Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 83


__ADS_3

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka sesungguhkan Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186)


Banyak hal yang kita inginkan dalam hidup, banyak hal yang kita harapkan menjadi kenyataan, Semoga bisa berjalan sesuai keinginan. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, bisa kita hari ini tertawa, esoknya malah kesedihan yang melanda. Ada saja takdir yang tak terduga, itu bisa terjadi tanpa diduga. Ada pula takdir yang membawa keberuntungan karena kita bergantung dengan Doa. Untaian doa yang selalu menjadi harapan kita sebagai titik terang dalam kehidupan. Untaian doa yang selalu tumpuan hidup manusia.


Dalam menghadapi cobaan atau ujian kehidupan, manusia perlu sabar dan harus yakin bahwa Allah akan memberikan jalan keluar. Berat atau ringan ujian kehidupan yang diterima, tentu menyimpan hikmah yang sangat luar biasa.


Soal ujian kehidupan ini, tentu kita harus bersangka baik dengan rencana Allah SWT. Kita tak tahu, apa hikmah dibalik ujian kehidupan yang menyapa kita.


Banyak yang aku alami beberapa hari ini. Kesalahan pahaman antara aku dan Lala. Ya, benar kata Eva, aku sangat kacau saat itu. Kacau melihat mas Danu yang beberapa kali drop. Sementara dia harus kerja pontang-panting menjadi kepala keluarga. Kepala keluarga bagi aku dan adikku. Di tuakan bagi keluarga panti.


Ah, jika di bandingkan dengan apa yang aku alami rasanya beban berat ada padanya. Tapi dia tetap kuat menjalani hari-harinya.


Dan sore ini kami sudah bisa membawanya mas Danu pulang ke rumah. Membiarkan dia beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaannya.


"Mas, kata Wisnu kamu sudah bisa pulang hari ini," kataku sambil duduk di samping mas Danu.


"Mila, aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa,Mas?"


"Apa perasaanmu saat Ammar datang tadi? Ya mungkin kamu kaget dia bisa muncul di depan kita. Sama saat aku pertamakali datang dan bekerja di rumah ibu Diana. Melihat ibu Rubiah serasa tidak asing, dan aku baru teringat kalau dia yang memarahi kamu di bandara saat itu."


"Dalam rumah tangga bukannya harus ada saling keterbukaan. Tapi kenapa kamu menyembunyikannya semua ini, Mas? apa kamu takut aku akan berpaling ke Ammar.


Sebegitu besarnya rasa ketidakpercayaan kamu sama aku, Mas,"


"Maafkan aku, Mila. Aku melakukan ini karena takut menambah luka di hatimu. Aku tahu kalau kamu seperti terkucilkan saat berita Ammar tidak datang di pernikahan dengan Vika. Aku tahu kamu pasti sangat trauma dengan hal itu,"


"Dan ini apa, Mas? kenapa kamu tidak cerita dari awal soal ini?" surat yang sedari tadi ingin aku tanyakan pada mas Danu.

__ADS_1


Reaksi mas Danu hanya menunduk tanpa berani menegakkan kepalanya. Sudah aku duga kalau dia akan berat mengakuinya. Aku sudah tidak kuasa menahan rasa sesak di dada. Aku sudah tidak kuasa menahan apa yang menjadi kegelisahan selama ini.


"Apa Wisnu sudah cerita semuanya?" Aku mengangguk. Tentu Wisnu cerita setelah aku mendesaknya.


"Kenapa kamu merahasiakan semua ini, Mas? apa kamu takut aku akan meninggalkan kamu begitu tahu keadaannya. Tidak, Mas, aku tidak akan meninggalkan kamu.


Kita menikah bukan hanya berdasarkan cinta saja. Pernikahan kita terbina karena ada komitmen. Saling terbuka satu sama lain.


Aku kamu tahu semua tentang aku baik dan buruknya. Aku selalu terbuka dalam hal apapun sama kamu.


Tapi kenapa kamu tidak pernah terbuka sama aku soal semua ini," aku meluapkan semua yang ada di pikiranku.


"Jadi?" Astaga mas Danu hanya menanggapi ocehanku dengan santai.


"Jadi apa, Mas? aku tuh kesel juga marah sama kamu. Kenapa menyembunyikan masalah se genting ini dari aku? kamu anggap aku ini apa, Mas?"


Sebuah tangan melingkar di pinggangku. Tentu saja dengan kebiasaannya menyelipkan kepalanya menyandar di pundakku.


Di saat genting ini dia masih sempat merayuku. Di saat seperti hatiku merasa tidak karuan dia malah mencoba menggodaku. Dan aku tidak pernah bisa marah padanya. Tangannya semakin erat memeluk pinggangku.


Dan ....


"Mila, rasanya malam ini aku menginginkannya. Boleh?"


"Mas, ini rumah sakit. Jangan yang aneh-aneh," aku melirik kanan kiri. Takut ada yang melihat ke gilaan suamiku.


"Aku kangen masa itu, sayang," bisiknya lirih.


...*****...

__ADS_1


Jakarta, 10 Maret 2023


"Pagi, mas Revo," sapa Yuni melihat seorang pemuda berpakaian rapi melintas di depannya.


"Pagi, juga mbak Yuni, tumben sendiri. Kak Vika nya mana?" tanya Revo.


"Non Vika belum bangun, Mas. Dia suka sama masakan mas Revo. Terimakasih sudah buatin non Vika makanan,"


"Sama-sama Mbak Yuni, saya senang kalau kak Vika suka sama masakannya. Saya berangkat kerja dulu ya, Mbak,


Oh ya, mbak Yuni, kemarin ustad Yusuf nanya apakah rukiyahnya kak Vika masih berjalan? kalau belum ada perubahan dia minta kak Vika diantar ke pesantren lagi,"


"Alhamdulillah, non Vika sudah sedikit tenang. Dan mas tadi malam non Vika mulai sholat lagi," cerita mbak Yuni.


Namanya Revolusi, usianya masih 23 tahun. Revo saat ini berprofesi sebagai koki di hotel ternama sekitar Jakarta pusat. Tempat kerjanya pun bertetangga dengan pusat grosir terbesar se Asia tenggara.


Revo sudah dua tahun menempati kontrakan bersebelahan dengan kontrakan Vika. Asalnya dari Sukabumi.


"Kak Revo makasih, ya makanannya enak," kata Vika yang muncul dengan tingkah seperti anak kecil.


"Iya, Kak Vika. Nanti kalau ada waktu aku buatin lagi, ya," gadis itu mengangguk riang.


"Aku pergi kerja dulu, ya," Revo mendaratkan kecupan di pipi Vika.


"Kak Revo jangan cium cium aku terus. Nanti Ammar lihat dia pergi lagi," kata Vika.


"Biarin dia pergi kan ada aku," jawab Revo melambaikan tangan ke arah Vika.


"Mas Revo saya minta jangan kasih harapan sama non Vika. Kasihan dia, Mas Revo tahu kan apa yang saya ceritakan waktu itu. Saya mohon, Mas," pinta mbak Yuni.

__ADS_1


Revo tersenyum kecil. Dia memang tidak pernah memberi harapan pada gadis itu. Tapi entah kenapa sejak tahu masalah yang di hadapi Vika, dia ingin menjadi pelindung untuk wanita yang baru dikenalnya selama dua bulan.


"Saya tidak memberi harapan pada kak Vika. Masalah yang dia hadapi membutuh sosok yang bisa menjadi pelindungnya. Dan itu yang aku lakukan untuk Vika," kata Revo dengan mantap.


__ADS_2