Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 29


__ADS_3

Malam harinya Zia sudah berada di kamarnya, entah kenapa rasa bersalah hinggap pada hati dan fikiran Zia, walau pun niat Umi ingin membela Zia tetapi tetap saja Zia merasa bersalah karena nya Umi dan Adam jadi bertengkar.


Zia hanya melamun saja memikirkan masalah tadi.


"kak Zia jangan di pikirkan lagi, aku yakin kak Zia tak salah" ucap Rena.


"ya kak" ucap Gita.


"ahh kalian tak akan tau" ucap Zia.


"kak Zia aku paham pada apa yang Kak Zia pikirkan" ucap Rena.


Zia menatap pada Rena.


"Ning apa sebelum ada aku, Umi dan Gus Adam pernah bertengkar" tanya Zia.


"tidak pernah, bahkan Gus Adam mana berani bertengkar dengan Umi" jawab Rena.


"oh ya apa pernah mereka adu mulut" tanya Zia lagi.


"tidak" jawab Rena.


"memangnya kenapa kak" tanya Rena.


"tidak aku hanya tanya saja, ya siapa tau kan pernah" ucap Zia.


"kak, Gus Adam itu tak akan berani pada Umi bahkan untuk menentang Umi pun Gus Adam tak akan berani, apa kak Zia tau? Waktu itu pernah Gus Adam masih kecil, Umi menyuruhnya membeli garam ke warung, karena dia gus Adam tak mau, Akhirnya Umi marah dan tak berani membantah lagi" ucap Rena.


"oh ya" tanya Zia.


"ya aku kagum sih pada Gus Adam, dia baik, Sholeh dan sempurna, namun yang aku tau Gus Adam itu emosional, makannya Abah selalu menghukumnya karena emosinya itu terkadang lepas kendali" ucap Rena.


"oh apa sekarang dia sudah baik" tanya Zia.


"baik apanya" tanya Rena.


"ck maksudku apa sekarang Gus Adam tak emosional lagi" tanya Zia.


"sedikit" ucap Rena.


"Ning, aku lupa malam ini ada pr bahasa inggris" ucap Gita yang sekarang sedang membereskan buku bukunya di lemari.


"oh ya" tanya Rena.


"ya lihat ini" ucap Gita.


"aahh aku tak bisa bahasa Inggris" ucap Rena.


"mau aku bantu" tanya Zia.


"kak Zia bisa bahasa inggris" tanya Rena.

__ADS_1


"tentu saja" ucap Zia.


"yeayy terima kasih kak" ucap Gita dan Rena secara bersamaan.


Zia melihat buku catatan mereka, Zia membacanya dengan teliti, saat masih kuliah Zia belajar bahasa inggis sedikit sedikit, dan sekarang Zia bisa walau pun tak terlalu lancar.


"what do you mean by a person who is a Muslim?, ini artinya adalah apa yang di maksud dengan orang mualaf" ucap Zia.


"Orang mukalaf" gumam Rena.


"Aku tau, orang mukalaf adalah orang muslim yang di kenai kewajiban untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangannya" ucap Gita.


"mukalaf is a Muslim who is subject to the obligation to carry out orders and stay away from prohibitions" ucap Zia.


"Apa itu bahasa inggrisnya" tanya Rena.


"Ya" ucap Zia.


"Nomor dua, How many Islamic laws are there?, artinya ada berapa hukum islam" ucap Zia.


"Jawabannya, Wajib, Sunnah, haram, makruh, dan mubah, benarkan" ucap Rena pada Gita.


"Ya benar Ning" ucap Gita.


"how many mandatory laws? Artinya ada berapa banyak hukum wajib" ucap Zia.


"Ada dua, wajib ain dan wajib kifayah".


"Ada dua, sunnah muakkad dan sunnah ghoiru muakkad" ucap Rena.


"Dan satu lagi nomor lima, what do you mean by terms? Artinya adalah apa arti dari Syarat" ucap Zia.


"Apa ya" tanya Gita.


"Apa syarat itu yang keinginan kita saat akan melakukan sesuatu" ucap Zia.


"Oh ya" tanya Gita.


"Ya yang misalkan begini, aku mau memberi boneka pada Ning Rena tapi aku memberikan Syarat pada Ning Rena misalkan Ning Rena gak boleh marah lagi" ucap Zia.


"Ya tapi kata yang tepatnya apa" ucap Rena.


"Hah begini saja, Syarat adalah sesuatu yang harus ada sebelum mengerjakan sesuatu, bagaimana" tanya Zia.


"Ya baiklah, tolong bahas inggriskan kak" titah Rena.


"Syarat is something that must exist before doing something" ucap Zia.


"Selesai terima kasih kak sudah membantu" ucap Rena.


"Ya kak padahal kemarin kemarin kita sering punya nilai nol karena tak bisa bahasa inggris" ucap Gita.

__ADS_1


"Ya sama sama" ucap Zia.


Mereka semua tidur dengan nyenyak, walau pun malam ini sedikit dingin, sedangkan di sisi lain Adam tengah duduk di halaman pesantren.


Semilir angin malam menghembus pada tubuh Adam menutus ke pori pori kulit Adam sehingga membuat tubuhnya meng gigil kedinginan.


"fyuhh aku hanya ingin membela Ning Marwah, kasihan dia selalu salah di mata orang lain, padahal kan yang salah itu Zia, dia lah yang salah, Ya Alloh tunjukan kebenarannya aku bingung dengan semua ini" gumam Adam.


Adam menatap pada seluruh arah, tak ada yang mencurigakan dengan cepat Adam kembali ke kamarnya karena akan tertidur dan melakukan sholat tahajjud nantinya.


Malam harinya Adam bangun dari tidurnya dan melaksanakan Sholat tahajjud, namun dia sangat terkejut saat melihat Zia sedang Sholat dan menangis di setiap doa nya.


"hikss hikss hikss" zia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Adam menatap pada Zia dengan tatapan sendu, karena baru kali ini Adam melihat Zia menangis di Sholatnya.


Zia menatap pada seseorang yang tengah berdiri tak jauh darinya.


Zia menghapus air matanya karena tak mau di anggap lemah oleh Adam, Zia bangkit dan melipat mukenahnya.


Zia hendak keluar dari sana berpapasan dengan Adam yang sekarang masih berada di sana.


"tunggu Zia" ucap Adam.


"ya" ucap Zia menghentikan langkahnya dan menatap wajah Adam.


"maaf aku salah, aku harap kau mau memaafkan aku" ucap Adam menurunkan sedikit egonya.


"tak masalah, justru aku yang salah karena terlalu mencampuri urusan kalian, besok kau akan menikah kan, selamat ya aku janji aku tak akan datang kesana aku tak mau kalian bermasalah karena aku" ucap Zia sambil tersenyum.


"ya itu lebih baik" ucap Adam.


"oh ayolah aku tak sejahat itu kan, aku juga protagonis Gus" ucap Zia tersenyum pada Adam.


"baiklah aku akan Sholat, masih pukul satu dini hari ada waktu dua jam lagi untuk tidur, selamat istirahat" ucap Adam.


"terima kasih, aku akan kembali tidur" ucap Zia.


santri berdatangan kesana karena ingin melaksanakan Sholat tahajjud juga, Zia keluar dari sana dan langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Gus" sapa santri pada Adam.


"ya" ucap Adam.


Adam melaksanakan Sholat tahajjud dengan khusyuk, dia berdoa dengan sangat sangat, dia meminta petunjuk untuk pernikahannya itu, walau pun begitu Adam cukup percaya pada insting Umi Arum.


Walau bagaimana pun insting seorang ibu sangat lah kuat dan selalu benar jika menyangkut kehidupan anak anaknya.


Sehingga Adam merasa cukup bimbang atas pernikahan itu, di sisi lain Adam sangat suka pada Marwah apa lagi Marwah teman Adam sejak kecil.


Tetapi Adam juga percaya pada perkataan Umi dia pasti akan menurut pada Umi, apa lagi yang Adam tau Umi tak pernah seperti ini dahulu walau pun Umi tak suka pada orang lain dia tak akan bilang pada siapa pun dan tak akan membicarakan keburukan orang tersebut.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2