
Pagi harinya Zia tengah menatap tukang yang sedang membangun kelas, sekarang keinginan Abah sangat besar bahkan dia ingin membatas pesantren.
Zia langsung teringat dengan kelakuan Maya dan pacar nya dahulu.
"Sekarang ke mana Maya aku tak pernah melihat lagi dia" gumam Zia.
Zia melihat Adam yang masuk ke dalam rumahnya.
"Mau ke mana Gus" tanya Zia.
"Mau ambil pensil" ucap Adam.
"Oh" ucap Zia yang langsung mengikuti suami nya itu.
Mereka masuk ke dalam kamar, tiba tiba saja Zia langsung memeluk Adam dari arah belakang.
"Gus kita lakukan sekarang" ucap Zia.
"Gak bisa Zia" ucap Adam.
"Kenapa gak bisa" tanya Zia menatap wajah suaminya itu lekat.
"Gak boleh melakukan hubungan di siang hari Zia, Selain dosa, jika kita melanggar kita diwajibkan untuk mengganti atau qadha puasa di luar bulan Ramadhan. Tak berhenti di situ saja Zia, kita juga diwajibkan membayar kafarat atau denda.
Denda bagi orang yang melakukan hubungan suami istri saat berpuasa Ramadhan adalah diwajibkan berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Apabila tak mampu, maka orang tersebut harus memberi makan 60 orang miskin" ucap Adam.
"Wah yang benar" tanya Zia.
"Ya jadi nanti ya malam" ucap Adam.
"Yahh padahal kan aku mau nya sekarang, Gus kita sudah lama tak melakukan nya, apa lagi malam ini Ning Rena pasti menginap lagi di sini dan kau akan tidur di luar" ucap Zia.
"Sabar ya sampai Rena kembali ke kamarnya" ucap Adam.
"Ya deh ya" ucap Zia.
Adam mengecup kening Zia singkat.
"Aku akan bekerja lagi" ucap Adam.
"Ya baik lah" ucap Zia.
Sekarang puasa kedua yang Zia jalani rasanya sangat bosan sekali, Zia masuk kedalam rumah dia melihat ada pesan pada ponsel nya.
"Siapa ini" gumam Zia.
{Zia bukber di sini bareng mamah} pesan dari Nita mamah nya Zia.
{Aku tanya Gus Adam dulu} balas Zia.
Sekarang Zia berjalan ke arah luar rumah dia melihat ada Rena yang baru saja keluar dari Madrasah.
"Dari mana Ning" sahut Zia.
"Aku dari Madrasah ambil ini, kata Abah aku harus mengantar kan ini ke rumah Ustadz Hasan" ucap Rena.
"Oh kapan" tanya Zia.
"Sekarang, karena kata Abah Ustadz Hasan menunggu" ucap Rena.
"Kau mau sendiri ke sana" tanya Zia.
"Ya mau gimana lagi kak" ucap Rena.
"Aku antar oke" ucap Zia.
"Benarkah terima kasih kak" ucap Rena.
"Baik lah ayo" ucap Zia.
Mereka berjalan ke arah rumah Ustadz Hasan yang tak terlalu jauh dari pesantren.
"Kenapa Abah tak menyuruh Gus Adam saja" tanya Zia.
"Begini kak, sekarang hanya ada istri nya Ustadz Hasan di rumah, kalau ada laki laki yang datang mau anak kecil pun pintu nya tak akan di buka, tapi kalau wanita pasti di buka" ucap Rena.
"Kenapa" tanya Zia.
"Entah tapi emang begitu" ucap Rena.
"Apa mungkin istri nya Ustadz Hasan itu punya trauma, ustadz Hasan itu kan Abi nya Ning Husna kan" tanya Zia.
"Ya kak yang aku tau sih Ustadzah pernah mengalami kecelakaan, entah kecelakaan apa tapi setelah itu dia menutup pintu rumah nya rapat rapat, kakak tau gak pernah saat itu ada tamu ke rumah Ustadz Hasan dan Ustadzah ngamuk kak" ucap Rena.
"Ngamuk kenapa" tanya Zia.
"Ya karena tamu nya laki laki" ucap Rena.
"Separah itu" tanya Zia.
"Ya" ucap Rena.
Mereka sampai ke kediaman Ustadz Hasan, benar saja Ustadzah yang membuka kan pintu.
"Assalamualaikum Ustadzah ada titipan dari abah" ucap Rena.
"Waalaikum salam Ning, terima kasih ya" ucap nya.
"Ya Ustadzah sama sama, baik lah kalau begitu saya permisi" ucap Rena.
"Ya Ning hati hati di jalan" ucap nya.
"Assalamualaikum Ustadzah" ucap Rena dan Zia.
"Waalaikum salam" ucapnya.
Zia dan Rena pulang namun di perjalanan mereka di cegat Beberapa orang remaja yang seumuran dengan Rena.
"Rena kau lupa pada kami" tanya orang itu.
"Mau apa kalian" tanya Rena yang sekarang berwajah masam.
"Aku hanya mau menyapa teman kelas ku dulu, ya kan Bro" ucap nya pada teman teman nya.
"Ya Rena atau jangan jangan kau lupa" ucap nya.
"Aku mau pulang jangan ganggu aku" ucap Rena.
"Kami hanya ingin silaturahmi gak akan yang lain" ucap nya.
"Kau sudah tau kan kalau Rena tak mau kalian minggir lah" sahut Zia.
"Wah Rena apa ini kakak mu dia cantik sekali" ucapnya.
"Boleh dong di kenalin" ucapnya lain.
"Berani sekali kau bicara begitu" ucap Zia marah.
"Ayo lah kak jangan marah kita hanya mau kenalan saja kan" ucapnya.
"Ya kak lagi pula aku dan Rena juga sudah seperti teman sendiri ya kan Rena" ucap nya.
"Minggir lah aku mau pulang" ucap Rena yang langsung menuntun kakak nya untuk pulang dari sana.
"Ayo kak" ucap Rena.
"Ayo" ucap Zia.
Namun laki laki itu memegang tangan Rena sehingga membuat Rena kesakitan.
"Lepaskan aku" ucap Rena.
"Apa" tanya laki laki itu mentertawakan Rena.
"Hey kau berani sekali memegang tangan Adik ku" geram Zia yang langsung mencoba melepaskan tangan laki laki itu dari tangan Rena.
Laki laki itu mendorong Zia Sehingga membuat Zia terdorong ke belakang.
__ADS_1
Untung saja Zia tak sampai jatuh karena dari arah belakang ada yang memegang bahu Zia.
Zia melihat pada laki laki yang telah menolong nya itu.
"Adit" ucap Zia.
"Kau baik baik saja" tanya Adit santri baru dari kelas 2 SMA.
"Aku baik" ucap Zia.
"Lepaskan dia" sahut Adit pada remaja yang jahil itu.
"Apa hah kau berani pada kami, kau hanya seorang saja" ucap laki laki itu.
"Kau pikir Karena sendiri aku takut pada kalian, hah gak aku gak takut" ucap Radit.
"Berani sekali" ucap nya.
Radit langsung memukul seorang laki laki yang berada di sana.
Bughh
"Maju kalau kalian berani" ucap Radit.
"Hah berani nya kau memukul teman kami" ucapnya marah dan langsung melepaskan tangan Rena.
Hingga perkelahian pun terjadi, tiga lawan satu adalah jumlah yang tak seimbang, namun Radit adalah orang yang suka berkelahi jadi dia tak terima dengan kekalahan.
Bughh
Bughh
Zia dan Rena hanya bisa melihat saja karena mereka tak bisa bela diri.
"Sudah Dit sudah" sahut Zia.
Adit menyudahi perkelahian itu karena ketiga orang itu juga sudah tumbang.
"Kalian pulang lah awas kalau kalian menggoda santri putri lagi" geram Adit.
Mereka langsung pergi dari sana meninggalkan Adit yang masih marah.
"Kalian tak apa apa" tanya Adit.
"Tak kau tak apa kan" tanya Zia.
"Tak aku pergi dahulu" ucap Adit.
"Ya baik lah" ucap Zia.
Saat Adit akan melangkah, Zia menghentikan langkahnya.
"Tunggu Adit" sahut Zia.
"Ya" tanya Adit menatap pada Zia.
"Terima kasih" ucap Zia.
"Ya sama sama" ucap nya.
Zia kembali ke pesantren dia sangat takut karena sejak tadi Rena selalu saja meringis kesakitan.
"Ning apa tangan mu sakit" tanya Zia.
"Sedikit" ucap Rena.
"Apa tangan mu keseleo" tanya Zia.
"Entah kak" ucap Rena.
"Biar aku lihat" ucap Zia yang langsung melihat tangan Rena.
"Awwss kak perlahan aku sangat kesakitan" ucap Rena meringis.
"Maaf maaf" ucap Zia.
Luthfi dan Adam yang melihat pun langsung mendekat pada Rena dan Zia.
"Tadi Gus ada teman Ning Rena yang mencegat kita tadi" ucap Zia.
"Siapa" tanya Luthfi geram.
"Teman Ning Rena" ucap Zia.
"Berani sekali mereka" geram Luthfi.
"Sudah tak apa, aku baik baik saja" ucap Rena.
"Tapi tangan Ning Rena keseleo" ucap Zia.
"Keseleo biar aku lihat" ucap Luthfi.
Rena menyodorkan tangan nya pada Luthfi dan Adam.
"Apa itu sakit" tanya Adam.
"Sakit Gus" ucap Rena.
Luthfi menarik Tangan Rena dan langsung memijit tangan Rena.
"Awwss.. sakit.. Aahh.. sakit..." Rena meringis kesakitan.
"Tahan" ucap Luthfi.
Luthfi menghentikan pijitan nya.
"Bagai mana apa masih sakit" tanya Luthfi.
Rena menggerakkan tangan nya yang tadinya sakit sekarang sudah tak sakit lagi.
"Sudah tak sakit, terima kasih Gus" ucap Rena.
"Alhamdulillah kalau sudah sembuh" ucap Luthfi.
"Terima kasih Gus Luthfi" ucap Adam.
"Tak masalah Gus" ucap Luthfi.
Umi datang ke sana karena mendengar Rena teriak.
"Ada apa" tanya Umi.
"Ini Umi tangan Ning Rena kesakitan" ucap Adam.
"Kesakitan kenapa" tanya Umi.
"Karena di cegat teman seangkatannya, tapi Untung saja ada Adit yang menolong" ucap Zia.
"Terima kasih pada Adit" ucap Umi.
"Sudah Umi" ucap Zia.
Sore hari nya Zia sudah berada di kamarnya, Adam baru saja selesai mandi dia masuk ke dalam kamarnya.
"Gus tadi mamah ngirim pesan kalau katanya dia ngajak kita bukber di sana" ucap Zia.
"Baik lah ayo" ucap Adam.
"Kau mau kah? Apa kau tak marah?" Tanya Zia.
"Kenapa harus marah, yasudah kalau kau mau ya ayo" ucap Adam.
"Baik lah aku akan bersiap" ucap Zia.
"Ya" ucap Adam.
Namun saat Zia berjalan ke arah Adam, Adam mencekal tangan Zia dan menariknya sehingga membuat Zia berhenti.
__ADS_1
Adam memeluk Zia.
"Gus badan mu sangat basah" ucap Zia.
"Ya aku baru mandi" ucap Adam.
"Aku tau tapi Gus lihat baju ku basah" ucap Zia.
"Kamu mau gak bulan madu" tanya Adam.
"Bulan madu? Kemana?" Tanya Zia.
"Ke rumah orang tua mu supaya tak ada yang akan menganggu" ucap Adam.
"Kau ini" ucap Zia.
"Baik lah segera bersiap" ucap Adam.
"Tapi Gus aku pikir aku mau ah bulan madu bersama dengan mu" ucap Zia.
"Ya ayo" ucap Adam.
"Aku akan bersiap" ucap Zia.
"Ya sudah" ucap Adam.
"Gus bagai mana aku bisa pergi kalau kau terus memeluk aku" ucap Zia.
"Ya baik lah" ucap Adam melepas kan pelukan nya.
Mereka bersiap dan langsung pergi ke kediaman Orang tuanya Zia, setelah pamitan pada Umi dan Abah, Mereka langsung berangkat dan akan menginap di rumah orang tua Zia.
"Gus bagai mana kabar Maya sekarang" tanya Zia.
"Kemarin Abah mendapatkan surat pengunduran diri dari keluarga Maya, katanya Maya akan segera menikah" ucap Adam.
"Oh itu lebih baik" ucap Zia.
"Pergaulan anak jaman sekarang, aku miris melihat nya" ucap Adam.
"Gus kau tau aku juga dulu Begitu" ucap Zia.
"Lalu" tanya Adam.
"Kau tak marah" tanya Zia.
"Aku tak akan marah, Zia seburuk apa pun kelakuan kamu di masa lalu aku menerima mu sepenuh hati ku, nyatanya walaupun sikap mu buruk tapi kau mampu menjaga sesuatu yang sangat berharga pada diri mu" ucap Adam.
"Itu pasti" ucap Zia.
"Baik lah bidadari surga ku, kau mau buka dengan apa sekarang" tanya Adam.
"Mau ke Warung Bu Ani yang kemarin" ucap Zia.
"Baik lah, silahkan tuan putri" ucap Adam.
Sesampainya di kediaman Orang tua Zia, mereka langsung buka puasa karena adzan Maghrib sudah berkumandang di mesjid.
"Ayo nak Adam makan lah yang banyak" ucap Topan.
"Ya pah terima kasih" ucap Adam.
"Oh ya Zia kau tau Rayhan kakak mu dia sudah mau menjadi Ayah" ucap Nita.
"Hah benarkah" tanya Zia.
"Ya mamah baru dapat kabar, oh ya setelah lebaran nanti kita ke kota mau gak" tanya Nita.
Zia menatap pada Adam guna meminta ijin, Adam mengangguk kan kepalanya.
"Baik lah aku dan Gus Adam akan ikut" ucap Zia.
"Ya mamah senang" ucap Nita.
Malam hari nya setelah melaksanakan sholat tarawih di rumah Adam dan Zia sudah rebahan di kasur.
"Ayo" ucap zia.
"Ya ayo Zia" ucap Adam tersenyum menatap istrinya itu.
Kemana tuh???
ikut dong??
Pagi harinya mereka sahur bersama di meja makan, mereka makan bersama dengan sangat lahap apa lagi orang tua Zia sangat senang kalau ada Putri nya yang datang.
"Oh ya Zia apa puasa mu tamat" tanya Nita.
"Tamat" ucap Zia.
"Puasa pertama Zia minum mah" ucap Adam mengadukan perbuatan Zia pada mamahnya.
"Apa kenapa" tanya Nita.
"Aku haus mah aku juga tak sadar" ucap Zia.
"Tapi di lanjutkan" tanya Nita.
"Ya karena kata Gus Adam tak apa kalau kita lupa tapi kalau di sengaja gak boleh" ucap Zia.
"Ya, makan nya Zia ikuti suami mu itu, semakin lama kau dengan nya maka kau semakin De wa sa sekarang" ucap Nita.
"Mah jangan begitu" ucap Zia.
"Sudah lah papah senang kalau kau bisa puasa Zia mungkin ini puasa pertama kamu lagi ya karena terakhir kali kamu puasa saat kita hidup di kota, sayang waktu bertahun tahun kita terbuang" ucap Topan.
"Tak apa pah lagi pula itu kecelakaan" ucap Zia.
"Papah menyesal Zia melakukan hal itu padahal dahulu posisi nya papah tak bisa hadir di acara meeting karena saat itu mamah kamu tengah koma karena melahirkan Rayhan" ucap Topan.
"Kenapa koma" tanya Zia.
"Cerita nya panjang, tapi saat itu mamah kamu kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit, bahkan dengan cepat nya Dokter beramunisi kalau Rayhan sudah meninggal, tapi Alhamdulillah karena Alloh masih memberikan kami kesempatan untuk merawat Rayhan jadi Rayhan selamat bahkan dia lahir dengan sempurna" ucap Topan.
"Lalu saat kelahiran aku bagai mana" tanya Zia.
"Papah lupa" ucap Topan.
"Pah aku semakin tau kalau papah hanya sayang pada Kak Ray" ucap zia.
"Papah sayang pada kalian, sudah jangan begitu" ucap Topan.
"Oh ya pah aku baru tau kalau papah donatur pesantren" tanya Zia.
Topan menelan Saliva nya.
"Tau dari mana" tanya Topan.
"Ada yang bilang bahkan Gus Adam juga bilang" ucap Zia.
"Ya emang benar" ucap Topan.
"Dari mana papah dapat uang sebanyak itu" tanya Zia.
"Sebenarnya Zia, papah mu itu masih punya pabrik namun tak dia kelola dia memerintahkan anak buahnya, dan papah mu hanya memantau dari jauh" ucap Nita.
"Ya Zia itu untuk warisan mu nanti, papah sudah memberikan perusahaan pada Rayhan, masa papah tak memberi mu Warisan" ucap Topan.
"Pah aku tak mau warisan" ucap Zia.
"Ya tapi papah wajib memberikan pada mu juga Zia" ucap Topan.
"Aku melihat kalian sehat saja sudah seneng" ucap Zia.
"Waktu nya sudah habis ayo baca niat dulu" ucap Topan.
Mereka membaca Niat puasa terlebih dahulu karena sekarang sudah menunjukkan waktu imsak.
__ADS_1
setelah itu mereka melaksanakan Sholat subuh masing masing Zia dan Adam di kamarnya dan Orang tua Zia di kamarnya.
bersambung