Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 55


__ADS_3

Brakk


"sedang apa kalian" tanya seseorang.


"hah" ucap adam dan Zia serempak.


"Kalian sedang apa" tanya Topan yang tak lain adalah papahnya Zia.


Beberapa menit sebelumnya..


Topan, nita, Rayhan dan Raya baru saja sampai di sana karena permintaan orang tuanya yang sekarang akan pulang jadi Rayhan sebagai anak sulungnya hanya bisa mengiyakan.


Topan bingung karena rumahnya sekarang tidak di kunci.


"Apa Zia lupa ya mengunci pintu, tapi mana mungkin karena Zia bukan orang pelupa" ucap Topan.


"Tak apa mas mungkin Zia lupa kunci" ucap Nita.


Semua orang masuk ke dalam rumah.


"Rumah nya sudah bersih apa Zia yang bersihkan" tanya Nita.


"Mungkin saja" ucap Topan.


"Mah apa pesantren Zia jauh dari sini" tanya Rayhan ada Mamahnya.


"Lumayan" ucap Nita.


"Kapan kapan main kesana mah" ucap Rayhan.


"Ya" ucap Nita.


Topan hendak ke kamar mandi.


"Ini kenapa pintunya macet" gumam Topan.


Topan sedikit mendorong pintu itu dan akhirnya terbuka juga, namun betapa terkejutnya Topan saat melihat putrinya dan seorang laki laki yang sangat Topan kenal.


Brak


"Sedang apa kalian" tanya Topan.


"Pah" ucap Zia yang langsung keluar dan melihat ada papahnya yang datang.


Nita, Raya, dan Rayhan pun melihat kesana ada kejadian apa.


"Zia kau di sini" tanya Nita.


Semua orang terkejut saat melihat ada Adam juga yang keluar dari kamar mandi.


"Nak Adam kenapa bisa di sini bersama dengan Zia" tanya Nita yang tak marah sedikit pun karena Nita sudah tau kalau Zia lah penyebabnya.


"Bu maaf jangan salah paham dahulu, kami tak melakukan apa apa" ucap Adam.


"Tak apa Nak Adam, kami paham" ucap Topan.


"Pak beneran kami gak melakukan apa apa" ucap Adam mencoba menjelaskan.


"Ayo duduk lah dulu" ucap Topan.


"Awas kau kalau macam macam pada adik ku" ucap Rayhan mengepal kan tangannya di hadapan Adam.


"Zia ayo bicara" ucap Adam.


"Ya Gus aku akan bicara kau tenang saja" ucap Zia.


"Kalau semuanya menjadi runyam maka aku tak akan maafkan kamu Zia" gumam Adam.


Mereka semua duduk di ruang tamu.


"Pah, mah aku dan Gus Adam datang kemari tadinya aku dan Gus Adam membereskan rumah aku masak mie, bukan aku sih tapi lebih tepatnya Gus Adam yang masak mie, lalu kami akan Sholat di sini saat aku mau wudhu ada katak kecil aku meminta bantuan Gus Adam tapi pintunya macet" ucap Zia panjang kali lebar mencoba menjelaskan.


"Lalu" tanya Topan dan Nita dengan wajah yang serius serta seolah tak percaya.


"Mati aku" batin Adam khawatir kalau keluarga Zia berfikir yang bukan bukan.


"Ya tak ada hanya terkunci" ucap Zia.


"Hahahah kami hanya bercanda, Nak Adam tenang saja jangan tegang begitu" ucap Topan.


"Ya pak" ucap Adam.


"Kalau pun ya kami tak akan menyalahkan kamu nak Adam, kami akan salah kan Zia karena mana mungkin Ustadz seperti mu mau sama Zia" ucap Nita.


"Hahah" ucap Adam tertawa bohong karena tak tau dia harus mentertawakan apa.


"Mah, mamah ini selalu saja menyalahkan aku" ucap Zia.


"Awas saja kalau sampai ada apa apa aku tak akan segan segan menikahkan kalian ber dua" ucap Rayhan.


"Ya kak" ucap Adam.


"Kak kau tak percaya pada adik mu ini" ucap Zia.


"Aku tak percaya pada ucapan mu Zia" ucap Rayhan.


"Kak ayo lah aku jujur" ucap Zia.


"Kalau sampai terjadi apa apa aku harap kau yang akan bertanggung jawab pada Zia" ucap Rayhan menatap tajam pada Adam.


"Ya kak" ucap Adam.


"Mah pah aku akan Sholat Dzuhur dulu karena insiden ini aku dan Gus Adam tak jadi Sholat" ucap Zia.


"Ya Sholat lah dulu di kamar kamu Zia" ucap Topan.


"Ayo gus" ucap Zia pada Adam.


"Saya permisi" ucap Adam.


"Pah apa tak sebaik nya kita nikah kan saja mereka" tanya Rayhan.


"Hah" semua orang yang ada di sana terkejut.

__ADS_1


"Rayhan mana mungkin nak Adam itu anak Abah Zakaria dia pemilik pesantren itu" ucap Nita.


"Tapi mah aku fikir laki laki itu suka pada Zia" ucap Rayhan.


"Mana mungkin, dia itu jiwa sosial nya tinggi jadi akrab dengan semua orang" ucap Topan.


"Mas ayo lah jangan bicara begitu" ucap Raya.


"Tapi waktu itu juga pernah saat Zia di culik laki laki itu datang dari sini ke kota pakai motor, bayang kan selama tiga jam setengah dia naik motor se pegal apa tangannya" ucap Rayhan.


"Sudah lah dia itu memang baik jadi apa yang akan di curigai" ucap Nita.


Sedangkan Sekarang Zia dan Adam tengah berada di kamar yang penah Zia tempati,


"Kau tau Zia aku malu pada keluarga mu" ucap Adam.


"Kenapa malu" tanya Zia.


"Ya karena kejadian barusan" ucap Adam.


"Kenapa malu Gus keluarga aku ngerti kan" ucap Zia.


"Kita menikah saja" ucap Adam.


"Hah" ucap Zia terkejut mendengar hal itu.


"Gus apa yang kau bilang" tanya Zia.


"Ya kita menikah saja, aku malu pada keluarga mu" ucap Adam.


"Gus tapi nikah itu bukan hal yang gampang" ucap Zia.


"Bukannya kau kepepet ingin menikah" ucap Adam.


"Ya tapi kau teman ku Gus, aku tak akan mungkin melibatkan perasaan dengan pertemanan" ucap Zia.


"Tapi Zia" ucap Adam.


"Sudah lah ayo Sholat Dzuhur" ucap Zia.


"Ya ayo" ucap Adam.


Mereka menyelesaikan Sholat Dzuhur secara berjamaah, Adam yang sekarang menjadi imamnya, sungguh sekarang Adam merasa sangat malu pada keluarga Zia apa lagi kejadian tadi.


"Assalamualaikum waroh matulloh" ucap Adam sambil melihat ke arah samping kanan dan kiri secara bergantian.


Adam mengadahkan tangannya dan berdoa, sedangkan Zia yang menjadi makmum dia hanya meng amini Doa yang di ucapkan Adam.


"Amin" ucap Adam.


"Amin" ucap Zia.


Adam menyodorkan tangannya pada Zia, dan Zia menyalami tangan Adam.


Setelah selesai mereka merasa bingung.


"Kaya ada yang salah gak sih" tanya Adam.


"Salah apa" tanya Zia.


"Kita bukan muhrim" ucap Adam dan Zia secara bersamaan.


"Kamu Gus yang salah, kamu kan yang menyodorkan tangan baru san" ucap Zia.


"Aku" tanya Adam.


"Ya kau" ucap Zia.


"Sudah lah, Zia kenapa kita tak menikah saja" tanya Adam.


"Menikah" tanya Zia.


"Ya menikah" ucap Adam.


"Aku gak mau nikah Gus, kita teman kan" ucap Zia.


"Ya sudah" ucap Adam yang langsung keluar dari sana yang langsung di tatap tajam oleh keluarga Zia.


"Nak Adam" ucap Topan.


"Ya pak" ucap Adam yang ikut gabung di sana.


"Bagai mana kabar Abah" tanya Topan.


"Baik pak" ucap Adam.


"Sekarang Ustadz Hasan menikah kan putrinya jadi semua santri dan Abah ikut ke acara pernikahan nya" ucap Adam.


"Oh" ucap Topan.


"Pah Mah aku harus pulang sekarang" ucap Zia.


"Sekarang" tanya Nita.


"Ya mah karena aku dan Gus Adam sudah terlalu lama di sini" ucap Zia.


"Makan lah dulu" ucap Nita.


"Ya nak Adam" ucap Topan.


"Jangan pak tadi juga saya sudah makan mie di sini bersama dengan Zia" ucap Adam.


"Apa siapa yang masak" tanya Nita.


"Yang masak Zia, aku bantu sedikit" ucap Adam yang tak mau menyinggung keluarga Zia.


"Zia yang masak" tanya Nita.


Hhahah


Semua orang yang ada di sana tertawa terbahak bahak karena setau mereka Zia memasak mie kemarin juga sampai gosong.


"Apa tak gosong" tanya Nita.

__ADS_1


"Hah tidak Bu" ucap Adam.


"Maaf nak Adam, karena bagi kami lucu saja kalau Zia masak apa lagi kemarin juga gosong" ucap Topan.


"Ya pak" ucap Adam.


"Nak Adam maaf kalau masakan Zia kurang enak" ucap Nita.


"Tak apa Bu" ucap Adam.


"Bu pak aku permisi" ucap Adam.


"Baik lah titip Zia ya Nak Adam" ucap Topan.


"Ya pak" ucap Adam.


"Assalamualaikum pak bu" ucap Adam.


"Waalaikum salam" ucap Nita dan Topan.


Adam dan Zia pulang ke pesantren dengan berjalan kaki, karena kemungkinan Adam dan Zia melewatkan Sholat Dzuhur bersama dan tausiah.


Karena insiden tadi membuat Adam dan Zia terlambat ke pesantren,


Sedangkan di pesantren, Abah Umi dan satri yang lain sedang sibuk mencari Adam yang tak di temukan dari tadi saat pulang dari hajatan Ning Husna dan Ustadz Haddad.


"Apa ketemu" tanya Umi pada santri.


"Tidak umi".


" ya alloh, kemana Adam" gumam Umi.


"Umi Kak Zia juga gak ada" ucap Rena.


"Apa mereka bersama" tanya Abah.


"Mungkin Abah" ucap Rena.


"Sudah sekarang kalian kembali saja ke kamar ada waktu satu jam sampai kalian berlajar lagi nanti" ucap Abah pada para santri.


"Ya Abah" serempak.


Sedangkan yang di cari cari, mereka berdua tengah berada di jalanan sedang berjalan beriringan.


"Gus apa kau tak cape" tanya Zia.


"Tentu saja cape Zia aku juga manusia" ucap Adam.


"Aku kira" ucap Zia sambil ngos ngosan.


Mereka berhenti sejenak di bawah pohon cukup rindang yang berada di halaman rumah warga di sana.


"Gus sekarang panas ya" ucap Zia.


"Zia kau tau mitos nya menyarang hujan" tanya Adam.


"Apa" tanya Zia heran.


"Ya jadi di kampung ini itu masih lekat dengan mitos menyarang hujan supaya tak hujan, biasa nya hal itu akan di lakukan saat ada acara begini, aku kurang tau sih tapi kata para orang tua di sini begitu" ucap Adam.


"Apa ada pawang hujan" tanya Zia.


"Mungkin" ucap Adam.


"Aku gak tau seperti apa pawang hujan" ucap Zia.


"Kau tau pawang aku siapa" tanya Adam.


"Apa kau binatang buas yang punya pawang nya" tanya Zia.


"Bukan kah semua orang juga punya pawang" ucap Adam.


"Ya ya lalu siapa pawang mu" tanya Zia.


"Kau" ucap Adam.


"Hah" tanya Zia kaget.


"Mana mungkin aku" tanya Zia.


"Ya kau" ucap Adam.


"Ya aku tau sebagai teman kan" tanya Zia.


"Ya" ucap Adam tersenyum tipis.


"ayo pulang" ucap Zia.


"sekarang katanya masih panas kau juga cape kan" tanya Adam.


"ya tapi kita lama di sini Gus ayo lah pulang, lagi pula aku malu kalau harus terus berduaan dengan mu nanti orang orang akan berfikir yang tidak tidak pada kita" ucap Zia.


"tak apa lah lagi pula aku sudah terlanjur malu pada keluarga mu karena kejadian tadi" ucap Adam.


"ayo lah Gus lupa kan saja" ucap Zia.


Adam berjalan di belakang Zia, mata Adam menatap pada sendal jepit yang di lempar dari rumah warga akan mengenai Zia.


Dengan cepat Adam menarik Zia sehingga membuat Zia menabrak dada bidang Adam yang terhalang baju batik.


"cek urang ge naon tong sok ulin wae ka randa itu, jadi we kie" teriak seorang ibu ibu dari dalam rumah yang tadi melempar sendal keluar.


"heeh urang anu salah" teriak laki laki yang di duga suaminya.


"zia ayo pulang" ucap Adam pada Zia yang sekarang menatap pada rumah itu.


"tapi Gus mereka sedang apa" tanya Zia.


"bertengkar" ucap Adam.


"bicara apa mereka" tanya Zia.


"bicara tentang sendal yang terbang" ucap Adam ber bohong karena tak mau sampai Zia mendengar lebih jauh lagi.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2