
Suasana sore di daerah Rawa Makmur terasa sangat terik. Meskipun jam empat sore matahari masih meninggalkan jejak-jejaknya. Terbukti di kediaman Bu Melani sudah terpasang kipas angin di ruang tamu. Pak Ahmad sudah memakai koas cap angsa di padu dengan sarung polos warna hitam.
Lelaki paruh itu sudah duduk di depan kipas angin sambil membaca koran daerah. Suara dapur terlihat ramai, pak Ahmad hanya menggelengkan kepalanya melihat keakraban dua wanita beda generasi.
"Jadi kamu bisa masak, Ira? kayaknya enak tuh. Anjas pasti suka dengan masakan kamu," puji Bu Melani
"Ah, ibu bisa saja. Kan emang kodrat wanita di dapur. Itu yang di tanamkan sama ibu saya," jawab Ira.
"Ibu kamu hebat bisa mendidik anak seperti kamu. Nggak kayak istrinya Anjas, nggak bisa apa-apa," kata Bu Melani sambil memajukan bibirnya.
"Tapi bukannya istri bang Anjas ibu yang milih dulu. Kalau kami di loket lebih kenal sama kak Mila daripada istrinya yang sekarang. Kak Mila itu bagus attitude nya, dia ramah sama kami. Nggak pandang bulu,"
"Ya, tapi aku Mila kan anak lain dari selingkuhan ayahnya. Ya, secara saya mau yang terbaik untuk Anjas," kata Bu Melani.
Ira tidak asal bicara. Yang dia tahu saat Anjas mengenalkan Mila ke loket mereka. Sosok yang sederhana dan baik hati. Bagaimana tidak? ketika ada yang pingsan di loket Mila sigap memberikan pertolongan pada staf tersebut. Seperti memberikan minyak angin. Mila juga sering masak banyak di kirim ke loket. Ira bahkan diajarkan masak di dapur darurat loket saat ada pengerjaan renovasi. Cara mengajar Mila tidak terkesan menggurui. Itu yang Ira suka dari Mila.
"Nggak ada anak yang mau di lahirkan dalam kondisi seperti itu, Bu. Setiap anak yang lahir itu suci," kata Ira.
"Yah, kamu kalau jadi ibu nanti pasti akan setuju,"
"Saya kan janda, Bu. Hanya saja Tuhan belum sempat menitip kan anak, malah suami saya di panggil Allah," kata Ira.
"Maaf, Ira. Ibu nggak ada maksud ngingetin kamu sama mendiang suamimu," Ira hanya tersenyum simpul.
"Assalamualaikum," suara bariton terdengar dari teras luar.
"Itu, Rudi," batin Ira.
Bu Melani langsung menyambut anak sambungnya yang baru pulang dari kuliah. Tampak lelaki muda itu menyalami ibu Melani lalu masuk ke kamarnya.
"Rudi kamu sudah sholat ashar?" tanya pak Ahmad pada anak kandungnya.
__ADS_1
"Belum, Yah. Sebentar ada yang aku beresin dulu," suara Rudi dari dalam.
"Jangan di tunda, ini sudah jam berapa? bentar lagi mau buka puasa," Pak Ahmad masih mencoba mengingatkan anaknya.
"Iya, Yah. Ini sudah mau wudhu," Rudi sudah keluar kamar lalu berjalan menuju kamar mandi terletak di area dapur.
Ira yang melihat Rudi melintas pun berkaca di lemari piring. Seakan merasa harus cantik di depan pemuda itu. Usia Rudi Tiga tahun di bawahnya. Lelaki berwajah hitam manis itu melihat sikap Ira hanya menggelengkan kepalanya. Dia pun pergi ke kamar untuk menunaikan shalat ashar yang sudah di lewatinya.
"Bu, mau nanya Rudi itu kesukaannya apa, ya?" tanya Ira.
"Rudi?" Bu Melani berpikir sejenak.
"Setahu saya dia apapun yang saya masak lahap-lahap saja jadi nggak pernah lihat dia mau yang di luar itu. Kalau Anjas biasanya suka yang bersantan sama lalapan. Pendap pun makanan favorit Anjas,"
"Jadi ini semua menu masakan Anjas," Ira menunjuk hidangan yang tersaji di meja.
"Iyalah, Anjas kan anak saya. Setiap ibu pasti bakal masak spesial untuk anaknya.
kata Bu Melani.
"Ooooh, tapi Rudi juga keren sih. Bentar lagi bakal S1. Lebih tinggi dari diploma," sahut Ira. Sesaat Ira menutup mulutnya merasa tidak sopan pada ibu atasannya.
"Bu, Pak. Aku mau ikut bukber di kampus, jadi pulangnya agak malam. Soalnya ikut teraweh di mesjid kampus," Rudi sudah berpakaian rapi.
"Dek Rudi, maaf saya bisa nebeng kan sampai simpang pom bensin," Ira berlari mengejar Rudi hendak menghidupkan motornya.
"Loh, Ira kamu tadi katanya mau buka bareng disini. Kok malah pulang?" Bu Melani bernada kecewa.
"Maaf, Bu. Saya sebenarnya pengen sekali buka bersama disini. Tapi ibu saya sendirian di rumah, bapak kan sudah pulang ke tandai. Biasalah, Bu biar dapur ngebul lagi," kata Ira.
"Yasudah, sini Ayuk Ira bonceng," Rudi menepuk jok belakang.
__ADS_1
"Terimakasih," Ira pun duduk bonceng lelaki di belakang Rudi.
Sepeninggalan Rudi dan Ira, Pak Ahmad mendatangi ibu Melani di depan pintu.
"Bu, bapak nak ngecek penting kek ibu,"
Bu Melani pun menurut masuk ke dalam. Pak Ahmad mengajak istrinya masuk ke dalam kamar. Dua suami istri pun duduk saling berhadapan. Bu Melani menanti apa yang akan di bahas suaminya.
"Ada apa, Pak?"
"Bu, ibu sayang nggak sama Rudi?"
"Ya, sayanglah, Pak. Walaupun dia bukan anakku tapi kan aku sudah menerima dia di keluarga ini,"
"Tapi bapak kecewa sama omongan ibu sama Ira tadi. Sebagai seorang ayah, saya sakit saat ibu mengistimewakan Anjas.
Bapak paham kalau kami berdua hanya menumpang di rumah ibu. Bapak paham sekali kalau pernikahan kita hanya menyenangkan permintaan keluarga. Saya paham itu, saya nggak minta yang muluk-muluk, Bu. Saya cuma pengen Rudi merasa kasih sayang seorang ibu," kata pak Ahmad.
"Ibu ingat saat ibu maksa Rudi lepaskan Sarah untuk Anjas. Saya tahu Rudi berat melakukan itu tapi demi rasa hormatnya pada ibu dan Anjas, dia menuruti hal itu. Rudi dan Sarah sudah dekat sejak SMP. Hingga hubungan mereka dekat serius hingga ke universitas,"
"Tapi Sarah lebih memilih Anjas daripada Rudi. Itu artinya dia tahu kalau Anjas lebih baik dari Rudi. Apa Rudi mengadu macam-macam sampai bapak bahas seperti ini? Anjas itu harus mendapatkan perempuan terbaik salah satunya Ira.
Selama ini saya sudah memperlakukan Rudi dengan baik. Saya bantu sekolahnya karena kalau ikut gaji bapak tidak akan cukup kan. Biaya terbantu oleh uang kontrakan. Sudah betul saya ada penghasilan sampingan, banyak kerjaan yang lain," kata Bu Melani meninggalkan kamar mereka.
...******...
Taqabbalallaahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Wa ja’alanallaahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin, kullu ‘ammin wa antum bi khair. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. (Semoga Allah SWT menerima amal ibadah Ramadhan kita, wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah. Dan semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan orang-orang yang menang, serta diterima amal ibadahnya. Semoga kita senantiasa dalam kebaikan setiap tahunnya)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1444
Melisa Ekprisa dan keluarga.
__ADS_1