Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 134


__ADS_3

Sarah dan Mama Melani akhirnya sampai di rumah Bu Siti, Dukun beranak yang cukup laris di sekitar Rawamakmur. Rumahnya Bu Siti berada di bawah jembatan penghubung jalan Kalimantan dan Rawamakmur.


Masuk ke dalam sedikit ada sedikit sawangan. Sarah hanya menurut ketika tangannya terus di pegang mama Melani sejak turun dari angkot hingga menelusuri masuk gang.


"Ma, aku ..." cicit Sarah berharap mama mertuanya berubah pikiran.


"Ma, kata ustad di mesjid istri itu nurutnya sama suami. Bang Anjas kan ...." Melani melepaskan tangan Sarah berbalik ke arah menantunya.


"Saya tanya sama kamu, yang melahirkan Anjas siapa? pak ustad mana dia tahu bagaimana nurut istri la wong sampai sekarang dia masih membujang. Waktunya cuma di mesjid doang! pakai sok nasihati soal istri! Saya lebih tahu daripada ustad bujang karatan," cerocos Bu Melani. Ekspresi ibu mertuanya sangat seram menurut Sarah.


Mereka sudah berada di depan pintu rumah Bu Siti. Sarah melongo melihat beberapa wanita muda dan paruh baya. Sama seperti dirinya para wanita yang disana, bagai kerbau di colok dengan hidungnya. Mereka terlihat pasrah "Tumben ramai tempatnya, bakal lama nunggunya."


"Ya nggak apa-apa, Ma," sambungnya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa bagaimana? tambah lama jadinya, kerjaan saya banyak Sarah! kamu juga nggak bisa apa-apa, nggak bisa diandalkan! coba kalau kamu pinter seperti anaknya Bu Tia, sudah sarjana pintar masak dan beresin rumah. Aku nggak akan serepot ini," Masih dengan omelan Bu Melani.


"Jadi mama maunya bagaimana? ini aja aku sudah dapat tiket antri ke 15 sedangkan yang nomor 3 saja sudah satu jam belum selesainya," Sarah ikut protes.


"Kamu mau kemana?" Bu Melani kaget menantunya pergi tanpa permisi.


"Mau ketempat ibu Dahlia,Ma. Ini sudah jam berapa? nanti bang Anjas pulang dia tahu aku pergi ke tukang urut kan bisa bahaya.


Maaf, Ma bukan aku mau melawan. Tapi surgaku di bawah kaki suami. Kalau kita melawan ialah haram. Segala hal yang dilakukan istri dengan tujuan buruk dan menentang suami itu hukumnya termasuk haram,"


Perempuan yang berani melawan suaminya termasuk dalam istri durhaka. Ia akan mendapatkan hukuman yang begitu berat oleh Allah SWT. Hal ini dikarenakan Allah SWT tak suka dengan perbuatan buruk dalam rumah tangga, salah satunya dengan perbuatan yang mengarah ke durhaka.


"Diam kamu!" tangan mama Melani hendak menampar wajah Sarah. Dengan sigap Sarah menahan tangan ibu mertuanya.

__ADS_1


"Mama, Sarah mau belajar menjadi istri yang baik untuk bang Anjas. Salah satunya tidak melanggar apa yang dia perintahkan. Mama saja juga tidak pernah menghormati ayahnya Rudi. Kurang baik apa mereka sama mama.


Sarah tahu kalau mama yang punya rumah dan selalu anggap mereka menumpang. Kalau itu mau mama, kenapa mama mau menikah dengan ayahnya Rudi,"


Sarah meluapkan apa yang selama ini disimpannya. Bukan sekedar menggurui, sewaktu pacaran sama Rudi Sarah selalu mendengar cerita bagaimana tentang keluarga barunya. Bagaimana ibu sambungnya menomorsatukan anak kandungnya. Memang Rudi sudah cukup tahu diri. Dia juga lebih banyak di luar untuk melepaskan rasa kecewaannya.


"Eh, malah ajarin saya! tahu apa anak bau kencur seperti kamu? Tahu apa kamu soal kehidupan rumah tangga saya! tahu apa kamu tentang ayahnya Rudi, atau jangan-jangan kamu dan Rudi..."


Sarah menarik nafas dalam-dalam. Bukan sekali dua kali ibu mertuanya menuduhnya ada hubungan dengan lelaki yang berstatus adik iparnya. Dia mencoba belajar jadi orang sabar, belajar apa yang dialami Mila ternyata tidak mudah. Rasanya sakit di tuduh apa yang tidak dia lakukan.


"Kak Mila saja kuat saat orang-orang mencibirnya selama ini. Dan sekarang aku berada di posisi ini. Sakit? iya sakit, aku tidak punya hubungan apapun dengan Rudi. Tapi kenapa ibu selalu menuduh seperti itu?" batin Sarah.


"Kita sudah terlanjur basah berada disini Sarah. Jadi mama minta sekali ini kamu nurut sama saya. Ini juga buat kebaikan kamu dan Anjas. Mama mau punya cucu. Apa keinginan saya salah? saya rasa semua orangtua punya harapan yang sama. Kamu lihat di luar sana banyak orang ingin sekali punya anak. Tapi kalian terlalu santai menanggapinya," mama Melani terus berbicara tanpa memberikan kesempatan Sarah untuk bicara.

__ADS_1


"Enggak salah, Ma. Saya juga pengen punya anak. Tapi saya mau yang alami dan bang Anjas juga setuju hal itu. Alami tanpa memakai obat atau sejenis terapi. Yang penting kita tetap percaya atas pemberian Allah, itu saja" ucap Sarah.


__ADS_2