Bingkai Cinta Untuk Sarmila

Bingkai Cinta Untuk Sarmila
BAB 67


__ADS_3

Beberapa jam sebelum pulang ke rumah


Danu memandang air yang turun dari langit. Suara rintik hujan yang pelan membuat lelaki itu memilih berteduh di teras rumah Diana. Duduk di kursi berbahan rotan.


Danu merogoh kantong depan tasnya. Memberi kabar pada istrinya kalau akan lambat pulang. Baru saja dia hendak membuka handphone layarnya langsung bergetar.


"Wisnu?" batin Danu


"Assalamualaikum, Wisnu. Ada apa menelepon?"


"Abang dimana? ada di rumah? aku mau kesana ada yang mau di bahas tentang pengobatan Abang."


"Kamu masih dinas apa di rumah?" tanya Danu. Dia harus mencegah Wisnu datang ke rumah. Takut keluarga istrinya tahu tentang penyakitnya.


"Di rumah sakit, bang. Aku kan pulang biasanya malam. Kadang juga nginap di rumah sakit."


"Makannya cari istri, Wisnu." suara tawa terdengar dari seberang sana.


"Yasudah, abang langsung ke M. Yunus...." belum selesai dia berbicara handphonenya sudah mati. Danu menghela nafas dalam-dalam. Bagaimana mungkin dia mengabari Mila kalau handphonenya lowbat.


"Nanti aku cas di rumah sakit saja." Danu melihat langit sudah terang. Dia pun pamit pada Makwo Rubiah untuk pulang.


Danu melajukan motornya menuju rumah sakit M. Yunus dimana sudah janji dengan Wisnu. Hujan memang sudah reda, tampak jalanan masih basah dan becek akibat hujan. Tak ada aktivitas kehidupan di jalanan. Biasanya dia melihat banyak orang-orang berdiri di pinggir jalan untuk menunggu angkutan umum.


Motornya berhenti di parkiran rumah sakit M. Yunus. Ada sebuah tempat yang bisa meneduhkan kendaraan roda dua. Tapi Danu malah menitipkan motornya di salah satu pos penjagaan. Dia mengenal baik penjaga di sana.


"Eh, mas Danu. lah lamo idak nampak. Kemano bae?" sapa satpam rumah sakit.

__ADS_1


(Eh, mas Danu sudah lama tidak kelihatan kemana saja?")


"Disinilah, pak. Saya masih kerja di sini" jelas Danu.


"Oh, dak pernah ketengokan." (Oh nggak pernah lihat)


"Saya sering ketemu Eko yang ship setelah bapak. Eko mana? jam segini biasanya dia yang jaga."


"Eko kan sudah berhenti kemarin. Katanya dia mau pulang ke Manna. Mau nikah. Saya dengar mas Danu sudah nikah, ya?" Danu mengangguk kecil.


"Selamat ya, Mas. Semoga cepat dapat momongan."


"Terimakasih, pak. Saya titip motor mau kedalam dulu."


"Mas Danu mau dinas?"



Danu berjalan memasuki lorong koridor rumah sakit. Beberapa orang sedang duduk menunggu urusannya selesai. Danu melihat beberapa suster menyeret brankar pasien. Terlihat seorang lelaki terbaring lemah dan pucat. Danu seperti melihat dirinya sendiri, di mana masa itu akan datang kepadanya. Dimana dia harus pergi meninggalkan istri tercinta. Sungguh itu menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya. Maka itu dia memenuhi permintaan Wisnu untuk tindakan pengobatan dirinya.


Tiba-tiba dia teringat gadis kecil yang pernah dia jenguk. Danu pun masuk ke ruang gadis kecil itu. Menurut informasi, gadis kecil itu sempat keluar dari rumah. Tapi seminggu ini dia kembali masuk ke rumah.


"Dia sama dengan abang, sakit leukimia. Beberapa hari yang lalu ibunya datang kesini. Dan Abang pasti kaget kalau tahu siapa ibunya."


"Siapa? boleh aku lihat catatan medisnya. Siapa tahu bisa membantu."


"Ini" Wisnu memberikan handphone berisi catatan hasil lab gadis kecil itu.

__ADS_1


HASIL LAB NYA HEMOGLOBIN 12,6 ERITROSIT 4,94 HEMATOKRIT 39,2 MCV 79,4 MCH 25,5 MCHC 32,1 RDW 13,8 LEUKOSIT 9.560 EOSINOFIL 3 BADOFIL O NEUTROFIL BATANG O NEUTROFIL SEGMEN 35 LIMFOSIT 52 MONOSIT 1O TROMBOSIT 14.000 L DUPLO WAKTU PEMBEKUAN 9,0 APTT PASIEN 30,2 selisih 10 detik dari kontrol KONTROL 36,5.


"Kenapa kamu nggak simpan punyaku disini juga? aku kan nggak perlu bolak-balik. Ini aku mau ngabarin Mila malah handphone ku lowbat." keluh Danu.


"Ada bang, tapi belum disalin. Makanya aku ajak abang kesini. Pakai handphoneku saja. Mau hubungi kak Mila."


"Tapi wajahnya mirip seseorang. Rasanya tidak asing."


"Nanti abang juga tahu. Soalnya besok dia mau nengok anaknya. Saat ini ibunya sedang urus perceraian dengan suaminya. Lakinya suka mukul.


Kita ke ruang lab ya, bang. Ada yang mau aku tunjukin."


Danu ikut Wisnu memasuki ruang lab yang terlihat sepi. Ada salah satu dokter yang sedang memeriksa tes darah pasien. Wisnu menyapanya lalu kembali fokus dengan tujuan utamanya. Danu membacanya dengan seksama. Lama dia terdiam melihat hasil lab yang di tunjukkan Wisnu.


"Maaf, bang. walaupun abang belum termasuk akut. Tapi setidaknya abang ikut kemoterapi dari sekarang. Kalau abang tidak punya motivasi sendiri, paling tidak untuk Mila. Abang mau lihat kak Mila hamil dan punya anak. Anak tumbuh tanpa kurang kasih sayang ayah dan ibunya." Danu menundukkan kepalanya. Ucapan Wisnu sungguh menusuk relung hatinya. Ada benarnya, dia bertahan sejauh ini demi Mila.


"Bang, ibu Nurmala menelepon?" Wisnu menunjukkan layar ponselnya.


"Angkat saja." Wisnu mengangkat telepon ibu angkatnya.


"Iya,Bu.


Oh bang Danu ada kok, Bu.


Iya, bu. Nanti aku sampaikan."


"Bang, sebaiknya Abang ke rumah sakit Raflesia. Lala di rawat disana. Kak Mila dari siang tadi hubungi abang."

__ADS_1


__ADS_2