
"Kenapa begitu banyak ujian dalam kehidupan kita, Uda?" ratap Mila sambil menemani Sarah di kamar rawat.
"Karena Allah sayang sama hambanya, sayang." jawab Danu pada istrinya.
Pada hakikatnya, ujian dan cobaan merupakan cerminan kasih sayang dan keadilan dari Allah untuk para hamba-Nya yang beriman. Allah tidak rela menimpakan azab yang pedih di akhirat kelak, sehingga Ia menggantinya dengan menimpakan berbagai cobaan di dunia yang juga berfungsi sebagai penggugur segala dosa-dosa.
Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat.
Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah.. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah.
"Apa yang kita alami saat ini adalah satu ujian dari Allah. Meminta kita tetap berteguh janji pada-Nya. Tidak melupakan sang pencipta." sambung Danu.
"Seperti yang aku rasakan bertahun-tahun. Kadang aku bertanya kenapa Allah tidak cabut saja nyawaku. Daripada aku selalu menyusahkan orang-orang sekitar. Tapi seakan Allah mengatakan ini sama aku,
Hey Danu, aku panjangkan umurmu agar kamu bisa bersyukur. Banyak orang di luar sana yang berjuang sendirian untuk sembuh. Sementara engkau yang di beri kenikmatan masih saja mengeluh." kata Danu.
"Uda, memang benar kalau manusia itu tempatnya sering mengeluh. Kadang kita yang kurang bersyukur dengan apa yang di dapat. Saat aku melihat anak-anak panti, rasanya seperti tertampar. Mereka saja bahagia dengan kehidupannya. Sedangkan aku masih mengeluh karena melihat kehidupan sendiri. Aku lupa kalau masih ada ibu, Masih ada adik-adik dan juga punya suami yang mencintaiku." ujar Mila di barengi dengan pelukan hangat dari suaminya.
Beberapa saat kemudian Lala keluar di bantu oleh suster. Wajahnya masih ceria seperti biasanya. Lala yang selalu berpikir tanpa beban. Yang masih dianggap anak kecil oleh kakaknya. Namun hari ini Lala bak seorang pahlawan, menyelamatkan nyawa sang kakak. Meskipun di masa yang lalu Sarah sering ketus padanya.
"Lala." panggil Mila mendapati sang adik duduk di kursi roda.
"Adek Lala masih lemas, Mbak. Jadi di butuhkan istirahat terlebih dahulu. Jadi dia apa mau istirahat di rumah sakit atau di bawa ke rumah saja. Kalau istirahat di rumah sakit akan saya siapkan prosedurnya dan nanti langsung ke administrasi." kata Suster.
__ADS_1
"Suster adik saya baru selesai donor darah jadi bisakah tidak bahas administrasi. Lebih baik biarkan dia memulihkan kondisi tubuhnya dahulu." Danu kesal pada suster.
Mila menenangkan suaminya. Terlihat raut wajah Danu masih kesal. Bagaimana mungkin sudah di bahas soal administrasi padahal Lala baru saja keluar dari Unit Donor Darah.
"Kak Danu, Lala mau pulang saja. Kalau di rumah kan Lala bisa istirahat. Kak Sarah bagaimana keadaannya?" tanya Lala.
"Belum ada kabar, La. Kalau kamu mau pulang biar kakak antar ya, mau ke rumah kita atau ke rumah ..."
"Rumah kita aja, Kak." suara Lala masih terdengar lemas.
Danu pamit pada orang-orang yang masih menunggu kabar dari Sarah. Untung dia bawa mobil dari panti.
"Kak Danu biar aku yang bawa mobil," sahut Rudi.
"Kakak abis dari kemo kan? pasti terasa lemas. Nanti di jalan ada apa-apa. Soal bang Anjas tidak usah khawatir. Ada ayah sama mama yang sudah datang menemani. Kak Danu temani kak Mila saja." Danu akhirnya menurut. Menuntun Lala masuk ke dalam mobil tentu setelah dapat izin dari dokter.
Beberapa jam kemudian Sarah sudah keluar dari ruang operasi. Tampak beberapa keluarga pun ikut mengiring Sarah menuju kamar rawatnya. Wajah Sarah terlihat pucat. Anjas tidak tega menatap wajah istrinya. Membayangkan reaksi Sarah ternyata sudah mengandung.
Sarah masih dalam pengaruh anestesi di pindahkan ke kamar rawat inap. Diikuti semua keluarga besar Sarah dan juga keluarga Anjas.
Ibu Dahlia memantap keponakannya dengan berurai air mata. Tidak dapat dia bayangkan bagaimana perasaan Sarah saat tahu anaknya sudah tidak ada. Calon cucu mereka yang belum tahu bagaimana bentuknya. Bagaimana jenis kelaminnya, harus memupuskan harapan untuk hidup di dunia.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bu Melani?" tanya ibu Dahlia.
__ADS_1
"Saya tidak tahu,Bu. Tadi saya mau ke WC tapi ternyata di kunci. Tapi saya tidak mendengar suara apapun. Akhirnya saya dobrak. Ternyata Sarah sudah terlentang berlumuran darah." Adu Bu Melani.
"Tadi papa lihat mama pergi sama Sarah. Kalian kemana?" tanya pak Ahmad.
"Ke rumah teman, mau lihat ada kredit baju, Pa. Nggak lama aku pulang. Terus Sarah masuk kamar." Mama Melani menjawab tapi pandangan ke lain arah.
"Mama pasti bohong kan? kalau mama jujur kenapa tidak melihat kearah kami. Jawab dengan menatap mata saya!" ujar Anjas tegas.
"Mama kan sudah jawab, Jas. Kenapa kamu bicara seperti itu sama mama!" Mama Melani tidak terima atas sikap anaknya.
"Jadi sebenarnya bagaimana anak saya di perlakukan sama kalian di sana? apa kalian memperlakukan dia dengan baik? atau malah sebaliknya. Kamu tidak lupa, Jas. Setelah terkepung banjir di rumah kandang limun. Sarah di temukan sendirian! lalu berhari-hari Sarah tinggal sama kami, kamu bahkan tidak menengoknya. Jadi bagaimana pernikahan kalian yang sebenarnya?"
"Lia, sudahlah. Itu urusan rumah tangga mereka. Kita sebagai orangtua hanya bisa ..."
"Itu anakmu, Rohim. Dan kamu bisa berkomentar seperti itu! anakmu di tidak bahagia dengan pernikahannya. Dia tidak di perlakukan dengan baik oleh mertuanya," Dahlia terisak-isak di tenangkan Rohim.
"Asal ibu tahu saya sudah menerima Sarah dengan baik. Tapi anak ini tidak tahu di untung, dia bersikap ratu di rumah saya. Saya juga manusia ada batas kesabaran. Dan Anjas sudah menalak Sarah!" Mama Melani tidak mau kalah.
Mila baru sampai ke kamar Sarah mendengar keributan di dalam. Keduanya langsung masuk untuk melerai antara ibu Dahlia dan mama Melani.
"Ya Allah, ini kalian kenapa bertengkar di rumah sakit?" tanya Mila.
"Mama, kita pulang! papa mau bicara empat mata," pak Ahmad langsung membawa istrinya meninggal rumah sakit.
__ADS_1
Anjas akhirnya meminta maaf atas apa yang terjadi dalam rumah tangganya. Meminta maaf atas sikap mamanya. Ibu Dahlia menatap tajam menantunya.