
"Lala kamu juga siap-siap ikut sama kakak," ajak Mila.
"Ikut ke tempat ibu nya kak Danu? enggak ah, kak. Lala di rumah saja. Atau mungkin Lala di tempat kak Eva saja," tolak Lala. Dia tidak mungkin gabung ke acara keluarga Danu. Di undang saja tidak.
"Kakak nggak mungkin tinggalkan kamu sendirian, dek. Kamu anak perempuan, udah kamu siap-siap untuk ikut sama kakak," Lala mengangguk lalu masuk kedalam kamar.
Mila meminta Ando menunggu karena dia juga mau bersiap-siap. Tak lama Mila sudah siap dengan balutan dress MIDI bermotif bunga. Sedangkan Lala sudah siap dengan celana kodok panjangnya. Ando pun membuka pintu mobil. Mempersilahkan dua perempuan beda generasi itu masuk ke dalam.
"Ngomong-ngomong ini bukan mobil yang kemarin kan, Do. Beli baru?" tanya Mila.
"Yang dulu mobil tua, sudah tidak bisa di pakai lagi. Sebab itu yang papa pakai saat bekerja dulu. Dan yang ini aku kredit aku, kak. Ngutang sama Makwo Rubiah," jawab Ando.
"Ah, kamu bisa saja merendah, Do,"
"Enggak, kak. Emang ini mobil buat akomodasi Restoran. Buat antar pesanan catering, tuh ada mereknya Resto Ummi Bia," Ando menunjukkan merek yang terpampang di dinding mobil.
"Kirain Lala, tadi mobil mau antar catering ke tempat bidan Ratna. Kan malam nanti dia mau hantaran, akhirnya bulan April dia nikah," celoteh Lala.
Tidak berapa lama mobil yang di kendalikan Ando pun sampai di daerah Citarum. Lokasi rumah yang berada di belakang gedung balai serba guna"Balai Buntar". Mobil itu berjalan lurus setelah membelokkan jalan melalui jalan tikus.
Suasana masih ramai karena ada beberapa titik tempat yang di jadikan berjualan takjil. Selang beberapa menit mobil sudah berhenti tepat di depan kediaman ibu Diana. Pertama Ando turun dan membuka pintu. Lalu di susul Lala dan Mila turun paling terakhir.
Beberapa orang berlalu lalang menyapa Ando. Sang empunya rumah pun membalas sapaan mereka.
"Itu siapa, Do?" kata Bu Sumi yang bersebelahan dengan rumah Ando.
__ADS_1
"Itu menantu Makwo Rubiah, Bu Sumi," kata Ando.
"Oh, manis anaknya,"
"Saya masuk dulu, Bu," Ando pamit meninggalkan tetangganya.
"Do, kabar ibu kamu bagaimana?" tanya Bu Sumi.
"Ibu sudah pulang berkumpul bersama kami. Alhamdulillah dia mulai membaik. Bicaranya sudah banyak mengalami kemajuan,"
"Oh gitu. Alhamdulillah kalau begitu," Ando pun pamit kembali ke rumah.
Mila meminta Lala tetap di sampingnya. Karena Lala tadi memilih masuk duluan, tentu Mila minta Lala untuk bersikap sopan ketika bertamu di rumah orang.
Di depan pintu tampak Danu sudah berdiri menunggu dirinya. Mila menyambut kemunculan suaminya sambil memeluk manja. Danu bertekuk mengelus perut Mila, menyapa anak mereka di dalam perut istrinya.
"Mas," wajah Mila memerah saat suaminya memuji dirinya. Tangan Danu mengalung di pinggang Mila.
"Kakak, ingat tempat dong," sahut Lala.
"Ih, anak kecil mau tahu aja urusan orang dewasa," Danu mendorong Lala masuk ke dalam rumah.
"Ah, bawel kamu,La. Ntar kalo udah nikah kamu akan paham."
"Iya deh, paham kakak." Ejek Lala.
__ADS_1
"Assalamualaikum," Mila menyapa orang-orang yang ada di dalam rumah. Ada Ammar, Ando dan Ibu Diana yang duduk di sofa.
"Diana, ini menantuku Sarmila, dan anakku Abdi, sekarang namanya Danu," Ibu Rubiah memperkenalkan Danu dan Mila pada Diana.
Diana memandang Mila yang dulu sempat dia benci. Mila duduk sejajar dengan posisi duduk ibu Diana. Tidak ada rona kebencian dalam diri Mila.
"Aku panggilnya apa, Mas?" tanya Mila pada suaminya.
"Etek, Karena dia adik ipar ibuku" jawab Danu.
"Etek Diana, apa kabar? Alhamdulillah etek sepertinya sudah lebih baik dari sebelumnya," Mila memegang jemari ibu dari mantan kekasihnya. Menyalami tangan wanita itu, bagi Mila ibu Diana juga sudah menjadi orangtuanya.
"Maaf..." Diana meminta maaf pada Mila.
"Etek nggak salah, kenapa harus minta maaf? Mila tahu apa yang etek lakukan dulu karena ingin yang terbaik untuk Ammar. Lagian Mila sudah punya mas Danu, lelaki terbaik yang pernah aku temui," Mila menoleh kearah suaminya.
"Kok jadi kayak lebaran, Ya?" kata Ando memecahkan suasana haru di dalam rumahnya.
"Ya, ampun. Kita bukannya mau buka puasa," Ibu Rubiah melihat jam dinding menandakan 17.45.
"Mila bantu ya, Bu,"
"Lala juga ikut bantu," seru Lala.
Tiga wanita beda generasi mulai sibuk dengan menyiapkan hidangan buka puasa. Dari menu khas Minang seperti rendang, gulai ayam Minang. Ditambah menu penutup seperti es buah dan agar-agar.
__ADS_1
Rubiah sebenarnya ingin sekali bicara empat mata pada Mila soal pengobatan Danu. Tapi entah kenapa rasa gengsi terus melanda hatinya. Demi mengalihkan perhatian, Rubiah menyibukkan diri. Begitu juga Mila, dia pun bingung bagaimana memulai obrolan dengan mertuanya. Dua-duanya di landa rasa canggung.