Aziya Untuk Ustadz

Aziya Untuk Ustadz
bab 149


__ADS_3

Pagi hari nya di sebuah ruangan gelap seorang wanita cantik berusia sekitar 24 tahun menekan nekan tombol lampu sehingga membuat ruangan itu gelap kemudian terang.


"Kamu gagal" tanya nya sambil tersenyum sinis pada bawahan nya.


"Penghuni rumah itu memergoki aku" ucapnya.


Wanita itu melepaskan ikatan rambut nya sehingga memperlihatkan rambut terurai sepunggung yang terlihat bergelombang.


"Ceroboh" ucapnya.


Wanita itu melempar kan botol minum pada bawahan nya itu.


"Kau tau aku seja hat ini karena apa" tanya wanita itu dengan senyuman menyeringai yang cukup mengerikan.


Bawahan nya menggeleng karena tak tau apa permasalahan nya.


"Karena Zia" bentak nya sambil di iringi ketawa keras.


"Dia yang membuat aku begini ingin sekali rasanya aku mence kiknya sampai dia meninggal" ucap nya.


"Bisa kah aku pergi" tanya bawahan nya itu.


"Apa kau mau seperti tasya, dia di penjara sekarang karena apa? Karena dia mencoba membantah aku" geram nya.


"Tapi aku harus pulang" ucapnya.


"Tugas mu hanya satu lagi, ambil karung itu lepaskan di kamar Zia" ucap wanita itu menunjuk pada karung yang bergerak gerak.


"Tapi ini masih pagi, aku takut ada yang melihat aku" ucapnya.


"Gak akan ada lagi pula kau juga warga di kampung ini" ucap wanita itu marah.


"Baik lah" ucapnya patuh.


"Bagus".


Sedangkan di pesantren saat ini Zia tengah membuat manisan dari pepaya mentah.


Semalam Zia tidur cukup nyenyak jadi paginya tak merasa ngantuk.


Zia juga menghapal kan niat dan doa untuk melaksanakan sholat idul Fitri nanti, karena ini kali pertama untuk Zia melaksanakan sholat idul Fitri.


"Neng Zia, mau beli baju" tanya Umi.


"Entah umi" ucap Zia.


"Kamu sudah punya baju" tanya Umi.


"Punya umi dulu beli sampai sekarang belum aku pakai" ucap Zia.


"Ya tak apa, kita berpuasa bukan karena baju, hanya saja pakaian baru itu itung itung memeriahkan acara saja" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Zia.


"Kak aku kupas yang itu" ucap Rena meminta Zia untuk mengambil kan pepaya yang ada di dekat Zia.


"Oh ya" ucap Zia memberikan pepaya itu.


Hingga selesai memotong motong pepaya Zia mendengar ada suara ponsel berdering di kamarnya.


"Umi aku lihat dulu ponsel kayanya ada yang telpon" ucap Zia.


"Ya Neng" ucap Umi.


Namun saat Zia kesana Zia sangat terkejut dan ketakutan, seekor ular besar tengah menggulung selimut Zia yang belum sempat Zia lipat tadi.


"Aaaaaa" Zia berteriak membuat Umi dan Rena yang khawatir datang ke sana.


"Ada apa kak" tanya Rena.


"Ada apa Neng" tanya Umi.


"Umi itu" ucap Zia menunjuk ular yang tengah anteng menggulung selimut.


"Astaghfirullah" ucap Umi dan Rena bersamaan.


"Ning panggilkan Adam dan Abah" ucap Umi.


"Ya umi" ucap Rena yang langsung pergi dari sana.


"Umi ayo keluar takut nya ular itu sadar kalau kita ada di sini" ucap Zia.


"Ya ayo Neng" ucap Umi.


Mereka keluar dengan cepat Zia menutup pintu kamarnya itu.


"Dari mana ular itu datang" tanya Umi.


"Aku gak tau Umi padahal jendela juga belum aku buka" ucap Zia.


"Astagfirullah baru kali ini Umi lihat ular sebesar itu" ucap Umi.


"Ya Umi" ucap Zia.


Sedangkan Rena saat ini dia berlari menemui Adam dan Abah yang ada di Madrasah.


"Gus" sahut Rena.


"Ya ning ada apa jangan lari" ucap Adam.


"Di kamar kak Zia ada ular besar" sahutnya.


"Besar" tanya Adam.


"Ular" ucap Abah pada Adam.


"Ya Abah ular besar" ucap Adam.

__ADS_1


"Nanti pikiran kamu kemana mana kalau hanya besar saja" ucap Abah.


"Abah ini baik lah ayo biar aku dan Abah lihat" ucap Adam.


"Abah? Kamu saja sendiri Abah mah mana berani" ucap Abah.


"Ayo lah Abah kalau aku sendiri aku gak mungkin bisa" ucap Adam.


"Baik lah ayo" ucap Abah.


"Ayo Gus Jangan bicara terus" ucap Rena.


"Ya" ucap Adam yang langsung berlari menuju ke dalam rumah nya.


Adam masuk ke dalam dia melihat Zia dan Umi tengah berdiri di hadapan pintu kamar nya.


"Mana ular" tanya Adam.


"Di dalam" ucap Zia.


"Coba aku lihat" ucap Adam.


Adam melihat dari kejauhan ternyata ular itu tengah menggulung selimut, adam mencari cara untuk mengeluarkan nya tapi bagai mana karena ular itu cukup berbisa dan sangat besar.


"Harus apa aku" gumam Adam.


"Bagai mana sudah di tanggap" tanya Abah.


"Abah bagai mana cara aku menangkap nya" tanya Adam.


"Coba pakai tangan" ucap Abah.


"Kalau gigit bagai mana" tanya Adam.


"Kamu gigit lagi" ucap Abah.


"Abah" ucap Adam yang sekarang tengah serius dengan masalah nya.


"Gunakan saja kayu, buka Jendela mu keluar kan pakai kayu" ucap Abah.


"Akan aku coba" ucap Adam yang langsung mengambil gagang sapu yang ada di pojok kamarnya.


Adam membuka jendela kamarnya menggunakan sapu itu, karena jendela belum adam tutup jadi bisa dengan mudah di buka.


Adam mencoba mengambil ulat itu gagang sapu, namun Ular itu langsung turun seperti licin.


Adam tas sadar kalau ular ity mendekati padanya dengan cepat Adam keluar dari kamar itu.


"Aaaa" Adam berteriak dan langsung keluar, Umi dan Yang lain juga ikut panik mereka langsung berlari ke arah dapur ada juga yang lari ke arah luar.


Adam langsung naik ke atas kursi bersama dengan Zia sedang kan Umi dan Abah masuk ke dapur hanya Rena lah yang keluar dari rumah karena takut.


Ular itu seolah tau dia langsung menuju ke arah luar namun Adam langsung mengambil ponsel nya yang dia simpan di saku bajunya.


📞📞


"Hallo ini ada ular besar di pesantren Zakaria" ucap Adam.


"Segera lah" ucap Adam.


📞📞


Ular itu di menuju ke arah luar namun dengan berjalan sangat lambat, bahkan sampai sekarang saja dia belum keluar dari rumah.


"Kak" sahut Rena yang ada di luar.


"Ning kamu pergi dulu menjauh" ucap Adam.


"Aku takut" ucap Rena.


"Cepat lah" ucap Adam.


Rena berlari dari sana menuju ke arah kelas yang tak jauh dari sana.


"Ya Alloh ular itu sangat besar" gumam Rena.


Sedangkan Zia dan Adam masih berada di atas kursi, Umi dan Abah mengintip di kamarnya.


"Bagai mana" tanya Abah.


"Belum keluar" ucap Adam.


Satu hal yang paling Adam heran kenapa ular itu langsung diam di depan pintu rumah.


Bahkan ular itu seperti tak mau bergerak lagi.


Ternyata ular itu bertelur di sana terlihat jelas oleh Adam dan Zia kalau ular itu mengeluarkan dua telur.


"Gus dia bertelur" ucap Zia.


"Ya Zia" ucap Adam.


Mobil pemadam kebakaran datang ke sana, Rena yang sadar pun langsung membuka kan gerbang supaya mobil itu bisa masuk pesantren.


"Di mana ularnya" tanya pemadam kebakaran itu.


"Di rumah" ucap Rena.


Merela langsung menuju ke arah rumah karena akan langsung cepat mengevakuasi ular itu supaya tak menggigit orang lain.


Peralatan sudah siap, merela langsung melihat di mana ular itu berada.


Tanpa takut mereka mengambil ular itu dengan tongkat dan memasukan juga telur nya ke dalam kandang.


"Apa ada lagi" tanya pemadam kebakaran itu.


"Tak ada hanya itu saja" ucap Adam yang langsung turun dari atas kursi.

__ADS_1


"Dari mana datang nya ular ini" tanya nya.


"Saya lihat ular itu ada di kamar dia tengah menggulung Selimut" ucap Zia.


"Usaha kan jangan berantakan dan jangan membiarkan jendela kamar terbuka tanpa pengawasan" ucapnya.


"Ya pak terima kasih" ucap Adam.


"Baik lah kami permisi" ucap nya.


"Terima kasih pak" ucap Abah.


Mereka langsung pergi dengan membawa ular itu,


"Alhamdulillah ada pawang nya" ucap Abah.


"Gus bagai mana selimut aku dan kasur" ucap Zia.


"Kamu tenang ya aku yang akan mencuci nya" ucap Adam.


"Ya deh aku takut" ucap Zia.


Adam lah yang mencuci selimut sprei dan yang lain nya bahkan Adam juga menjemur kasur.


Adam membereskan kamarnya sedang kan Zia membantu umi membuat manisan.


Adam melihat pada jendela nya yang terbuka, tak ada yang aneh namun Adam melihat sebuah karung yang cukup besar di sana.


Adam berjalan keluar dia melihat karung itu,


"Kenapa ada karung di sini" tanya Adam.


Adam membulak balikan karung itu namun tak ada yang aneh hanya saja ada bagian yang kotor seperti bekas di seret karena berat.


Adam melihat tanah yang terlihat seperti bekas jejak garis namun besar.


"Apa jejak ini bekas Karung ini" tanya Adam sambil berpikir.


Adam menyatukan keduanya dan benar saja ukuran nya Lumayan sama.


"Apa ular itu datang dari karung ini, apa ada orang yang sedang meneror ku dengan ular ini" gumam Adam.


Karena kalau di lihat keadaan pesantren cukup bersih bahkan belakangan rumah pun tak terlihat berantakan.


"Ada yang tak beres" gumam Adam.


Dia menyimpan karung nya di sana namun sudah Adam lipat terlihat dahulu supaya tak terlihat berantakan.


"Aku harus selidiki" ucap Adam.


Malam hari nya mereka semua berbuka puasa sekarang sudah hari ke 28 berpuasa, tak henti hentinya keluarga Abah bersyukur karena hal itu.


Karena di tahun selanjutnya belum tentu kita akan kesampaian lagi, bisa saja kematian datang karena kita tak tau kapan kematian akan datang namun kita hanya perlu mempersiapkan nya.


Karena pada dasarnya yang takut dan yang tak takut kematian pun pada akhirnya akan mati mati juga karena sudah takdir nya semua orang yang lahir maka akan meninggal.


Orang yang datang akan pergi, bahkan saat kematian itu tiba kita tak membawa apa pun, uang yang kita kumpul kan sampai lupa waktu tak akan kita bawa mati, tanah yang kita garap setiap hari tak akan kita bawa mati, rumah yang setiap hari kita tinggali tak akan di bawa mati, mobil atu motor yang kita pakai tak akan kita bawa, bahkan kain kafan pun tak memakai saku untuk mengantongi makanan.


Jadi apa yang akan kita bawa? Hanya amal perbuatan kita selama kita hidup yang akan kita bawa ke sana.


Itu pun kalau amal kita baik kalau kita banyak dosa bagaimana? Hanya Alloh SWT saja yang tau.


"Oh ya Abah kata Ustadz Ahmad kita harus segera bayar Zakat" ucap Adam.


"Astaghfirullah abah lupa" ucap Abah.


"Ya umi lupa" ucap Umi.


"Ya umi harusnya hari ini dibagikan tapi karena keluarga kita yang belum jadi di tunda dulu" ucap Adam.


"Kapan Ustadz Ahmad memberi tau mu" tanya Abah.


"Baru saja Abah" ucap Adam.


"Baik lah sekarang kita bayar zakat nya" ucap Abah.


"Ya Abah cepatlah bayar malu kita" ucap Umi.


"Tak apa Umi ini salah Kita" ucap Adam.


Setelah makan dengan cepat Adam dan Abah menuju ke arah mesjid sebelah karena akan membayar zakat.


Di sana sudah banyak orang yang akan tarawih.


"Assalamualaikum" ucap Abah dan Adam.


"Waalaikum salam" serempak.


"Maaf kan saya Ustadz saya terlambat" ucap Abah.


"Tak masalah Abah" ucap Ustadz Ahmad.


"Ini saya bertiga dan ini Adam berdua" ucap Abah.


"Ya" ucap Ustadz Ahmad.


Mereka berdoa dengan di pimpin oleh Ustadz Ahmad, hingga selesai mereka langsung pulang ke pesantren karena waktu juga sudah malam mereka akan melaksanakan sholat tarawih di mesjid pesantren.


Malam hari nya Adam dan Zia sudah tertidur di kasur, dengan seprai dan selimut yang baru karena semuanya di ganti oleh Adam.


"Gus aku kebelet" ucap Zia.


"Ayo aku antar" ucap Adam.


Adam mengantar Zia ke kamar mandi, setelah selesai Zia ke kamar duluan.


Adam mengambil dulu wudhu namun belum juga mengambil wudhu Adam mendengar Zia yang berteriak histeris.

__ADS_1


"Aaaa" teriak Zia.


bersambung


__ADS_2