
Setelah mengantarkan Intan ke sekolahnya. Ammar mengajar Mila jalan-jalan. Tentu saja Mila menolak dengan alasan dia harus pulang. Lagi-lagi dengan berdalih tidak enak meninggalkan Bude Lia.
Ammar tahu kalau bude Lia tidak ada di rumah. Tadi saat sampai bude Lia bilang kalau mau ke tempat kerabatnya dan akan pulang lama. Ammar menebak Mila masih jual mahal pada dirinya.
"Kamu kira saya nggak tahu kalau bude Lia pergi ke tempat kerabatnya. Dan mungkin akan lama pulangnya." Kata Ammar.
"Iya, saya tahu. Bude Lia juga menitipkan kunci rumah sama saya. Itu artinya kalau saya tidak ada di rumah terus Bude Lia pulang lebih cepat, bagaimana?"
"Rumah kerabatnya jauh, Mila. Sama saja seperti dari Bengkulu pergi ke Bengkulu tengah. Ya durasi satu jam lebih, dan bude Lia tidak mungkin mau melelahkan diri seperti itu."
"Yasudah, kamu mau nya apa?" Mila pasrah dengan kekeras kepalanya Ammar.
"Ikut saja. Aku akan ajak kamu ke tempat yang seru." Ammar tersenyum menyeringai melihat sikap pasrah nya Mila.
"Kenapa kamu senyumnya seperti itu?" Mila rada waswas.
"Emangnya kenapa?" Ammar bersikap dingin.
"Kamu nggak merencanakan sesuatu kan, Pak ammar,"
"Idih, Ge-er banget. Emangnya kamu siapa sampai harus seperti itu?"
"Ya, sikap kamu mencurigakan. Aku orangnya blak-blakan, Lo. Jadi aku bisa ancang-ancang lompat dari mobil kalau kamu aneh-aneh."
"Hahahaha... lompat saja kalau mau. Lagian ini mobil ada cctv nya. Jadi kalau aku yang di salahkan cctv ini buktinya."
Mobil berhenti di sebuah pasar yang bernama pasar Payungi. Pasar yang penuh dengan aneka kuliner, Mila mengkerut pada Ammar. Kenapa dia malah diajak
Payungi adalah salah satu pasar kreatif yang ada di Kota Metro. Pasar yang sudah berdiri sekitar 2 tahun ini kini masih aktif dan terus memberikan kontribusi baik untuk masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat Metro dan lampung pada umumnya. Berlokasi di kelurahan yosomulyo, slah satu latar belakang pasar ini di beri nama pasar Payungi ( pasar Yosomulyo pelangi).
__ADS_1
"Yuk," Ammar menarik tangan Mila memasuki area pasar.
"Terakhir aku kesini tahun lalu. Tapi nggak sempat mampir ke tempat Fera. Aku sama teman angkatan lainnya makan disini. Oh ya, itu mobil punya Tian, temanku yang tinggal di sini. Dia orang Jogja tapi dapat jodoh disini." Ammar terus berceloteh memasuki area tempat jual makanan.
"Disini makan khas nya apa sih?" tanya Mila.
"Sama saja dengan menu Sumatra lainnya. Seperti tempoyak, ada keripik pisang. dan masih banyak lagi."
"Owh, terus kita mau makan apa?"
"Ikut saja."
Mereka duduk di sebuah warung kecil. Ada menunya ketoprak, ada juga menunya es buah dan es teler. Mila memandang sekitar pasar yang ramai. Di ujung lokasi ada keramaian pesta pernikahan.
"Kamu pesan apa?"
"Samakan saja dengan kamu."
"Siap, pak. Minum nya apa?"
"Es buah saja dua gelas." Pemilik warung pun pergi untuk mempersiapkan pesanan pembelinya.
Selesai makan, Ammar membayar pesanannya. Mereka kembali ke mobil, Mila sudah naik terlebih dahulu. Ammar pun naik terakhir sebagai sopir. Sebelum dia mengembalikan mobil Ammar menatap Mila yang tak cerah wajahnya.
****
"Nenek, maaf kami datang sore-sore begini." kata Bu Melani.
Beberapa hari yang lalu Bu Melani di panggil oleh RT setempat. Terkait keributan antara nenek Seruni dengan Sarah di tempat kontrakannya. Bu Melani yang mendengar kabar itu langsung minta klarifikasi dari Sarah.
__ADS_1
Menurut versi Sarah kalau neneknya memang memperlakukan mereka tidak baik. Sarah pun mengatakan kalau Mila pergi dari rumah juga karena tidak tahan dengan neneknya.
Bu Melani sekarang berada di depan rumah Bu Seruni. Menyampai apa yang di katakan pak agar Sarah dan Anjas secepatnya di nikahkan. Pak RT pun juga meminta Sarah untuk tidak tinggal di sana lagi. Karena kejadian waktu itu sudah membuat orang sekitar tidak respect pada Sarah.
"Jadi saya kesini mau membicarakan soal Sarah sama Anjas. Saya kemarin mendapatkan aduan atas yang terjadi pada Bu Seruni dan Sarah di kontrakan saya.
Sarah datang sendiri ke tempat saya untuk mencari kontrakan. Karena kebetulan saya punya kontrakan jadi di tawarkan. Sarah mau dan dia juga bayar, bu. Bukan saya yang paksa dia tinggal di sana hanya karena suka dia. Jadi karena kejadian itu, saya cuma minta Bu Seruni pilih tetap teruskan rencana pernikahan mereka atau saya pulangkan Sarah kepada anda."
"Saya atas nama cucu saya, Sarah. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan anda pada kejadian beberapa hari yang lalu. Saya tidak bermaksud bikin tempat usaha anda tidak tenang. Saya hanya meluapkan rasa kecewa pada cucu saya. Selama ini saya kira Sarah tidak pulang karena dia mau mandiri. Tapi siapa sangka ternyata dia di tempat anda. Bu saya ikut keputusan anda saja. Kalau ibu memang tidak mau melanjutkan rencana pernikahan mereka."
"Saya akan runding kembali bersama keluarga terutama sama Anjas. Karena sebenarnya Anjas lah yang minta saya buat melamar Sarah beberapa waktu yang lalu. Saya pamit, Bu." Bu Melani menyalami nenek Seruni lalu pamit pulang.
Malam itu Seruni merasa kelelahan, dia merasa tubuhnya yang tua sudah tidak bisa mengerjakan banyak hal lagi. Sementara Lala, belum bisa diandalkan. Sarah? Dia tidak pernah pulang kerumah. Terakhir sarah pulang ke rumah saat mengabari dia dilamar sama Anjas, mantannya Mila.
Berita ini tersebar dan banyak yang menyayangkan pilihan Sarah, karena status Anjas mantan kakaknya. Sama seperti waktu Mila mau di lamar dulu, Sarah tak luput dari nyinyiran para tetangga.
"Cantik cantik dapat bekas kakaknya, emang nggak ada laki laki lain ya"
Seruni yang mendengarnya seperti malu, dulu dia mendukung Sarah dan Anjas. Tapi, ada benarnya yang di bilang para warga, seperti tidak ada laki laki lain saja.
Seruni jadi teringat saat Aminah masih muda dulu, dimana lelaki yang Aminah sukai di serobot oleh Dahlia, anak tirinya. Walau akhirnya Aminah dan Rohim menikah, tapi ternyata keputusan Aminah membuahkan banyak masalah, dan Rohim yang membawa Dahlia dan anaknya untuk tinggal bersama.Dahlia yang pergi tanpa membawa anaknya.
"Emangnya panti asuhan, maen titip saja" gumam nya dalam hati
Aminah yang menerima Sarmila, menumpahkan kasih sayangnya untuk anak itu. Tapi tidak dengan Seruni, baginya Mila itu bawa malapetaka. Tak lama Minah hamil Sarah, saat Sarah tumbuh besar wajahnya mirip Aminah, putih bersih, hidung mancung. Begitu juga dengan Lala, wajah nya duplikat Sarah. Mila tumbuh besar dan mulai memiliki kemiripan dengan Rohim. Dari cara bicara kebiasaan dan wajahnya. Ketimbang Sarah dan Lala, Mila lebih pintar dalam hal urusan rumah tangga.
Pagi ini
Seruni yang di temukan Lala dalam keadaan tidak sadar di kamarnya. Para tetangga mulai berdatangan satu persatu untuk melihat keadaan Seruni . Lala yang syok di sabarkan oleh para tetangga.
__ADS_1
Dan atas ide Tulang Boro, Seruni di bawa ke rumah sakit. Lagi-lagi Tulang Boro datang sebagai penyelamat keluarga Mila, padahal semasa sehat nenek Seruni kurang suka sama Tulang Boro karena banyak berpihak ke Mila.