
Kak amar kalo mau cari pasangan coba dekati kak Mila saja." Kata Vika
"Kenapa harus Mila, kenapa tidak kamu saja. "
"Maaf kak kita ini masih ada famili kan. Masa kakak mau sama saudara sendiri."
"Emang kenapa kalo suka sama saudara sendiri, toh kita masih saudara jauh."
"Udah ah,kak. Aku banyak kerjaan." Ammar menarik tubuh Vika, lalu di dekatkan tubuhnya ke wajah Vika.
Ammar ingin memastikan apa Vika menghindar kalau dia mencium gadis itu.
PLAAAAAK!
Sebuah tamparan melayang ke wajah Amar. Bukan dari tangan Vika, melainkan dari tangan Mila.
" Dasar bos mesum, beraninya tak senonoh dengan karyawannya."
" Eh, kamu ya, ikut campur urusan orang lain.Mau kamu saya pecat!!!" Hardik Amar.
" Silahkan, pak. Dengan senang hati." Balas Mila dengan santai
Mila langsung menarik Vika keluar.
Saat pergi Vika mengedipkan mata padaku.
"Ah, dia suka padaku ternyata, cuma gara gara Mila nih." Gumam nya dalam hati
Ammar hanya tersenyum kecil. Sosok Vika yang memenuhi ruang hatinya belum lama ini telah menolak dirinya. Ammar tahu diri, kalau cinta tidak harus saling memiliki. Maka itu seperti saran Vika. Dia coba mendekati Mila. Kesannya jahat karena mempermainkan perasaan. Tapi Ammar yakin kalau Mila tidak punya perasaan apapun. Dilihat dari sikap Mila selama ini. Ammar merasa di permainkan perasaannya sama Vika.
"Oke, Vika aku ikuti permainanmu."
Ammar bukanlah orang kaya. Tapi kalau dibilang sukses dan mampu, punya usaha tanpa mengandalkan kekuatan orangtuanya. Mama Diana punya usaha cafe di area pantai panjang. Papanya Ammar pensiunan pegawai negeri sipil. Papa Ammar meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu Ammar masih tinggal di Lampung, karena baru selesai kuliah langsung dapat kerja. Ammar pulang saat mendengar kabar meninggalnya sang papa.
Sejak saat itu Ammar diminta untuk tidak kembali lagi ke Lampung. Dengan mengandalkan gaji selama bekerja di Lampung, Ammar membuka usaha kecil dengan berjualan pulsa dan handphone second. Usahanya berkembang pesat. Dari itu Ammar pun bisa membuka counter handphone dua cabang. Di jalan Suprapto dan di daerah Rawamakmur.
"Ma," Ammar mendatangi sang mama di cafe
"Tumben, Nak kamu main ke cafe mama."
"Ya apa-apa, Ma. Aku tadi dari counter. Ma, sore ini Ammar mau ke Lampung."
"Loh, kok mendadak?"
"Pengen refreshing, Ma."
"Yasudah, kamu ajak Ardo biar ada menemani."
"Nggak usah, Ma. Aku sudah pesan tiket ke travel melalui Eko."
"Kok nggak naik pesawat. Naik mobil capek,Mar."
"Ammar dah besar, Ma. Irit ongkos."
"kapan berangkatnya?"
"Nanti sore, Ma."
__ADS_1
"Maaf, nak. Kamu ada masalah? apa sama Vika?"
"Nggak ada, Ma. Aku dan Vika baik-baik saja. Ma, Ammar pulang dulu. Mau siap-siap."
Setelah pamit dari cafe milik mamanya. Ammar memutar area pantai panjang untuk melepas perasaan sesaknya.
"Kak, Mila mau ke Lampung sore ini." lapor Vika pada Ammar.
Ammar mendengus nafasnya dengan kasar. Sambil menendang pasir di sekitar pantai.
"Gue janji akan berusaha move on dari kamu Vika. Dan asal kamu tahu, Ilham itu sudah punya kekasih lain."
Aaaaaarrrrg!
"Kenapa aku susah memberitahukan ini pada Vika?
Yah, biar dia tahu sendiri. Tanpa aku harus repot mengusik hubungan Ilham dan Vika."
...*****...
POV MILA
Sebuah mobil berhenti di depan kost ku. Seorang bapak-bapak datang menghampiriku.
"Mbak yang namanya Mila, kan?" tanya bapak itu
"Saya bertugas mengantar mbak Mila ke loket SAN."
"Bapak dari pihak travel, ya."
"Ciyeee, pangeran BMW datang." Goda Vika.
Aku manyun aja deh. Apa gara gara omongan kemarin ya. Syukurlah dia bisa mikir karyawannya. Eh aku kan bukan karyawannya lagi. Jadi ngapain dia repot-repot ngirim sopir. Dasar aneh!
Pak supir mengantar ku sampai depan loket, dan ternyata pak Ammar bawa koper dan sudah menunggu disana.
Dia mau kemana sih, ah bukan urusanku juga.
Aku langsung check in tiket di loket bus SAN. Pak Ammar masih jadi patung di ruang tunggu. Aku masih mencoba cuek. Aku bukan karyawannya lagi. Jadi tidak usah jaim sama dia. Kan usiaku diatas dia.
"Mbak, tiketnya udah ada sama suaminya "
"Suami? Saya masih Single pak."
"Ya, pokoknya bapak itu yang bayarin."
Aku melihat tangan arah si bapak loket ke arah pak Ammar. "Ngapain dia sok-sokan bayarin?"
"Pak Ammar tenang saja, aku bakal ganti uang travelnya."
"Mana ucapan terimakasihnya?"
"Terimakasih!"
"Kayaknya ada yang nggak ikhlas."
"Ya Allah, nih orang bawel bener." batin ku.
__ADS_1
"Saya emang bawel, kenapa nggak suka!"
"Hah! kok dia tahu aku ngatain bawel dalam hati. Wah ini orang indigo kayaknya."
Aku duduk di kursi tunggu, aku sibukkan dengan hp, apalagi Vika terus chat buat menggodaku.
"Makasih, mil."
"Makasih apa,Vika?"
"Berkat kamu toko libur beberapa hari"
"Selamat honeymoon."
Honeymoon! Gila nih anak. Nikah aja belum udah bilang honeymoon. Dasar! Bis pun sampai, barang barang pun di naikan oleh petugas.
Saat aku cari tempat duduk, ternyata cuma sebelah pak Ammar yang kosong. Aku malas duduk di sebelah dia. Terus ada bapak-bapak di belakang duduk sendiri, kutawari duduk di kursi no 6.
"Pak mau duduk depan nggak?"
"Kan beda tiket dek, emang kenapa dek?"
"Bapak lihat orang di sebelahku, itu orangnya rada mesum. Saya sudah punya suami pak."
"Ya udah, saya pindah ke depan. Tapi kalo ada apa-apa kamu tanggung jawab."
"Aman, pak."
Sepertinya aman. Aku memilih menutup wajahku dengan topi dan masker. Kebetulan tempat duduknya dua jadi aku bisa selonjoran. Ya Allah, Semoga keberangkatan aku ini bisa membawa petunjuk keberadaan ayah.
Aku pun merebahkan diri. Rasa kantuk pun sudah menyerang. Aku tidak tahu lagi. Semuanya gelap.
Seketika aku bangun melihat wajah seseorang diatasku. Aku tidur di paha siapa, ku coba membuka mataku kuat-kuat.
Astaga!
***
"Kak Mila mencari ayah di Lampung kok nggak ngajak aku sih." Protes Sarah pada Eva
Eva yang bengong karena Sarah tiba-tiba datang dan ngomel ngomel di depan nya, tanpa di sodori supaya masuk dulu ke rumah langsung nyelonong ke dalam.
"Emang kamu mau ketemu ayahmu juga,sar?"
"Pengenlah kak, apalagi aku sudah di lamar, nih." Sarah menunjukkan cincin di tangannya.
"Sama siapa? Sama Anjas? Emang nggak ada cowok lain,ya. Sampai mantan kakakmu di embat juga."
"Ya, udah jodohnya kak." Sarah langsung merah mukanya
" Gila,ya. Kamu ingat nggak, Anjas itu bukan laki-laki gentle. Kalo laki-laki gentle itu datang minta maaf sama kakakmu. Ini malah pulang nyelonong aja.
Aku perhatikan sejak kamu sama Anjas banyak sekali perubahannya. Jadi lebih bucin. Dan tidak tahu malu."
" Nenek aja setuju, kok,kak." Lagi lagi Sarah ngotot
Eva memilih mengalah, dia malas berdebat kalo urusannya sama neneknya Sarah. Dari dulu neneknya Sarah nggak pernah mau kalah sama orang lain.
__ADS_1