Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 162


__ADS_3

Pagi hari nya Zia sudah mengemasi barang barang nya dia akan pulang pada orang tuanya, kejadian semalam sangat membuat Zia sakit hati dengan jelas sejak kalau Zia melihat Adam dan Aulia berpelukan.


Zia keluar dari kamar nya dia melihat Adam yang berbaring di depan kamar nya dengan kepala yang bersandar pada dinding.


Karena merasakan pergerakan Adam langsung terbangun dia melihat Zia yang sudah membawa koper, bukan lagi tas tapi ini langsung dengan koper nya.


"Kamu mau kemana" tanya Adam.


"Aku mau pulang secepat nya aku akan urus surat perceraian Kita" ucap Zia.


"Gak bisa aku belum menjatuhkan talak pada mu" ucap Adam.


"Baik lah talak aku" ucap Zia.


"Gak aku ga akan menalak mu" ucap Adam.


"Jangan egois" ucap Zia.


(Jangan di sia sia kan Zia nanti Gus Adam nya di ambil Mak othor gimana, masih mending di ambil Mak othor ini di ambil tuhan nya bagai mana)


Zia dia langsung menarik koper nya menjauh pada Adam.


Saat ini para santri sudah ada di mesjid tengah sholat subuh.


Adam yakin kalau umi dan Abah tau soal Adam yang tertidur di depan pintu kamar.


"Baik lah Zia aku akan antarkan kau pulang" ucap Adam pasrah.


Zia berhenti dan melepaskan pegangan tangan nya pada koper, Adam paham kalau Zia menyuruh nya untuk membawa kan koper nya.


Adam paham karena koper yang Zia bawa sangat lah berat.


"Aku gak akan menalak mu" ucap Adam.


"Tunggu saja surat perpisahan dari ku" ucap Zia.


"Zia tunggu ada yang mau aku jelas kan" ucap Adam memegang tangan Zia.


Namun dengan cepat Zia menepisnya karena dia tak mau di sentuh Adam.


"Aku mau jelaskan sesuatu tolong dengar kan aku" ucap Adam.


"Waktu mu lima menit" ucap Zia ketus.


"Aku mau jelaskan kalau aku tak salah, dan tolong jangan berasumsi kalau semua ustadz itu berpoligami karena aku bukan salah satu nya, dan mereka juga tak salah jadi tolong jangan berasumsi begitu, dan satu lagi aku tak akan menalak mu" ucap Adam.


"Sudah" tanya Zia.


"Sudah".


Zia langsung pergi dari sana meninggal kan Adam, tiba tiba saja air mata Zia menetes dia tak sanggup menerima kenyataan itu.


"Sudah lah, laki laki sama saja" gumam Zia.


Mereka berdua berjalan beriringan bahkan sejak tadi juga Adam selalu berbicara walaupun tak di tanggapi oleh Zia.


Sedangkan Zia hanya menetes kan air mata saja mengingat kejadian semalam.


"Ya Alloh apa yang akan orang tua Zia perbuat pada ku, aku tau Zia pasti sangat cemburu hingga cemburu nya itu membuat dirinya menjadi angkuh dan merasa kalau dia lah yang paling tersakiti, Zia maafkan aku" batin Adam.


"Sudah jangan menangis" ucap Adam.


"Apa aku salah jika menangisi suami ku yang semalam bersama dengan wanita lain" ucap Zia.

__ADS_1


"Zia ayo lah maafkan aku" ucap Adam.


Zia tak menyahuti ucapan Adam dia terus saja berjalan menuju ke arah rumah orang tua nya.


Hingga tak sengaja Zia menginjak batu hingga membuat kaki nya kesakitan.


"Awwss" Zia meringis kesakitan.


Adam langsung panik dia melihat Kaki Zia, "aku gendong ya" ucap Adam.


"Gak usah" ucap Zia ketus sambil melanjutkan perjalanan nya.


Namun Zia berjalan tertatih tatih dengan cepat Adam langsung menggendong Zia, karena masih sangat pagi jadi jalanan masih gelap juga.


Zia menatap pada Wajah Adam yang sejak tadi tak marah padahal Zia sudah meminta talak.


Walau pun menggendong Zia, Adam tetap tak melupakan koper Zia yang berat itu tangan nya mengangkat berat badan Zia namun dengan membawa koper juga.


Hingga sampai ke halaman rumah orang tua Zia.


Adam menurunkan Zia dari gendongan nya, Adam juga mendekat kan wajahnya pada Zia hingga saat Zia berbalik Zia langsung mencium Adam.


Plakk


Zia menampar Adam, namun Adam hanya tersenyum saja mendapatkan tamparan saja dari Zia.


"Terima kasih sudah mengingat kan kalau wanita sedang marah itu tak suka disentuh" ucap Adam.


Zia langsung mengetuk pintu rumah orang tua nya itu.


Nita datang ke sana untuk membuka kan pintu.


"Zia" ucap Nita yang langsung memeluk ibunya itu.


Sebagai seorang ibu Nita merasakan curiga pada Adam apa lagi Zia membawa koper.


"Nak Adam ada apa" tanya Nita.


"Begini Mah" ucap Adam yang hendak menjelaskan namun dia sangat susah untuk bicara.


"Dari mana aku harus memulai nya" gumam Adam.


"Gus Adam selingkuh mah" ucap Zia.


"Hah apa" tanya Nita terkejut.


Adam dan Zia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Nita dan Topan juga ada di sana.


"Ada apa ini" tanya Topan menatap Adam dan Zia secara bergantian.


Jujur saja sebagai seorang menantu Adam merasa sangat gugup karena di tanyakan oleh mertua nya.


"Ada apa" tanya Topan bertanya lagi.


"Pah aku mohon maaf aku tak sengaja melakukan ini" ucap Adam.


"Melakukan apa" tanya Nita.


"Adam selingkuh mah" ucap Zia yang langsung menangis.


Topan terlihat marah tapi bukan pada Adam justru topan marah pada Zia.


"Zia sudah aku katakan hormati suami mu" ucap Topan sambil meninggikan suaranya.

__ADS_1


Zia hanya menunduk saja karena takut pada papahnya itu.


"Sudah pah tak apa" ucap Adam.


"Diam kau, papah dan mamah hanya membela mu saja, jangan seolah aku yang jadi antagonis nya ya" ucap Zia.


"Zia" bentak Topan.


"Pah tapi beneran dia yang salah" ucap Zia.


"Zia panggil suami mu dengan benar" ucap Topan.


"Aku sangat menyesal tapi yang Zia lihat adalah salah paham aku tak melakukan apa apa namun saat Zia melihat aku dan Ustadzah Aulia tengah berdekatan, tapi aku berani bersumpah kalau saat itu aku tengah membantu dia mengambil ulat bulu di kerudung nya, ustadzah Aulia saja yang mendekat pada ku sehingga Zia berpikir kalau aku dan dia berpelukan" ucap Adam.


"Lalu kalau aku salah lihat kenapa kau ada di mesjid dan bersama dengan Aulia" tanya Zia.


"Kau mengusir aku kan" ucap Adam.


"Argggh aku benci kau Gus Adam, pokoknya aku akan atur perceraian kita secepatnya" ucap Zia yang langsung pergi dari sana menuju kamar nya.


"Zia" ucap Adam.


Langkah Zia terhenti.


"Aku harap kau tak menemui aku lagi, lupakan aku" ucap Zia dengan nada ketus.


Adam tak bisa berbuat apa apa lagi karena dia sadar kalau Zia sudah sangat marah padanya.


"Pah, maafkan aku" ucap Adam.


"Tak apa nak Adam, salah paham itu sudah biasa, kau harus tau kalau dahulu aku juga pernah Mengalami nya hingga aku kehilangan Nita selama beberapa bulan" ucap Topan.


"Kenapa bisa" tanya Adam.


"Nita salah paham saat itu keadaan nya cukup menjebak jadi Nita marah pada ku yang lebih parahnya Nita sedang mengandung Rayhan dan aku jauh dari istri dan anak ku, aku tak pernah menemukan nya hingga saat itu aku menemukan nya dan yang paling mirisnya itu Nita kecelakaan bahkan dokter menyatakan kalau Rayhan sudah meninggal dalam kandungan, tapi Alloh masih sayang pada ku dia memberikan Rayhan keajaiban hidup sampai sekarang" ucap Topan.


"Alhamdulillah kalau begitu" ucap Adam.


"Nak Adam terkadang seorang wanita butuh waktu untuk pulih dari masalah nya, Zia akan ada di sini datang lah lain waktu dan jelaskan semua nya" ucap Topan.


"Ya pah aku cukup sibuk sekarang di pesantren banyak sekali yang harus di kerjakan apa lagi kita mau ulangan" ucap Adam.


"Ya pergi lah Zia aman di sini" ucap Topan.


"Aku titip Zia pah" ucap Adam.


"Ya tak masalah dia aman di sini" ucap Topan.


"Bisa aku temui Zia" tanya Adam.


"Silahkan nak Adam" ucap Topan.


Adam mendekat pada kamar Zia, Adam mengetuk ngetuk pintu kamar Zia.


Tokk


Tokk


Tak ada jawaban dari Zia padahal saat ini Zia tengah menangis di depan pintu nya.


"Zia aku pulang ya, besok aku datang lagi" ucap Adam.


Zia tak menyahuti dia hanya menangis saja tanpa bersuara.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2