Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 140


__ADS_3

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri (tadharu’) dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut akan tidak diterima dan penuh harapan untuk dikabulkan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”


Doa bukan hanya dipanjatkan pada saat seseorang merasa perlu atau ada dalam masalah dan pergumulan saja. Doaitu bukan suatu hal yang remeh dan merupakan nomer dua atau sekedar ritual untuk memperkuat keyakinan atas motivasi seseorang.


Banyak hal yang kita inginkan dalam hidup, banyak hal yang kita harapkan menjadi kenyataan, Semoga bisa berjalan sesuai keinginan. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, bisa kita hari ini tertawa, esoknya malah kesedihan yang melanda. Ada saja takdir yang tak terduga, itu bisa terjadi tanpa diduga. Ada pula takdir yang membawa keberuntungan karena kita bergantung dengan Doa. Untaian doa yang selalu menjadi harapan kita sebagai titik terang dalam kehidupan. Untaian doa yang selalu tumpuan hidup manusia.


Semua keluarga besar Sarah pun sudah berkumpul di rumah sakit. Fera datang berlari memeluk ibu Dahlia. Tampak wajahnya sembab karena tegang mendapati Sarah yang tiba-tiba drop.


"Apa yang terjadi?" tanya ibu Dahlia.


"Aku dan Vika menjaga Sarah. Maaf kalau aku ajak Vika karena tidak mungkin aku bawa Intan untuk ikut menjaga Sarah. Kami lagi asyik main handphone tiba-tiba tubuh Sarah kejang-kejang. Vika langsung mencari bantuan. Setelah di periksa dokter menyatakan Sarah koma."


"Koma!?" jerit Mila.


"Ya Allah, Sarah!" Mila masih menampakkan keterkejutannya. Meskipun dia sudah di beri tahu Anjas tetap saja rasa sedih dengan apa yang terjadi pada adiknya.


"Ya Allah, kenapa cobaan di keluarga kami bertubi-tubi. Mana Anjas!" Bu Dahlia mendadak geram.


"Bu, sudahlah. Jangan emosi." Danu menenangkan ibu mertuanya.


"Danu, Mila, apa kalian tahu yang buat Sarah seperti ini siapa. Keluarga mertuanya, Mila! semalam kemarin lusa saat Sarah baru sehari di rawat ada perempuan yang mengaku mengurut Sarah. Atas suruhan ibu Melani, jadi yang buat Sarah seperti ini ya ibu mertuanya. Anjas pasti nggak tegas makanya jadi begini." Ibu Dahlia masih mengeluarkan uneg-unegnya.


"Ibu, kami tahu kalau ibu sayang sama Sarah. Kami juga sedih melihat keadaan Sarah yang kritis. Sekarang kita disini datang memberi doa dan dukungan pada Sarah." kata Danu.

__ADS_1


Danu masih mencoba menenangkan ibu mertuanya yang masih syok. Berusaha menghibur wanita yang melahirkan istrinya. Tak jauh berbeda dengan Mila rasanya hancur hatinya melihat keadaan adiknya. Tubuhnya lemas tapi masih berusaha kuat.


Dalam tubuhnya terasa lemas Mila bertemu dengan Vika. Gadis itu masih tampak membisu dan enggan mendekati Mila. Begitu juga sebaliknya, Mila pun belum bisa berpikir jernih. Baginya sekarang urusan Sarah, bukan mementingkan urusan dengan Vika.


Dalam keadaan perut yang membesar Mila berupaya bangkit. Menahan nyeri di perutnya dia berjalan membaur dengan keluarganya. Langkah jalannya tertatih-tatih.


"Kamu kalau tidak kuat jalan nggak usah banyak bergerak, Mila." Suara itu akhirnya muncul di samping Mila.


"Vika?"


"Iya, ini aku. Jujur aku malas ngomong gini sama kamu. Tapi lihat kamu susah payah jalan kayak gini bikin aku greget tahu. Kamu itu lagi hamil jalan banyak bergerak kenapa sih?" omel Vika.


Mila masih belum berkedip melihat sikap Vika. Seperti dulu kalau ada apa-apa gadis itu selalu sigap. Sejenak mereka duduk kembali menarik nafas dalam-dalam. Akan tetapi Vika masih berceloteh ria seakan lupa jarak yang pernah mereka alami.


"Itu, bisa antarkan aku sama suamiku?" Mila menunjuk kearah Danu. Vika mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Mila.


"Jadi kamu nikah sama Danu?" tanya Vika.


"Iya, kamu sama Revo bagaimana?" Mila pun balik bertanya.


"Aku masih harus mengenal Revo lebih dalam, Mila. Tidak kepikiran kalau bisa jatuh cinta sama yang lebih muda. Sifat kekanak-kanakannya lebih kuat. Pusing aku jadinya."


"Kamu dan Danu sejak kapan menikah?"

__ADS_1


"Setelah kejadian pernikahan kamu dan Ammar, Danu datang ke rumah melamar aku. Ya, aku terima. Bukan untuk pelarian tadi aku menyadari sejak aku dan Ammar renggang ada Danu selalu ada buatku. Aku baru sadar yang menurut kita baik belum tentu yang terbaik. Apalagi Danu terlebih dahulu mendapat restu dari keluargaku dan keluarganya." cerita Mila.


"Mila, maafkan aku waktu itu. Ini semua salah ku tidak tegas. Ya, walaupun kami tegas pun tidak akan mengubah keputusan kedua orangtua. Ammar sebenarnya sudah berontak, tapi mama ku serta mama Diana masih bersikeras menikahkannya kami. Dan endingnya seperti yang kita lihat. Seandainya kamu tahu kalau ..."


"Ka, aku sudah anggap Ammar masa lalu. Aku sudah punya suami dan sebentar lagi mau punya anak. Jadi please, tidak usah bahas aku dan Ammar lagi. Biarlah semua menjadi kenangan diantara kami dan juga kamu. By the way, kamu serius sama Revo? atau ...."


"Maaf, apa kamu masih mencintai Ammar..." Vika mendongak ke arah Mila. Pertanyaan yang bikin hatinya masih ketar-ketir.


"Enggak, Ammar itu juga masa lalu." Vika membuang wajahnya ke lain arah.


"Kalau kamu buang muka seperti itu fix kamu masih cinta sama Ammar. Tidak apa-apa, tidak akan mudah melupakan orang yang pernah berkesan dalam hidup. Akan tetapi kamu sudah punya Revo yang sepertinya tulus."


"Ehmm.... Akhirnya kalian bertemu juga." sapa Fera.


"Ka, kamu mau menemani aku malam ini di rumah sakit." ajak Fera.


"Eh, aku takut nanti mama suruh pulang. Aku pulang saja, Ya."


"Ya ampun, sudah tua masih anak mama. Mama kamu kan tahu kalau perginya sama aku ponakannya sendiri. Bahkan aku titip Intan tadi juga dia nggak masalah. Kamu tidak usah takut di cariin." Fera mencereweti adik sepupunya. "Atau aku telepon Revo, biar dia kesini." Vika melototi kakak sepupunya. Mana mungkin jam segini Revo bisa datang.


Anjas berjalan keluar dari toilet rumah sakit. Suasana yang gelap dan mencekam di rumah sakit. Tapi bukan itu alasannya, hati dan pikirannya berkecamuk terkait kondisi sang istri.


"Sarah, bangun dong, Sayang. Biasanya kalau pagi-pagi kamu suka ngomel kalau aku letakkan barang sembarangan. Tapi sejak kamu tertidur tidak ada yang menegur aku. Please, bangun. Aku nggak akan marah kalau kamu belum hamil. Aku percaya Tuhan akan menyiapkan kejutan suatu saat nanti. Aku mohon bangun."

__ADS_1


__ADS_2