
Mila terbangun di sepertiga malam. Udara terasa sangat dingin membuatnya enggan bangkit. Mila mengintip dari jendela, tampak bintang-bintang bertaburan di langit. Bulan nampak indah membuat hatinya terasa tenang.
Dulu waktu kecil, ayahnya suka sekali mengajak jalan ke pantai panjang. Memang dia tidak bisa melihat deburan ombak di sana. Tapi yang di tunjukkan ayahnya adalah hamparan bintang di langit pantai.
"Mila,"
Eva duduk di samping sahabatnya. Mila heran kenapa Eva ikut terbangun. Padahal tadi Mila malah kebangun karena suara ngorok temannya itu.
"Kok kamu bangun?" tanya Mila.
"Aku tadi kebelet mau ke WC. Lihat kamu nggak ada, makanya aku nyusul. kenapa kamu ke bangun?"
"Di bangunkan alarm tadi." jawab Mila.
"Kok aku nggak dengar apa-apa?"
"Ya iyalah, alarmnya situ." kikik Mila ketika melihat ekspresi wajah Eva.
"Mila, kamu masih memikirkan soal Anjas?"
"Tidak. Anjas itu masa lalu."
"Dan mungkin kamu bakal iparan sama dia."
"Ya, mau gimana lagi. Jodohnya sudah sampai."
"Aku tahu kamu, Mila. Dari suaramu terdengar masih sakit hati setelah semua yang terjadi."
"Kalau dibilang sakit itu pasti ada, Va. Sampai sekarang Anjas nggak ada datang menjelaskan apapun padaku. Kalau dia menerima Sarah sebagai calon istrinya. Itu tandanya dia sudah mengakhiri semua ini. Aku nggak bisa maksa kalau dia sudah tidak ada rasa lagi sama aku."
Eva hanya bisa mengelus pundak Mila. Dia masih ingat saat acara lamaran Anjas. Bu Melani malah meminta Sarah menjadi menantunya. Ia tahu perasaan Mila yang kacau saat itu. Bu Aminah dan keluarga lainnya menguatkan Mila. Itu yang Eva senang dengan keluarga itu, kecuali sama nenek Seruni.
"Kalian belum tidur?"
Suara bariton itu terdengar dekat dari mereka. Keduanya menoleh sambil tersenyum pada pria paruh baya tersebut.
"Kalian mau dengar cerita saya?" kata Tulang Boro.
"Cerita apa?" tanya Mila.
Pada zaman dahulu
Ada dua kakak adik tiri yang bernama Dahlia dan Aminah,yang tinggal sama Bu Seruni. Aminah ini adalah ibunya Sarah dan Lala, yang juga anak kandung Bu Seruni. Sedangkan Dahlia adalah anak bawaan suami Bu Seruni dari pernikahan pertama.
__ADS_1
Awalnya mereka berempat rukun dan bahagia, sampai saat ayah mereka meninggal semua berubah. Bu Seruni yang dulu sayang sama Dahlia berubah menjadi benci.
Apa pasalnya, harta peninggalan suaminya jatuh pada Dahlia dan Aminah, lebih banyak Dahlia daripada Aminah. Tapi Aminah tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya harta bisa di cari, tapi keluarga lebih berharga dari harta.
Saat remaja Dahlia dan Aminah menyukai satu pria yaitu Rohim yang sudah dewasa kala itu, Dahlia dan Rohim pacaran. Usaha keluarga Dahlia bangkrut karena sifat boros Bu Seruni , lalu Bu Seruni memaksa Rohim menikahi Aminah, karena selain tampan Rohim juga agamanya kuat.
Dahlia menyadari kalo dirinya sudah berbadan dua meminta pertanggungjawaban Rohim. Rohim akhirnya menikahi Dahlia secara siri.
Sarmila Tumbuh menjadi anak yang sederhana, berbeda dengan kedua adiknya yang terlampau di manjakan oleh nenek Seruni, Sarah yang sejak kecil sering di belikan baju bagus sama neneknya.
Saat usia Mila 12 tahun, ibu Aminah dapat tawaran dari dinas ketenagakerjaan untuk menjadi TKW di China, awalnya Bu Aminah ragu berangkat, dia memikirkan bagaimana Mila bisa ditinggal sementara orang orang di sekitarnya tidak menyukainya, tapi dia berharap suaminya bisa melindungi Mila.
Setelah 10 tahun Aminah mengabdi di negeri orang, dan dia tidak bisa kembali bekerja karena sudah hamil anak ketiga, Rohim pun melarangnya kembali bekerja, bagi Rohim sekarang waktunya Aminah istirahat dan fokus ke kedua anak anaknya.
Hanya saja, Rohim belum berani cerita tentang kelakuan ibu mertuanya selama Aminah bekerja, Bu Seruni selalu saja menanyakan uang kiriman dari anaknya, terkadang Bu Seruni menjelekkan dirinya dan Sarmila saat berkumpul dengan warga.
Hingga suatu hari Rohim berniat mengembalikan Mila ke Dahlia. Rohim pun pergi dari rumah dan meninggalkan Aminah yang masih dalam keadaan hamil. Misinya mencari Dahlia.
Pagi itu di depan rumah tulang boro
"Assalamualaikum, Boro " Suara Rohim membangunkan seisi rumah Boro.
"Waalaikumsalam, ada apa kau pagi pagi buta kesini."
"Ada apa kau pagi pagi bawa tas besar. Mau kemana?"
"Aku mau pergi, aku titip istri dan anak anakku. Dan titip ini."
Boro kaget Rohim menitipkan sebuah buku tabungan saat di buka"50 juta.ini tabunganmu."
"Bukan, itu tabungan Aminah selama bekerja TKW. Sengaja aku pisahkan dari tabungan Aminah yang lama karena ada yang ingin menguasai uang ini." Rohim menjelaskan pada boro
"Jika ada keperluan mendesak untuk mereka tolong gunakan uang ini." jelasnya lagi.
"Lalu kenapa kau pergi, kau ribut dengan Aminah. Haduh, jangan kau cerewet dengan perempuan hamil."
"Aku mau cari Dahlia agar aku bisa mengembalikan anaknya."
"Kau gila! Lupakan perempuan itu! Ah, aku bingung sama kau!"
"Aku minta maaf, aku kasihan sama Mila. Dia pasti banyak tertekan selama ini"
"Kau ayahnya, dan kau di beri tanggung jawab, ingat itu."
__ADS_1
Rohim tetap bersikeras untuk pergi mencari Dahlia. Boro pun tidak bisa mencegahnya.
"Apa hubungan Dahlia sama aku, Tulang?" Mila mulai terisak saat mendengar kisah ibunya.
"Dia ibumu. Ibu kandungmu. Kamu bukan anak Aminah. Tapi kalian berasal dari ayah yang sama." cerita Tulang Boro.
"Lalu dia dimana sekarang, tulang. Apa dia sudah bersama ayahku? kenapa mereka tidak menjemputku agar bisa berkumpul bersama."
"Tidak, Mila. Justru aku dapat kabar ini kalau sampai sekarang ayahmu masih mencari Dahlia. Dia masih mencintai ibumu."
"Jadi aku anak haram? pantas saja nenek sangat benci sama aku. Aku adalah anak dari hasil pengkhianatan."
*****
Di sebuah rumah sakit seorang wanita duduk disamping pria muda. Pria muda tersebut masih terbuai indah dipembaringan. Setelah beberapa hari hidup didalam kegelapan hingga saat ini belum ada tanda-tanda kehidupan. Wanita itu hanya menatap pilu, ibu mana yang kuat melihat keadaan putranya tersebut.
"Ya Allah, Mar. Cepat bangun, nak! ibu rindu sama kamu. Maafkan ibu belum bisa bahagiakan kamu. Ini semua gara-gara perempuan yang ditolong Ammar. Dia enak sehat wal afiat, sementara anakku kritis." Ucap Diana penuh kebencian.
"Ma, sudahlah. Jangan mikir-mikir yang aneh. Kita doakan semoga bang Ammar cepat sembuh." Ardo menenangkan mamanya.
Ardo melihat pergerakan tangan Ammar. Lelaki 25 tahun itu mencoba meyakinkan penglihatannya. Ternyata benar Ammar pelan-pelan membuka matanya.
"Ma, lihat!"
"Ya Allah. Alhamdulillah! Dokteerr! panggil dokter."
Tak lama sepasang mata membuka matanya. Pandangannya berputar mengenali dimana dia berada. Pandangan pertama terarah pada seorang wanita yang sedang menangis.
"Mama,"
"Mar, Alhamdulillah kamu sudah sadar. Terimakasih ya Allah. Kamu sudar sadarkan anakku."
"Ma, Aku dimana?"
"Kamu dirumah sakit, nak."
"Mila gimana,bu? Apakah dia selamat?"
"Siapa itu?"tanya Diana merasa asing dengan nama yang disebut putranya.
"Yang aku ingat barang di gudang hampir mengena tubuh Mila. Dia bagaimana kondisinya? apa ada yang terluka."
"Mama, tidak tahu,nak. Kamu sempat tidak sadar selama tiga hari. Sekarang fokus kesehatanmu dulu."
__ADS_1