Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 65


__ADS_3

Pernikahan yang bahagia tak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga komitmen dan rasa hormat. Namun, pernikahan yang dilandasi rasa cinta dan saling hormat tidak tercipta begitu saja. Masing-masing harus berusaha melakukan bagiannya dengan baik demi menciptakan rumah tangga yang bahagia.


Tiada masa yang paling bahagia di hari pernikahan, ketika melepas masa lajang menginjak masa berumah tangga. Itu yang selalu dia dengar tentang indah pernikahan.


Sudah dua bulan Mila, mengarungi pernikahan bersama Danu. Suka duka, tawa dan juga tangis mereka lewati bersama. Namun tanpa Mila menyadari kalau Danu masih merahasiakan penyakitnya. Sejauh ini Danu tidak menunjukkan gejala sedang sakit.


"Mas ini apa?" Mila menemukan tisu berdarah di kotak sampah dapur.


"Oh, biasa itu kalau kecapekan suka mimisan." elak Danu.


"Makanya kamu jangan di porsir, Mas. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?"


"Sayang, aku nggak kenapa-kenapa, cukup istirahat saja. Cepat pulihnya. Lagian aku punya vitamin yang dikasih Wisnu. Lebih mujarab."


"Jangan ketergantungan sama obat, Mas. Kamu kalau pagi coba deh jalan-jalan keliling stadion. Aku temenin kalau mau."


"Hahahaha ... Bukankah tiap malam kita olahraga."


"Ya itu beda, Mas. Itu beda, Mas. Itu kamu malah kecapekan."


Saat ini Mila masih merasakan indahnya masa awal pernikahan. Walaupun banyak yang bilang beberapa tahun nanti akan ada badai entah dari suami, entah dari istri, entah dari pihak kedua orangtua mereka. Mila masih optimis kalau pernikahannya akan baik-baik saja.


Danu memang jauh dari kata mapan. Masih mengandalkan gaji honorer. Walaupun begitu Mila tidak berpangku tangan. Makanya dia membuka tabungannya untuk modal usahanya.


Allah maha besar, yang masih memberinya waktu dan umur panjang. Mila masih di berikan tempat tinggal, masih bisa membimbing Lala meskipun dia tidak sepintar Sarah. Meskipun banyak yang sinis atas pernikahannya. Sinis karena masa lalu orangtuanya, sinis karena pekerjaan suaminya yang masih honorer, sinis karena masih tinggal di rumah neneknya. Secara dia memang bukan cucu kandung nenek Seruni.


Mila memandang photo ibu Aminah. Ibu yang membesarkannya di tengah kebencian sang nenek. Ibu yang memberikan limpahan kasih sayang meskipun bukan anak kandungnya. Jantungnya berasa bergemuruh, berdenyut rasa di dadanya.


Andai saja kalau ibu Dahlia tidak pulang ke Lampung mungkin dia akan meminta wanita itu berada di sampingnya. Menagih apa yang hilang setelah kepergian Aminah.


"Ibu apa kabar? Mila kangen sama ibu, biasanya jam segini kita asyik di dapur, sambil masak ibu suka cerita masa muda ibu. Ibu biasanya memberi petuah untuk aku, Sarah dan Lala.


Sarah akhirnya menikah dengan Anjas, Ibu masih tetangga kita anaknya Aliong, sekarang dia jadi suamiku, ibu ingat kan lelaki cinta pertamaku. Sekarang aku menikah dengan dia,Bu.


doakan kami dari surga, Bu. Agar bisa menjadi keluarga bahagia, tidak harus berkecukupan harta. Yang penting rumah tangga kami sakinah mawadah warahmah."


"Kakak!" Lala datang melihat sang kakak berurai air mata.

__ADS_1


"Lala kok kamu sudah pulang? ini masih jam berapa?kamu bolos ya?" Mila menodongkan pertanyaan saat Lala muncul di depan pintu rumah.


Gadis muda itu melabuhkan tubuhnya di kursi rotan ruang tamu. Tubuhnya di lipatkan ke bawah membuka sepatu sekolahnya.


"La, kamu belum jawab?" Mila langsung memegang dahi adiknya.


"Kamu panas dek. Ya Allah, istirahat dulu di kamar, kakak buatin kamu teh hangat." Mila hendak pergi namun tangannya di tahan sama Lala.


"Tadi di sekolah Lala di kasih makan gratis sama Puput. Bukan hanya Lala saja teman sekelas juga dapat. Sehabis makan badan Lala jadi lemas. Akhirnya kayak gini."


"Emang tadi menu dari teman kamu apa?"


"Nggak tahu, kak. Cuma nasi kuning, sambal tempe sama nugget stik gitu."


"Lalaaaa!" suara bariton terdengar dari depan terdengar. Mila meninggalkan adiknya untuk menemui tamunya.


"Itu kayaknya suara Aris, kak." kata Lala.


"Yasudah kakak ke depan dulu. Kamu istirahat, ya dek." Mila pun meninggalkan adiknya di kamar.


"Assalamualaikum kak Mila, Lala nya ada?" sapa Aris teman sekolah Lala.


"Maaf, kak Mila. Tadi Aris dengar pembicaraan Puput cs, dia memasukkan nugget udang di menu Lala. Sepertinya Puput dapat info kalau Lala alergi udang."


"Masya Allah, tapi kenapa dia bisa segitunya sama Lala. Apa Lala ada salah sama dia? ya ampun anak zaman sekarang."


"Dia memang tidak suka sama Lala sejak SD, kak. Dia juga yang buat sepatu Lala rusak, kak."


"Apa! dia anak siapa? biar saya temui orangtuanya. Ini sudah keterlaluan!" Mila sudah terlanjur emosi mendengar cerita Aris.


"Saya nggak tahu kak. Siapa orangtuanya? temannya saja belum pernah datang kerumahnya. Mau nanya ke Tata usaha saya tidak berani, kak?"


"Astaghfirullah, besok kakak ke sekolah. Selesaikan masalah ini, kakak nggak terima Lala di buat seperti itu. Aris maaf sepertinya Lala biar istirahat dulu. Badannya panas. Kamu pulang saja dulu."


Aris menggangguk kecil. Tujuannya ke rumah Lala memang buat mengadukan apa yang dia dengar dari sekolah. Dia juga maklum karena bukan sekali ini mendapati Lala sakit karena alergi.


Waktu terus bergulir, Lala belum juga menunjukkan perubahan kondisinya. Mila panik apalagi ini sudah masuk jam sore.

__ADS_1


"Mas tolong angkat aku mau bawa Lala kerumah sakit?" kata Mila saat Danu tidak mengangkat teleponnya.


"Halo, Eva. Bisa kerumah sebentar. Lala demam nih. Aku dari tadi coba hubungi mas Danu tidak diangkat."


"Yasudah aku sama Tulang Boro kesana. Kamu tunggu, kabari juga Sarah soal adiknya."


"Nggak usah, Va. Kita coba bawa Lala dulu. Kalau dokter suruh rawat dirumah ya kita minta resep saja." kata Mila.


...****...


Danu baru saja selesai memberi obat Diana. Hanya saja dia sedikit heran kenapa tidak melihat perubahan pada pasiennya. Dia membandingkan pada kondisi nenek Seruni yang lebih tua tapi punya semangat sembuh.


Danu melihat label obatnya sama seperti obat nenek Seruni. Tidak ada yang mencurigakan dari obat ibu Diana.


"Apa mungkin harus di dekatkan sama anaknya. Kata ibu Rubiah anaknya sedang berobat ke Jakarta sudah dua bulan ini."


Danu berjalan menuju ruang utama. Tampak photo Ammar berbaju Toga wisuda terpampang besar.


"Kasihan juga nasibmu dan juga nasib Vika. Kamu katanya lumpuh terbakar dan Vika mengalami gangguan jiwa. Apa ini Karma kalian yang sudah menzolimi Mila."


Suara adzan ashar berkumandang. Danu pamit pada ibu Rubiah untuk menumpang sholat ashar.


"Silahkan, Nak. Ibu senang melihat anak muda seperti kamu yang masih ingat sholat saat bekerja. Itu ada kamar mandi, ibu mengecek Diana dulu, ya"


"Terimakasih, Bu. Maaf saya titip handphone dan dompet di sini" Danu meletakkan dompet dan handphonenya di meja dekat dapur.


Saat Danu di kamar mandi. Ibu Rubiah membuka dompet Danu untuk tahu alamat atau identitas lelaki itu. Bersamaan dengan itu suara deringan telepon dari handphone Danu.


"Jadi istri Danu adalah Mila. Perempuan yang sudah menghancurkan keluarga Diana." Bia langsung mematikan telepon handphone Danu.


"Mas, tolong angkat telepon aku. Aku mau kabari kalau sekarang sedang perjalanan di rumah sakit. Lala demam tinggi. Jadi kalau kamu baca pesan ini tolong susul ke Raflesia. Soalnya itu rumah sakit paling dekat dengan rumah." Bia membaca pesan dari Mila. Awalnya dia berpikir untuk menghapus pesan namun dia urungkan.


Danu muncul keluar dari kamar mandi. Bia pun meminjamkan sarung dan sajadah milik Ammar. Saat Danu menundukkan kepalanya. Bia melihat tanda di belakang tengkuk Danu. Bukan tanda lahir yang Bia ingat Abdi pernah mengalami kecelakaan saat masih kecil. Sehingga menyebabkan luka di tengkuknya. Sampai terakhir dia bertemu Abdi tanda di tengkuknya masih ada malah membekas seperti memar.


"Itu leher kamu kenapa?" tanya Rubiah.


"Oh, ini sudah ada sejak kecil. Kayaknya tanda lahir."

__ADS_1


"Orangtua kamu masih ada?"


"Saya besar di panti asuhan,Bu. Saya pernah punya orangtua adopsi saat masih SD. Setelah dua-duanya meninggal dunia saya pulang ke panti"


__ADS_2