Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 152


__ADS_3

Hari ini tepatnya lebaran, para warga berdatangan ke mesjid di pesantren karena akan melaksanakan sholat idul Fitri di sana.


Abah sudah menyiapkan tempat yang sangat bersih untuk para warga sholat bahkan papah dan mamah Zia juga ada di sana.


Sholat berjalan dengan lancar bahkan semua orang juga sangat khusyuk melaksanakan Sunnah satu tahun satu kali itu.


Hingga selesai mereka langsung bersalaman satu sama lain, namun pandangan Adam tertuju pada Zia yang tengah bersalaman dengan orang orang, Adam takut Zia bersalaman dengan laki laki.


Hingga bagian Adam bersalaman dengan Zia, seperti biasa mereka bersalaman layak nya orang yang tak mengenal, Adam hanya tersenyum saja melihat Zia yang seolah tak memperdulikan nya.


Setelah selesai Adam langsung pulang ke rumah, dia berbincang bincang dengan papah mertua nya mengajak nya untuk mampir dahulu ke rumah.


Bahkan Nita juga ikut dengan Zia.


"Mah kapan kita ke kota" tanya Zia.


"Besok Zia, sekarang kita akan menunggu aunty Puput datang ke rumah Rayhan kalau sudah datang mamah akan langsung ke kota" ucap Nita.


"Ya mah" ucap Zia.


"Ayo Bu Nita masuk lah dulu kita makan makan" ucap Umi.


"Ya umi terima kasih" ucap Nita.


Mereka berbincang bincang hingga siang harinya keluarga Topan pulang karena malu terlalu lama di kediaman Abah, walau pun begitu Abah tak merasa keberatan.


Sebuah mobil terparkir di halaman rumah Abah, keluarga kiyai Zaki yang datang ke sana, Abah cukup senang karena keluarga nya datang namun Abah hanya mengkhawatirkan pada anak kiyai Zaki yang akan selalu mengungkit ungkit masalah warisan dan yang lain nya.


Karena sudah menjadi tradisi kalau setiap mereka bertemu mereka akan bertengkar masalah hal sepele.


"Assalamualaikum" ucap Kiyai Zaki.


"Waalaikum salam" ucap Abah.


Mereka semua langsung masuk ke dalam.


Sedang kan Adam dan Zia masih berada di kamar nya karena tengah mengganti pakaian.


"Gus apa kita sudah Salaman" tanya Zia.


"Kamu lupa" tanya Adam.


"Belum ya" ucap Zia.


"Sudah" ucap Adam merapihkan sarungnya yang kusut.


"Kapan" tanya Zia.


"Tadi sayang nya kamu gak lihat" ucap Adam.


"Oh ya" tanya Zia.


Adam mendekat pada Zia, dia menyalurkan tangan nya.


"Kita ulang lagi" ucap Adam.


Zia menyalami tangan Adam dengan takzim.


"Maafkan aku kalau aku banyak dosa" ucap Zia.


"Taqaballahu Minna wa minkum, maafkan aku juga Zia kalau aku pernah salah" ucap Adam.


Zia langsung memeluk Adam dengan sangat erat.


"Aku sayang kamu" ucap Zia.


"Aku juga sayang" ucap Adam.


"Baik lah pakai baju mu dengan benar" ucap Zia.


"Zia jangan minta maaf hanya di bulan Ramadhan saja karena kita melakukan salah tiap hari tapi kita meminta maaf hanya satu kali itu pun tiap tahun lagi" ucap Adam.


"Lalu, Gus kalau tiap hari itu rasanya malu sekali untuk menjelaskan nya" ucap Zia.


"Kalau kamu salah apa kamu akan meminta maaf satu tahun sekali" tanya Adam.


"Gak sih cuman kan beda lagi" ucap Zia.


"Baik lah tak apa" ucap Adam.


"Siapa di luar kayanya ada tamu" ucap Zia.


"Keluarga kiyai Zaki aku yakin itu" ucap Adam.


"Kata Ning Rena kau selalu adu mulut dengan mereka, Gus kau mengajar kan tentang kesabaran tapi kau sendiri yang marah marah" ucap Zia.


"Bukan marah Zia hanya saja aku itu suka terbawa emosi saja" ucap Adam.


"Dasar pembohong Gus aku tau kalau setiap orang itu hanya punya sabar setipis tisu saja, kalau mereka terlalu sabar saat marah berarti dia sangat istimewa" ucap Zia.


"Zia kau tau hanya orang orang tertentu yang bisa sabar seluas samudera" ucap Adam.


"Lalu kau" tanya Zia.


"Aku tak sempurna Zia aku juga bisa marah" ucap adam.


"Ya aku tau" ucap Zia.


"Tapi aku tak akan marah lagi sekarang" ucap Adam.


"Janji" ucap Zia.


"Aku janji saat menghadapi keluarga kiyai Zaki aku tak akan marah" ucap Adam.


"Aku pikir tak marah padaku juga" ucap Zia.


"Kau tanggung jawab aku Zia jadi sudah tugas aku untuk memarahi mu kalau kamu salah, dan ingat aku suami mu Zia, sekarang kau sudah bukan tanggung jawab orang tua mu, sekarang ridho Alloh ada di aku bukan di orang tua mu lagi" ucap Adam.


"Ya aku tau Ridho Alloh ridho suami kan" ucap Zia.


"Kau benar Zia, jadi ingat aku ini jalan untuk mu menuju ke surga" ucap Adam.


"Ya tapi Gus bagai mana kalau suami nya galak" tanya Zia.


"Sebenarnya segalak apa pun seorang suami dia akan tetap mencintai istrinya, contoh nya Siti Asiyah istri Fir'aun, walau pun Siti Asiyah tak bahagia pada pernikahan nya tapi Fir'aun tetap sayang pada istri nya" ucap Adam.


"Ya juga ya" ucap Zia.


"Cuman beda nya Siti Asiyah di jamin masuk surga" ucap Adam.


"Ya karena dia baik" ucap Zia.


"Baik lah ayo kita lihat tamu yang baru datang" ucap Adam.


"Baik lah ayo" ucap Zia.


Mereka Keluar ternyata tamu itu sangat banyak ada 6 orang dewasa dan 5 anak kecil.


Mereka tengah menikmati makanan yang Umi suguhkan bahkan ada yang sampai Duduk di lantai karena tak kebagian tempat duduk di kursi.


"Saha eta" (siapa itu) tanya Kiyai Zaki.


"Oh dia Zia istri nya Adam" ucap Abah.


"Oh istri" ucap Kiyai Zaki.


Adam langsung menyalami semua keluarga Kiyai Zaki, Zia yang tau pun langsung ikut bersama Adam menyalami mereka semua.


"Saha kakasih teh" (siapa nama nya) tanya kiayi Zaki yang membuat Zia heran tak bisa jawab.


Zia melirik pada Adam.


"Namanya Zia" ucap Adam.


"Oh Zia" ucap Kiayi Zaki.


"Ya" ucap Adam.


Zia hanya tersenyum melihat hal itu dia sangat tak paham pada bahasa Sunda.


Zia langsung duduk di lantai bersama dengan Adam.


"Kenapa di bawah di atas saja" ucap seorang laki laki yang berwajah seperti antagonis.


"Tak apa" ucap Zia.


"Sur tong kitu" (Sur gak boleh begitu) ucap kiyai Zaki.


"Apa Abah" ucap Surya anak nya Kiyai Zaki.


Zia hanya tersenyum ternyata benar Adam bisa emosi karena sikap nya juga begitu.


Hingga lama sekali Adam menerima banyak ucapan yang cukup menyakitkan, namun dia hanya diam saja tanpa bicara sedikit pun.

__ADS_1


Bahkan hanya senyuman saja yang Adam pancar kan.


"Adam aku dengar kau kuliah di luar negeri" tanya seorang wanita menantu Kiyai Zaki.


"Ya" ucap Adam.


"Jurusan apa yang kamu ambil" tanyanya.


"Jurusan ilmu sosial" ucap Adam.


"Apa kau akan jadi jaksa" tanya nya.


"Tidak aku hanya ingin mengambil ilmu sosial supaya aku lebih paham saja" ucap Adam.


"Kenapa kau tak sekolah di Arab saja sekolah dakwah" tanya Surya.


"Aku mau ilmu sosial" ucap Adam singkat.


"So soan kuliah di luar negeri, dam dam kamu ini ada ada saja bahkan yang sarjana saja di Indo banyak yang nganggur" ucap Surya.


Adam tersenyum


"Walau pun begitu setidaknya aku bisa menjaga lidah ku untuk tak mengomentari keinginan orang lain" ucap Adam datar.


"Si al! Berani sekali kau" ucap Surya.


"Apa merasa" tanya Adam.


"Adam jangan buat aku marah" ucap Surya yang sudah geram.


Adam akan bicara bahkan mulutnya sudah mau mengeluarkan suara.


"Mohon maaf kami permisi karena kamu mau ke rumah orang tua saya" ucap Zia yang langsung menarik Adam untuk keluar dari sana.


"Umi, Abah aku ke rumah mamah dulu katanya mamah punya kejutan untuk aku" ucap Zia.


"Ya Zia hati hati di jalan" ucap Abah.


"Ya neng" ucap Umi.


Zia dan Adam langsung pergi dari sana.


"Ayo" ucap Zia.


"Kau kenapa" tanya Adam.


"Kau marah kan" ucap Zia.


"Aku gak marah" ucap Adam.


"Masa sih" tanya Zia.


"Memang nya ada apa" tanya Adam.


"Tadi saudara kamu bilang" ucap Zia.


"Aku tak marah tapi wajar kan aku membalas nya" ucap Adam.


"Ya sih" ucap Zia.


"Dia memang begitu selalu mengajak berantem entah ada masalah apa dia sampai selalu saja begitu" ucap Adam.


"Mungkin dia marah pada mu" ucap Zia.


"Marah kenapa bahkan kita hanya bertemu satu tahun sekali" ucap Adam.


"Entah" ucap Zia.


"Baik lah ayo kita ke rumah mamah" ucap Adam.


"Ya ayo" ucap Zia yang langsung naik ke atas motor karena mereka berangkat pakai motor Supaya lebih cepat sampai.


Sesampainya di sana Zia langsung masuk ke dalam rumah nya, banyak sekali makanan yang ada di sana.


"Mah, mamah buat ini semua" tanya Zia.


"Tidak mamah beli dari pasar" ucap Nita.


"Oh aku pikir" ucap Zia.


Tanpa segan Zia langsung mengambil cemilan dan memakan nya di hadapan Adam.


"Zia kau baru saja makan" ucap Adam.


"Ya sudah terserah" ucap Adam.


"Kamu mau gak" tanya Zia.


"Gak usah aku kenyang" ucap Adam.


"Ya sudah" ucap Zia.


"Makan nya pelan pelan" ucap Adam.


Uhukk.. uhukk.


"Tuh kan batuk" ucap Adam yang mendengar Zia terbatuk batuk karena keselek makanan.


Adam mengambil kan minum untuk Zia.


"Minum lah" ucap Adam.


"Makasih" ucap Zia.


"Makan nya pelan pelan makan nya" ucap Adam.


"Ya bawel" ucap Zia pada Adam.


"Oh ya nak Adam besok kita mau ke kota pukul 6 pagi sudah siap" ucap Topan.


"Ya pah akan aku usaha kan sebelum jam 6 aku sudah datang" ucap Adam.


"Ya" ucap Topan.


"Oh ya pah apa benar kak Raya hamil" tanya Zia.


"Bener" ucap Topan.


"Aku gak sabar akan punya keponakan" ucap Zia.


"Zia harus nya kau juga punya anak cepat" ucap Nita.


"Kenapa" tanya Zia.


"Kamu akan dewa sa kalau punya anak" ucap Nita.


"Mah kenapa sih, aku juga mau punya anak hanya saja aku belum di kasih jadi yaudah nanti juga punya kan" ucap Zia.


"Ya tapi Zia seorang suami biasa nya suka ngebet mau punya anak" ucap Nita.


"Gus kamu begitu" tanya Zia pada Adam.


Adam menggelengkan kepalanya.


"Aku gak mempermasalahkan nya tapi kalau Alloh kasih aku kepercayaan maka aku akan terima" ucap Adam.


"CK sama saja" ucap Zia dengan memonyongkan bibirnya.


"Zia semua orang menginginkan seorang anak cuman waktu dan kapan nya tak bisa di pastikan karena itu takdir tuhan" ucap Topan.


"Ya pah" ucap Zia.


Adam hanya tersenyum melihat Zia yang sangat rakus, dia merasa kan sikap Zia yang aneh.


Bahkan sekarang Zia sangat cengeng masalah kecil pun akan langsung membuat Zia menangis.


Adzan ashar berkumandang Zia dan Adam melaksanakan sholat di kediaman orang tuanya Zia.


Setelah selesai mereka langsung pulang karena Adam yakin kalau keluarga kiyai Zaki sudah pulang.


"Pah, mah aku datang pagi" ucap Zia.


"Ya mamah tunggu" ucap Nita.


"Oh ya mah aku punya manisan untuk kak Raya itu seger sekali" ucap Zia.


"Kalau banyak bawa saja" ucap Nita.


"Ya aku akan bawa aku di beri banyak oleh umi" ucap Zia.


"Ya" ucap Nita.


"Mah pah kami permisi assalamualaikum" ucap Adam.

__ADS_1


"Waalaikum salam" ucap Nita dan Topan.


Malam hari nya Zia tengah bicara dengan Rena sambil menonton drama Korea dari laptopnya Zia.


"Kak punya nomor nya Gus Luthfi" tanya Rena.


"Punya" ucap Zia.


"Oh" ucap Rena.


"Apa kangen ya" tanya Zia.


"Ihh kakak gak lah" ucap Rena.


"Jujur saja Ning jangan bohong" ucap Zia.


"Gak ih" ucap Rena.


"Mau aku hubungi" tanya Zia.


"Boleh deh" ucap Rena.


Zia langsung mengutak atik ponsel nya dia mencari nomor ponsel Gus Luthfi.


"Ini mau kirim pesan apa" tanya Zia.


Rena langsung mengambil alih ponsel Zia ke tangan nya, Dia langsung mengutak atik ponsel kakak iparnya itu.


{Assalamualaikum... Rena} pesan dari aplikasi gagang telepon milik Zia.


{Waalaikum salam} balas Luthfi cepat.


{Kapan datang} tanya Rena.


{Secepat nya, ada pekerjaan yang belum aku selesai kan jadi sabar ya} balas Luthfi.


{Ya baik lah} pesan Rena.


{Lagi apa} tanya Luthfi.


{Nonton Drakor dengan kak Zia} balas nya.


{Oh, baik lah aku sedang si sibuk maafkan aku} pesan dari Luthfi lalu nomor nya pun sudah tak aktif lagi.


Rena dengan cepat langsung menghapus pesan itu, dia merasa kalau Luthfi sangat acuh jika di ponsel.


"Sudah" tanya Zia.


"Sudah" ucap Rena.


"Kenapa sebentar" tanya Zia.


"Gus Luthfi nya lagi sibuk" ucap Rena.


"Cemburu ya" ucap Zia.


"Gak" ucap Rena.


"Oh ya Ning, aku heran Gus Luthfi kan kaya kenapa dia bekerja di pesantren sebagai penjaga bukan nya gaji penjaga itu tak terlalu besar ya" tanya Zia.


"Entah" ucap Rena.


"Aneh kan" ucap Zia.


"Mungkin dia mau saja" ucap Rena.


"Tapi gak masuk akal Ning, kamu bayangkan saja dia sudah kaya lalu untuk apa dia bekerja di sini sebagai penjaga" ucap Zia.


"Mungkin dia mau saja" ucap Rena.


"Kamu ini sejak tadi jawaban nya mau aja mau aja, ya aku tau dia mau tapi aneh bukan, apa jangan jangan dia bekerja di sini hanya karena demi kamu Ning" ucap Zia.


"Ah mana mungkin" ucap Rena.


"Mungkin saja" ucap Zia.


"Sudah lah aku mau tidur, kakak tidur lah kasihan Gus Adam tidur sendiri" ucap Rena.


"Anak kecil gak akan paham" ucap Zia.


Dengan cepat Zia menutup laptopnya dia langsung masuk ke dalam kamar, terlihat kalau Adam masih tadarus Al Qur'an.


Zia langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di sana.


Zia menarik selimut nya sampai menutupi sebagian tubuhnya.


"Zia persiapkan dahulu pakaian sebelum tidur kita akan bangun pagi" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia yang langsung bangun dan memasukan pakaian nya dan pakaian Adam ke dalam tas yang cukup besar.


Adam mengakhiri tadarusan nya, dia langsung mengambil amplop coklat yang ada di saku kokonya.


"Zia kata Abah ini gaji mu selama dua bulan" ucap Adam.


"Gaji apa" tanya Zia.


"Gaji kamu ngajar" ucap Adam.


"Tapi kenapa di gaji" ucap Zia.


"Gak apa ambil saja" ucap Adam.


"Baik lah terima kasih" ucap Zia.


"Ya" ucap Adam.


Adam juga memberikan amplop coklat milik nya pada Zia.


"Ambil lah" ucap Adam.


"Tapi kamu" tanya Zia.


"Gak usah kalau aku mau aku minta kamu saja" ucap Adam.


"Baik lah" ucap Zia.


"Kamu gak usah khawatir Zia, uang makan sudah aku kasih pada Umi" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


"Biar Umi yang urus semua kamu hanya bantu Umi saja ya" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia.


Pagi harinya Adam sudah bersiap dia menunggu Zia yang masih merias wajah nya di kamarnya.


Adam mengutak atik ponselnya dia melihat lihat media sosial nya.


Sekali Adam online dia pasti membagikan ceramah pada teman sosial media nya.


Zia Keluar dari kamar dia sudah siap untuk segera pergi.


"Ayo" ucap Zia.


"Abah, Umi aku berangkat" ucap Adam.


"Ya dam" ucap abah.


"Gak makan dulu" tanya Umi dari arah dapur.


"Gak usah Umi" ucap Zia.


"Mau bekal apa, ambil saja Neng" ucap Umi.


"Aku ambil manisan saja Umi, kak Raya kakak ipar aku lagi hamil dia pasti suka" ucap Zia.


"Ya ambil saja yang banyak" ucap Umi.


"Ya Umi terima kasih" ucap Zia.


bersambung


promosi novel..



siapa tau saja ada yang penasaran pada kisah kakak nya Zia ya tentang Rayhan dan Raya.


silahkan mampir ke novel Mak othor yang judul nya.


"dendam lama sang mafia".


terima kasih

__ADS_1


__ADS_2