Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 135


__ADS_3

Malam hari nya para santri sudah akan tidur, malam ini Abah belum tidur dia masih bangun dan menatap ke arah luar halaman rumah nya.


Akhir akhir ini Abah merasa kalau dirinya ada di bawah kuasa Ustadz Hasan, bahkan apa pun yang Abah lakukan harus di lapor kan pada Ustadz Hasan.


Bukan nya Abah mau berpikir buruk tetapi kalau sikap Ustadz Hasan begini terus maka Abah akan semakin merasa kalau dia hendak berkuasa.


Kalau mengingat pada silsilah pesantren itu, Hanya Abah lah yang berhak menguasai pesantren itu, sedang kan Ustadz Hasan siapa karena dia bukan siapa siapa dan dia hanya lah asisten Abah.


Abah menunjuk Ustadz Hasan untuk menjadi bendahara yang memegang keuangan pesantren karena dia banyak kenal dengan orang jauh, bahkan Ustadz Hasan juga punya rekening.


Namun jaman semakin canggih, Abah juga punya rekening sendiri walau pun begitu dia tak pernah meminta pada donatur untuk mengirimkan uang pada Abah.


Abah terus mempekerjakan Ustadz Hasan, Abah hanya ingin dia menjadi manusia yang jujur dan amanah namun Abah salah kepercayaan Abah padanya hanya di jadikan sebagai guyonan.


Bahkan sekarang Abah ada di kuasanya Ustadz Hasan.


"Aku harus apa, tak seharusnya aku bersikap begini apa lagi Ustadz Hasan itu teman masa kecil ku, tapi Ya Alloh kalau begini terus maka ustadz Hasan seolah memegang kendali atas diri ku, Astaghfirullah sungguh hanya engkau lah yang maha membulak balikan hati manusia" batin Abah.


Abah melihat Luthfi yang sedang menjaga keamanan, Abah cukup bangga padanya karena kerja keras Luthfi yang rela bangun malam hanya untuk mengamankan para santri.


"Kalau saja aku punya anak putri, maka aku akan sangat senang kalau anak ku itu menikah dengan Gus Luthfi" gumam Abah.


"Abah kan punya Ning Rena, nikah kan saja dia dengan Gus Luthfi" ucap Umi yang baru saja datang ke sana.


"Umi, Abah hanya berpikir saja" ucap Abah.


"Abah aku pikir Ning Rena dan Gus Luthfi itu cocok" ucap Umi.


"Tidak Umi, Ning Rena sangat manja dan Gus Luthfi orang nya cukup keras" ucap Abah.


"Lalu kalau manja bagai mana" tanya Umi.


"Ya Abah takut saja kalau Gus Luthfi akan berlaku kasar pada Rena" ucap Abah.


"Abah, Gus Luthfi itu bukan orang gi la yang akan menampar istri nya tanpa alasan yang kuat, bukan kah seorang istri berhak bermanja manja pada suami nya" tanya Umi.


"Ya tapi Abah hanya takut saja" ucap Abah.


"Ning Rena sudah besar Abah, dia akan menikah juga nanti nya, Umi harus siap melepas kan dia" ucap Umi.


"Seharusnya Umi harus persiapkan hal itu dari sekarang, karena Abah yakin kalau Sofi ingin bersama dengan Rena" ucap Abah.


"Umi tak akan biarkan itu terjadi" ucap Umi.


Pagi hari nya para santri sudah selesai sahur sekarang puasa ke 14 hari, dan santri kelas 3 SMP dan sma sedang ulangan.


Abah tak bisa tentu kan kapan ulangan semester akan di mulai karena yang Abah pikirkan sekarang sudah pasti para santri kelas 3 SMP dan sma akan sibuk mulai dari sekarang.


Para santri senior mengajar dengan kondusif karena sekarang rencana nya akan ada yang datang untuk membicarakan ulangan yang akan datang.


Walau pun pesantren tetapi sekolah Abah itu terbilang negri, jadi sekolah itu juga berhak ujian nasional seperti di sekolah yang lain.


"Ayo belajar jangan banyak ngobrol" sahut Adam.


"Baik Gus" serempak.


Terlihat jelas oleh Adam kalau Bu Isma sejak tadi melihat Zia terus, padahal sekarang Zia tengah mengajar.


"Bu Isma seperti mencari cari kesalahan Zia, ada masalah apa Bu Isma" gumam Adam.


Adam sekarang tak mengajar karena akan pulang lagi akan belajar, kebetulan dari universitas di luar negeri sudah memberikan pelajaran.


Adam mendekat pada Zia.


"Zia" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia.


Zia menghentikan pelajaran nya dan langsung mendekat pada Adam.


"Hati hati Bu Isma memperhatikan mu" bisik Adam.


"Kenapa dia" tanya Zia.


"Entah kamu hati hati saja" ucap Adam.


"Ya Gus" ucap Zia.


"Baik lah aku akan belajar" ucap Adam.


"Ya" ucap Zia.


Zia melanjutkan pelajaran nya sampai selesai, Zia bisa melihat Bu Isma dari sudut matanya.


Bu Isma berjalan mendekat pada Zia.


Namun tiba tiba saja Manda guru baru itu datang dan menabrak tubuh Bu Isma, sehingga membuat Bu Isma kelimpungan.


"Maaf kan saya Bu" ucap Manda.


"Makan nya kalau jalan pakai mana" ucap Bu Isma.


"Maafkan saya" ucap Manda.


"Kembali lah" ucap Bu Isma.

__ADS_1


Langkah Bu Isma yang akan mendekat pada Zia pun tak jadi karena dia putar balik ke arah kelasnya yang sedang belajar.


"Syukurlah" gumam Zia.


Tiba tiba saja Aulia datang dan langsung memegang bahu Zia.


"Aaa" Zia tersentak kaget.


"Maafkan saya Ustadzah Zia" ucap Aulia.


"Huhh tak apa aku pikir kau siapa" ucap Zia.


"Hahaha aku hanya ingin meminjam penghapus papan tulis" ucap Aulia.


"Ambil lah" ucap Zia.


"Terima kasih" ucap Aulia.


Namun Bu Isma seolah tak terima kalau Zia Mengobrol dengan orang lain.


"Diam kalian ini teriak saja bisanya" sahut Bu Isma dengan nada bicara yang di naik kan.


Semua orang menatap pada Bu Isma karena selalu saja Bu Isma kalau bicara selalu berteriak.


"Apa hah aku salah karena bicara ku keras lalu apa kabar dengan berandalan itu yang selalu berteriak" ucap Bu Isma.


"Dia pasti bicara itu pada ku, benar kata Gus Adam kalau Bu Isma memperhatikan aku" gumam Zia.


"Miris ya kehidupan jaman sekarang, orang salah di benarkan dan orang benar di salahkan" ucap Bu Isma.


Fauzi dan Farid hanya menggeleng kan kepala nya tak paham pada jalan pikiran Bu Isma.


Tak ada yang menggubris Bu Isma para santri yang lain juga terlihat belajar lagi tanpa mendengar kan ocehan Bu Isma.


"Apa tak bisa kah dia diam" tanya Farid pada Fauzi.


"Sudah lah nanti kau kena getah nya" ucap Fauzi.


"Ada orang seperti itu" ucap Farid.


"Banyak" ucap Fauzi.


Zia berusaha untuk tetap tenang.


"Seorang guru yang sudah punya suami tapi selingkuh pada anak SMA, hahaha miris sekali hidupnya" Bu Isma tertawa.


Bu Isma duduk di kursinya.


"Aku berdoa semoga kelas segera selesai supaya aku tak sering melihat wajahnya lagi" ucap Bu Isma.


"Amin" serempak para santri.


"Berani sekali kalian" ucap Bu Isma.


Dia langsung keluar dari Madrasah menuju rumah Abah yang sekarang tengah ada tamu dari pihak pemerintahan karena Akan membahas tentang ujian komputer yang baru akan di lakukan di pesantren.


Abah tengah fokus berbincang bincang dengan tamu itu, namun Bu Isma datang ke sana untuk mengadukan masalah nya itu.


"Abah" ucap Bu Isma yang langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi dulu.


"Ya Bu ada apa" tanya Abah bahkan para tamu pun ikut melihat Bu Isma.


"Para santri menghina aku" ucap Bu Isma.


"Hah tapi bagai mana bisa" tanya Abah.


Adam yang tengah Belajar di kamar pun mendengar hal itu, dengan cepat Adam langsung keluar.


Abah yang melihat Adam pun langsung mengkode Adam dengan matanya.


Adam paham pada kode Abah dia langsung membawa Bu Isma keluar.


"Ayo Bu biar aku yang bicara pada mereka" ucap Adam.


Bu Isma ikut saja pada Adam.


"Bu nanti Abah akan urus semua nya tapi nanti setelah tamu pulang" ucap Adam.


"Tapi Gus aku ingin Abah sekarang" ucap Bu Isma.


"Nanti Bu sekarang Abah tengah ada tamu" ucap Adam.


"Tapi aku mau nya sekarang" ucap Bu Isma.


"Bu tolong" ucap Adam.


"Ini juga karena istri mu Gus aku jadi di hina para santri" ucap Bu Isma.


"Karena Zia" tanya Adam.


"Ya karena istri mu" ucap Bu Isma.


"Aku akan bicarakan hal ini pada Zia, sekarang aku harus belajar lagi" ucap Adam.


"Baik lah" ucap Bu Isma.

__ADS_1


Adam hanya menggeleng kan kepala nya saja bahkan Adam tau betul kalau yang salah bukan Zia tapi Bu Isma sendiri.


"Ada ada saja" gumam Adam.


Para santri lanjut belajar lagi mereka tak memperdulikan Bu Isma yang baru saja datang lagi ke sana.


Bahkan para santri juga seolah acuh pada Bu Isma.


Hingga waktu nya pulang, saat ini Bu Isma langsung keluar lebih dahulu dia pergi lagi ke rumah Abah karena ingin Abah memarahi para santri.


"Abah" ucap Bu Isma yang langsung masuk ke dalam rumah Abah yang sekarang tamu nya sudah pulang.


Abah menghela nafas nya.


"Apa" tanya Abah.


"Abah ayo lah jangan begitu, marahi santri supaya tak ngelunjak lagi" ucap Bu Isma.


"Ya sudah Ayo aku akan marahi mereka semua" ucap Abah yang sudah kesal pada Bu Isma apa lagi Abah sedang memikirkan tentang ujian komputer yang akan datang.


Abah berjalan ke arah Madrasah yang sekarang para santri akan keluar.


"Masuk" ucap Abah dengan suara tinggi seperti membentak.


Sedangkan Bu Isma yang mengikuti di belakang Abah pun hanya tersenyum saja melihat Abah marah.


Para santri duduk rapih di tempat nya masing masing.


Mereka semua menunduk kan kepala nya karena tau kalau Abah sedang marah.


"Apa masalah kalian" tanya Abah.


"Ini Abah para santri menghina ku" ucap Bu Isma.


"Kalian semua menghina Bu Isma" tanya Abah.


"Tidak Abah" serempak.


"Lalu" tanya Abah menatap pada Bu Isma.


"Benar Abah mereka menghina ku" ucap Bu Isma tak mau kalah.


"Begini Abah, aku akan jelaskan aku takutnya Abah salah paham" ucap Fauzi.


"Ya" ucap Abah.


"Jadi tadi itu Bu Isma sedang bicara dia berdoa katanya dia ingin kalau Kelas segera selesai lalu para santri semua mengamin kan doa Bu Isma, apa salah" tanya Fauzi.


"Benar begitu" tanya Abah.


"Ya Abah tapi menantu Abah yang kurang ajar" ucap Bu Isma.


"Zia kenapa jadi pada Zia" tanya Abah.


"Ya dia itu berandalan" ucap Bu Isma.


"Tapi dia menantu saya" ucap Abah.


"Lakukan keadilan Abah" ucap Bu Isma.


"Gus Fauzi, Gus Farid, beri tau aku ada apa ini" tanya Abah.


"Abah Zia juga tak melakukan apa apa, Zia hanya mengajar para santri" ucap Fauzi.


"Abah mereka membela Zia karena mereka sahabatnya" ucap Bu Isma.


"Lalu siapa yang harus aku tanya" tanya Abah.


"Di sini gak akan ada yang membela saya" ucap Bu Isma.


"Bu lebih baik Ibu pulang saja karena sekarang waktu para santri terpotong" ucap Abah.


"Tapi besok Malasah ini harus di lanjutkan" ucap Bu Isma.


"Ya baik lah" ucap Abah.


Bu Isma pulang, Abah hanya menggeleng kan kepala nya saja, Abah tak habis pikir pada jalan pikiran nya Bu Isma apa lagi saat ini Bu Isma seolah mengadu domba kan Zia dan yang lainnya.


"Kalian silahkan istirahat" ucap Abah.


"Baik Abah" ucap para santri serempak.


Siang ini para santri istirahat karena nanti nya mereka akan segera melakukan tadarus dan kajian.


Seperti biasa Zia membantu Umi memasak menu sekarang adalah pindang balado, tumis kangkung dan tahu tempe goreng.


Adam masih belajar dari tadi, bahkan Zia tak berani menganggu Adam karena takut dia sedang belajar bersama dengan kedua teman nya.


Zia merasa cukup sedih sekarang apa lagi Adam akan ke luar negeri lagi, sekarang saja masih ada Adam Bu Isma berani berbuat ja hat pada Zia apa lagi saat Adam sudah pergi.


"Neng kenapa" tanya Umi.


"Gak Umi" ucap Zia.


"Kalau mau cerita cerita saja" ucap Umi.

__ADS_1


"ya Umi" ucap Zia.


bersambung


__ADS_2