Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 146


__ADS_3

Malam hari nya Adam bangun karena akan melaksanakan sholat tahajud.


Sekarang Adam menginap di rumah orang tua Zia.


Zia merasa pergerakan Adam yang baru saja bangun.


"Mau kemana" tanya Zia.


"Sholat mau ikut" tanya Adam.


"Ikut" ucap Zia.


"Baik lah ayo" ucap Adam.


Mereka berjalan ke arah kamar mandi.


"Gus sudah jam 2 pagi" ucap Zia.


"Ya ayo kita sholat sekarang ada waktu satu jam untuk sholat sebelum Sahur" ucap Adam.


"Baik lah ayo" ucap Zia.


Mereka melaksanakan sholat tahajud setelah itu mereka langsung sahur bersama dengan orang tua Zia.


"Nak Adam bagai mana hubungan kalian" tanya Topan.


"Alhamdulillah pah, ya aku memang salah karena tak berusaha mempercayai Zia" ucap Adam.


"Syukur lah kalau kalian sudah baikan, papah sangat malu karena ulah Zia" ucap Topan.


"Jangan begitu pah aku suaminya jadi kalau Zia gagal berarti aku yang gagal mendidiknya" ucap Adam.


"Tuh Zia ini pelajaran buat kamu kalau kedepannya kamu harus lebih hati hati" ucap Nita.


"Ya mah aku akan usaha kan" ucap Zia.


"Hari ini boleh kah saya membawa Zia pulang ke pesantren" tanya Adam.


"Boleh saja nak Adam kan Zia istri kamu jadi kamu bebas membawa Zia kemana saja" ucap Topan.


"Ya pah" ucap Adam.


"Tapi nanti setelah lebaran papah mau ajak kalian ke kota kita akan jiarah ke pemakaman nenek dan kakek nya Zia, kalian bisa ikut kan" tanya Topan.


"Ya pah insha Alloh kami ikut" ucap Adam.


"Ya" ucap Topan.


"Waktu nya sudah habis, sudah Zia jangan makan lagi" ucap Adam.


"Masih pukul 4 lebih" ucap Zia.


"Tapi sudah imsyak Zia" ucap Adam.


"Ya aku berdoa dulu" ucap Zia.


"Gak kerasa ya sudah mau 25 hari lagi, tak terasa cepat sekali kita akan lebaran idul Fitri" ucap Nita.


"Ya mah Begitu lah waktu cepat sekali berlalu" ucap Adam.


"Nak Adam tolong jaga Zia, karena kami gak akan selama nya ada jadi kami harap kau mau memaafkan semua kesalahan Zia" ucap Nita.


"Mamah ini ngomong apa, jangan begitu aku akan jaga Zia tanpa di minta pun Zia sudah menjadi tanggung jawab ku" ucap Adam.


"Ya kami hanya takut Zia tak ada yang jaga" ucap Nita.


"Mah aku bisa hidup sendiri tanpa siapa pun" ucap Zia.


"Benarkah tanpa Nak Adam saja kamu lupa makan" ucap Nita.


"Mah" ucap Zia merasa malu.


Siang hari nya di pesantren sudah kosong karena para santri sudah pulang, hanya ada Luthfi dan Dika saja di sana karena ojeg yang Dika pesan belum datang.


"Gus kau tak akan pulang" tanya Dika.


"Aku akan pulang tapi hanya beberapa hari saja" ucap Luthfi.


"Kenapa" tanya Dika.


"Malas sekali aku ada di rumah" ucap Luthfi.


"Apa kau sudah punya rumah sendiri" tanya Dika.


"Aku punya Alhamdulillah cuman kakak tiri ku ingin menguasai harta ku" ucap Luthfi.


"Kenapa begitu" tanya Dika.


"Kang hidup aku tak beruntung" ucap Luthfi.


"Yang sabar saja aku tau kok kalau ini sudah jalan takdir" ucap Dika.


"Ya aku percaya itu" ucap Lutfhi.


"Ojeg aku sudah datang" ucap Dika.


"Selamat sampai tujuan" ucap Luthfi.


"Ya Gus terima kasih" ucap Dika.


Luthfi hanya memandang kepergian ojeg yang membawa Dika.


Sekarang pesantren benar benar kosong hanya ada keluarga Abah saja di sana.


Karena setiap tahun kebanyakan para santri pulang tak ada yang boleh menetap di pesantren karena Abah tak mungkin bisa menjaga para santri saat idul Fitri karena Abah juga selalu bepergian.


Abah datang ke sana.


"Gus Luthfi bisa bantu Rena di kamarnya, dia mau membawa pakaian nya, anak itu memang ribet sekali" ucap Abah.


"Tak apa Abah" ucap Luthfi.


"Tolong ya" ucap Abah.


"Ya Abah baik lah aku akan ke sana" ucap Luthfi.


"Ya" ucap Abah.


Luthfi berjalan ke arah kamar santri putri benar saja di kamar nya itu hanya ada Rena saja yang sedang memasukan pakaian nya pada tasnya.


"Assalamualaikum" ucap Luthfi.


"Waalaikum salam" ucap Rena.


"Gus sedang apa di sini" tanya Rena menatap pada Luthfi yang hanya sendirian di sana.


"Mau bantu" ucap Luthfi.


"Tapi apa gak papa" tanya Rena.


"Gak papa" ucap Luthfi.


Luthfi membantu Rena mengangkat bantal dan selimut yang ada di atas kasur Rena.


Namun karena kamar itu cukup sempit dengan kasur yang berdekatan.


Luthfi kesusahan membawa nya apa lagi Rena juga ada di hadapannya.


"Ning awas" ucap Luthfi.


"Aku harus ke mana" tanya Rena.


"Keluar dulu" ucap Luthfi.


Namun langkah Rena sangat lah lambat sehingga Luthfi yang kesusahan membawa bantal dan selimut tak sengaja menabrak Rena.


Brugh


Rena terjatuh ke lantai sedang kan Luthfi dia tetap berdiri karena dia yang menubruk Rena.


"Aaaa Gus" ucap Rena.


Luthfi langsung menyimpan selimut dan bantal itu.

__ADS_1


Dengan cepat Luthfi membantu Rena berdiri Luthfi menduduk kan Rena di kasur.


"Ada yang sakit" tanya Luthfi.


Tangan Luthfi memegang tangan Rena.


Rena langsung menarik Tangan nya yang Luthfi sentuh.


"Aku tak apa" ucap Rena.


"Maafkan aku maafkan aku" ucap Luthfi.


"Tak apa" ucap Rena.


"Ada yang sakit" tanya Luthfi.


"Gak ada kok hanya sakit sedikit saja" ucap Rena.


"Syukur lah" ucap Luthfi.


"Gus kau akan pulang" tanya Rena.


"Ya aku akan pulang" ucap Luthfi.


"Tak bisa kah kau tinggal saja di pesantren" tanya Rena.


"Aku harus pulang aku malu sama Abah masa waktu mau puasa aku tak pulang dan mau lebaran juga aku tak pulang" ucap Luthfi.


"Oh" ucap Rena.


"Aku akan segera kembali" ucap Luthfi.


"Sekarang libur dua Minggu loh" ucap Rena.


"Aku tau tapi akan aku usaha kan untuk datang sebelum masuk lagi" ucap Luthfi.


"Baik lah" ucap Rena.


"Ning aku sudah meminta mu pada Rabb ku, semoga saja secepatnya aku bisa menghalalkan mu" ucap Luthfi.


"Kamu pikir aku haram jadi harus di halal kan" tanya Rena.


"Astaghfirullah bukan begitu aku ingin hubungan kita itu tak sekedar ta'aruf aku mau lebih" ucap Luthfi.


"Apa kau akan mencintai aku" tanya Rena.


"Aku sudah sejauh ini Ning, apa kau masih meragukan aku" tanya Luthfi.


"Aku percaya aku juga suka padamu, tapi Gus bagai mana kalau takdir berkata lain" tanya Rena.


"Aku akan berdoa semoga kita di persatukan" ucap Luthfi.


"Kau maksa ternyata" ucap Rena.


"Terkadang dengan memaksa kita akan dapat apa yang kita inginkan" ucap Luthfi.


"Gak ada lah gak ada yang seperti itu" ucap Rena.


"Ada hanya saja kau tak tau, baik lah ayo segera masuk kan kita sudah lama di sini nanti di kira melakukan apa apa" ucap Luthfi.


"Gus kau membuat Selimut aku kotor" ucap Rena.


"Aku akan cuci" ucap Luthfi.


"Gak usah lah untuk lantai nya sudah aku pel" ucap Rena.


"Aku duluan ya" ucap Luthfi.


"Ya Gus terimakasih" ucap Rena.


Adam dan Zia baru saja datang ke sana dia melihat Luthfi yang membawa selimut dan bantal Rena dan Rena membawa kantong besar di belakang Luthfi.


"Mereka romantis ya" ucap Zia.


"Romantis siapa mereka atau kita" tanya Adam yang langsung mencium Zia.


Zia hanya tersenyum saja melihat tingkah suaminya itu.


Luthfi melihat Rena yang berteriak.


"Apa" tanya Luthfi.


"Gus Adam cium Kak Zia" ucap Rena.


"Aku pikir apa" ucap Luthfi.


"Mereka gak asik" ucap Rena.


"Kita juga akan melakukan nya kalau sudah menikah" ucap Luthfi.


Rena hanya tersenyum membayangkan waktu yang akan datang itu.


Adam dan Zia masuk ke dalam rumah mereka melihat Umi, Rena dan Luthfi yang sudah duduk di sana.


"Assalamualaikum" ucap Adam dan Zia.


"Waalaikum salam" ucap serempak.


"Kaya nya ada yang sudah baikan nih" ucap Rena.


"Ya" ucap Adam.


Zia dan Adam menyalami tangan Umi dengan takzim Zia duduk di sana bersama dengan yang lain sedang kan Adam menyimpan dahulu tak Zia.


"Gus Luthfi apa kau tak akan pulang" tanya Adam.


"Aku akan pulang nanti sore" ucap Luthfi.


"Kenapa pulang Gus menginap saja di sini" tanya Umi.


"Umi ada seseorang yang menunggu ku di sana" ucap Luthfi.


"Kayanya sangat spesial" tanya Adam.


"Dia jauh lebih spesial" ucap Luthfi.


"Waw sepesial apa orang itu" tanya Adam.


"Dia cinta pertama ku" ucap Luthfi.


Semua orang di sana tertawa.


"Aku pikir Gus Luthfi yang dingin ini tak bisa bucin" ucap Zia.


"Ya aku juga manusia" ucap Luthfi.


"Ya semoga selamat sampai tujuan Gus" ucap Umi.


"Ya umi terima kasih" ucap Luthfi.


"Baik lah Umi akan mencari Abah sore nanti kita akan ke pengajian, Neng Zia mau ikut" tanya Umi.


"Ikut umi" ucap Zia.


"Ya umi akan tanya Abah dulu" ucap Umi yang langsung pergi dari sana keluar.


"Gus kau punya kuota" tanya Zia.


"Ada" ucap Adam.


"Aku mau hotspot dong mau lihat akun ku" ucap Zia.


"Ambil saja sendiri" ucap Adam.


Zia masuk ke dalam kamarnya namun Zia tak menemukan ponsel Adam.


"Gus di mana" tanya Zia.


"Ada di sana" ucap Adam.


"Gak ada" ucap Zia.


Adam langsung masuk ke dalam kamar nya, membantu Zia mencari ponsel nya.

__ADS_1


Sedang kan Luthfi dia tengah melihat wajah Rena yang terlihat bete.


"Ada apa" tanya Luthfi.


"Siapa" tanya Rena.


"Kamu" ucap Luthfi.


"Bukan tapi siapa orang yang spesial yang menunggu mu" ucap Rena.


"Astaghfirullah Ning dia itu Mbok Ami dia orang yang merawat aku dari kecil" ucap Luthfi.


"Oh" ucap Rena.


"Tapi aku akan kembali lagi karena ada orang yang sangat sangat spesial menunggu ku di pesantren" ucap Luthfi.


"Terserah" ucap Rena.


"Mobil ku sudah datang apa kau tak mau mengantar ku" tanya Luthfi.


"Mengantar ke mana" tanya Rena.


"Sudah lah tak apa kalau tak mau mengantar" ucap Luthfi.


"Baik lah ayo" ucap Rena.


Rena mengantarkan Luthfi tepat ke mobil nya karena tas Luthfi ada di rumah Umi jadi dia tak perlu ke kamar nya lagi.


"Selamat pagi tuan" ucap supir nya.


"Kau datang lebih cepat padahal aku mau menghabiskan waktu ku Lebih banyak" ucap Luthfi.


"Kalau begitu saya bisa pulang dulu" ucap supir Luthfi.


"Jangan kita pulang sekarang" ucap Luthfi.


"Baik tuan" ucapnya memasukan tas Luthfi pada bagasi.


"Mana pesanan ku" tanya Luthfi.


"Di jok belakang tuan" ucap supir Luthfi.


Luthfi mengambil beberapa paper bag di dalam mobil nya.


"Aku hanya punya ini" ucap Luthfi.


"Jangan" ucap Rena.


"Terima lah" ucap Luthfi.


"Baik lah terima kasih" ucap Rena.


"Sama sama, aku pulang sekarang" ucap Luthfi.


"Ya segera lah kembali" ucap Rena.


"Pasti" ucap Luthfi.


Mobil itu melaju ke arah luar pesantren Rena hanya memandang saja.


Zia datang ke sana dan mengejutkan Rena yang sedang melamun.


"Dorr" ucap Zia.


Sontak saja Rena terkejut.


"Kak Zia kau tega sekali" ucap Rena.


"Melamun" ucap Zia menggoda Rena.


"Gak kak" ucap Rena.


"Apa itu" tanya Zia.


"Gak tau pemberian dari Gus Luthfi kak aku mohon jangan kasih tau Umi" ucap Rena.


"Gak akan Karena kalau tau pun pasti umi mengira itu pemberian mamah mu" ucap Zia.


"Ya" ucap Rena.


Sore hari nya Zia pengajian bersama dengan umi dan Rena namun Rena mendapatkan tugas membaca kan ayat suci Al Quran jadi dia duduk di depan.


Sedangkan Zia paling belakang.


Seorang ibu ibu mendekat pada Zia.


"Kau dari pesantren" tanya nya.


"Ya aku istrinya Gus Adam" ucap Zia.


"Sekarang pesantren kosong ya" tanya nya.


Zia mengernyitkan dahi nya.


"Ya semua santri pulang" ucap Zia.


"Hati hati pesantren itu kalau tak ada orang suka ada mahluk halus" ucap ibu itu.


"Maksud nya" tanya Zia.


"Ya beberapa orang pernah lihat kalau di pesantren itu ada wanita berambut panjang dengan kaki yang melayang" ucapnya.


"Aku tak pernah lihat" ucap Zia.


"Ya karena pesantren ramai mahluk itu tak akan datang tapi kalau pesantren sepi mahluk itu akan senang ada di sana" ucap Ibu itu menakuti Zia.


"Masa sih" tanya Zia.


"Ya tanya saja pada orang orang di sini mereka banyak yang sudah melihat" ucap Ibu itu semakin menjadi jadi menakuti Zia.


"Kau tau bahkan di bawah pohon rindang di pesantren itu ada genderewo" ucap Ibu itu.


"Apa" tanya Zia.


"Ya para warga banyak yang lihat" ucap Ibu itu.


"Kalau gak percaya tanya saja pada orang orang" ucap ibu itu lagi.


Zia sampai kepikiran dengan ucapan ibu itu hingga malam hari setelah sholat tarawih Zia merasa takut kalau harus keluar sendiri.


"Gus apa benar di pesantren ini ada hantu" tanya Zia.


"Katanya ada cuman aku belum pernah lihat" ucap Adam.


"Jadi ucapan orang orang itu benar" tanya Zia.


"Kata orang lain sih benar" ucap Adam.


"Jadi di pesantren ini banyak" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam yang membuat Zia semakin ketakutan.


Adam tertidur sedang kan Zia masih memikirkan hal itu.


rasa takut nya membuat Zia merasa tak mengantuk.


"Gus kau sudah tidur" tanya Zia.


"hemm" ucap Adam.


hingga malam semakin larut Zia tak bisa tidur rasanya memejamkan mata pun sangat sudah bagi Zia.


Zia melihat ke arah sekitar tak ada apa apa.


brughh


"suara apa itu" gumam Zia sambil memeluk Adam.


**bersambung..


Apa ini jebakan bagi Zia?


kalau ya siapa yang berani menjebak Zia**?

__ADS_1


__ADS_2