Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 108


__ADS_3

Hari ini Zia akan mengajar lagi seperti biasa karena sudah hampir tiga hari Zia tak mengajar, walau pun sekarang kelas nya di satukan tapi tetap saja akan di gurui oleh satu guru.


Sekarang Zia sudah membawa buku buku nya dan langsung masuk ke dalam Madrasah yang sekarang sudah banyak para santri yang memilih tempat.


"Di mana kelas 3 SMP" sahut Zia.


"Ini kak" sahut Rena.


Zia mendekat ke arah Ning Rena, namun Zia tak melihat jalan yang akan dia lewati saat dia berjalan, Rosa ada di sana dan memajukan kaki nya sehingga membuat Zia tersandung dan terjatuh.


Brugh


Untung saja Zia tak jauh karena ada seorang laki laki yang menangkap Zia sehingga tak membuat Zia jatuh.


Siapa laki laki itu? Siapa lagi kalau bukan Adam suami nya karena Mak othor gak rela kalau Zia bersama dengan yang lain.


Hahahaha lanjut...


Zia menatap pada Adam.


"Hati hati Zia" ucap Adam.


"Gus aku kesandung kaki salah satu santri" ucap Zia.


"Ya sudah tak masalah" ucap Adam.


"Aku ke sana dulu" ucap Zia.


"Ya sayang" ucap Adam.


"Mulai gombal nya" ucap Zia yang langsung pergi dari sana menuju ke arah Ning Rena berada.


"Baik lah kita mulai belajar" ucap Zia.


"Kak kau dan Gus Adam Sangat romantis" ucap salah satu santri.


"Ah biasa saja" ucap Zia.


"Beneran kak kalian sangat romantis" ucap Gita yang langsung menimpali.


"Ya sudah lah kita langsung belajar ya" ucap Zia.


"Ya kak" serempak.


Tak jauh dari sana banyak sekali orang orang yang tak suka pada Zia apa lagi santri putri yang suka pada Adam, mereka semakin tak suka kalau Zia dan Adam berdekatan.


Zia mengajar kan bahas Inggris pada santri kelas 3 SMP.


Sekarang di madrasah sangat lah berisik karena mereka semua belajar dan menghitung.


Membuat beberapa santri yang lain tak bisa mendengar kan pelajaran yang di sampaikan guru nya.


Bahkan Zia juga sedikit terganggu karena hal itu.


"Kalian paham" tanya Zia pada santri.


Para santri yang sekarang di ajar oleh Zia hanya menggeleng kan kepala saja karena tak bisa mendengar dengan jelas ucapan Zia.


"Tulis saja ya" ucap Zia yang langsung menulis bahasa Inggris di papan tulis kecil yang sudah di sediakan.


Kringg..


Bel berbunyi menandakan Pergantian pelajaran.


Semua guru Langsung mencari kelas yang sekarang akan di ajarkan.


"Dimana kelas 1 SMP" sahut Guru sambil berteriak.


"Ini" sahut santri dari kelas 1 SMP.


Zia tak perlu mencari lagi karena dia akan mengajar kelas 2 SMA dan itu kelas nya ke tiga laki laki pindahan SMA lain yang sangat tak akur dengan Zia.


"Selamat pagi" ucap Zia pada santri kelas 2 SMA.


"Pagi? Sekarang sudah siang" sahut Radit.


"Ya selamat siang" ucap Zia yang masih bisa bersabar menghadapi orang seperti Radit itu.


"Baik lah kita akan mulai belajar sekarang aku akan menjelaskan tentang Announcement, dengarkan aku dulu baru setelah itu kalian jawab pertanyaan dari ku" ucap Zia.


"Ya kak" serempak.


Zia berusaha menjelaskan Walaupun suara bising membuat suara nya tak terdengar jelas oleh para santri.


"Kak bisa kah lebih keras" tanya salah satu santri.


"Ya" ucap Zia.


Zia mencoba mengeras kan suara nya.


"Apa begini kalian bisa mendengar nya" tanya Zia.


"Kurang keras" sahut Radit.


"Apa aku kurang keras" tanya zia pada para santri.


"Kurang" sahut Radit berteriak.


"Hah" Zia tak paham padahal suara nya sudah sangat keras.


"Baik lah kalau begini" tanya Zia sambil berteriak.


Hal itu membuat semua orang yang ada di sana langsung senyap dan menatap pada Zia.


Zia hanya terkejut saja karena banyak pasang mata yang melihat nya.


"Hey bisa pelan kan suara mu, kita juga di sini sama tak terdengar" sahut Bu Isma yang selalu saja marah.


"Ya Bu" ucap Zia.


"Jangan berteriak kita juga sama, kalau mau senyap sebaik nya kau mengajar saja di luar" sahut Bu Isma lagi marah.


"Maaf Bu" ucap Zia.


"Maaf maaf kau pikir hanya kau saja yang tak merasa kebisingan bahkan semua orang juga, aku heran kenapa kau di anggap Menjadi guru padahal etika mu biasa saja" ucap Bu Isma.


Adam menatap pada Zia, ucapan Bu Isma memang terlalu kasar pada Zia apa lagi sampai membawa bawa etika.


Zia hanya menunduk saja tak berani menjawab karena kalau Zia menjawab sudah pasti dia akan semakin kalah bicara dari Bu Isma.


"Kita belajar di luar saja" sahut Bu Isma pada seluruh santri yang sedang dia ajari sekarang.


Santri yang di ajarkan Bu Isma keluar semua, Abah yang baru datang langsung heran karena melihat para santri dan Bu Isma keluar.


"Ada apa Bu" tanya Abah.

__ADS_1


"Kami akan belajar di luar saja" ucap Bu Isma.


Abah masuk ke sana, Abah semakin heran karena para santri sekarang senyap dan banyak yang menunduk.


Sedangkan Zia sekarang hanya menunduk saja karena Zia tak melakukan kesalahan tapi salah di mata Bu Isma.


Abah yang merasa kalau tadi ada perdebatan pun langsung paham karena saat ini tak ada para santri yang bicara.


"Kalian lanjut kan saja pelajaran nya" ucap Abah.


"Ya abah" serempak.


Semua santri senior melanjutkan lagi mengajar para santri.


Zia juga melanjutkan nya lagi tapi sayang Zia sekarang sedikit pendiam bahkan Zia lebih banyak menulis di papan tulis dari pada bicara.


"Tulis lah" ucap Zia.


Para santri pun sadar pada perubahan Zia, namun mereka menyalahkan pada Radit yang membuat masalah itu, karena kalau Radit tak bilang maka Bu Isma tak akan marah.


Apa lagi para santri juga tau kalau Bu Isma memang begitu, tak ada masalah pun Bu Isma pasti merasa baperan pada apa yang orang lain bicarakan, kata lain nya Bu Isma sering tersinggung padahal pembicaraan orang lain bukan pada nya tapi pada orang lain.


Sekarang waktunya istirahat semua santri bubar dari sana, terkecuali para santri yang baru saja Zia ajarkan.


"Kak Zia" sahut santri putri.


"Ya" tanya Zia.


"Radit kau harus minta maaf pada Kak Zia, kau harus bertanggung jawab" sahut para santri yang menyalah kan Radit.


"Sudah tak masalah" ucap Zia.


"Tapi kak dia harus minta maaf karena dia salah pada mu, karena dia kau menjadi di salah kan oleh Bu Isma" ucap santri yang lain.


"Tak apa lah" ucap Zia.


"Ayo Radit minta maaf" sahut yang lain.


"Ogah" ucap Radit.


"Ayo Radit kau harus minta maaf karena kau Kak Zia kena marah, apa kau tak malu sudah besar tapi kau selalu mengadu domba" geram santri putra yang lain.


Zia hanya tersenyum saja karena para santri nya sudah membela nya, padahal Zia tak mempermasalah kan hal karena Zia tau kalau Radit tak akan mungkin minta maaf.


"Ayo lah Radit" ucap yang lain.


"Baik lah" ucap Radit kesal.


Radit mendekat pada Zia.


"Kak maafkan aku karena aku tak tau kalau guru itu baperan" ucap Radit.


"Tak masalah" ucap Zia.


"Kenapa kau tak lawan saja guru seperti itu kalau aku ada di posisi mu mungkin aku akan membogem nya" ucap Radit.


"Terkadang kita hanya perlu diam saja untuk membuktikan kalau kita tak salah, karena kalau kita sama seperti mereka, aku yakin tak akan ada yang mau mengalah nantinya" ucap Zia.


"Ya sih" ucap Radit.


"Baik lah kalian istirahat ya" ucap Zia.


Radit yang sekarang sudah cukup umur untuk merasakan jatuh cinta pun dia malah suka pada sikap Zia.


Sedangkan sekarang Zia berjalan ke arah rumah Abah, di sana juga sudah ada Adam yang sedang menatap layar laptop nya.


"Sedang apa" tanya Zia.


"Aku harus belajar banyak sekali Zia karena dua hari ini aku sudah tak belajar lagi" ucap Adam.


"Baik lah kerja kan semuanya" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Zia ke dapur karena akan membuat kan minuman untuk nya dan untuk Adam.


Zia juga membuat pisang goreng untuk cemilan Adam karena sudah Zia pasti kan kalau Adam akan lama belajar.


Setelah selesai Zia langsung membawa nya ke meja supaya Adam bisa memakan nya.


"Makanlah" ucap Zia.


"Zia" ucap Adam.


"Ya" tanya Zia.


"Maaf karena perkataan Bu Isma tadi membuat mu sakit hati" ucap Adam.


"Tak masalah Gus aku paham pada Bu Isma" ucap Zia.


"Entah lah Zia aku bingung dengan jalan pemikiran Bu Isma" ucap Adam.


"Tak masalah Gus lagi pula aku salah" ucap Zia.


"Baik lah aku akan belajar kalau kau mau jajan ada uang di saku Koko ku" ucap Adam.


"Baik lah aku akan ambil, apa kau mau makanan" tanya Zia.


"Gak usah" ucap Adam.


Zia mengambil uang dan Langsung berjalan ke arah Rena dan Gita di sana.


"Hay" ucap Zia.


"Kak mau jajan" tanya Rena.


"Ya Ayo" ucap Zia.


Mereka jajan ke warung yang ada di sana.


"Rin minuman apa yang kau beli ini" tanya Gita.


"Ini Amer kak" ucap Rini.


"Hah Amer" tanya Zia.


"Ya ini enak" ucap Rini.


"Tapi itu tak boleh di minum" ucap Zia.


"Kenapa" tanya Rini.


"Gak boleh nanti mabuk" ucap Zia.


Hahahah

__ADS_1


Semua santri mentertawakan Zia.


"Kak ini itu minuman seduh yang rasa nya Amer, Amer itu anggur merah" ucap Gita.


"Oh ya" tanya Zia.


"Ya kak bukan Amer yang itu tadi Amer anggur merah minuman seduh" ucap Gita.


"Oh aku pikir apa" ucap Zia malu karena tak tau.


"Baik lah ayo jajan" ucap Rena.


Setelah selesai jajan mereka kembali lagi ke pesantren.


Namun ada hal yang membuat Zia heran di tangan Ning Rena ada sebuah gelang laki laki yang tak asing bagi Zia.


"Ning apa itu gelang mu" tanya Zia.


"Ya" ucap Rena.


"Tapi aku seperti nya tak asing melihat nya, motif sana bentuk nya sama seperti punya..." Ucap Zia berfikir.


Zia mengingat pada Gelang Luthfi saat itu Luthfi membantu mengangkat barang di gudang, dan benar saja gelang itu sangat sama.


"Oh seperti punya Gus Luthfi" ucap Zia.


"Kak diam" ucap Rena yang merasa malu karena Luthfi nya juga ada di sana.


"Tuh kan dia lihat pasti kedengaran" gumam Rena malu karena Luthfi melihat nya.


Rena langsung tersenyum pada Luthfi, begitu juga Luthfi dia membalas senyuman Ning Rena.


Zia yang melihat kejadian itu pun langsung paham kalau Rena dan Luthfi pasti ada apa apa.


"Ciee aku paham sekarang kau dan Gus Luthfi kalian paca.." ucap Zia yang mulut nya langsung di tutup oleh Rena.


"Ning kau ja hat pada ku" ucap Zia.


"Kak jangan berisik kalau saja Gus Adam dan yang lain melihat dia pasti akan marah" ucap Rena.


"Ya deh aku gak akan berteriak lagi" ucap Zia.


"Ya" ucap Rena.


"Tapi beneran kau dan Gus Luthfi" ucap Zia yang mengisyaratkan dengan tangan nya di bentuk love, guna menggambar kan kalau Rena dan Luthfi sedang ada hubungan.


Rena mengangguk kan kepala nya.


"Tapi kakak harus janji gak boleh memberi tau kan pada Gus Adam" ucap Rena.


"Ya tak akan" ucap Zia.


"Janji" ucap Rena.


"Ya janji" ucap Zia.


Gita datang ke sana.


"Ada apa" tanya Gita.


"Tak ada hanya saja ada sebuah cinta yang baru saja bersemi" ucap Zia.


"Kak" geram Rena.


"Ya ya" ucap Zia tersenyum melihat tingkah adik ipar nya itu.


Kringg


"Ya sudah masuk lagi padahal kan aku belum menghabiskan makanan ku" ucap Gita.


"Habiskan saja sekarang" ucap Zia.


"Ya" ucap Gita.


"Kita bertemu lagi di madrasah" ucap Zia.


"Ya kakak ipar" ucap Rena.


Zia kembali lagi ke rumah ada Adam yang masih berada di sana dan belajar.


"Zia bisa kau bantu aku" tanya Adam.


"Apa" tanya Zia.


"Pertanyaan logika, semua orang menaiki kereta listrik lalu asap kereta itu akan keluar ke arah mana" tanya Adam.


"Apa kau sedang mengisi TTS" tanya Zia.


"Entah tapi ini soal dari sana" ucap Adam.


"Apa ada soal seperti itu" tanya Zia.


"Tentu saja ada" ucap Adam.


"Jawaban nya simpel Gus, nama nya juga kereta listrik kan jadi tak akan ada asap karena itu kereta listrik" ucap Zia.


"Hah kau benar, aku memikirkan nya dari tadi tapi belum terjawab juga" ucap Adam.


"Aku sudah bantu jawab kan" ucap Zia.


"Ya terima kasih" ucap Adam.


"Sama sama" ucap Zia.


Sekarang Zia kembali lagi ke Madrasah karena akan mengajar pada santri lagi, sekarang Zia tak akan mengajarkan bahasa Inggris lagi tapi dia akan mengajar kelas 1 SMP dengan pelajaran matematika karena akan mengganti kan Bu Risni.


"Zia" sahut Rosa.


"Ya" tanya Zia.


"Kau mau mengganti kan Bu Risni kan" tanya Rosa.


"Ya" ucap Zia.


"Biar aku saja yang ganti kan kamu ganti kan saja Gus Adam mengabsen" ucap Rosa.


"Oh baik lah" ucap Zia.


Zia mengambil buku absen di atas meja Madrasah itu.


Zia membuka nya.


"Tapi ini semua sudah di isi, mungkin Gus Adam yang isi" ucap Zia.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2