Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 13


__ADS_3

Ting tong


Mila memencet bel sebagai tanda dia adalah tamu di rumah. Suara bel rumah kediaman bude Lia


Bude Lia yang sedang memasak memanggil anaknya untuk membukakan pintu.


" Feraaaaa! Buka pintu di luar. Ada tamu!"


Fera mendengar panggilan ibunya langsung berjalan menuju pintu depan. Fera melihat seorang wanita yang dia tebak usianya diatas dirinya.


"Cari siapa,ya?" Tanya Fera


"Benar ini kediaman bude Lia?" tanya Mila


"Iya, benar. Anda siapa?"


"Saya Mila, temennya Vika." Mila memperkenalkan diri.


"Oh,iya. Dek Vika ada kok bilang kalo temannya mau cari tempat nginap. Silahkan masuk."


Fera mempersilakan Mila masuk ke rumah. Mila mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Rumah yang sederhana.


"Bu, ada tamu, temannya Vika."


Bude Lia langsung ke ruang depan menemui Mila. Pertama berjumpa Mila langsung jatuh cinta lihat bude Lia, orangnya ramah dan supel. Mila merasa seperti tidak asing dengan bude Lia. Bude Lia langsung mengantar Mila ke kamar khusus tamu. Tempatnya bersih dan menghadap ke arah matahari, Beda sama Bengkulu yang panas. Mila langsung mandi dan istirahat sebentar. Tak lama Mila kembali berbaur dengan bude Lia dan Fera.


"Eh, nggak usah nak. Biar bude aja yang beresin, kamu istirahat saja."


"Nggak papa,bude. Udah istirahat tadi, sekarang badan udah fresh."


"Duduk, nak. Kita ngeteh dulu"


"Nama kamu siapa?" tanya bude Lia.


"Sarmila, Bu."


"Ya Allah, dia seperti mengingatkan aku pada seseorang." batin bude Lia.


"kamu ke Lampung tujuannya apa, cari kerja,ya?"


"Nyari ayah saya, bude. Sekalian cari kerja juga."


"Kebetulan bude lagi nyari asisten yang bisa mengasuh cucu saya."


"Asisten apa bude?rumah tangga ya? Saya bisa kok pekerjaan rumah tangga, udah biasa, bude."


"Nggak kok, cari pengasuh intan, aja."


" Intan anak bude yang tadi" Mila sempat merasa heran anaknya bude Lia sudah dewasa kenapa pakai pengasuh.


"Yang tadi namanya Fera, anak saya. Fera dapat kerja dan sepertinya akan sering lambat pulang, makanya saya pengasuh buat cucu saya."


" Fera,Ajak Mila ketemu intan"


"Intan dah tidur siang.

__ADS_1


"Kamu Minggu depan mulai ngasuh intan ya, soalnya Fera mulai Minggu depan kerja"


"Eh, iya. Bu. Terimakasih."


Obrolan terhenti saat suara bel kembali berbunyi.


Mila beranjak membuka pintu, tapi di tahan sama bude Lia, bude Lia pergi depan Melihat siapa yang datang. Mendadak suara bude Lia jadi rame, sepertinya ada rombongan yang mau datang.


" Mila, kenalkan ini jeng Rina, camernya Fera."


Mila bersalaman dengan tamunya bude Lia, lalu pamit kembali ke kamar.


Mila baru saja hendak bernafas setelah perjalanan jauh yang melelahkan. Namun istirahatnya terganggu ketika deringan telepon. Matanya membulat ketika tahu siapa yang meneleponnya.


"Sarah? ada apa dia menelepon?"


"Assalamualaikum," sapa Mila.


"Kakak, Nyari ayah kok nggak ngajak aku sih."


Suara Sarah nyaring di telpon bikin telinga Mila berdengung. "Masih ingat kamu sama kakak kirain dah lupa."


"Ih,kak Mila kok ngomong gitu,sih. Ya, ingatlah masa lupa sama kakak sendiri."


"Tumben. Pasti ada maunya nih." gumamnya dalam hati


"Kakak udah nyampe di Lampung


"Udah, agak siang nyampenya. "


"Udah ketemu ayah belum, kalo udah bilangin Sarah mau nikah, Sarah butuh wali."


"Ya, nggak gitu juga kak. Tapi kan masalah yang ini lebih urgent."


"Terserah kamu aja deh, Lala gimana kabarnya."


"Lala masih sama nenek, kak. Aku nginap di tempat kak Eva malam ini."


"Kamu ini gimana sih, tengokin Lala dong. Kemarin kakak liat dia di suruh kerja sendiri sama nenek."


"Kakak aja telpon Lala langsung. Dia kan udah gede."


"Ya, udah intinya ada apa kamu telpon kakak. Kalo kalian minta restu sama ayah, suruh calonmu datang temui ayah."


Mila menutup teleponnya. Mila kesal sifat Sarah yang masih semaunya saja.


"Bye the way, Sarah mau nikah sama siapa, ya?"


Mila mencoba menelpon Eva, tapi di urungkan mengingat Sarah sekarang sedang di rumah Eva.


Mila mencoba mengintip apakah tamu bude Lia sudah pulang apa belum, ternyata masih ngobrol mereka.


"Ah, Bu Lia, Beno pasti beruntung punya pacar istri seperti Fera, ulet dan cekatan." Puji Tante Rina


"Ah, ibu bisa aja. " Jawab bude Lia.

__ADS_1


Setelah tamu pulang. Mila pun tak mendengar aktivitas apapun di rumah. kakinya berpindah ke atas kasur kecil. Mila membaca berita-berita di sosmed. Tentang apa yang heboh saat ini. Setelah lama, Mila pun merasa bosan. Akhirnya dia memilih keluar kamar. Dia melihat Fera dan bude Lia menata meja makan.


"Bu, tadi kata Yani, Ammar ada disini. Barusan aku sudah hubungi dia suruh makan malam sama kita." cerita Fera.


"Oh ya, wah, sudah lama ya? hmmm apa dia sudah menikah? kamu juga belum menikah kan?"


"Bu, please. Aku sama sekali nggak pernah punya perasaan apapun dengan dia. Dari dulu aku anggap dia sudah kayak saudara."


"Yakin? ibu dulu malah setuju kamu sama dia. Selama dia dekat dengan kita. Dia selalu sigap dalam keadaan apapun. Ya, paling tidak ibu merasakan bagaimana punya anak lelaki."


"Sudah, Bu. Aku mau check Intan dulu. Apakah dia sudah makan apa belum?"


"Eh, Mila, sini kita makan sama-sama. Ibu tadi sudah masak spesial buat tamu ibu." Bude Lia mengajak Mila bergabung bersama mereka.


Mila merasa tidak enak dengan perlakuan baik keluarga Fera. Dia tidak kalau mereka masak untuknya.


"Bu, sepertinya nggak datang. Ini sudah malam. Kita makan duluan saja." Kata Fera sambil menuntun Intan duduk di kursi makan.


"Inilah rumah kami, Mila. Kecil, nggak semewah rumahnya Vika. Eh, jadi kamu kenal sama Vika bagaimana? apa kalian satu sekolah atau bagaimana?" tanya Bude Lia.


"Aku dan Vika satu kerja, Bu." jawab Mila.


"Bu, tempoyaknya enak sekali. Mirip sama buatan mendiang ibu saya."


"Terimakasih, nak. Ini juga dulu yang adik saya. Dia paling pinter masak. Saya jadi rindu keluarga jauh saya." kata Bude Lia.


"Wah, adik ibu dimana?" tanya Mila.


"Di Bengkulu. Dulu kami tinggal di Curup. Terus setelah ayah saya meninggal kami di boyong ke kota Bengkulu. Aduh, kok jadi ngobrol. Ayo, nak Mila di cicipi masakannya. Itu kalau almarhum suami saya masih ada, dia suka sekali sama masakan ini."


"Bu, sudah jangan bahas yang sedih-sedih. Sebaiknya kita selesaikan makan. Besok kita akan ajak Mila jalan keliling kota." kata Fera.


🙌🙌🙌🙌


Matahari menuju tengah langit


Vika baru akan berangkat ke acara bersama teman-temannya. Karena efek libur yang diberikan Ammar dia pun enggan hanya dirumah saja. Ya siapa tahu dengan liburan ini bisa membuat otaknya sedikit tenang.


Vika baru saja sampai di area pantai panjang. Sambil memesan es kelapa muda. Vika dan temannya duduk menunggu teman yang lain datang.


"Aku mau main ke pantai ya. Kalian mau ikut?" ajak Vika.


"Kami disini saja. Nanti kalau yang lain datang mereka ngira kita nggak datang."


"Yasudah, aku saja yang kesana." Vika meninggalkan teman-temannya.


Baru saja Vika hendak berbalik, netranya beralih pada sepasang anak manusia yang turun dari motor. Vika mengenal sang lelaki dan juga wanitanya.


"Wah, pengantin baru ikut juga." seru yang lain.


"Pengantin baru?" ucap Vika kaget.


"Iya, kamu kenal sama cowoknya?"


"Bukan kenal lagi. Itu pacarku, namanya Ilham. Kami sudah pacaran sejak kuliah. Kalau memang itu suami Mella, kenapa dia tidak mengundang kita?" kata Vika.

__ADS_1


" Ya mana mungkin dia undang orang. La wong dia. nikah karena ketahuan hamil. Baru seminggu mereka nikah."


Vika memegang kepalanya. Rasanya bagai di hantam batu besar. Sesak, sakit dan gelap.


__ADS_2