
Ada yang pernah bilang bahwa hubungan persaudaraan harus baik. Tidak ada namanya mantan saudara apalagi kalau sedarah. Itu yang selalu terjadi dalam hubungan persaudaraan. Darah memang sama tapi watak dan perilaku tentu tak sama.
Seperti Mila misalnya, sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kerasnya hidup. Di benci neneknya, di cibir orang-orang sekitar, maka jika ada cobaan masih belum selesai Mila mencoba masa bodoh. Dalam arti dia sudah kebal dengan semua ini. Dan ketika ayahnya pergi meninggalkan ibu Aminah dan mereka bertiga, Mila semakin di buat terpuruk oleh nenek Seruni.
Namun, tidak membuat Mila meninggalkan tanggung jawabnya sebagai anak tertua. Mila rela tidak melanjutkan sekolah sebatas kelas satu SMK. Karena Sarah masuk SMA favorit yang cukup terkenal. Bagi Mila, yang penting adik-adiknya bisa berprestasi lebih bagus dari dirinya.
Sarah, paling pintar dan berprestasi dari semua akademik yang dia raih. Selalu dapat ranking walaupun bukan pertama. Masuk kuliah dengan sistem undangan. Itu yang membuat dia selalu di banggakan neneknya, yaitu nenek Seruni.
Sementara Lala, sebagai anak bungsunya harusnya dia jadi pusat perhatian keluarga. Yang paling di sayang, yang paling di manja, semua kemauannya di turuti. Tapi itu tidak berlaku pada ibu Aminah. Beliau tidak pernah membedakan anak-anaknya. Dari Mila, Sarah hingga Lala. Semua sama dan merata, itulah mengapa Mila, dan Lala sangat dekat. Karena bagi Lala Mila lebih mengerti dirinya ketimbang Sarah.
Walau kadang Sarah mendukung kakak dan adiknya. Tapi kalau urusan asmara, Sarah selalu mementingkan diri sendiri daripada orang lain.
"Mila," suara panggilan terdengar dari jauh.
Tampak tiga orang wanita beda generasi datang menemuinya di rumah sakit. Eva berjalan mendahului Mila, langsung memeluk sahabatnya.
"Apa yang terjadi? kenapa dengan Lala?" tanya Eva tanpa meninggalkan gurat kecemasan di wajahnya.
Mila menggeleng. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Kalau saja saat itu tidak ada kerumunan warga, sudah pasti dia tidak akan tahu soal Lala. Selama ini dia hanya tahu Lala aman bersama Sarah.
"Aku tidak tahu, Va. Tapi yang pasti kalau saja aku tidak ke makam ibu Aminah, mungkin aku tidak akan ada disini," Mila masih sesenggukan di temani oleh Eva.
"Makam ibu? kenapa Lala bisa ada disitu?" Eva masih merasa heran.
"Mungkin Lala mau berziarah kesana, Va,"
"Dan kamu belum membelikan Lala handphone. Aduh Mila, kan aku sudah bilang sama kamu, belikan Lala handphone supaya tahu informasi satu sama lain. Kalau kayak gini kejadiannya kamu baru nyesal" omel Eva sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Aku cuma mau mengajarkan Lala supaya tidak ..."
"Tidak terlena sama sosmed kan? itu sudah beberapa kali kamu bilang. Tapi kan kamu bisa belikan Lala handphone yang hanya bisa SMS dan telepon saja. Nggak usah yang bagus-bagus. Lagian Lala bukan tipe yang melalaikan kewajiban. Bukan kayak ..... Sebentar, kamu sudah hubungi Sarah?"
Mila mengangguk. Dia sudah hubungi Sarah dan Anjas. Tapi keduanya tidak ada yang aktif.
__ADS_1
"Sudah, tapi tidak ada yang aktif," ucap Mila lirih.
"benar-benar mereka, Ya. Lari dari tanggung jawab. Seharusnya mereka yang menemani kala Lala ke makam. Bukan malah membiarkan Lala sendirian ke makam," ucap Eva sudah terlanjur geram.
"Mungkin Lala ke makam ibu langsung dari pulang sekolah," tebak Mila.
"Ya, tetap saja. Anak seumuran Lala masih harus dalam pengawasan. Kamu tahu dari dulu, Lala diantar jemput sama kita. Kadang kamu, kadang aku yang antar dia sekolah. Kita selalu bergantian membimbingnya," Eva masih mencerocos tanpa henti. Melepaskan kekesalan pada Mila maupun Sarah yang dianggapnya lalai pada Lala.
"Apa ada keluarganya disini?" panggil suster.
Semua yang ada di depan UGD pun berdiri. Dari Bu Nurmala, Eva, Tulang Boro, Sari dan anggota keluarga yang lainnya hadir. Mereka berharap berita baik untuk gadis kecil itu.
Catatan:
Mungkin ada yang bertanya kenapa Lala dianggap gadis kecil sementara umurnya sudah masuk hampir 14 tahun. Karena Lala belum haid, jadi belum dianggap dewasa. Belum memasuki Akil baligh.
Sekian keterangan dari othor.
Kembali ke kisah mereka.
"Adik anda terkena demam tinggi. Sepertinya dia terlalu banyak menghirup udara serta air hujan. Sehingga mempengaruhi imun tubuhnya," jelas dokter.
"Apa itu berpengaruh, Dok?" tanya Eva.
"Saat kedinginan, tubuh dipaksa mengeluarkan energi secara berlebihan. Jika daya tahan tubuh kita sedang lemah, tubuh tidak dapat mengimbangi adanya perubahan suhu tubuh yang terlalu drastis. Akibatnya, daya tahan tubuh semakin menurun dan kesehatan pun terganggu,
Sama saja misalnya kalau terlalu lama berada di ruangan yang dingin akan mempengaruhi stabilitas tubuh," dokter menerangkan pengaruh air hujan pada tubuh manusia.
"Lalu bagaimana kondisi adik saya, Dok?" tanya Danu.
"Untuk sementara ini dia di rawat dulu disini," kata dokter.
"Dok, biar dirawat rumah saja," usul Mila.
__ADS_1
"Sayang, lebih bagus di rumah sakit saja. Kan ada dokter dan suster yang menangani, lebih terjamin. Kamu kan lagi hamil," kata Danu.
"Tapi kalau lama di rumah sakit kan biayanya makin tinggi, Mas,"
"Mila, Lala sudah aku buatkan BPJS. Jadi kamu tenang saja," kata Eva.
Beberapa saat kemudian Lala keluar dari UGD. Masih tertidur diatas brankar pasien. Semua anggota keluarga ikut mengiringi Lala menuju kamar pasien. Tubuh Lala yang katanya berbalut lumpur kini sudah bersih. Bahkan sudah di ganti dengan seragam pasien.
Mila memandang pilu saat adik bungsunya masih terpejam. Perasaan bersalah terus berkecamuk dalam dirinya. Apalagi sejak masalah salah paham di rumah sakit dulu. Mila berharap semuanya membaik setelah Lala sadar nanti.
...***...
Sore itu, Petir menggelegar kuat. Kilatan bercabang pun terlihat di langit yang sudah menghitam.
Sarah terbangun setelah keributan antara dia dan Anjas beberapa waktu yang lalu. Dimana semua yang ada di rumahnya lebih membela Lala daripada dirinya.
Suasana rumah terasa sepi. Lampu rumah belum di hidupkan. Sarah bangkit meninggalkan kamarnya. Setelah lampu di hidupkan, Sarah kaget ternyata air hujan masuk ke ruang tamu. Dengan cepat dia mengambil kain pel. Walaupun dia sering di bilang tidak bisa apa-apa, tapi kalau soal ngepel dia masih bisa.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Itu tandanya dia sudah melewati Maghrib. Baru saja dia hendak masuk kamar mandi, perutnya terus bernyanyi. Sarah membuka lemari dapurnya, ada lauk pauk yang sudah tersedia di dalam lemari.
Sarah menemukan catatan di tempel pintu kulkas. Pelan-pelan dia membaca surat dari adik bungsunya.
Dear Kakak Sarah,
Kak, ini lauk buat kak Sarah. Terimakasih kakak mau menampung adik kakak yang manja ini. Maafkan Lala kalau sering menyusahkan kakak. Terimakasih sudah banyak pelajaran yang Lala dapat selama tinggal disini.
Kakak suka lemea ikan patin buatan ibu,kan. Lala belajar buat ini waktu lihat kak Mila masak. Mungkin nggak seenak masakan ibu atau masakan kak Mila. Tapi Lala sering lihat kak Sarah sering telat makan. Cuma makan mie, sementara bang Anjas sering bawa lauk tiap pulang kerja.
Lala sayang sama kak Sarah, kak Mila, Kak Danu, Abang Anjas dan kak Rudi. Kalian semua kakakku yang baik. Lala pamit ya, kak. Semoga kakak berbahagia selalu.
Salam sayang,
Sahila.
__ADS_1
Tak terasa air matanya menetes di pipi.