Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 116


__ADS_3

Adam dan Zia hanya menatap mereka sampai laki laki itu pergi dari sana dan Maya kembali lagi masuk ke dalam kamarnya.


"Harus apa aku kalau Abah tau bisa marah besar dia" gumam Adam.


"Aku bilang apa Gus, kita gerebek saja mereka" ucap Zia.


"Zia kalau sampai di gerebek bukan hanya mereka yang akan malu tapi pesantren ini juga akan malu, keamanan disini akan di pertanyakan" ucap Adam.


"Satpam yang biasa berjaga ke mana" tanya Zia.


"Entah" ucap Adam.


Namun tiba tiba ada seseorang yang memegang bahu Zia membuat Zia seketika kaget dan langsung memeluk Adam, namun posisi jongkok Adam tak benar membuat nya terjungkal karena tak kuat menopang berat badan Zia.


"Aaaa" teriak Zia.


Brughh


Adam dan Zia terjatuh ke tanah bahkan tubuh Adam sampai menubruk tanaman di sana.


"Astaghfirullah" ucap seseorang yang ada di sana.


"Gus Luthfi" ucap Adam yang melihat ada Luthfi yang sedang berdiri di sana.


"Gus adam maaf kan saya, saya kira kalian santri yang sedang berduaan jadi saya tak sengaja memegang bahu Zia, sekali lagi maafkan saya Gus" ucap Luthfi merasa bersalah.


"Tak masalah, lagian salah Zia juga yang membuat aku kaget sehingga aku terjungkal" ucap Adam.


"Anda tak apa" tanya Luthfi.


"Tak aku baik baik saja" ucap Adam yang langsung berdiri dan langsung membantu Zia.


"Gus lain kali panggil saja jangan pegang bahu aku kaget aku kira kau hantu" ucap Zia.


"Zia gak boleh begitu" ucap Adam menyenggol lengan Zia.


"Apa" tanya Zia.


Zia menatap pada baju nya yang kotor Bahkan tangan nya juga sakit karena terkena batu yang ada di sana.


"Sakit" ucap Zia.


"Kita obati di rumah" ucap Adam.


"Ya ayo" ucap Zia.


Adam menatap pada Luthfi.


"Gus bisa kita ngobrol di teras Madrasah" tanya Adam.


"Oh ayo" ucap Luthfi.


"Tunggu saya" ucap Adam yang akan mengganti pakaian nya karena kotor.


Adam dan Zia kembali ke dalam rumah, dengan cepat Adam langsung berganti pakaian memakai pakaian yang bersih.


Mungkin kalau di lihat Adam hanya memakai sarung serta kaos polos saja.


Sedangkan kalau sedang mengajar Adam selalu pakai baju Koko dan sarung serta kopiah yang selalu ada di atas kepalanya.


"Aku akan menemui Gus Luthfi dulu" ucap Adam.


"Tolong pakai kan pelester di tangan ku" ucap Zia.


"Ya tuan putri" ucap Adam.


"Padahal Luka nya sedikit tapi terasa sangat sakit" ucap Zia.


"Ya tak masalah nanti juga sembuh" ucap Adam.


"Baiklah aku akan menemui Gus Luthfi dulu, kau tidur saja, Zia jangan beri tau masalah ini pada orang lain oke, apa lagi kalau sampai Abah tau" ucap Adam.


"Ya Gus aku bisa menjaga rahasia" ucap Zia yang langsung menutup mulutnya dengan jari nya.


"Bagus" ucap Adam.


Adam berjalan ke arah Teras Madrasah, Adam mencoba menenangkan diri supaya tak marah pada Luthfi yang teledor sampai ada santri yang melakukan hal itu.


Sesampai nya di teras Madrasah Adam melihat ada Luthfi di sana.


"Ada apa Gus" tanya Luthfi.


"Kemana saja kau" tanya Adam.


"Aku tadi melihat lihat ke arah kamar santri putra" ucap Luthfi.


"Oh ya, kenapa lama? Kemana saja kamu" tanya Adam.


"Ada apa Gus, tugas ku emang di kamar santri putra kan aku ke sini karena saat aku sudah mengamankan di sana, lagi pula tadi ada pak Ujang di sini" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Kau tau Gus? Apa kau ingin tau? Hah? Gus ada santri putri yang melakukan me sum dengan seorang laki laki dari luar sana, sekarang kita harus apa hah? Aku tak mau sampai Abah tau permasalahan ini, Gus kau tau kalau sampai warga tau bagai mana pesantren kita akan menanggung malu sebesar itu" ucap Adam sambil membentak.


"Astaghfirullah, tapi Gus aku gak tau" ucap Luthfi.


"Aku bisa bukti kan kalau tadi saat aku ke kamar santri putra aku pasti kan kalau pak Ujang ada di sini" ucap Luthfi lagi.


"Lalu sekarang pak Ujang ke mana hah? Aku gak mungkin menyelesaikan ini sendirian, nama nya juga kebohongan suatu saat nanti pasti akan terbongkar" ucap Adam.


"Kenapa kau terus menyalah kan aku, Gus kau tak tau kerjaan aku itu ke sana kemari bahkan aku siang malam kurang tidur dan saat ada masalah kau menyalahkan aku sepihak" ucap Luthfi.


"Ya aku tau pekerjaan mu" ucap Adam yang mencoba mengontrol emosi nya.


"Siapa wanita yang melakukan itu" tanya Luthfi.


"Maya" ucap Adam.


"Biar aku yang marahi dia" ucap Luthfi yang sudah geram karena Adam menyalah kan nya padahal selama beberapa tahun ini tak ada yang mampu mempertanyakan pekerjaan nya.


Adam menahan Luthfi dengan memegang tangan nya.


"Aku harap kau tak teledor aku tak mau Abah sampai tau" ucap Adam.


"Lalu bagaimana sekarang" tanya Luthfi.


"Kita tuntut laki laki itu untuk bertanggung jawab, aku rasa mereka sudah melakukan hal yang jauh" ucap Adam.


"Kau tau siapa laki lakinya" tanya Luthfi yang marah tapi bukan marah pada Adam tapi pada kelalaian nya.


"Anak nya Bu Ratih, nama nya Riki" ucap Adam.


"Baik lah ayo kita buat dia tanggung jawab" ucap Luthfi geram.


Mereka berdua berjalan ke arah rumah Bu Ratih yang tak cukup jauh dari pesantren.


Adam menatap pada Luthfi yang sekarang sangat marah terlihat dari dadanya yang turun naik karena menahan amarah.


Sesampainya di sana Adam melihat kalau laki laki yang tadi sempat ke pesantren sedang duduk menyendiri di teras rumah nya.


"Assalamualaikum" ucap Adam yang membuat laki laki itu terkejut dan takut menatap Adam yang baru saja datang.


Dia hendak kabur tapi dengan cepat Luthfi Langsung lari dan menahannya supaya tak bisa kabur dari sana.


"Mau ke mana" tanya Luthfi ketus dan marah pada laki laki itu.


"Ampun" ucapnya.


"Baik lah" ucap Luthfi yang langsung menarik orang itu menjauh dari rumah nya supaya tak menganggu tetangga yang lain.


"Berani sekali kau menyentuh santri di pesantren" geram Luthfi yang langsung mendorong orang itu.


"Maaf kan saya" ucap Riki.


"Maaf? Kau bilang maaf? Apa kau tau apa akibatnya? Kau tak berpikir bagai mana kalau pesantren akan menanggung malu hah? Kalau hanya orang tua mu saja yang malu aku tak akan jauh jauh datang kemari tanya untuk mu, dasar anak tak tau di untung kau mau jadi apa hah berani menyentuh wanita yang bukan mahram mu, apa kau ingin tangan mu aku Potong" geram Luthfi pada Riki.


"Tenang Gus" ucap Adam.


"Kau hanya sampah masyarakat, aku minta kau tanggung jawab sekarang juga, aku tak mau tau" geram Luthfi lagi.


"Tapi orang tua Maya tak merestui kami" ucapnya.


"Lalu kau pikir apa hah" bentak Luthfi yang membuat Riki sangat ketakutan.


"Apa karena orang tua dia tak merestui kalian, kau berani sampai menyentuh nya, apa se sempit itu pikiran mu" geram Luthfi.


"Maaf" ucapnya.


"Nikahi dia sekarang aku akan antar kau melamar nya besok kau harus ada di rumah" ucap Luthfi.


"Tapi dia masih sekolah" ucap Riki.


"Kalau kau tau dia masih sekolah kenapa kau sentuh dia" tanya Luthfi menatap tajam pada Riki.


"Karena dia juga yang menggoda ku" ucap Riki membela.


"Makan nya penting nya belajar ilmu agama itu begini, kau menyalahkan seorang wanita yang sudah jelas jelas tipu daya mereka itu sangat dahsyat, lalu setelah nya kau akan menyalakan Setan yang membisikkan pada mu untuk melakukan sesuatu, begitu jalan pikiran mu" tanya Luthfi.


"Seharusnya kau menjauh kalau pun benar dia yang menggoda mu tahan iman, tahan naf su, aku juga punya naf su aku juga ingin tapi aku tahan aku bisa menahan nya, matikan sugesti mu itu anggap kalau itu hanya lah sebuah tontonan yang tak bermanfaat dan buat mata mu tak melihat hal itu" ucap Luthfi lagi.


"Tapi aku" ucap Riki mencoba membela.


"Apa tapi kamu apa? Hah? Kamu gak kuat iman, kamu gak tahan? Ya? Aku hafal watak setiap orang, jadi jangan berbohong pada ku, aku yakin kalau para santri putri dari pesantren tak pernah berbuat yang macam macam, apa lagi menggoda" ucap Luthfi.


"Tapi benar dia yang mulai duluan" ucap Riki.


Bughh


Luthfi membogem perut Riki sampai membuat Riki menyerang kesakitan.


"Apa Maya berjoged di depan mu hah? Apa maya membuka pakaian nya di hadapan mu hah? Aku tau iman mu lemah bahkan hanya melihat tangan perempuan pun kau merasa berna fsu seburuk itu kau" geram Luthfi.

__ADS_1


Adam hanya melihat saja karena saat ini Adam bahkan lebih takut pada wajah Luthfi yang garang.


Sejak tadi Luthfi tak memberi kan waktu untuk Riki bicara atau menjelaskan.


"Aku minta maaf" ucap Riki.


Plakk


Satu tamparan melayang ke pipi kiri Riki.


"Berani kau bilang maaf lagi aku tampar kau, minta maaf lah pada orang tua Maya dan pada Maya lalu nikahi Maya" ucap Luthfi.


"Tapi aku gak bisa" ucap Riki.


Bughh


Luthfi membogem pipi kanan Riki sehingga membuat nya kesakitan.


"Aku minta kau tanggung jawab atau kau mau babak belur sekarang juga" ucap Luthfi.


"Maaf" ucapnya.


"Tanggung jawab" ucap Luthfi.


"Ya aku akan tanggung jawab aku janji akan tanggung jawab besok aku akan ke rumah nya bersamaan dengan Maya sekalian" ucapnya.


"Bagus lah" ucap Luthfi.


"Lepas kan aku" ucap Riki.


"Kau lihat rumah itu" ucap Luthfi menunjuk pada rumah Riki.


"Kalau sampai besok kau tak ada maka aku akan pasti kan kalau kau akan melihat rumah itu rata dengan tanah" ucap Luthfi.


"Gak akan aku gak akan pergi aku sayang pada Maya" ucap Riki.


"Bagus" ucap Luthfi yang langsung membebaskan Riki.


Luthfi menarik nafas nya menetralkan emosi nya yang sudah membuncah itu.


"Astaghfirullah" gumam Luthfi mengusap wajah nya.


(Sudah Gus marah nya, Gus Adam jadi takut pada mu)


"Baik lah kita pulang" tanya Luthfi.


"Ayo" ucap Adam.


Adam menatap pada sahabat nya itu.


"Gus Luthfi aku minta maaf karena aku sudah membentak mu" ucap Adam.


"Tak masalah" ucap Luthfi.


"Aku sangat tersulut emosi" ucap Adam.


"Tak apa lagi pula aku memang salah" ucap Luthfi.


"Astaghfirullah Gus rekaman cctv" ucap Adam yang baru teringat pada rekaman cctv.


"Kenapa" tanya Luthfi.


"Aku mengalihkan pemantauan nya ke ponsel Abah" ucap Adam.


"Hah gawat" ucap Luthfi.


Mereka berdua langsung berlari dari sana menuju ke arah pesantren karena tak mau sampai Abah melihat rekaman itu.


sesampainya di pesantren mereka bingung harus melakukan apa karena Abah tidur di kamar nya dan selama ini Adam tak berani masuk ke dalam kamar Abah.


bahkan Adam juga tak berani mengutak atik ponsel Abah kalau bukan karena ada masalah atau hal yang sangat penting.


"bagai mana ini" tanya Adam pada Luthfi yang sekarang mereka berada di ruang tamu rumah Abah.


"apa tak bisa di pindah kan lagi" tanya Luthfi.


"bisa tapi harus keluar Dulu dari ponsel Abah" ucap Adam.


"masalah satu kelar ada lagi masalah baru" ucap Luthfi.


tanpa mereka sadari mereka tertidur di ruang tamu rumah Abah, dengan posisi Adam di kursi panjang dan Luthfi bersandar pada kursi namun dia duduk di teras.


pagi harinya..


"astagfirullah" teriak Abah dari dalam kamar seperti terkejut.


Adam dan Luthfi langsung bangun dari tidur nya mereka, mereka terkejut karena takut nya Abah sudah tau.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2