
“Jadi bagaimana, Ammar. Kamu mau kan mengenal dia lebih dekat lagi. Mama tahu ini terdengar mendadak. Tapi umur kamu sudah 28, nak. Mama ingin lihat kamu segera menikah.” Mama Diana tiba-tiba berbicara soal pernikahan. Netranya beralih ke photo seorang lelaki yang tampak gagah. Photo yang terpajang di ruang tengah.
Ammar tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya duduk sambil ikut memandang photo itu. Lalu beralih kearah wanita yang duduk di sampingnya. Wanita yang sudah melahirkannya. Sungguh dia ingin bilang kalau sudah punya pilihan hati. Ada rasa tak tega jika harus menolaknya.
Saat ini dia hanya punya mama dan Ardo. Usia mamanya yang sudah tak muda lagi. Ammar berjanji akan membahagiakan sang mama. Tidak akan menolak keinginan sang mama. Mama Diana sempat di vonis memiliki diabetes yang cukup tinggi. Tubuh mama Diana yang sempat menyusut karena sakitnya, sekarang sudah mulai berisi lagi.
“kamu dan papamu memiliki kesamaan. sama-sama suka masakan Padang. Sama-sama susah di kasih tahu. Apalagi, Ya?"
"Sama-sama tampan, ma." Amar tertawa melihat ekspresi wajah mamanya.
"Ih, narsis banget kamu, Nak. Kamu itu mirip kakekmu dari mama. Nah kalau Ardo, baru plek ketiplek sama papamu."
"Mas, kamu lihat anakmu ini, masih saja belum mau cari pasangan. Padahal dia sudah mapan dan tampan, usianya sudah mau masuk kepala tiga. Tapi dia masih betah sendiri. Kamu normal kan, nak?"
"Ya Allah mama. Kok nanya seperti itu. Aku normal, Ma. Mama lupa bagaimana aku sama Fera waktu kuliah di Lampung."
"Nggak lupa, bagaimana kamu sama dia lengket kayak perangko. Tapi dia malah nolak lamaran kamu. Aneh kan?"
"Karena Fera tidak mau merusak persahabatan kami, Ma. Dia pernah bilang takut kalau harus berjauhan jika putus nanti."
"Fera apa kabarnya, Ya? apa mungkin dia sudah nikah, Mar."
Ammar mengangkat bahunya. Dia sudah lama tidak berkomunikasi dengan Fera. Rasanya dia akan pergi ke lampung untuk membuktikan penasarannya.
"Jika Fera belum menikah, apa mama mau dukung Amar buat dekati dia lagi?"
"Mar, mama rasa penolakan Fera sudah menandakan dia memang tak ada rasa sama kamu. Jadi mama mohon lupakan Fera, buka hati untuk wanita lain."
"Sebenarnya ada sih, cuma dia masih jual mahal." kata Ammar sambil membayangkan sosok dalam angannya.
"Siapa?"
"Nanti Ammar kenalkan. Itu juga kalau dia mau nerima Ammar, ma."
"Ya kamu cari yang suka sama kamu. Bukan kamu yang suka sama dia. Pokoknya kamu harus mau ketemu sama pilihan mama."
"Iya, ma. Aku akan bertemu dengan pilihan mama. Siapa namanya?"
"Nanti juga kamu tahu?"
"Pokoknya besok malam kita ketemu sama keluarganya, bagaimana?"
"Iya, mama. Apa sih yang enggak buat mama." Ammar mencubit kedua pipi mamanya.
"Ya Allah, Mar. Emangnya mama anak-anak sampai di cubit pipinya."
"Habis mama ngegemesin." kikik Ammar. Diana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak sulungnya.
__ADS_1
"Sudah kamu istirahat, dah malam."
"Ammar mau keluar tempat teman, ma. Mama kalau mau istirahat duluan saja. Pintu rumah di kunci saja."
"Emang mau kemana, nak?"
"Tempat teman di Panorama."
Seperti yang di bicarakan oleh mama diana sebelumnya. Dimana Ammar sudah berada di sebuah rumah yang lumayan besar di daerah Ciliwung. Seperti desakan sang mama yang ingin anaknya menikah, dan disinilah Ammar ikut berdiri bersama mama dan juga Ardo.
Sudah satu minggu sejak keluar dari rumah sakit. Ammar belum sempat menengok tokonya. Kata mamanya ada Ardo yang mengecek toko saat ini. Hanya saja Ammar belum percaya sepenuhnya pada adiknya. Karena selama ini Ardo lebih sering keluyuran ketimbang tinggal di rumah.
"Assalamualaikum," sapa mereka pada si empunya rumah.
"Waalaikumsalam, eh sudah sampai. Silahkan masuk, Nak Ammar."
"Ayuk Ida, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Diana. Maaf ya, saya belum jenguk nak Ammar."
"Nggak apa-apa, yuk. Ini aja sudah sehat, makanya datang kesini. Vika mana?" tanya Bu Diana.
"Ada. Nanti saya panggilkan."
Pada akhirnya yang di tunggu akhirnya muncul juga. Ammar yang tadinya penasaran siapa gadis yang di jodohkan dengan dirinya.
Sejak awal Ammar menerima Vika kerja di toko agar bisa dekat dengan gadis itu. Gadis yang sudah lama menjadi pesona tersendiri baginya. Pucuk cinta ulam tiba, orangtua mereka saling menjodohkan. Benar kata pepatah, kalau jodoh takkan kemana-mana.
Vika menyalami mama Diana, Ardo dan Ammar. Mata mereka saling bertukar pandang. Lama ammar memandang gadis pujaannya itu. Vika pun duduk di dekat mama Diana. Tampak mereka sudah akrab dan itu cukup membuat Ammar.
Mereka ternyata saling mengenal.
"Ini yang mama ceritakan tadi, Mar. Kamu kenal kan sama Vika."
"Kenal, dong. Diana. Kan mereka satu tempat kerja. Sepertinya kita tinggalkan mereka dulu. Biar saling mengobrol."
"Mama, disini saja. Vika malu." ucap Vika menahan sang mama.
"Enggak apa-apa, Vika. Aku jinak kok. Nggak gigit."
Ammar dan Vika akhirnya duduk di teras depan. Keduanya masih tertunduk malu-malu. Baik Vika maupun Ammar bingung harus memulai dari mana. Hingga Ammar yang memulai bicara.
"Aku nggak nyangka kalau gadis yang di ceritakan mama adalah kamu, Vika. Kamu tahu kan saya pernah mengungkapkan perasaan saya sama kamu. Kamu tahu kan kalau saya sudah lama suka sama kamu. Pertemuan ini menandakan kalau kita berjodoh."
"Pak Ammar. Aku minta maaf."
"Maksudnya,"
__ADS_1
"Aku sudah punya kekasih yang sekarang sedang studi di LN. Aku dan dia saling mencintai, jadi aku tidak bisa menerima cinta kak Ammar."
"Vika, apa kamu menolak saya lagi?"
"Maaf, Pak. Saya sudah berjanji setia sama dia. Tapi jangan bahas ini di depan mama. Karena mama tidak setuju hubungan saya dengan Ilham."
"Ilham? yang mantan kamu itu? yang dulu katanya bikin kamu galau karena dia dekat sama perempuan lain." Vika mengiyakan semua tebakan Ammar.
"Sebenarnya aku dan Ilham tidak pernah putus, kak. Kami backstreet. Jadi lupakan perasaan kak ammar pada saya."
Aku di tolak lagi.
"Kakak dekati saja Mila. Dia cocok sama kakak. Mila itu nggak neko-neko orangnya."
Vika pun masuk ke dalam rumah. Ammar masih mematung setelah semua yang diungkapkan Vika.
"Bagaimana?" tanya Tante Ida.
Kami backstreet, kak.
"Kami masih harus penjajakan dulu, Tante." ucap Ammar datar.
"Hmmm... nggak apa-apa. Toh mereka akan sering bertemu di toko. Cinta itu bisa tumbuh dengan seiring waktu." kata mama Diana.
Ammar hanya menatap pintu kamar Vika. Meratapi nasibnya yang sudah patah hati.
tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
Aku persembahkan hidupku untukmu
Telah kurelakan hatiku padamu
Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa
Dan hati kecilku bicara
Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk s'luruh hatiku
__ADS_1