
Setiap orang tentu mempunyai jalan cerita perjuangannya masing-masing. Seperti roda, kehidupan juga bisa berputar. Ada kalanya berada di atas, dan ada kalanya berada di bawah. Terkadang perubahan dalam kehidupan membuat orang-orang menjadi tidak bersemangat.
Bukan hanya perubahan, saat terdapat masalah baik di lingkungan keluarga hingga kerja pun juga bisa mempengaruhi semangat hidup.
Perjuangan hidup penderita kanker tidaklah mudah. Baik orang tua maupun anak yang terkena kanker pasti merasa terpukul, namun semangat untuk sembuhlah yang akan menentukan keberhasilan mereka melawan kanker.kanker merupakan penyakit yang dapat menyerang seluruh bagian tubuh.
Tubuh secara teratur memproduksi sel baru yang berguna untuk pertumbuhan serta untuk menggantikan sel yang rusak atau yang sakit.
Secara normal, sel tumbuh dan berkembang dengan cara yang tetap. Namun, ada pula pertumbuhan yang tidak terkontrol yang kemudian tampak menjadi benjolan yang disebut tumor.
Kanker merupakan satu di antara penyakit berbahaya yang menyumbang angka kematian tertinggi di Indonesia.
"Uda, kamu harus kuat," ucap Mila lirih di kamar rumahnya.
"Mila, aku minta maaf," ucap Danu lirih.
"Kamu nggak salah apa-apa, Sayang. Kenapa harus minta maaf? aku cuma mau kamu harus semangat. Aku akan turuti permintaan ibu Rubiah, nggak apa-apa aku disini sendiri, asalkan pengobatan kamu lancar," terdengar isakan kecil.
"Enggak! aku tidak akan pergi kemo kalau kamu tidak ikut," Meskipun lirih tapi Danu masih keras kepala. "Dan jika aku pergi, paling tidak aku ingin meninggal di dekat kamu,"
"Uda, jangan bilang soal meninggal sekarang. Aku yakin pasti kamu bisa sembuh. Tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan berkehendak. Aku akan telepon Ammar kapan dia akan mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Bukankah Ammar sudah bersedia?" Mila meraba nakas di depan ranjang. Mencari handphonenya. Danu menahan tangan Mila.
Mila memberikan obat yang biasa di minum Danu. Setelah suaminya sedikit tenang, Mila memindahkan kepala Danu dari pangkuannya ke atas bantal. Setelah menutup tubuh Danu dengan selimut, Mila pun meninggalkan kamar. Tampak ada ibu Rubiah dan serta ibu Dahlia.
"Ibu," Mila menyalami ibu mertuanya.
"Danu katanya drop lagi?"
"Ibu tahu darimana?" Mila merasa belum cerita pada siapapun.
__ADS_1
"Tadi pas kalian pulang, Ando melihat kamu naik taksi online. Dan Danu di papah sama sopir taksi. Ando menebak kalau kalian pulang ke rumah. Kami pun mengikuti mobil taksi kalian," cerita ibu Rubiah.
"Mila tolong jelaskan sama ibu apa yang sebenarnya terjadi pada Danu?" ibu Dahlia ikut bicara.
Mila hanya diam saja. Dia sudah berjanji pada Danu tidak akan cerita tanpa seizin suaminya. Hatinya dilema, sisi lain jika dia cerita himpitan hatinya sedikit berkurang. Disisi lain dia juga tidak mau membuat orang-orang khawatir akan nasib rumah tangganya.
"Maafkan Mila, Bu. Saat ini ..."
"Danu punya leukimia sejak kecil. Dan diagnosa stadium empat, tapi Mila mencoba menghalangi saya membawa Danu untuk berobat. Alasannya minta tunggu sampai selesai melahirkan. Kalau anak saya keburu meninggal bagaimana? kamu enak kalau anak saya meninggal pasti mau balik lagi sama Ammar, kamu ...."
"Anak saya tidak seperti itu! Enak saja kamu melimpahkan semua sama anak saya! asal kamu tahu Mila juga tidak ingin punya suami penyakitan seperti Danu!" ibu Dahlia tidak mau kalah dari besannya. Ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya di hina orang lain apalagi mertuanya.
"Harusnya sebagai istri Mila itu telaten mengurus suaminya. Aku dengar dari ibu panti kalau dulu sebelum menikah Danu rutin berobat. Tapi sekarang dia malah makin drop karena terlalu nurut sama istrinya,"
"CUKUP! Tidakkah anda lupa kalau suami saya sedang beristirahat sekarang. Dia sedang sakit dan ibu masih sibuk mementingkan ego ibu!" Mila menatap tajam kearah ibu mertuanya.
"Anda memang ibu kandungnya. Tapi anda lupa bagaimana Danu terlantar di letakkan di panti bertahun-tahun. Selama ini dia merasa insecure karena tak tahu dimana orangtuanya. Oke saya tahu kalian terpisah, tapi itu termasuk kelalaian anda sebagai orangtua. Maaf kalau saya bicara seperti ini pada ibu Rubiah. Selama ini saya mencoba diam karena menghormati anda sebagai mertua. Tapi saya juga manusia, ada batas kesabaran. Anda datang seakan punya hak penuh suami saya, tapi anda menolak lupa apa yang terjadi pada Danu salah satu bentuk keegoisan, Ibu,"
"Kamu pilih Mila, meninggalkan Danu atau saya yang akan membawa paksa anak saya,"
"Saya tidak memilih keduanya, saya istrinya! dimanapun suami saya berada, sebagai istri saya akan tetap berada di sampingnya. Menemaninya berobat. Anda pernah terpisah dari anak dan suami. Harusnya anak bisa lebih peka,"
"Kamu ...!" Rubiah hendak melayangkan tangannya ke wajah Mila. Namun ternyata Danu berteriak jarak dekat. Dahlia menarik Mila menjauh dari Rubiah.
"Ibu!" bentak Danu.
Rubiah mengalihkan pandangan ke arah putranya. Danu muncul sambil berjalan gontai menghampiri ibu kandungnya. Meskipun pucat namun masih terlihat amarah besar dalam raut wajahnya.
"Kalau ibu hanya datang untuk mencari keributan, mending ibu pulang," Telunjuk Danu mengarah di depan pintu.
__ADS_1
"Kamu usir ibu, Nak? kamu lebih milih nurut sama istri kamu daripada ibu kandungmu?" suara Rubiah terisak-isak. Hatinya sakit di perlakukan seperti itu sama anak kandungnya.
"Kalau ibu tidak keterlaluan aku juga tidak akan seperti ini. Sebenarnya ibu kenapa membenci Mila. Apa hanya karena apa yang terjadi pada Ammar? anak ibu aku apa Ammar sih? sebegitunya ibu membela dia! padahal ibu sendiri yang bilang sama aku yang menelantarkan aku adalah keluarga Ammar! oh aku tahu, karena keluarga Ammar lebih kaya makanya ibu seperti itu! tapi kalau Ammar tahu ibu sempat mencoba merusak obat etek Diana apa dia masih mau menerima ibu!"
"Uda, sudahlah! tidak usah banyak pikiran. Kamu sedang tidak sehat saat ini. Istirahat di kamar saja," Mila mencoba menenangkan suaminya yang sedang emosi.
"Saya minta ibu pulang saja, maaf kalau saya terkesan mengusir. Tapi kehadiran ibu malah bikin runyam semuanya. Jadi saya mohon sama ibu, tolong pulanglah. Jika ibu ingin membicarakan sesuatu tunggu situasi kondisi agak tenang. Saya mohon, Bu!" mohon Mila.
Rubiah terpaksa menuruti permintaan Mila. Meninggalkan kediaman anaknya. Memang dia menyadari awal perdebatan dialah yang memulai. Itupun juga sudah terlanjur kesal pada Mila, tidak ada pergerakan dari keduanya. Sebagai ibu dia juga ingin melihat kesembuhan anaknya. Apapun akan dia lakukan demi Danu. Menebus masa-masa terpisah dulu.
"Kenapa tidak ada yang mengerti aku?" batin Rubiah.
Setelah kepergian Rubiah. Mila masih mencoba menenangkan Danu. Guratan kecewa tampak jelas di wajah lelaki itu. Sebenarnya Mila juga tidak paham dengan pemikiran ibu mertuanya. Akan tetapi dia berusaha positif thinking. Mila yakin ada sisi baik dari sikap keras ibu mertuanya.
"Uda," Mila duduk di samping suaminya.
"Mila, tolong maafkan sikap ibuku tadi. Aku tahu kamu pasti sakit atas ucapan ibuku. Aku sendiri tidak tahu lagi bagaimana membuat ibu mengerti. Dia tidak pernah mau mendengarkan orang lain,"
"Uda, sudahlah. Jangan pikirkan soal itu. Sekarang terpenting kamu istirahat. Jika kamu pulih besok kita temui Wisnu membicarakan pengobatan. Atau ...." Mila menarik nafas dalam-dalam. Sungguh keputusan ini berat tapi demi suaminya dia rela terpisah sementara, "Kamu ikuti pengobatan yang diminta ibu Rubiah. Aku tidak apa-apa kalau terpisah sementara. Yang penting kesehatan kamu lebih utama,"
"Tapi,..."
"Kamu sayang sama aku? sayang sama anak kita. Ada benarnya apa yang di ucapkan ibu Rubiah. Kita terlalu santai sedangkan waktu kamu tidak banyak. Mumpung belum terlambat, Sayang. Kalau pada akhirnya kamu pergi meninggalkan aku dan anak kita. Setidaknya kita ada usaha, tidak berpangku tangan, Uda,"
"Bagaimana dengan kamu, Mila? mana mungkin aku meninggalkan istriku yang sedang hamil. Apalagi sudah di usia enam bulan. Aku tidak ...."
"Kalau kamu tidak mau artinya kamu tidak sayang sama aku dan anak kita. Kamu membiarkan hidupmu di gerogoti penyakit, atau aku tinggal sama ibu Dahlia saja," ancam Mila.
"Aku capek di salahkan terus. Selama ini aku berusaha ikuti mau Uda. Sebagai istri aku hanya bisa mendukung apapun yang jadi keputusan kamu. Tapi semakin kesana-kemari kamu terlihat terlalu santai. Aku pun cemas melihat kondisi suamiku ini.
__ADS_1
Bayang-bayang jika aku harus menjadi janda setelah kematian kamu selalu menghantui. Dan aku belum siap akan hal itu, aku belum siapa membesarkan anak kita sendirian,
Jadi aku mohon ikutlah dengan ibu Rubiah. Jadikan aku dan orang-orang yang sayang sama Uda untuk motivasi sembuh,"