
Sedang kan di pesantren, Abah tengah membereskan rumput di halaman pesantren dengan Umi yang menyapu nya.
Umi melihat santri yang baru saja pulang dari pasar, Umi iseng saja akan menanyakan Rena dan yang lain pada kedua santri putri itu.
"Neng apa Ning Rena masih di pasar" tanya Umi.
"Oh umi tadi aku lihat Ning Rena di gendong Gus Luthfi, kami gak tanya kenapa karena kayanya mereka sedang cemas" ucap salah satu santri putri.
"Kami sempat tanya Umi pada Kak Ainun tapi dia tak menjawab" ucap satu nya lagi.
"Oh baik lah terima kasih" ucap Umi.
Umi mendekat pada Abah.
"Ada apa Umi" tanya Abah yang masih memotong rumput.
"Abah kata mereka Ning Rena di gendong Gus Luthfi" ucap Umi dengan wajah yang cemas.
Abah langsung terkejut mendengar hal itu.
"Di gendong" tanya Abah.
Abah langsung berdiri dan langsung berjalan ke arah gerbang pesantren menunggu Rena dan Adam yang sampai sekarang belum pulang.
"Tenang Abah kita gak tau kebenaran nya" ucap Umi yang hendak menenangkan Abah.
Abah sangat sayang pada Rena bahkan saking sayangnya Abah sangat ketat menjaga Rena, bahkan untuk keluar dari pesantren pun Abah tak mengijinkan kalau tak bersama dengan orang lain.
Namun hal itu menjadi kan Abah sebagai sosok Ayah yang egois dan selalu ngekang bukan pada Rena saja Abah juga memberikan banyak peraturan pada Adam juga.
"Umi bagai mana Abah bisa tenang kalau Ning Rena di sentuh orang lain" ucap Abah.
"Kita gak tau apa kebenaran nya Abah" ucap Umi.
"Tetap saja Umi, kalau Rena dan Adam saja bukan muhrim dan tak pantas bersentuhan maka dengan orang lain pun Ning Rena tak berhak" ucap Abah.
"Abah jangan bicara begitu, Ning Rena putri kita juga" ucap Umi.
"Tetap saja Umi kebenaran adalah kebenaran" ucap Abah.
"Abah kita orang tua nya" ucap Umi kesal.
Abah tak menggubris ucapan Umi, dia saat ini hanya fokus pada Rena dan akan mempertanyakan pada Adam ada hal apa sehingga membuat Rena sampai di gendong Luthfi.
Saat ini Adam dan yang lain nya pulang ke pesantren, apa yang Adam khawatir kan ternyata terjadi juga apa lagi Adam melihat ada Abah dan Umi yang sekarang menunggu di gerbang pesantren.
"Ya Alloh" gumam Adam.
"Ning" ucap Umi yang langsung memeluk Rena dengan sangat erat.
"Kamu tak apa" tanya Umi.
"Aku tak apa apa Umi" ucap Rena.
"Adam masuk ke rumah dan jelas kan semuanya" ucap Abah tegas.
"Ya Abah" ucap Adam.
"Aku duluan" ucap Adam pada semua nya.
"Ya Gus" serempak.
Zia mengikuti Adam dan langsung masuk ke dalam rumah.
Luthfi yang paham pun merasa bersalah karena dia sangat tau masalah apa yang akan Abah tanya kan pada Adam.
Sedangkan di rumah Adam dan Zia duduk bersama namun tak saling bertegur sapa, bahkan Rena juga hanya bisa menunduk saja tak mampu melihat Abah yang sekarang tengah menatap nya.
"Cerita kan" ucap Abah.
Adam menatap pada Abah.
"Begini Abah kami semua berjalan pulang dan aku lihat Rena dan Zia berjalan paling belakang aku tak tau kalau saat itu ada mobil yang berhenti dan Langsung menculik Rena" ucap Adam.
Prakk
Umi tanpa sengaja memecahkan gelas yang isinya air putih yang Umi bawa untuk Adam, Rena dan Zia.
"Umi tak apa" tanya Adam.
Rena langsung datang ke sana dan langsung membantu Umi membereskan pecahan gelas itu.
"Hati hati umi" ucap Rena.
"Ya" ucap Umi.
"Kau tau siapa yang culik" tanya Abah pada Adam dengan tatapan ketus.
"Seperti nya anak buah Sofi karena Abah saat tadi aku lihat anak buah nya seperti anak buah yang pernah datang kemari Tempo lalu" ucap Adam.
"Lalu" tanya Abah.
"Aku dan Gus Luthfi melawan mereka dan dengan keahlian nya Gus Luthfi bisa mengalahkan mereka" ucap Adam.
"Kenapa Ning Rena bisa di pangkuan Gus Luthfi" tanya Abah.
"Ning Rena pingsan Abah bahkan aku pun sebagai kakak nya tak sanggup menggendong karena aku juga babak belur, bahkan perut ku sakit karena di bogem oleh mereka" ucap Adam.
"Kenapa harus Gus Luthfi" tanya Abah.
"Tak ada siapa siapa lagi di sana Abah para wanita tak akan mungkin bisa membawa Ning Rena" ucap Adam.
"Baik lah Abah paham sekarang Abah akan berterima kasih pada Gus Luthfi" ucap Abah.
"Ya Abah" ucap Adam.
"Ayo Ning ikut" ucap Abah pada Rena.
"Ya Abah" ucap Rena.
Adam menatap pada Rena yang sekarang sudah berjalan keluar dari rumah mengikuti Abah.
"Arggh kenapa Ning Rena ikut" geram Adam.
"Ada apa Dam" tanya Umi.
__ADS_1
"Tak ada" ucap Adam yang langsung pergi dari sana menuju kamarnya.
"Umi aku nyusul Gus Adam" ucap Zia.
"Ya" ucap Umi.
Zia masuk ke dalam kamarnya, di sana ada Adam yang sedang mengobati luka nya sendiri.
"Gus biar aku yang bantu" ucap Zia.
"Gak usah aku bisa sendiri" ucap Adam ketus.
"Kau gak akan mungkin bisa mengobati itu sendiri" ucap Zia.
"Aku bilang gak usah ya gak usah" ucap Adam protes.
"Kenapa jadi nge gas" gumam Zia.
Zia mengganti pakaian nya karena dia merasa gerah saat tadi di pasar.
Sedangkan sekarang Abah dan Rena menuju ke arah kamar santri putra karena akan menemui Luthfi.
Rena hanya mengikuti Abah saja karena dia takut Abah marah.
"Abah" ucap santri.
"Ya" ucap Abah.
"Assalamualaikum Abah" ucap santri yang ada di hadapan Abah.
"Waalaikum salam" ucap Abah.
"Mau kemana Abah" tanya santri.
"Mau ke kamar Gus Luthfi" ucap Abah.
Sesampainya di kamar Gus Luthfi, sekarang Gus Luthfi tengah melipat pakaian nya yang baru saja selesai di jemur tadi.
"Assalamualaikum" ucap Abah sambil mengetuk pintu kamar Gus Luthfi.
"Waalaikum salam" ucap Luthfi yang langsung membuka kan pintu kamar nya.
"Gus Luthfi apa Abah menganggu" tanya Abah.
"Abah tak menganggu, ada apa ayo masuk Abah" tanya Luthfi.
Abah dan Rena masuk ke dalam kamar Luthfi, Rena masuk paling belakang dan setelah Rena masuk Luthfi langsung menutup pintu kamarnya.
Namun para santri yang melihat berfikir kalau Rena masuk ke dalam kamar Luthfi sendirian, mereka mulai salah paham pada Rena yang masuk ke dalam kamar Luthfi.
"Ning Rena dan Gus Luthfi mereka masuk ke dalam satu kamar" ucap santri putri yang melihat hal itu.
"Tapi apa benar mereka hanya masuk berdua" ucap yang lain.
Rosa datang ke sana melihat para santri putri yang sedang melihat sesuatu itu.
"Ada apa" tanya Rosa.
"Ini Ning tadi kami lihat kalau Ning Rena masuk ke dalam kamar Gus Luthfi, bukan nya santri putri gak boleh masuk ke kamar santri putra ya" ucap nya.
"Ya" ucap nya.
"Kita lihat apa benar kalau Ning Rena masuk ke kamar Gus Luthfi" ucapnya.
Sedang kan di dalam kamar Luthfi, Abah dan Rena duduk di kursi yang ada di sana, karena Luthfi sudah termasuk seorang guru juga jadi dia di pasilitasi oleh pihak pesantren dengan kamar sendiri dan kursi di dalam nya.
"Ada apa Abah" tanya Luthfi.
"Begini Gus, Abah datang kemari karena Abah ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolong Ning Rena" ucap Abah.
"Ya Abah tak masalah" ucap Luthfi.
"Abah harap kau menolong Ning Rena karena kau mengadik kan Ning Rena bukan maksud yang lain" ucap Abah.
"Apa maksud Abah" tanya Luthfi.
"Ya Abah hanya tak mau Ning Rena sampai terlalu dekat dengan seorang laki laki, Abah mau Ning Rena ini sampai kuliah Abah mau Ning Rena sukses" ucap Abah.
"Aminn, Abah tenang saja" ucap Luthfi.
"Ya Abah percaya pada mu, apa boleh kalau Ning Rena pergi kau bisa mengawal nya" tanya Abah.
"Tentu saja Abah" ucap Luthfi tersenyum, dia menatap sekilas pada Rena yang sekarang juga tengah menatap nya.
(Abah sama saja menitip kan Ayam pada Elang, jangan Abah nanti Rena dan Luthfi makin dekat)
lanjutt...
"Abah sangat sayang pada Ning Rena, kau tau itu bukan? Abah menganggap kalau Rena ini seperti berlian yang tak ternilai harganya, jadi dengan susah payah Abah akan jaga dia" ucap Abah.
"Ya Abah, seorang Ayah tak akan mungkin rela melepas kan Putri nya pada orang lain, apa lagi seorang laki laki yang tak tau asal muasal nya" ucap Luthfi.
"Ya, Ning ayo berterima kasih pada Gus Luthfi" ucap Abah.
"Gus terima kasih karena sudah menolong ku karena kau aku bisa selamat" ucap Rena.
"Tak apa aku senang menolong mu" ucap Luthfi.
"Baik lah aku permisi, Abah aku pergi ya" ucap Rena.
"Ya, Abah mau bicara dulu dengan Gus Luthfi" ucap Abah.
"Mari Ning" ucap Luthfi yang membuka kan pintu kamar nya.
Rena keluar dari sana dengan Gus Luthfi yang masih berdiri di ambang pintu.
Setelah Rena keluar dari kamar Luthfi dengan cepat Luthfi menutup kembali pintu kamarnya.
"Tuh kan benar" ucap santri putri yang melihat sejak tadi.
"Apa benar Ning Rena dan Gus Luthfi satu kamar berdua" ucap nya.
"Berarti mereka ada apa apa" ucap Rosa.
"Benar" serempak.
__ADS_1
Rena langsung berjalan ke arah kamar nya, namun dia bertemu dengan Zia.
"Kak mau ke mana" tanya Rena.
"Ikut ke kamar mu yu, aku bosan di kamar Gus Adam marah marah terus" ucap Zia menggerutu.
"Baik lah ayo" ucap Rena.
"Waktu Adzan masih lama kan" tanya Zia.
"Lama kak mungkin dua jam lagi" ucap Rena.
"Baik lah ayo" ucap Zia.
Mereka berjalan ke arah kamar Rena yang paling pojok dari kamar santri putri yang lain.
Sampai di sana Zia langsung merebahkan tubuh nya di kasur kosong.
Zia melihat ada kerudung yang sangat mencolok dengan merek yang cukup Zia kenal.
"Ning Kau punya kerudung bagus" tanya Zia.
"Ya pemberian Gus Luthfi tapi jangan bilang siapa siapa ya kak" ucap Rena.
"Pemberian Gus Luthfi" tanya Zia terkejut.
"Ya" ucap Rena.
"Ning ini merek ternama loh mungkin di pasaran harga nya akan mencapai 200 ribu lebih lah" ucap Zia.
"Masa kak" tanya Rena.
"Ya aku tau betul merek ini" ucap Zia.
"Tapi kak mana mungkin semahal itu, padahal sama seperti punya ku yang ini" ucap Rena.
"Entah lah tapi kau coba lihat di aplikasi jual beli online, harga nya tak akan jauh berbeda" ucap Zia.
"Tapi masa Gus Luthfi membeli kan aku kerudung semahal ini, hanya untuk kerudung" ucap Rena.
"Apa jangan jangan Gus Luthfi ini sangat sayang pada mu jadi apa pun yang kau minta dia pasti beri kan, contoh nya ini" ucap Zia mengambil kantong kresek yang isinya coklat semua.
"Lihat ini Ning coklat SQ ini coklat cukup mahal apa lagi ini besar Ning, kalau di jumlah kan bisa berapa ini" ucap Zia.
"Kenapa Gus Luthfi memberikan aku barang mahal" tanya Rena.
"Dia orang kaya jadi pantas saja kalau dia royal pada mu" ucap Zia.
"Tapi masa sih dua ratus ribu hanya untuk kerudung saja" ucap Rena.
"Kau tak percaya pada ku, tanya saja pada Resty dia punya kerudung begini tanya berapa harga nya" ucap Zia.
"Ya nanti aku akan tanya" ucap Rena.
Adam menatap pada layar ponsel nya, tak ada yang ramai di sana hanya posting seseorang yang memenuhi beranda Adam.
"Kemana Zia" gumam Adam.
Saat ini Adam marah pada Zia karena Zia sudah meninggal kan Rena Sendirian tapi dalam hati Adam dia sangat kesepian karena tak ada Zia yang bisa dia ajak bicara.
"Zia kau di mana" gumam Adam sambil meremas rambut nya.
Zia datang ke sana, membuat Adam terkejut karena takut nya Zia mendengar apa yang dia ucapkan.
"Gus ada apa" tanya Zia.
"Tak ada" ucap Adam yang bersikap ketus pada Zia.
"Oh terserah" ucap Zia.
"Kau mau ke mana" tanya Adam saat melihat Zia akan pergi.
"Aku mau keluar, percuma di kamar juga kau marah" ucap Zia.
"Jelas aku marah karena kau ceroboh" ucap Adam.
"Kau salah kan aku" ucap Zia yang langsung mendekat pada Adam yang tengah duduk di pinggir kasur.
"Kalau aku tau Ning Rena akan di culik maka aku juga tak akan berjalan menyusul mu ke depan, kau menyalah kan aku lalu kau ke mana saat Ning Rena di culik bukti nya saja malah Gus Luthfi yang menyelamatkan Ning Rena" ucap Zia menggerutu sambil berdiri di hadapan Adam.
Adam berdiri menghadap pada Zia,
"Kau masih mau menyalah kan aku" tanya Zia.
Adam memeluk Zia seketika membuat Zia terdiam,
Mereka saling diam dalam pelukan memberikan kehangatan pada keduanya.
Skipp
setelah lama akhirnya Adzan Dzuhur berkumandang juga, semua santri langsung melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di mesjid.
Zia dan Adam juga ada di sana, namun tetap Zia marah pada Adam karena Adam yang sudah menyalahkan nya tadi membuat Zia kesal.
"aku mau makan nasi goreng" ucap Adam berbisik pada Zia yang sekarang tengah berjalan akan ke mesjid.
"aku gak mau" ucap Zia.
"gak boleh menolak permintaan suami" bisik Adam lagi.
"terserah" ucap Zia yang langsung pergi dari sana meninggal kan Adam.
"Zia ingin sekali aku gigit kau" gumam Adam melihat tingkah istri nya.
"sabar Gus banyak orang di sini" ucap Farid yang langsung mengejutkan Adam.
"astaghfirullah Gus" ucap Adam.
"jangan gugat gigit Gus kasihan Zia" ucap Farid.
"kau ini yang masih lajang gak akan paham" ucap Adam.
"ya sudah aku duluan" ucap Farid yang langsung pergi Meninggalkan Adam.
"gus tunggu" sahut Adam yang langsung menyusul Farid.
__ADS_1
bersambung