Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 15


__ADS_3

Zia menunggu Marwah sampai siuman, dan tak lama kemudian Marwah bangun dari pingsannya.


"Jangan bangun dulu kau masih belum pulih" ucap Zia menatap Marwah.


"Kenapa aku" tanya Marwah.


"Kau pingsan di halaman depan" jawab Zia.


"Lalu apa saja yang terjadi" tanya Marwah.


"Kau tau Bidan datang kesini dia memberi tau aku kalau kau mengandung" ucap Zia menatap lurus pada Marwah.


"Apa, lalu apa Gus Adam juga tau" tanya Marwah ketakutan.


"Kau tenang saja, malahan seharusnya kau berterima kasih padaku karena berkat aku bidan itu menjadi bungkam" ucap Zia.


"Oh ya, terima kasih Zia" ucap Marwah.


"Ning apa kau semacam bod*h atau tak ber*kal" tanya Zia menatap getir Marwah yang sekarang duduk di hadapannya.


"Maksud mu apa" tanya Marwah.


"Kau tau kau mengandung tapi kau tak memberi taukan ayah ibu mu, bahkan sebentar lagi kau akan menikah Ning dengan Gus Adam, bagaimana kalau orang lain tau kalau Ning Marwah yang alim ini sudah mengandung anak laki laki lain" ucap Zia.


"Ya makannya aku datang kesini aku ingin meminta pertanggung jawaban dari gus Adam" ucap Marwah.


"Kau nekad ning" ucap Zia.


"Demi kepentingan mu sendiri kau rela menyakiti Gus Adam, bagaimana reaksi Gus Adam kalau tau ternyata wanita yang dia idam idam kan itu seperti ini" ucap Zia.


"Makannya jangan sampai Gus Adam tau" ucap Marwah enteng.


"Aku kira hanya aku lah yang nak*l di pesantren ini tapi ternyata kau lebih parah dari ku, bahkan kebusukan mu kau tutupi dengan secarik kain yang kau sebut dengan cadar" ucap Zia.


"Zia tapi aku terpaksa" ucap Marwah.


"Oh ya, tak ada maling yang mau ngaku Ning" ucap Zia.


"Kau tau kan bagaimana hidup di kota" tanya Marwah.


"Ya justru aku tau kehidupan di kota itu seperti apa, jadi aku paham betul pada masalah mu" ucap Zia.


"Duduklah dan dengarkan aku bercerita" ucap Marwah.


"Apa" tanya Zia.


"Kau tau, hidup di kampung itu tak seindah kenyataanya dulu saat aku remaja aku memutuskan untuk kuliah di singapura, tak ada maksud lain hanya ingin belajar dan meraih kesuksesan tapi realita tak semanis ekspetasi, aku terlantar di sana bahkan saat itu aku hanya tinggal di kosan yang kumuh bahkan itu pun aku tak bisa membayarnya, aku telpon berkali kali Abi dan Umi ku tapi perekonomian mereka sedang kacau, aku memutuskan untuk bekerja di waktu ku yang senggang namun mencari pekerjaan sangat susah Zia bahkan untuk aku yang tak punya pengalaman apa apa" ucap Ning Marwah menghela nafasnya.

__ADS_1


"Aku terpaksa menjadi bu dak ranjang seorang Cassanova bernama Glend antonio Mahesta, kau tak akan tau betapa menderitanya aku di sana tapi aku bisa sampai sejauh ini karena aku bekerja padanya, saat aku ada kesempatan aku memutuskan untuk pulang ke kampung ini dan itu pun dengan memboyong bayi dalam kandungan ku ini, aku tau Gus Adam sangat menunggu ku bahkan dahulu dia pernah bilang suka padaku tapi aku hanya mengabaikannya, kau tau Zia betapa di sanjungnya aku saat pulang kesini" ucap Ning Marwah yang mendapat gelengan kepala dari Zia.


"Anak Ustadz yang tinggal di kampung bisa sukses di luar negri" lanjutnya lagi.


"Lalu jika kau sudah lepas darinya kenapa dia ikut bersama mu kesini, laki laki itu Glend dia datang kemari kan" tanya Zia.


"Ya dia meminta gantinya, karena aku pergi dia tak punya lagi bu dak, jadi dia datang dan meminta gantinya" ucap Marwah.


"Kenapa tak kau suruh saja dia untuk mencarinya sendiri, bahkan banyakkan wanita yang bisa dia jadikan Bu dak di negara itu" ucap Zia.


"Aku gak tau" ucap Marwah.


"Lalu bagaimana sekarang" tanya Zia.


"Kau tenang saja saat ada kesempatan aku akan mengatakannya pada Gus Adam" ucap Marwah.


"Aku tunggu ucapan jujur mu Ning" ucap Zia yang langsung pergi dari sana.


"Manusia tetap lah manusia, se alim apa pun mereka tetap saja mereka pernah melakukan kesalahan" batin Zia sambil tersenyum tipis.


Sore harinya Zia membantu Umi menanam jagung di ladang yang kosong depan pesantren, Zia memasukan tiga biji benih jagung pada tanah yang sudah Umi lubangi.


"Neng, ari di kota kamu sok nanem sayuran" tanya Umi.


"Hah, tidak Umi tidak pernah mana ada ladang di kota" ucap Zia.


"Oh ya tapi kenapa Umi memakai bahasa Sunda" tanya zia.


"Umi dulu si paling bahasa sunda, tapi pas Umi nikah sama Abah mertua Umi itu jahat Neng" ucap Umi.


"Oh ya apa saja yang di lakukan mertua Umi" tanya Zia.


"Umi di marahin habis habisan pedah dulu Umi teh tak pakai kerudung, terus Umi juga ngan bisa bahasa sunda jadi Umi di marahin bebeakan, pas kitu teh Umi belajar bahasa Sunda, ehh keterusan sampai sekarang" ucap Umi.


"Hahah, Umi Lucu kenapa gak Umi lawan saja" ucap Zia.


"Ya dulu Umi ngelawan cuman mereka marah pakai bahasa sunda untung Umi te ngarti coba lamun ngarti mereka Umi ge amek" ucap Umi.


"Amek?" ucap Zia.


"Marah" ucap Umi.


"Oh" ucap Zia.


"Lalu apa Umi gak sampai di pukul" tanya Zia.


"Di pukul? Tidak, hanya saja Umi harus belajar bahasa sunda jeng ya belajar masak, belajar Agama" ucap Umi.

__ADS_1


"Apa dulunya Umi sama denganku" tanya Zia.


"Ya bahkan Umi lebih parah tapi Umi tak sampai mabuk, hanya nakal saja tidak lebih" ucap Umi.


"Apa mertua Umi marah saat tau Umi nakal" tanya Zia.


"Tentu saja".


" lalu apa mertua aku nanti akan marah kalau aku nakal, aku takut menjadi pembantu nanti" ucap Zia.


"Neng sejahat jahatnya mertua tetap saja dia ibu kita, ya walau pun agak sedikit lebih garang tapi tetap harus kita hormat" ucap Umi.


"Ya sih, tapi bagaimana kalau nanti aku di pukul, atau aku di cek kik bagaimana" tanya Zia.


"Makannya menikah dengan Adam, jadikan kamu jadi menantu Umi dan Umi jadi mertua kamu" ucap Umi sambil cengengesan.


"Ihhh amit amit" ucap Zia.


"Hahah jangan begitu nanti jodoh loh" ucap Umi.


"Umi apa Umi tau, Gus Adam itu sangat galak padaku apa Umi tau dia marah terus, malahan aku bersyukur kalau Gus Adam secepatnya menikah, ya tapi aku gak setuju kalau sama Ning Marwah" ucap Zia blak blakan pada Umi.


"Kunaon" tanya Umi.


"Ya hanya dari segi pandangan aku saja Umi, aku rasa Gus Adam tak cocok dengan Ning Marwah" ucap Zia.


"Ya kita gak tau Neng, siapa jodoh Adam dan bahkan kita pun belum tau siapa jodoh kita" ucap Umi.


"Ya Umi bahkan aku juga ingin segera menikah" ucap Zia.


"Kenapa" tanya Umi.


"Aku ingin segera di nafkahin Umi" ucap Zia.


Hahaha


Mereka berdua tertawa bersama.


"Tapi Neng kalau kamu mau kamu bisa Sholat Istikharah" ucap Umi.


"Sholat apa itu" tanya Zia.


"Sholat Istikharah adalah Sholat untuk membantu menemukan hal yang tepat, misalkan dalam memilih jodoh contohnya atau pekerjaan, dan masalah kuliah" ucap Umi.


"Oh entahlah Umi aku masih menunggu sekarang" ucap Zia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2