Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 153


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak bilang, Mir kalau bang Ammar punya masalah parah di kakinya. Selama aku menemaninya baik berobat di Jakarta maupun di Singapura dokter tidak menjelaskan itu. Kenapa tiba di sini dokter bilang kalau bang Ammar harusnya di amputasi."


Ando kaget setelah dokter memeriksa kesehatan Ammar setelah tranpalansi sumsum tulang belakang. Kondisi tubuh Ammar yang sejak awal tidak baik-baik saja. Di yakini efek infeksi pada bekas luka bakar pada kedua kaki kakaknya. Ando yakin dokter salah diagnosa, karena selama di Singapura dokter bilang masih bisa di obati.


"Sebenarnya Ammar lah yang melarang dokter menjelaskan pada kamu. Dia merasa jadi beban hidup untuk kamu, Do. Apalagi sewaktu Bucik Diana meninggal dunia dia makin merasa bersalah. Ammar bahkan pernah minta suntik mati setelah amputasi nanti. Itu yang aku dengar dari Ammar."


"Suntik mati? Ya Allah, sampai sebegitunya pemikiran bang Ammar. Aku tidak pernah menganggap beban dengan keadaan bang Ammar. Itu kewajiban aku sebagai balas Budi. Dari pekerjaan dan usaha bang Ammar di counter aku bisa sekolah sampai di Bandung. Karena cafe mama tidak begitu rame. Bang Ammar harusnya bisa lanjut S2 di Lampung. Tapi mama minta mengalah untuk sekolahku. Dan bang Ammar bertanggung jawab penuh biaya pendidikanku." jelas Ando.


"Orang seperti Ammar memang pikirannya sedang sensitif. Di mana dia merasa minder karena kondisinya tidak sempurna. Selama di Singapura dia sering kesakitan karena kakinya tidak bisa kuat berjalan menggunakan kaki palsu. Tapi saat di depan aku, dia sok kuat padahal hatinya rapuh." jelas Emir.


"Jadi kapan kalian kembali ke Singapura? kalau memang kamu belum bisa dampingi biar sama aku saja. Kamu urus resto punya Makwo Bia. Kalau menurut aku Makwo Bia keren, dia mau mengurus bucik Diana padahal katanya dulu tidak pernah akur." kata Emir.


"Bang Ammar di rawat rumah sakit Bengkulu. Dia baru mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Danu, Anak Makwo Rubiah. Dulu pernah di usulkan tapi Danu dan istrinya memilih kemoterapi. Tapi beberapa hari menjelang keberangkatan bang Ammar ngotot mau mendonorkan sumsum tulang belakang. Padahal dokter melarang karena kondisi kesehatan."


"Ya Allah, bukankah akan berangkat lusa? Jadi bakal di tunda lagi berangkatnya. Terus bagaimana kondisinya?"


"Belum ada keterangan dari dokter kak." suara Ando masih terdengar lirih.


"Do, Danu sudah sadar. Bagaimana kondisi Ammar?" Makwo Rubiah datang menyapa keponakannya di lain ruangan.


"Belum ada kabar, Makwo. Hanya kata dokter bang Ammar punya masalah sama kesehatannya. Bahkan keterangan dokter sama seperti keterangan dokter yang di jakarta dulu. Kaki bang Ammar tidak bisa sembuh bahkan dokter jakarta meminta di amputasi. Tapi bang Ammar masih pesimis sembuh, apalagi setelah dia ingat tentang Mila semangat sembuhnya semakin menjadi."


"Semoga Ammar dan Danu tetap sehat seperti sedia kala." doa Makwo Rubiah di dengar oleh Ando.


"Ando takut kalau ada apa-apa sama bang Ammar. Cuma bang Ammar keluarga Ando satu-satunya, Makwo." tangis Ando pecah di pelukan Makwo Rubiah. Ucapan Emir di telepon tadi di tambah keterangan dari dokter membuatnya syok. Tidak menyangka Ammar sepesimis itu. Bahkan meminta suntik mati. Tangis Ando makin pecah.


"Abang bangun! jangan tinggalkan Ando. Mama sudah tiada, apa Abang tidak ingin menikah dan hidup bahagia. Sudah cukup abang banyak mengalah selama ini. Abang juga harus bahagia."


"Do, kita sholat yuk. Berdoa pada yang kuasa. Semoga Ammar bisa bangun seperti sedia kala. Makwo yakin Ammar pasti bangun. Tuhan akan mendengarkan doa hambanya." tutur Makwo Rubiah.


Tuhan akan mendengarkan doa hambanya Allah mengabulkan doa, sesuai dengan permintaan dan harapan hamba. Atau, menggantikannya dengan yang lebih baik.


”Manusia kadang mengira bahwa Allah tidak mendengar doanya, karena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun, Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hambanya,” tuturnya.

__ADS_1


Sedangkan, jika Allah tidak mengabulkan doa manusia di dunia, maka Allah akan mengabulkan doa kita di akhirat. Dia menunggu sampai kiita berjumpa langsung denganNya.


Terkabulnya permohonan yang kita doakan. Salah satu tanda yang paling jelas adalah ketika permohonan yang kita sampaikan dalam doa terkabul. Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, dan Dia akan mengabulkan doa sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.


Setelah sholat Ashar, Ando datang menjenguk Danu yang di kabarkan sudah sadar. Mila menyambut Ando dengan ramah. Mereka berbincang kecil, sebisa mungkin Ando tidak menampakkan kesedihannya. Dia sudah janji sama Ammar untuk tidak cerita soal kondisinya pada Danu maupun Mila.


"Bagaimana kabar kamu, Do? Gimana gencatan senjata sama Eva, sukses nggak?"


Ando menyeringai kecil, dia sudah di tolak sama Eva dengan alasan perbedaan usia. Karena Ando 25 tahun sementara Eva 29 tahun. Sebenarnya bagi Ando tidak masalah. Tapi bagi Eva usia menjadi tolak ukur kepribadian seseorang. Dia maklumi, mungkin Eva takut di anggap ngemong adik.


"Di tolak, kak." jawab Ando sambil menyengir.


"Bah, gimana kau, Do. Usaha lah sikit." suara Danu menirukan gaya tulang Boro.


"Bah, kau suka sekali meniru aku." Suara itu mengagetkan semua yang ada di kamar rawat Danu.


"Tulang!" Mila langsung memeluk pamannya.


"Sudah, Tulang. Kok tidak kabari kalau sudah di Bengkulu."


"Aku pas pulang tadi Eva yang bilang kalau Danu operasi sumsum tulang belakang. Alhamdulillah kalau operasinya lancar. Semoga kau bisa menjaga Mila dan anak kalian."


"Do, Ammar katanya sudah pulang?" tanya Mila.


"Eh, iya. Sudah. Sekarang istirahat di rumah." jawab Ando.


"Kalau mereka tahu siapa yang mendonorkan sumsum tulang belakang pada Danu adalah Ammar. Apa yang mereka lakukan?" batin Ando.


...****...


Bagi pengantin baru, malam pertama pastinya ingin menghabiskan waktu hanya berdua saja. Hooney Moon atau bulan madu menjadi hal yang diimpikan setelah pernikahan sepasang pengantim baru selesai.


Kota Sukabumi menjadi kota rekomendasi untuk menghabiskan bulan madu bersama orang tercinta. Berada di ketinggian 230 mdpl dari tanah Ciemas, Puncak Darma layak dijadikan tujuan untuk berbulan madu. Pengantin baru dapat menyaksikan pesona samudra biru nan mempesona, sawah-sawah hijau dan perkampungan penduduk dari atas bukit.Tak jauh dari Bukit Darma, tepatnya di bawah bukit terdapat sebuah taman bunga yang dijuluki Puncak Bunga Manik. Taman ini menyajikan berbagai bunga-bunga nan mempesona. Begitu indah dan luas, selain itu udaranya pun juga segar. Biasanya tempat ini sering dijadikan persinggahan sementara sebelum menuju puncak darma.

__ADS_1


Tak jauh dari Puncak Darma ada sebuah pedesaan kecil. Namanya desa Ciletuh, desa kecil dengan segudang tempat wisata. Tapi memang daerah Jawa Barat rata-rata terkenal dengan wisata alamnya. Vika senang bisa tinggal di sana. Melupakan apa yang dilakukan mamanya. Sejak menikah dengan Revo, Vika langsung mengganti nomornya. Itu juga dia lakukan agar tidak di lacak mamanya.


Saat ini Vika dan Revo sudah tinggal di Sukabumi. Desa tempat kelahiran Revo, awalnya setelah menikah Revo mau menemui ibu Ida. Tapi di cegah sama Vika, dia takut mamanya bakal berbuat sesuatu yang lebih nekat lagi. Vika kenal karakter mamanya.


Tadi Revo pamit ada urusan di luar, sementara Vika menetap di rumah orangtua Revo. Dia bingung melakukan kegiatan apa, karena selama ini tidak pernah bekerja rumah tangga. Sejak dulu dia sudah di layani mbak Yuni.


"Sayang, jalan yuk." pesan singkat dari revo mendarat di layar pipih tersebut.


"Jalan? kamu aja nggak ada di rumah."


"Keluar, dong." Vika berlari ke luar rumah. Ada Revo yang sudah gemetar badannya karena kedinginan.


" Astaga, Kayak gini mau ngajak jalan. Nanti kamu demam Lo, Mas. Dingin ini." Revo cuma nyengir. Paling tidak dia bisa mencari kesempatan dalam kesempitan.


Revo melirik jari Vika yang di hiasi cincin pemberiannya. Dia tersenyum tenang. Wanita di sampingnya sekarang sudah jadi istrinya yang sah.


Vika membuat minuman untuk Revo. Revo menyusul Vika ke dapur dan memeluknya dari belakang.


Vika risih dan melepaskannya. Dia takut dilihat kerabat Revo, apalagi ini adalah rumah famili Revo.


"Nggak enak dilihat orang." Vika kaget lihat sikap modus suaminya.


"Kan sudah sah. Sayang daripada di dapur mending ke dalam aja." bisik Revo.


"Iya, sabar, dong."


...****...


Mungkin banyak yang nanya kok nggak tamat-tamat. Makin bertele-tele.


Tenang bentar lagi tamat kok.


Bukan bertele-tele tapi setiap peran ada cerita. Karena emang karakter novelku satu judul berjuta kisah.

__ADS_1


__ADS_2