia karena Zia cukup penakut kalau tak ada cahaya yang terang.
Malam ini cukup gelap dan dingin bahkan semua santri pun sudah tidur.
Namun tiba tiba Zia melihat bayangan yang mendekat pada nya, terlihat oleh sudut mata Zia.
Zia sedikit mendekat pada Adam yang tengah berjalan di sampingnya.
"Ada apa Zia" tanya Adam.
Tiba tiba ada seseorang yang mendekat pada mereka.
Zia menatap pada orang yang memakai kain hitam di sampingnya itu.
"Aaaaaa.... Hantu..." zia berteriak dan memegang tangan Adam.
Adam menatap pada orang yang memakai kain itu ternyata orang itu adalah pak Wili yang di tugaskan Abah menjaga setiap malam.
"Dam" ucap pak Wili.
"Pak lain kali jangan pakai kain hitam, nanti yang melihat ketakutan" ucap Adam.
"Maaf Dam saya kedinginan jadi pakai ini" ucap pak Wili.
Zia melepas tangan Adam dan menatap pada orang itu.
"Maaf Neng, saya gak tau kalau Neng ketakutan" ucap Pak Wili.
"Tak apa pak" ucap Zia.
"Baik lah saya kesana dulu" ucap pak Wili.
"Ya pak".
"Ayo kamar kamu sudah dekat" ucap Adam yang mengantar Zia sampai ke kamarnya.
"Untung saja bapak itu tak membuat aku jantungan" gerutu Zia.
Zia langsung tidur di kamarnya karena sekarang sudah malam, bahkan dengan cepat Zia langsung ter tidur karena malam ini sangat sunyi bahkan dingin.
Sedangkan di kamar Adam, saat ini Adam tengah melihat lihat ponsel Zia.
"Maaf Zia aku lancang karena membuka ponsel mu" ucap Adam pada ponsel Zia.
Adam melihat lihat galeri Zia, disana banyak sekali foto Zia yang sangat aestetik dan bahkan Foto itu di ambil di tempat tempat yang cukup mahal.
Bahkan disana juga banyak Foto Zia yang hanya memakai pakian se ksi, Adam men skip foto foto itu dia melihat ada Foto laki laki bersama dengan Zia dan itu banyak sekali.
"Akash" gumam Adam.
"Se dekat apa kau dengan Akash, Zia aku harap dia tak meminta hal yang aneh" gumam Adam.
Adam menyimpan kembali ponsel Zia kedalam laci meja yang ada di kamarnya, Adam merebahkan tubuhnya di ranjang dia tidur dengan sangat pulas.
Satu jam dua jam pun berlalu hingga saat ini Zia tengah gelisah dalam tidur karena dia sedang mimpi buruk, bayang bayang masa lalunya kembali meneror Zia.
Zia menangis tapi matanya masih tertutup, hal ini sudah menjadi trauma tersendiri bagi Zia apa lagi sudah dua belas tahun yang lalu Zia merasakan trauma itu.
"Aaaaa" teriak Zia yang langsung bangun dari tidurnya.
"Ada apa kak" tanya Rena.
"Ning" ucap Zia sambil ngos ngosan dan ketakutan.
"Ada apa kak" tanya Gita.
"Jam berapa sekarang" tanya Zia.
"Jam empat pagi Kak" jawab Rena.
"Huh aku mimpi" ucap Zia.
"Istighfar kak" ucap Gita.
"Astagfirulloh hal adzim" ucap Zia berkali kali.
"Kak ayo Sholat sebentar lagi Adzan shubuh" ucap Rena.
"Baik lah ayo" ucap Zia yang langsung merasa tenang karena hari sudah siang.
"Kenapa ini datang lagi, padahal kan dulu aku berani bangun Shubuh mandi dan tahajud juga sendiri tapi kenapa sekarang aku jadi penakut, ya alloh" batin Zia.
"Ning" sahut seseorang dari arah belakang Rena, Gita dan Zia.
"Ya" tanya Rena.
"Terima kasih karena sudah melaksanakan amanah yang kita berikan" ucap Gendis.
"Ya kak tak masalah" ucap Rena.
"Walau pun kesempatan kita hanya satu persen saja untuk mendapatkan Gus Adam tapi kami senang karena dia menghargai pemberian kita" ucap Gendis.
"Tapi kak, Gus Adam belum punya pacar" ucap Rena.
"Ya tapi mana mungkin dia mau pada kita, kau tau Ning Isma melamar Gus Adam tapi tak di terima" ucap Gendis.
"Kenapa" tanya Rena.
"Gak tau padahal kan Ning Isma cantik, baik, dan anak kiyai juga tapi Gus Adam tolak" ucap Gendis.
"Mungkin bukan tipikal Gus Adam" ucap Zia.
"Ya kak, Gus Adam itu sangat sulit di tebak, mungkin Gus Adam suka pada wanita yang seperti Ning Marwah" ucap Gendis.
"Ehemk" ucap Adam berdehem.
"Lagi apa" tanya Adam.
"Eh Gus mau ambil Wudhu" ucap Gendis.
"Ya sudah, silahkan mungpung kosong" ucap Adam.
"Ya Gus permisi" ucap Gendis dan teman temannya yang lain.
"Ya" ucap Adam.
"Ayo kak" ucap Rena.
__ADS_1
"Ya ayo" ucap Zia menatap pada Adam lalu pergi dari sana.
"Zia maaf" ucap Adam.
"Maaf untuk apa" tanya Zia heran pada Adam.
"Maaf karena semalam aku melihat ponsel mu tanpa ijin, Zia sungguh aku sangat bosan semalam jadi aku lihat ponsel mu" ucap Adam.
"Tak masalah lagi pula tak ada apa apa disana" ucap Zia.
"Yakin" tanya Adam.
"Ya, sangat yakin karena aku sendiri kan yang mempunyainya" ucap Zia.
"Foto mu yang sangat se ksi itu, tapi kau tenang saja aku skip kok" ucap Adam.
"Kau melihatnya" tanya Zia.
"Tidak aku meng skipnya kok" ucap Adam.
"Awas ya kalau kau melihatnya" ucap Zia.
"Tidak akan" ucap Adam.
"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Allaahu akbar, allahu akbar.."
Adzan Shubuh berkumandang di mesjid bahkan semua santri sudah berada di Mesjid untuk melaksanakan Sholat berjamaah.
Karena sekarang para santri akan ke pernikahan Ning Husna dan Ustadz Haddad, sekarang para santri di bebas belajarkan karena akan ikut memeriahkan acara pernikahan salah satu santri di sana.
Para santri semua nya sudah bersiap akan datang kesana, bahkan sudah banyak juga yang selesai bersiap dan menunggu di halaman pesantren.
Adam menatap pantulan cerminnya di kamarnya, Adam melihat lihat baju batik itu sangat bagus.
"Zia membawa ini jauh jauh dari kota hanya untuk ku" gumam Adam yang sekarang sudah salah tingkah.
Adam memakai celana bahan hitam sekarang tak pakai samping sarung lagi karena mengikuti atasanya, apa lagi batik dan samping sarung cukup berbeda dan tak cocok.
Adam keluar dari kamarnya, dia melihat ada Abah dan Umi yang sekarang berada di ruang tengah.
"Dam batik siapa itu" tanya Umi.
"Dari Zia Umi" jawab Adam.
"Neng Zia, memberikan ini" tanya Umi tak percaya.
"Ya Umi" ucap Adam.
"Sudah Umi jangan di tanya tanya lagi mereka kan teman, syukur syukur kalau jodoh" ucap Abah.
"Ya abah" ucap Umi.
"Umi aku pinjam baju gamis Umi" ucap Rena.
"Anak ini banyak baju tapi pakai punya Umi" ucap Umi.
"Ayo lah Umi hanya untuk sekarang saja" ucap Rena.
"Ya baiklah Umi akan ambil" ucap Umi yang langsung mengambil baju nya di kamar.
"Gus baju siapa ini" tanya Rena.
"Baju ku" ucap Adam.
"Oh" ucap Rena.
Sedangkan di kamar Zia sudah bersiap, namun Zia bingung karena dia tak punya kerudung yang senada,
"Aku pakai yang mana" gumam Zia.
"Ada apa kak" tanya Gita.
"Ini aku pakai baju warna biru tapi aku gak punya kerudung warna biru" ucap Zia.
"Kak pakai saja punya ku, ini baru di cuci kok" ucap Gita.
"Kalau kau pakai yang mana" tanya Zia.
"Aku pakai yang warna maroon karena kan bajunya juga warna maroon" ucap Gita.
"Ya boleh aku pinjam" ucap Zia.
"Boleh kak" ucap Gita.
Rena datang kesana dia bingung pada Zia.
"Aku kaya pernah melihat baju kakak tapi di mana ya" ucap Rena berfikir.
"Di tv mungkin" jawab Gita.
"Ya mungkin" ucap Rena.
"Ayo berangkat yang lain juga sudah berkumpul di halaman" ucap Rena.
"Ayo" ucap Gita.
Zia membuka tasnya dan membawa kado yang dia beli waktu di kota, Zia membawanya dan ikut keluar bersama dengan Ning Rena dan Gita.
Semua santri wanita kebanyakan membawa hadiah untuk pasangan penganting sekarang, hanya beberapa orang saja yang tak bawa hadiah dan mereka memberikan uang yang di masukan kedalam amplop.
Saat itu juga Zia dan Adam bertemu, Rena dan Gita menatap pada Adam dan Zia yang sekarang baju mereka couple.
"Cieee samaan" ucap Rena dan Gita.
"Pantas saja aku kaya pernah melihat baju kak Zia, ternyata Couple" ucap Rena.
"Apa salah jika Couple aku dan Gus Adam kan teman" ucap Zia.
"Tak salah cuman, ehemk" ucap Rena dan Gita meledek Zia dan Adam.
"Apa salah Gus" tanya Zia.
"Tidak salah cuman kenapa kau tak bilang kalau kita couple" tanya Adam.
"Apa aku tak pernah bilang" tanya Zia yang di balas gelengan kepala oleh Adam.
"Maaf kan aku Gus, aku rasa aku pernah memberi taukan pada mu tapi kenapa aku pelupa" ucap Zia.
"Tak masalah, terima kasih Zia kau sudah jauh jauh membawa baju ini untukku, pasti mahal kan" tanya Adam.
"Sebenarnya begini Gus, aku tak beli baju ini, ini baju pemberian dari teman aku katanya soupenir karena dia baru saja menikah, karena aku yakin baju ini sangat mahal aku membayarnya setengah" ucap Zia.
"Oh ya" tanya Adam.
"Ya aku bingung kan dia beri aku baju Couple tapi aku tak punya pasangan jadi aku berikan saja pada mu, jadi aku punya pasangan kan" ucap Zia.
"Zia sekarang aku to the poin saja ya" ucap Adam.
"Apa" tanya Zia.
"Aku mau menikah dengan mu, mau kan kau jalani ta aruf dengan ku tapi saat nanti kalau sudah menikah" ucap Adam.
"Ya aku mau" ucap Zia tersenyum manis pada Adam.
Namun sayang itu hanya lah lamunan Adam, bahkan Sekarang Adam tersadar dan melihat Zia yang sekarang tengah melambaikan tangannya di depan mukanya.
"Gus kau dengar tidak, sejak tadi kau malah bengong saja" gerutu Zia.
"Maaf aku dengar kok" ucap Adam.
"Baiklah ayo berangkat" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Adam.
"Aku kira beneran ternyata hanya bayangan saja" gumam Adam.
"Kau bicara sesuatu" tanya Zia.
"Tidak" ucap Adam.
__ADS_1
"Baiklah jangan banyak bicara sendiri" ucap Zia.
Bersambung...